
"Apanya yang mati Bos?" Roni
"Sudahlah, aku lapar, kita makan cari tempat makan saja diluar, ambilkan mobilnya..!" Ucap Reza sambil memberikan kunci mobilnya.
Roni dengan segera menuruti perintah Bos mudanya itu, Bos yang terkadang tidak dimengerti oleh Roni.
Sementara Meta masih sibuk dengan sepatunya yang patah.
***
Angga yang memilih kembali lagi ke kantornya itu dipertemukan lagi dengan Pak Damar, jika saat di luar kantor Angga akan mengalah, maka tidak ada kata mengalah saat dia berada di kantor.
Selama rapat berlangsung Angga begitu serius dengan materi yang dibahas, terkadang dia melayangkan kata tidak setuju dengan tegas pada Pak Damar jika tidak menyukai pendapatnya.
Setelah rapat selesai, Pak damar mengajak Angga makan bersama di luar, dan kebetulan sekali mereka bertemu Reza disana.
"Reza.." Angga
"Eh kak Angga, makan juga? Gabung aja…!" Reza
Reza tidak melihat jika di belakang ada sosok Pak Damar, membuat Reza ingin sekali menarik kata-katanya. Pria itu merasa canggung jika makan dengan orang yang lebih tua, apalagi paruh baya seperti Pak Damar.
Dan entah kebetulan apa lagi ada Pak Andra yang baru datang dan ternyata mengenal Pak Damar.
Reza melihat dengan seksama saat Angga dan Pak Andra duduk berdampingan.
"Mirip.." Reza
"Apanya yang mirip Bos?" Roni
"Hmm.. wajah Angga dengan bapak siapa tadi namanya?" Tanya Reza
"Saya Andra, mana mungkin saya bisa setampan Nak Angga, hehe.." Pak Andra
"Tapi bener juga, kalian mirip, bukannya kamu juga seharusnya mempunyai anak lelaki seusia Nak Angga?" Pak Damar
Angga mendengarkan percakapan mereka dengan serius, dia tidak mau melewatkan satu kata pun, begitu pula dengan Reza.
"Iya.. aku sempat mencarinya, namun kehilangan jejak, kenapa kalian begitu serius? Cerita keluargaku tidak begitu menarik, malah rumit dan bikin pusing, haha.." Pak Andra
"Hmm.. iya saya tertarik mendengarkan cerita Bapak." Angga
"Dia ini duda anak satu, dulu saat bersama istrinya yang pertama dia juga mempunyai anak lelaki tapi hilang dibawa ibunya pergi." Pak Damar
"Sudahlah, itu masa laluku yang menyedihkan." Pak Andra
"Ya sudah kita sebaiknya pesan makanan saja." Pak Damar
Padahal Angga dan Reza begitu ingin mendengarkan cerita itu, mereka malah berhenti bercerita membuat pria-pria itu penasaran.
__ADS_1
Apa mungkin istri pertama Pak Andra itu Bu Alisa? Pikir Angga
Mungkin gak, jika bapak ini ayahnya Kak Angga, mirip banget? Kasus anaknya yang hilang juga itu poin penting. Pikir Reza
Mereka akhirnya makan bersama, namun karena Pak Andra mendapatkan telepon, dia akhirnya pulang lebih dulu. Membuat Reza dan Angga kecewa.
Saat Angga menanyakan hal lain lagi pada Pak Damar. Lelaki itu malah menyuruhnya datang ke rumahnya saja.
Setelah kepergian Pak Andra dan Pak Damar, dua pria itu berpikir keras.
"Kak Angga mau datang ke rumah Nisa dan bermain catur lagi dengannya?" Reza
"Sebenarnya malas sih, tapi aku butuh informasi mengenai sesuatu saja." Angga
"Aku tahu, pasti tentang Pak Andra yang kemungkinan ayah kandung kak Angga." Reza
"Kamu tahu?" Angga
"Iya aku tahu, tapi tenang aja, aku tidak akan memberi tahu soal ini pada Gita." Reza
"Hmm.. oke, jangan sampai Gita tahu, biar nanti aku yang bicara secara langsung." Angga
Reza mengangguk menyetujui apa yang diinginkan Angga, dia berdiri dan hendak pergi.
