
Jani hanya bisa menganggukan kepalanya pelan, lidahnya kelu, dia takut kalau dia salah bicara yang akan membuat gadis itu salah paham dan sakit hati.
"Jadi ini alasan selama ini mamah selalu kesal padaku dan mengacuhkanku? Tapi aku bersyukur karena mamah Jani mau merawatku selama ini, maafkan Kirana mah, karena sudah menjadi alasan mamah merasa sakit hati." Kirana
"Tapi mamah mulai menerimamu sepenuh hati, kita lupakan masalalu ya?." Jani
Kirana hanya mampu menangis sekarang, dia merasa benar-benar tidak pantas berada disana, dia hanyalah orang asing bagi Jani, bahkan dia adalah anak dari hasil perselingkuhan yang membuat Jani sakit hati.
Dia membalikkan badannya, menyambar tasnya dan berlari sekencang mungkin meninggalkan tempat itu.
"Kirana… tunggu, jangan pergi..!" Teriak Jani
Meta hanya mengulas senyum kemenangannya, dia berhasil membuat gadis itu menderita.
Dia berlari dengan penglihatan kabur, karena kini matanya dipenuhi air mata, tapi dia terus saja berlari mencari tempat yang jauh dari sana, seolah ingin pergi melarikan diri, meninggalkan semua yang terbebani olehnya.
Kirana terus berlari sampai kakinya lelah, berhenti di dekat pohon rindang, dan menangis disana sendirian.
"Meta, tolong kamu kejar Kirana, tante mohon..!" Jani
"Sudahlah tante, dia memang pantas pergi dari kehidupan tante, dia cuma benalu." Meta
"Meta, kamu jaga bicaramu, Kirana itu anak yang lembut, dia bahkan selalu tersenyum meski tante mengacuhkannya, tante mau dia kembali, susul dia Meta..! Bukankah ini semua gara-gara kamu." Jani
"Kok tante nyalahin aku sih? Aku bicara Fakta ya tante, aku bantuin tante loh, tante kan gak enak ngomong langsung ke dia, ya aku bantuin lah." Meta
"Hmm.. ya sudah, ambilkan handphone tante ditas tante yang ada disana..!" Jani
"Ok, nih tante." Jani
"Kamu boleh pulang Meta, sebentar lagi om Aldi juga datang." Jani
"Ok, aku pulang ya tante, cepet sembuh..!" Meta
"Hmmm.." Jani, dia malas melihat Meta, keponakannya yang so ikut campur itu.
Jani menelepon Maya, meminta bantuannya untuk mencari Kirana.
Maya bergegas mencari Kirana bersama Sanjaya yang kebetulan memang sedang ada dirumah, dia juga menghubungi Reza supaya setelah urusan kantor selesai dia mau membantu mencari sepupunya itu, ya.. meski dengan kenyataan yang ada kalau kirana tidak ada hubungan darah dengan mereka.
Namun mereka tetap peduli, mereka akan tetap menganggap Kirana adalah bagian dari keluarga.
Maya menyusuri setiap jalanan di kota, namun tidak ada jejak Kirana, dia mampir ke kampus, namun Kirana sudah beberapa hari tidak masuk karena menjaga Jani.
Maya benar-benar bingung, dua jam berlalu namun belum menemukan gadis itu.
Reza yang baru saja keluar dari parkiran kantornya, dia langsung melajukan mobilnya, matanya menyusuri semua tempat yang dilaluinya.
"Kemana dia pergi? Kenapa Kirana sampai kabur, apa jangan-jangan dia sudah tahu semuanya?." Ucap Reza pelan
Dia menyambungkan teleponnya pada ibunya.
__ADS_1
"Mah, udah ketemu?." Reza
"Belum Za, gimana dong, mamah takut dia kenapa-kenapa?." Maya
"Kenapa Kirana bisa sampai kabur mah?." Reza
"Ceritanya panjang, yang penting sekarang kita cari dia, kamu ke arah selatan mamah cari ke arah Utara, ok?." Maya
"Iya mah." Reza
Gue yakin, Kirana sudah tahu semuanya. Pikir Reza
Reza membalikkan arah mobilnya, mulai mencari ke arah selatan. Dia juga tidak tahu banyak tentang Kirana, teman-temannya atau tempat biasanya dia pergi, membuat Reza bingung sendiri.
Kirana memang gadis yang terbilang pendiam, dia jarang sekali bercerita tentang kehidupannya, aktivitasnya.
