
Sore hari Raja akhirnya sampai di istana, dia merasa sangat rindu pada Pangeran kecilnya, dia bahkan sangat terburu-buru menuju paviliun Ratu.
Saat tiba, Deob tampak celingak-celinguk mencari keberadaan ibunya, untung saja ibu nya itu sudah pulang, Deon tidak ingin mendapat ceramah disaat dia baru pulang, itu akan membuatnya semakin lemas.
"Hai anak ayah.." Tanya Raja pada pangeran yang sedang berbaring. Bayi itu hanya menoleh dan mengedipkan matanya berulang kali, lalu bayi itu nampak sedikit tersenyum menyambut ayahnya, membuat rasa lelah sang Raja hilang seketika.
"Sayang.. kemana ibumu? Hmm.. apakah mungkin dikamar mandi ya?" Raja bertanya lagi pada bayinya itu.
Raja menunggu Ratu dengan mengajak bermain bayi tampan itu, saat Ratu keluar dia sedang memegangi perutnya.
"Kamu kenapa sayang?"
"Aku hanya sakit perut karena makan mie pedas tadi."
"Apa? Bagaimana kalau bayi kita ikut sakit perut? Kamu seharusnya lebih memperhatikan makananmu..!"
"Tidak akan, hanya aku saja yang merasakannya."
"Tapi bayi kita kan meminum ASI mu juga."
"Gak ada ASI yang rasanya pedas, ada ada saja kamu ini. Hahaha.." Ratu benar-benar tertawa lepas karena menganggap betapa konyolnya ucapan suaminya itu.
"Benarkah? Tapi bukankah bayi kita akan memakan apa yang ibunya makan melalui ASI? tabib istana pernah mengatakannya padaku."
"Iya, tapi hanya nutrisinya saja, tidak dengan rasanya, apalagi rasa pedas, asam, manis, asin. Pangeran pasti baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir..!"
Kemudian Ratu duduk disamping Raja menceritakan kejadian pagi tadi saat dia memghilang, saat dia melihat keadaan selir Mey.
"Bukankah dulu juga dia pernah melakukan aksi bun*h diri? Aku rasa dia hanya ingin diperhatikan." Ucap Deon acuh.
"Tapi kali ini berbeda, sepertinya selir Mey benar-benar berada dititik terburuknya, dan aku rasa aksinya kali ini tidak dibuat-buat."
"Hmm.. kita lihat saja kedepannya bagaimanaa..!"
***
Dua hari berlalu, selir Mey akhirnya sadar dan bisa membuka matanya. Rizad begitu senang, selama dua hari ini bayi perempuan Mey dirawat dan diberi ASI oleh pelayan pilihan sang Ratu.
Pelayan itu begitu menyayangi bayi lucu itu, merawatnya penuh dengan kasih sayang, bahkan Rizad bisa melihat bahwa anaknya lebih baik dirawat pelayan itu daripada dirawat oleh ibunya sendiri.
__ADS_1
Selir Mey yang sadar, dia memanggil nama Ratu.
Sementara Ratu yang sedang menikmati makan malamnya setelah mendapat kabar itu, dia langsung bergegas pergi, menitipkan pangeran kecilnya pada Sani.
"Aku hanya akan pergi sebentar, tolong jaga pangeran dengan baik..!"
"Baik Ratu." Ucap Sani
Raja mengikuti Ratu dari arah belakang, "Mau pergi kemana?" Tanya Ratu
"Pergi denganmu menemui selir Mey."
"Tidak usah, bukankah yang disebut namanya hanya aku, lagipula ini urusan perempuan, lebih baik kamu jaga anak kita saja..!"
"Tapi… tapi aku penasaran kenapa dia memanggilmu, aku takut terjadi apa-apa padamu."
"Hahaha.. sudahlah tidak usah khawatir, bukankah dia sedang dalam keadaan lemah, sementara aku segar bugar begini? Menurutmu siapa yang akan kalah jika terjadi perkelahian? Hmm…"
"Baiklah, aku percaya padamu."
Ratupun pergi ditemani beberapa pelayan, sepanjang jalan dia bertanya-tanya sebenarnya apa yang diinginkan selir itu.
Saat tiba disana, selir Mey dalam keadaan tak berdaya, tubuhnya benar-benar lemah karena kehilangan banyak darah, ditambah koma yang membuatnya hanya bisa diberi minum lewat mulutnya, wajahnya sangat pucat.