"Kak aku duluan ya, ada rapat lagi nih, kakak bayarin ya semuanya..!" Reza, dia berlalu pergi dengan tawanya.
Angga yang kesal tak mampu membalas ucapan calon adik iparnya itu, karena lelaki itu berjalan begitu cepat.
Roni pun pergi menyusul Bos nya itu, lalu kembali ke kantor, dan saat mereka berjalan saling beriringan membuat para karyawan berbisik-bisik membahas perihal tadi saat Reza keluar dengan memegang tangan Roni sampai keluar kantor.
"Hmm.. hmm.. jangan ada yang bergosip, apa yang kalian lihat tidak seperti apa yang kalian pikirkan!" Reza
Dia berlalu pergi ke ruangannya, namun alangkah terkejutnya saat ada seseorang memeluk tubuhnya dari arah belakang.
Reza langsung membalikan tubuhnya.
"Kenapa kamu masih ada disini?" Reza
"Sepatuku rusak, mana bisa aku pulang dengan keadaan seperti ini," keluh Meta
"Kamu kan naik mobil, tidak masalah bukan?" Reza
"Tetap saja aku malu berjalan tanpa sepatuku sampai lantai bawah, banyak karyawan." Meta
"Ya sudah pakai sandal punyaku saja, itu ada cadangan sandalku..!" Reza
"Gak mau, maunya digendong." Meta
"Astaga, oke kalau itu mau kamu." Reza
__ADS_1
Meta tersenyum senang, saat mendengar Reza menyetujui permintaannya, dia bahkan membayangkannya terlebih dahulu.
"Roni…" Teriak Reza
"Iya Bos.." Roni
"Gendong wanita ini sampai parkiran mobil, sepatunya rusak, cepetan..!" Reza
"Baik Bos." Roni
"Aku gak mau kalau sama dia Za, lepaskan..!" Meta
"Bawa dia pergi Roni, aku pusing." Reza
Roni membopong wanita itu keluar dari ruangan Reza secepatnya, meskipun wanita itu memberontak, namun sekuat tenaga pria itu menahannya, agar tugasnya bisa dia lakukan dengan baik.
Setelah sampai di parkiran Roni menurunkan Meta.
"Kau ini menyebalkan." Meta
"Sama-sama Nona," ucap Roni lalu berlalu pergi, dia merasa tugasnya sudah selesai.
"Kamu semakin menyebalkan … ," teriak Meta.
***
Keesokan harinya Angga begitu bersemangat, dia mempunyai janji sangat penting bertemu seseorang. Dia tersenyum sepanjang pagi ini.
"Kakak lagi kasmaran ya?" Gita
"Sok tahu." Angga
"Terus, apa kesurupan?" Gita
"Astagfirullah, kamu ini kalau ngomong seenaknya aja Git." Angga
"Terus kenapa dong? Aku kepo nih?" Gita
"Rahasia.." Angga
Lelaki itu berlalu pergi untuk berpamitan pada Baskoro dan Hanna.
Mau kemana sih kak Angga? Gue beneran penasaran nih.. Batin Gita
Namun Gita yang melihat jam dinding kini membulatkan matanya, "astaga, gue telat."
Gita berpamitan dengan cepat, lalu menaiki motor milik Reza untuk pergi ke kampusnya, dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi.
Hari ini Reza tidak mengantarkan tunangannya itu ke kampus karena Gita kuliah siang jam 9 pagi, gadis itu benar-benar tidak menyadari kalau hari sudah siang saat melihat kakaknya masih di rumah, padahal Angga memang sengaja tidak masuk kantor hari ini.
__ADS_1
"Gue salfok gara-gara kak Angga nih, padahal siang ini mata kuliah Pak Rendi, mati gue," keluh Gita.
Bersambung…