Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Sore hari Gita sudah pulang dari kampusnya, dia menemani Angga menonton TV. Menyuapinya buah-buahan juga, kali ini Gita tidak ingin berdebat, bertengkar, dan mencari gara-gara dengan kakaknya itu, karena satu alasan Angga sedang sakit.


Momen itu bahkan dimanfaatkan Angga agar bisa mengerjai adiknya itu, menyuruhnya ini dan itu, namun gadis itu hanya mampu bersabar.


"Git.. kakak mau di kupasin apelnya dong..!" Angga


"Iya kak," gadis itu beranjak dari tempat duduknya, dengan patuh mengupas apel itu, setelah selesai dia datang membawa apel yang sudah siap dimakan.


"Ini kak udah." Gita


"Suapin..!" Angga


"Tangan kak Angga kan gak sakit? Lagian sakit kakak gak parah juga 'kan?" Keluh Gita.


"Pokoknya pengen disuapin." Angga


Gita mengalah, akhirnya dia menyuapi kakak nya itu sampai apel dipiring itu habis.


"Udah, kakak mau apa lagi?" Tanya Gita.


Mentang-mentang sakit, aji mumpung nih kak Angga. Pikir Gita


"Emm, kakak mau ketoprak yang dibeloka itu loh Git, yang terkenal enak." Angga


"Oh, oke.. kakak tunggu 30 menit ya?" Gita


"Kelamaan, 20 menit aja." Angga


Astaga, kalau gak sakit udah gue timpuk nih kakak gue yang nyebelin ini. Pikir Gita


Tanpa menjawab, Gita segera pergi dengan membawa kunci motor Reza, motornya memang malah disimpan disini dan pria itu tidak berniat mengambilnya kembali.


Gita sebenarnya bisa menyuruh pembantu, atau karyawan lainnya yang ada di rumah, namun jika Angga tahu, pasti dia akan menyuruh Gita balik lagi membeli ulang ketopraknya, jadi dia memutuskan membelinya sendiri.


Angga yang lapar, dia sengaja menelpon Gita menyuruhnya agar lebih cepat. Hal ini benar-benar membuat Gita kesal.


Kapan lagi aku ngerjain kamu dek, bisa saja suatu saat nanti kita akan sulit bertemu, dan tidak bisa sedekat ini. Pikir Angga


Gita datang dengan wajah cemberutnya, memberikan bungkusan ketoprak itu didepan Angga.


"Mangkuknya dong sekalian..!" Angga


"Astaga, kakak … ," keluh Gita, namun dia tetap mengambilkannya.


Gita yang lelah karena pulang kuliah langsung disuruh-suruh Angga, dia pun tertidur di sofa kamar kakaknya itu.


Angga memandang dari jauh, dia pasti akan merindukan momen ini kala dia sudah berkumpul dengan keluarga aslinya.


Berat, memang berat melepaskan hal yang sudah lama melekat, kebahagiaan yang setiap hari dirasakan, kasih sayang Angga tulus untuk adiknya itu.


Aku berharap kita masih bisa seperti ini, jangan berubah Git..! aku tetap kakakmu, selamanya. Batin Angga

__ADS_1


Reza datang, lelaki itu ingin menemui pacarnya. Bukan menemui Angga yang sudah mengerjainya malam tadi, Reza masih merasakan kekesalannya, dia bahkan tidak menyapa calon kakak iparnya itu.


Gita yang dibangunkan bu Hanna, dia pergi menemui pacarnya itu.


Dia masih marah padaku? Pikir Angga


Bagaimana Reza bisa melupakan kejadian malam tadi? Itu adalah hal paling konyol yang ia alami, dia didandani bahkan dipakaikan lipstik oleh Angga.


Angga akan berusaha meminta maaf, namun dia harus mencairkan suasana terlebih dahulu.


"Cie, ngapelin pacar nih," goda Angga


"Hmm.." Reza


"Masih marah nih? Kayak anak kecil aja marahnya lama." Angga


"Hmm.." Reza


"Kakak itu keterlaluan." Gita


"Iya, maaf deh, cuma bercanda biar seru aja." Angga


"Tetep aja keterlaluan, kak Angga pikir aku belok. Pake didandani begitu, jiwa kejantananku merasa terhina." Reza


"Hahaha… belok, lurusin aja!, hmm.. hmm.. oke, aku minta maaf, aku percaya kamu jantan, kamu boleh nikah sama Gita." Angga


"Kak Angga apa-apaan sih bawa-bawa aku?" Gita


Akhirnya Reza mau memaafkan Angga, dia sudah mau bertanya dan mengobrol lagi, membuat suasana rumah kembali ceria.