Ada telepon masuk, Reza mengangkat panggilan telepon itu.
"Assalamu'alaikum adik ipar?." Angga
"Waalaikumsalam, ada apa nih tumben nelepon, mau ngajakin aku main catur lagi?." Ucap Reza sedikit kesal mengingat kejadian kemarin.
"Hahaha.. maaf deh, mau nanya aja, lagi dimana sekarang?." Angga
"Hmm.. lagi keliling kota nyariin Kirana." Reza
"Ko pake dicari segala? Awas nanti Gita cemburu..!" Angga
"Apa? Ya udah aku bantu cari juga, sebentar lagi kerjaanku beres kok." Angga
"Ok, makasih bantuannya, begitu khawatirnya ya? Tadi katanya ngapain dicariin? Hehe." Goda Reza
"Assalamu'alaikum."
Tutttt….
"Astaga kebiasaan, mentang mentang kakak ipar." Umpat Reza
Angga pun sama, dia khawatir jika gadis itu kenapa-kenapa, entahlah ada rasa peduli pada Kirana. Angga Pun tidak tahu kenapa.
***
Dirumah, Gita sudah pulang kuliah hari ini. Dia ditemani Nisa di rumahnya, namun hari ini bu Hanna memaksanya belajar make up lagi, ibu itu merasa kurang puas jika anaknya belum pandai berdandan.
Suaminya pasti akan megejek terus jika Gita belum bisa make up, maka dari itu Hanna sangat bekerja keras mengajari anak gadisnya itu.
"Git, ayo belajar dandan lagi..!" Hanna
"Aduh mah, ada Nisa nih, masa dia dianggurin." Gita
"Ih gapapa, Nisa bisa kan sekalian dandan juga." Hanna
__ADS_1
"Nanti mamah kasih hadiah deh yang menang diantara kalian." Hanna
"Bener nih tante?." Tanya Nisa bersemangat.
"Aku gak butuh hadiah." Gita
"Buat kamu Gita, kamu boleh mengajukan 1 permintaan kalau menang, itu bebas ya." Hanna
"Ok mah, ayo belajar sekarang..!" Gita bersemangat juga mendengar tawaran yang menggiurkan.
Mereka begitu serius ingin memenangkan lomba, bahkan tak segan Nisa menyenggol Gita, membuat eyeliner yang dipakainya gagal total tak berbentuk.
"Nis, jangan curang deh..!" Gita
"Gapapa kan senggol dikit, gue gak gangguin make up lo." Nisa
"Sama aja kali, nih liat masa eyeliner nya jadi berantakan?" Gita
"Hahaha.. lucu Git." Nisa
"Hmmm…. Lo mau gue senggol dengan tenaga dalam gue?." Gita
"Jangan dong, yang ada gue mental Git, sorry sorry.. gue janji gak akan curang lagi. Ok?." Nisa
Mereka melanjutkan merias wajah mereka masing-masing.
Bu Hanna datang sesekali untuk melihat apakah sudah selesai atau belum.
Gita melihat tutorial di youtube, dia benar-benar pemula. Sementara Nisa hanya perlu hati-hati saja, dia sebenarnya bisa berdandan namun malas, dan karena sudah lama tidak dandan, ya jadi kurang rapi hasilnya.
Telepon Gita berbunyi.
"Iya kak, ada apa? Kok kakak belum pulang? Sudah jam 5 sore nih kak." Gita
"Bilang sama mamah kalau kakak pulang telat, kakak lagi di jalan nyariin Kirana yang kabur, Reza juga lagi nyariin." Angga
"Apa? Kakak dimana sekarang, aku OTW sekarang ya?" Gita
Gita bergegas pergi menggunakan motornya, meninggalkan Nisa disana.
"Dia mau kemana sih buru-buru gitu, dia gak sadar apa kalau eyeliner yang dipakai baru sebelah, oh astaga softlens nya juga baru dipakai sebelah. Kacau tuh anak." Ucap Nisa
Hanna datang untuk mengecek lagi, dia masuk ke kamar Gita.
"Loh, Anggitanya mana Nis?." Hanna
"Tadi dia buru-buru tante, ada sesuatu yang penting katanya. Titip pesan juga, katanya dia dan kak Angga akan pulang terlambat." Nisa
"Oh, kemana mereka pergi?." Ucap Hanna, dia berniat menelepon anak-anaknya.
Bersambung...
__ADS_1