
"Aku akan memulai uji cobanya." Angga
"Kakak…" Gita
Gadis itu merasa tidak rela jika pacarnya menjadi bahan percobaan MUA abal-abal.
"Tenang aja dek, cuma sedikit kok, lagian Reza gak bakalan kenapa-kenapa." Angga
Dia mengambil lipstik disana, warna merah.
"Kalau ini kakak tahu, ini dipakai dibibir 'kan?" Tanya Angga.
"Iya kak." Gita
Lalu Angga mengoleskan lipstik itu di bibir pria yang sedang tertidur pulas karena kekenyangan.
Makan gak bagi-bagi, nah.. ini akibatnya. Pikir Angga
Setelah itu Angga mengambil blush on warna pink juga, dia menggunakan jarinya, jari telunjuknya dioleskan di sana lalu di aplikasikan ke hidung Reza.
"Disini kan pakenya?" Tanya Angga pada adiknya.
"Astaga, itu kaya badut di hidung, blush on ya dipipi lah kak," protes Gita
"Kakak kan gak tahu, jadi terserah ya, mau dipakein dimana." Angga
Gita hanya menunduk, kalau terserah dia, kenapa juga malah nanya sama gue? Pikir Gita kesal
Kini gadis itu melihat pacarnya sudah tidak tampan lagi, satu kata buat Reza "Aneh"
Ingin marah namun tak bisa, Gita hanya bisa pasrah melihat tunangannya itu di make over MUA dadakan ini.
Gue gak sanggup ngeliat lebih lama lagi, segini aja udah ada kata keramat "Hancur" pikir Gita.
Akhirnya Gita memilih kembali ke kamarnya, dia berniat tidur saja, dia tidak ingin terlibat kejahilan kakaknya itu, dia tidak mau jika ketika Reza bangun lelaki itu menciduk dirinya sebagai pelaku utama.
Gadis itu mendengarkan musik melow dan tertidur pulas, berharap tidak mendengar teriakan seseorang yang terkejut atau kemarahan seseorang, Gita juga membiarkan tunangannya itu menginap di kamar Angga, karena ini bukan untuk yang pertama kalinya.
Sementara di kamar lain, Angga sedang menikmati profesi barunya sebagai MUA dadakan.
Lelaki itu bahkan sebisa mungkin menahan tawanya saat melihat mahakaryanya.
"Amazing … ," ucap Angga pelan.
__ADS_1
Astaga, aku benar-benar berbakat, berbakat membuat semuanya hancur maksudnya, hehehe.. Pikir Angga
Setelah puas, lelaki itu memilih tidur, karena dia juga mulai mengantuk karena efek samping dari obat yang dia minum.
***
Ketika subuh, adzan terdengar berkumandang, alarm ponsel Reza berbunyi, sementara ponsel Angga mati karena habis baterai.
Reza terbangun, mengucek kedua matanya, mencoba melihat ke sekeliling ruangan, ternyata dia baru menyadari kalau dia tidur di kamar Angga, bahkan badannya terasa pegal-pegal semua karena tidur di karpet, meski karpet itu tebal, tetap saja membuat pria itu mengeluh sakit punggung.
Astaga, bisa-bisanya gue tidur disini, menginap yang tak direncanakan. Pikir Reza
Saat mendengar adzan, Reza berniat mengajak Angga shalat berjamaah, dia membangunkan calon kakak iparnya dengan hati-hati, bahkan berbisik pelan ditelinganya.
"Kak Angga, bangun..! Kita sholat bareng," bisik Reza
"Emm, bentar lagi ya mah, lima menit aja..!" Ucap Angga tanpa membuka matanya
"Kak…" Reza
Angga mulai membuka matanya perlahan, namun dia terkejut saat melihat wajah Reza yang bahkan sebenarnya itu hasil karyanya sendiri, dia benar-benar lupa.
"Astaga, pergi..! Badut kok bisa masuk ke kamar ini?" Teriak Angga sambil beranjak pergi.
Saat sadar itu suara Reza, Angga mulai memahami keadaan saat ini, dimana dia terkejut karena kejahilannya sendiri, dia kembali ke tempat tidurnya, mendekati Reza dan mulai menjawab pertanyaannya.