"Bukankah dia sedang lemah, dia pasti gak bisa ngapa-ngapain gue, jadi buat apa gue berpikiran jelek." Pikir Gita
"Ma--maafkan a--aku." Ucap selir Mey pelan dan terbata-bata.
Ratu tak menyangka dengan apa yang diucapkan Mey, dia sempat terdiam beberapa saat. Selir mey lalu beralih menatap Rizad,
"Ja-jaga an--nak ki-kita..!"
Tak berselang lama, Mey tak sadarkan diri lagi, tabib istana langsung memeriksa keadaan selir.
Denyut nadinya sangat lemah, bahkan hampir tak terasa.
"Sepertinya waktu selir tidak akan lama lagi." Ucap tabib istana sambil menunduk.
Rizad yang mendengarnya benar-benar tidak sanggup menahan rasa sedihnya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan tabib itu.
__ADS_1
"Kamu pasti salah, periksalah sekali lagi, dia pasti baik-baik saja..!" Rizad mengatakannya dengan penuh penekanan, dia emosi sekaligus sedih.
Tiba-tiba semua pandangan beralih pada selir Mey, badannya kini seperti mengalami kejang, lalu berhenti dan tidak ada pergerakan lagi, tubuh itu perlahan berubah menjadi dingin.
"Mey… bangun Mey..! Bertahanlah..! Bayimu masih membutuhkanmu..!" Ucap Rizad yang
Mengguncang-guncangkan badan Mey sambil bercucuran air mata.
Ratu yang menyaksikannya pun tak kuasa menahan tangis, meski selir Mey berlaku jahat padanya, tapi tetap saja kematiannya membuat Ratu sedih membayangkan nasib bayi perempuan itu.
Ratu tidak menyangka jika pada akhirnya akan seperti ini, tapi ini sedikit melegakan karena dia merasa tak sanggup jika harus menjatuhkan hukuman mat* pada selir disaat ada bayi yang membutuhkannya, dia tak ingin bayi perempuan Mey nanti akan membencinya dan tidak menutup kemungkinan jika bayi itu setelah dewasa nanti akan membalas dendam pada Ratu.
Dengan akhir kematian seperti ini, membuat Ratu tidak dihantui rasa bersalah.
Kabar kematian pun tersebar begitu cepat, kebanyakan orang merasa senang atas kematiannya, orang-orang lebih mengasihani bayinya daripada ibu yang mat* bun*b diri itu.
"Padahal menurut gue, ini termasuk baby blues tingkat parah deh sampe bunuh diri, dan yang disalahkan pasti pihak ibu, padahal banyak faktor yang menyebabkannya begini. Tak sepatutnya Mey disalahkan, harusnya mendapat dukungan dan rangkulan, hanya saja karena dari awal dia adalah wanita jahat maka tidak ada yang simpati padanya." Gumam Gita dalam hati.
Raja yang mendengarnya pun tidak kalah terkejut, bagaimanapun Mey adalah wanita yang pernah hidup dengannya, pernah berbagi kasih sayang dengannya. Tak terasa Raja meneteskan air matanya didepan Ratu.
Tapi Ratu sama sekali tidak cemburu, karena menurutnya ini adalah hal yang wajar. Menangisi orang yang telah tiada. Ratu yakin bahwa cinta Deon telah menjadi miliknya seutuhnya.
"Sudah?" Tanya Ratu
"Apanya yang sudah?."
"Menangisnya."
"Udah.. ngapain juga lama-lama menangisinya."
"Hmm.. mau lama pun tidak apa-apa." Ucap Ratu menggoda Deon.
"Aku hanya sedih sedikit, aku takut ada yang cemburu dan marah-marah."
"Hahaha… siapa?" Ratu mengelak
"Kamu lah, jika aku kehilanganmu, aku pasti menangis tidak berhenti, karena kamu sangat berarti." Ucap Deon menatap mata Ratu dari jarak yang sangat dekat.
"Lo gak akan pernah nangisin gue, lo gak tau aja kalau gue akan pergi jauh, ke dunia lain, dan lo gak akan pernah sadar jika saat itu tiba kalau lo telah kehilangan gue. Tapi tenang aja.. Anggrek yang asli pasti kembali." Gumam Gita dalam hati.
__ADS_1
Raja memeluk erat tubuh Ratu, tapi justru Ratu (Gita) lebih erat memeluknya, seakan berat melepaskannya dan tanpa terasa air matanya terjatuh membayangkan dimana waktunya telah habis dan harus kembali.
Bersambung..