Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 49 Memohon


__ADS_3

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menghampiri, orang itu langsung berlutut di tanah dihadapan sang Ratu.


"Yang mulia Ratu, tolong maafkan selir Mey untuk kali ini saja..!, hamba mohon yang mulia." Ucap Rizad


Ratu menoleh, dan ia memalingkan pandangannya lagi. Ia lebih memilih melanjutkan curhatannya dengan si Putih.


"Putih, bukankah orang jahat harus mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang telah ia perbuat? Rasanya tidak adil jika yang tersakiti melihat orang jahat itu masih bahagia tanpa beban, bahkan bisa saja orang jahat itu melakukan hal yang lebih nekat jika dibiarkan bebas, iya kan?" Ucap Ratu sambil mengelus-ngelus si Putih.


"Tentu saja, orang jahat harus dihukum, agar ia jera dan tidak melakukan kejahatan lagi." Tiba-tiba pangeran Ceng mengucapkan pendapatnya


"Tapi yang mulia, hamba mohon berikanlah kesempatan untuk selir Mey..! Hamba yakin dia akan berubah." Ucap Rizad yang masih memohon.


"Hmm.. bukankah aku telah memberinya beberapa kesempatan, benarkan putih? Bahkan kau jadi korbannya juga, kamu jatuh sakit gara-gara diracun selir Mey, aku bahkan kesulitan menyembuhkanmu karena tidak ada tabib khusus hewan, mereka pikir aku diam karena aku tidak tahu. Hmm… bahkan aku benar-benar marah." Ucap Ratu berbicara menghadap si Putih.


"Ya ampun, benar-benar keterlaluan selir Mey itu, aku setuju jika dia dihukum, bahkan mengancam keselamatan calon bayi Raja bisa saja mendapatkan hukuman mat*." Ucap Pangeran Ceng


"Sebaiknya selir Mey memang dihukum mat* saja, aku yang tidak mengalaminya saja merasa geram dengan tingkah lakunya. Dasar wanita jahat." Gumam Sani mengumpat dalam hati, ia tidak enak jika ikut campur masalah ini.


Rizad yang merasa jika memang kesalahan selir Mey sangat banyak dan fatal dia tidak bisa memohon untuk membebaskannya, tapi..


"Yang mulia Ratu, hamba mohon setidaknya peringanlah hukumnanya nanti yang mulia..!" Ucap Rizad


Ratu akhirnya berbalik dan menatap Rizad, "Kamu rela melakukan hal ini? Padahal selir Mey tidak pernah memahami sedikitpun perasaanmu, aku sungguh kasihan padamu."


Ratu mulai serius dengan obrolannya, ia lalu menyuruh Rizad berdiri, karena meski berlutut seperti itupun tidak akan mengubah apapun.


"Apa kau tahu, dia juga mencoba meracuniku, mencoba menjebakku, memasukan ular ke kamarku, meracuni si Putih dan banyak lagi. Jika kau diposisiku apa kau akan memaafkannya begitu saja? Sudahlah kau tak usah memohon karena itu tidak akan membuatku berubah pikiran, pergilah..! Aku muak mendengar namanya yang selalu kau sebut."

__ADS_1


Ratu kemudian berjalan mendekati si Putih, "aku pergi dulu ya putih, ayo Sani kita kembali saja."


Ratu pergi dari peternakan itu diikuti Sani, dan pangeran Ceng hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menepuk pundak Rizad dan berkata, "jangan sia-siakan hidupmu untuk wanita seperti itu..!"


Pangeran Ceng pun pergi, ia menyusul Ratu dan meninggalkan Rizad sendirian.


Rizad yang merasa tidak berdaya lagi menolong selir Mey, ia terduduk ditanah "maafkan aku Mey." Gumamnya pelan.


Saat melewati perkebunan istana Ratu menghentikan langkahnya, "wah… sepertinya itu segar." Ucap Sang Ratu sambil menunjuk ke arah buah yang masih mentah dan terlihat masam.


