Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Cincin


__ADS_3

Reza langsung menghubungi Gita, berharap pacarnya itu mempunyai waktu luang.


"Iya, Hallo.. ada apa?."


"Pacar telepon kok nanya ada apa? Ya kangen lah.. hehe salamnya mana sayang?." Goda Reza


"Ah iya aku lupa, Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam cintaku.."


"Hmm.. lebay deh, ada apa?"


"Godain pacar sendiri ya gapapa dong, nanti sore kita ambil cincin tunangan kita ya? Katanya udah jadi, pasti cincinnya cantik di jari kamu Git, ada ukiran nama kita juga disana, bisa kan?."


"Bisa, mau jemput ke rumah aku atau janjian nih?."


"Aku jemput aja sepulang dari kantor."


"Ok."


"Ok sayang gitu..! Aku belum pernah denger kamu bilang sayang sama aku." Ucap Reza


Namun Gita merasa malu jika harus mengatakannya, apalagi itu terdengar lebay di telinganya. Akhirnya dia mencari-cari alasan agar bisa menutup telepon itu secepat mungkin.


Reza yang menyadari jika Gita memang sengaja, dia hanya tersenyum kecil.


Menggemaskan sekali, pasti dia sangat malu saat ini, hehe pikir Reza


Pria itu melanjutkan pekerjaannya dengan suasana yang lebih baik. Mulai menampakkan senyumannya.


Roni yang baru saja masuk ke ruangan bos nya itu merasa heran, suasana hati Bos mudanya ini begitu cepat berubah.


"Roni bawa kemari berkas tentang proyek baru itu, biar aku pelajari lagi." Ucap Reza


"Baik Bos."


Akhirnya aku tidak perlu mencemaskan gaji ku yang akan terpotong. Batin Roni


***


Reza menuju rumah Gita, namun dia seperti melihat mobil yang terus mengikutinya dari arah belakang.


Mobil siapa itu? Pikir Reza


Reza melambatkan laju mobilnya, bahkan berhenti di salah satu Pertamina. Namun tetap saja mobil itu berada di belakangnya.


Jadi benar mobil itu mengikutiku dari tadi. Pikir Reza


Lelaki itu menelepon seseorang, lalu mampir ke sebuah mini market. Reza memakai jaket dan masker lalu pergi dengan menaiki taksi. Sementara mobil itu dibawa oleh orang lain yang berpura-pura menjadi dirinya.


Reza tidak mau jika datang ke rumah Gita dengan naik taksi, dia memilih pulang terlebih dahulu, sementara ia menyuruh mobilnya dibawa lebih jauh, bila perlu ke luar kota sekalian agar penguntit itu kesal.


Reza datang terlambat, namun Gita tidak mempermasalahkannya karena dia menunggu pacarnya itu dirumah.

__ADS_1


"Maaf ya aku terlambat.."


"Gapapa kok, ayo berangkat sekarang aja, nanti keburu kemalaman."


"Ok.. ayo.." Ucap Reza lalu menggenggam tangan Gita, agar mereka berjalan bersama.


Setelah berpamitan pada Bu Hanna, mereka bergegas pergi , dan saat melewati pintu rumah Gita, Reza tiba-tiba menyentuh tangan Gita, menggenggamnya erat, itu membuat Gita kaget sekaligus malu, mereka berjalan bersama menuju mobil yang terparkir dihalaman.


Sesampainya ditoko perhiasan, Gita begitu menyukai cincin tunangannya itu, dia membayangkan saat acara itu berlangsung membuatnya sedikit gugup, apalagi disaksikan oleh banyak orang.


"Bagus banget Za.." Ucap Gita sambil memegang cincin itu.


"Kamu suka?." Tanya Reza


"Iya suka benget." jawab Gita dengan mata berbinar-binar mengagumi cincin itu.


"Makasih sudah suka sama aku." Ucap Reza dengan gaya so cool nya.. tersenyum lebar dengan tangan melipat didadanya.


"Maksud aku cincinnya Za." jawab Gita yang melihat tingkah pacarnya yang mulai so ganteng itu. meski memang iya sih ganteng menurut Gita.


"Hmm.. jadi kamu cuma suka cincinnya aja nih?."