"Gak, gak ada badut, udah subuh ya? Yaudah kamu duluan ke kamar mandi wudhu..!" Angga
Reza menuruti apa yang diminta pria itu, dia melangkah ke kamar mandi dengan santai, namun saat dia ingin mencuci muka, melihat ke cermin yang ada di dalam kamar mandi, alangkah terkejutnya dia.
"Badut…. Beneran ada badut," teriak Reza, dia mundur beberapa langkah.
Saat mendengar teriakan itu Angga yang masih sakit dia memaksakan diri untuk berlari sekuat tenaga keluar dari kamarnya, dia tahu sebentar lagi Reza akan marah padanya.
Sebentar? Gue kan yang ngaca barusan, berarti gue dong badutnya? Pikir Reza
Lelaki itu kembali bercermin, dan benar saja itu memang dirinya, Reza mulai mengutuk orang yang mengerjainya, pasti Gita. Karena ekspresi Angga tadi sama dengannya, sama-sama terkejut, itu menurut pemikiran Reza.
Saat dirinya membasuh make up yang menempel, mencoba membersihkannya dengan sabun pencuci wajah milik Angga, namun tidak mau hilang, hanya sebagian yang hilang, bahkan warna merah yang ada di hidungnya saja malah meluas ke pipi kanan dan pipi kiri meski itu samar.
Angga menambahkan lipstik warna merah terang yang banyak ke hidung Reza karena blush on saja kurang membuatnya puas.
Astaga, kenapa gue bisa sesial ini? Kenapa juga pake ada acara ketiduran disini? Pikir Reza
__ADS_1
Lelaki itu keluar dari kamar, menuju kamar Gita, mengetuknya berulang kali. Sampai dimana Gita pun terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.
"Git, kamu keterlaluan, ini nodanya susah hilang? Pokoknya kamu harus tanggung jawab!" Reza
"Bukan aku pelakunya." Gita
"Terus siapa, tadi kak Angga dia juga terkejut kok, berarti dia gak tahu." Reza
"Masa sih? Hahaha.. senjata makan tuan" Gita
"Ya udah, bentar aku bawa pembersih khusus make up biar benar-benar bersih." Gita
Setelah Gita mendapatkan apa yang dibutuhkannya, dia keluar dari kamarnya menyuruh lelaki itu mengikutinya ke ruang tamu, mereka duduk saling berhadapan, Gita dengan telaten membantu membersihkan wajah kekasihnya itu.
Tiba-tiba Angga datang, "cie masih subuh udah romantis-romantisan," goda Angga, sepertinya dia sudah sholat subuh di ruangan khusus sholat seperti mushola kecil dirumah itu, dan berpura-pura tidak melakukan kesalahan apapun.
"Diam..!" Ucap Reza dan Gita kompak.
Dua sejoli itu merasakan kekesalan yang sama pada Angga, namun tidak bisa melampiaskan amarah mereka sesuai dengan keinginan mereka, hanya satu pemikiran mereka, mengerjai Angga balik.
Mereka berdua mempunyai rencana masing-masing dikepalanya, tanpa mereka sadari mereka menyeringai jahat secara bersamaan.
Angga yang melihat itu tiba-tiba merinding dan berlalu pergi ke kamarnya, dia membaringkan tubuhnya lagi yang masih terasa sakit itu.
"Makasih ya.." Reza
"Sama-sama, ya sudah kamu cuci muka lagi, terus wudhu..!" Gita
"Oke," Reza berlalu pergi.
Reza berniat melaksanakan sholat di kamar Angga saja, saat dia melewati tempat tidur, yang terlihat hanya gundukan selimut besar, ya… Angga menenggelamkan seluruh badannya di dalam selimut itu.
Dasar, merasa bersalah juga dia, liat aja lain kali akan gue balas! Pikir Reza
Saat langkah kaki Reza sudah tidak terdengar, Angga mengintip sedikit dari dalam selimut, "selamat-selamat, gini ya rasanya kalau dikejar-kejar dosa," ucapnya pelan.
Matahari pun menampakan cahayanya, Reza sudah pergi setelah shalat subuh karena dia akan bekerja. Gita juga bersiap-siap ke kampusnya, sementara Angga sedang sarapan menikmati liburannya.
Angga mengaktifkan ponsel yang baru saja selesai di charger.
Astaga, banyak sekali pesannya. Pikir Angga
Bersambung…
__ADS_1