"Ratu mau membuat… apa ya namanya aku lupa?, emm… rujak?" Tanya Sani


"Iya, sejak aku hamil aku selalu ingin makan rujak yang asam pedas." Ucap Ratu, saat ia melihat Pangeran Ceng yang ternyata mengikutinya ia menjadi lebih bersemngat.


"Ceng… kemari lah, cepat..!"


"Ada apa? Sampai berteriak begitu."


"Astaga, belum lahir saja sudah mengerjaiku, bagaimana nanti, pasti dia akan menjadi Deon cilik yang lebih menyebalkan dari ayahnya." Ucap Pangeran Ceng kesal, tapi ia tetap menuruti kamauan Ratu Anggrek, ia berusaha memanjat dan mengambil beberapa buah yang ditunjuk Ratu.


Saat buah yang tekumpul sudah banyak, tiba-tiba Pangeran Ceng terjatuh dari pohon, ia mengeluh sakit digigit banyak semut, Sani yang melihat kejadian itu ia panik dan tanpa sadar ia berlari menghampiri Pangeran Ceng membantu menyingkirkan semua semut ditubuh pangeran Ceng, saat Sani melihat ada semut yang merayap di bibir pangeran Ceng dan terlihat menggigit bibir yang seksi itu, Sani langsung mengambilnya melemparnya ke tanah lalu menginjaknya dengan sekuat tenaga.


"Berani-beraninya kau menggigit bibirnya, jangan mencoba-coba mendahuluiku, apa kau merasa bangga telah merasakan lembutnya bibir itu lebih dulu, aarrgghh.. aku benar-benar kesal." Gumam Sani pelan sambil menginjak-nginjak semut itu.


Pangeran Ceng yang sudah merasa tidak ada lagi semut yang merayap, ia bangun dan melihat ke arah Sani dengan tatapan heran.


"Kenapa ia begitu marah?, apa itu tidak berlebihan menginjak-nginjak seperti itu sambil mengumpat, meski aku tidak bisa mendengar apa yang ia bicarakan."

__ADS_1


"Mana buah-buahanku?" Tanya Ratu menghampiri


"Ya ampun, harusnya kau bertanya tentang keadaanku terlebih dahulu..!"


"Aku kan sudah melihatmu bangun dan baik-baik saja, berikan buah itu padaku..!"


Pangeran Ceng pun mengumpulkan buah-buahan yang berserakan, lalu mengumpulkannya di keranjang dan memberikannya pada Ratu dengan wajah yang sedikit kesal.


"Terimakasih calon paman" ucap Ratu sambil tersenyum, lalu melangkah pergi


"Ayo Sani kita pergi, semut itu sudah mati kenapa kau injak-injak terus..!" Ucap Pangeran Ceng merasa heran


Sani yang terkejut karena ucapan Pangeran Ceng yang tiba-tiba itu, membuatnya langsung menghentikan aksinya, ia menunduk lalu berlari mengejar Ratu karena merasa malu.


"Astaga , Sani apakah kau sudah gila?" Sani mengutuk dirinya sendiri, memukul-mukul kepalanya smabil berlari.


Pangeran Ceng yang mengikuti mereka dari belakang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Majikan dan pelayan, sama-sama aneh." Gumamnya dalam hati.


Akhirnya mereka tiba di paviliun Ratu Anggrek, dan ternyata ada seseorang yang sedang menunggu Ratu di sana, ia begitu menampilkan wajah seriusnya.


Ratu menyuruh Sani dan Pangeran Ceng menunggu dulu, ia akan berbicara empat mata dengan pria itu di dalam.


"Siapa dia? Sepertinya orang penting sampai-sampai kita tidak boleh tahu apa yang mereka bicarakan." Tanya Pangeran Ceng pada Sani.


"Saya juga tidak tahu pangeran." Jawab Sani sambil menundukan kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


Novel rekomendasi hari ini, jangan lupa kepoin ya readers..!



__ADS_2