"Dua duanya deh." Jawab Gita sambil memalingkan mukanya ke arah lain, dia tidak mau mengakui itu sambil menatap wajah Reza.


Betapa menggemaskannya Gita dimata Reza, perhatiannya sedikit teralihkan saat handphone nya berdering.


"Ada apa?." Tanya Reza


"Bos mobil itu terus mengikuti, bahkan aku sudah memasuki kota B sesuai perintah Bos."


"Ok bos."


Reza menutup teleponnya itu.


Gita yang penasaran dia mulai bertanya, namun pria itu tidak ingin ada rahasia diantara mereka makanya dia jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Gita sempat merasa khawatir jika yang mengikutinya itu akan mencelakai Reza, namun laki-laki itu meyakinkan gadisnya untuk tenang, bahkan Reza sedang menyelidikinya.


Setelah selesai mengambil cincin pesanan, mereka pergi makan malam, namun Gita tidak ingin diajak ke cafe atau restoran. Dia memilih makan di tempat yang sederhana.


"Kamu serius mau makan disini?."


"Iya, memangnya kenapa?."


"Gapapa, hanya ini adalah hal baru bagiku." Ucap Reza.


tempatnya rame banget, trus dipinggir jalan lagi, apakah enak? apakah yakin ini bersih? Batin Reza


"Tapi aku lagi ingin makan Bakso pedas itu Za, disini juga ramai dan terkenal, katanya baksinya enak loh.." Ucap Gita , memohon agar Reza mau makan disini.


"Baiklah , ayo..!" Ajak Reza


Reza tidak bisa menolak permintaan gadisnya itu, apalagi dengan wajah yang memohon, itu sangat menggemaskan menurut Reza.

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap bahkan Reza memesan 2 mangkok, 2 porsi bakso pedas.


"Berapa bang?."


"100.000 Rupiah." Jawab penjual bakso


"Apa? Ini pak jus nya jangan lupa dihitung."


"Iya sudah saya hitung semuanya."


Apakah benar segitu? Padahal aku pesan 2x, Gita juga makan dengan lahap, ini sih hemat sekali, aku bisa mentraktir semua karyawanku dengan menghabiskan dana yang sedikit, hehe.. Pikir Reza


Setelah selesai makan, mereka langsung masuk ke dalam mobil berniat pulang karena hari sudah malam.


"Kamu hebat sayang, memilih tempat makan yang enak tapi murah."


"Iya dong, aku lebih suka tempat seperti itu, daripada menghamburkan uang berjuta-juta hanya untuk makan dessert saja di restoran terkenal.hehehe.."


"Bener tuh mubazir ya?."


Gita hanya tertawa menanggapi pertanyaan Reza, tak lama ponsel Reza berdering lagi.


"Siapa?." Tanya Gita


"Orang tadi, aku angkat dulu ya?." jawba Reza


"Ok."


Reza pun mengangkat panggilan itu, dengan rasa penasaran tentunya.


"Apa? Kamu serius?." Tanya Reza


"Apa kamu tahu identitas wanita itu?" Reza


"Ok, aku mengerti, urus saja semuanya bagaimanapun dia masih keluargaku." Reza


Reza menutup teleponnya, dia segera mengantar Gita pulang, memberi pengertian pada wanita itu, jika dia mempunyai urusan yang mendesak.


Dia langsung melajukan mobilnya ke kota B, dan tak lupa menghubungi mamah dan papanya, agar mereka datang menyusul nanti.


Selama perjalanan perasaan Reza bercampur aduk, antara kesal, penasaran, kasihan, sedih.


"Mah… mamah udah berangkat?."


"Iya Za udah, baru aja jalan, mamah pergi sama papa kamu, mamah khawatir sekali Za, takut terjadi sesuatu yang serius. Hiks.." Bu Maya mulai menangis saat menjawab telepon dari Reza.


"Mamah berdo'a aja ya..! Pasti semuanya baik-baik saja. Reza juga sebentar lagi sampai, nanti Reza hubungi mamah lagi kalau udah ada kabar terbaru."


"Iya Za, lanhsung kabari mamah ya..!"


"Iya mah, mamah jangan khawatir."


Tutt…

__ADS_1


Telepon itu ditutup oleh Reza, mobilnya mulai memasuki parkiran Rumah Sakit.


Bersambung….


__ADS_2