Namun sayang, Reza merasa menyesal telah berbaikan dengan calon kakak iparnya itu,  nyatanya setelah itu Reza dan Gita dikerjain Angga lagi, mereka seperti dicucuk hidungnya, menuruti apa yang diinginkan Angga, karena lelaki itu sedang sakit.


Kalau tau begini, gue gak mau maafin dia, kenapa gue sial terus kalau ketemu kak Angga. Pikir Reza


Rencana romantis bertemu pacar pun, hancur seketika, kini Reza sedang merasakan menjadi pelayan dadakan. Pelayan gratisan tentunya, membuatnya semakin merasakan kesialan hari ini.


***


Sementara dikediaman Jani, wanita itu heboh berdandan semaksimal mungkin, padahal Kirana hanya mengoleskan lipstik sedikit dipadukan bedak tipis.


Ya, Kirana memang cantik alami.


"Mah, kita akan terlambat kalau mamah terus bercermin." Kirana


"Hehe.. oke, mamah terlalu senang mau pergi sama kamu, jadi mamah harus berdandan secantik mungkin." Jani


Kirana hanya tersenyum senang, untuk pertama kalinya Kirana pergi bersama Jani dengan suasana yang hangat.


Dipesta, mereka menjadi pusat perhatian, karena baru kali ini Kirana mau datang ke acara pesta seperti ini bahkan dengan ibunya.


Kirana memaksakan datang karena yang bertunangan malam ini adalah teman dekatnya, dia tidak mungkin melewatkannya.

__ADS_1


Malam ini menjadi malam berkesan untuk Jani dan Kirana, tidak kalah bahagianya dengan pasangan yang bertunangan malam ini.


Jani baru merasakan jika pergi bersama Kirana akan menyenangkan seperti ini.


Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Aku bahkan melewatkan kebersamaan menyenangkan ini selama 20 tahun. Pikir Jani


Saat mereka pulang, mereka merebahkan diri di sofa secara bersamaan.


"Cape juga ya? Tapi seru loh, temen-temen kamu juga ganteng-ganteng." Jani


"Mamah, mamah…" Kirana


"Sebaiknya mamah langsung istirahat aja mah..!" Kirana


"Emm.. sebentar lagi, kamu temenin mamah nonton sebentar, oke?" Jani


"Iya mah, aku ganti baju dulu deh." Kirana


Saat menonton, Jani teringat tentang amplop itu, dia mencarinya di kamarnya, dia lupa menaruhnya dimana.


Sampai Kirana ikut mencari, meski dia tidak tahu isinya apa, namun dari ekspresi Ibunya itu, amplop itu sangat penting.


"Kok bisa hilang sih mah?" Kirana


"Mana mamah tahu Kirana, sepertinya mamah lupa, oh usia mamah sudah tak muda lagi." Jani


"Hahahahaha…" Kirana


"Kenapa kamu tertawa begitu?" Jani


"Aku hanya baru tahu jika mamah orangnya hangat dan humoris." Kirana


"Hehe.. iya maafkan mamah yang dulu ya? Yang dingin dan jutek." Jani


"Hmm.. iya mah."


Mereka terus mencari namun tidak menemukannya, membuat Jani menyerah dan ingin tidur saja. Sebenarnya bisa saja Jani mengatakan kebenaran itu secara langsung tanpa surat itu, tapi itu adalah bukti yang bisa membuat kirana percaya.


Jani berencana mencarinya besok. Gadis itu juga kembali ke kamarnya.


Saat Kirana baru saja ingin menutup pintu kamarnya, dia menemukan amplop itu di dekat pintu, ternyata surat itu jatuh dikamar Kirana saat sore tadi Jani sempat menemui Kirana.


Amplop ini yang dicari mamah? Isinya apa? Aku buka atau memberikannya pada mamah? Pikir Kirana


Gadis itu penasaran, namun dia takut jika didalam amplop itu sesuatu yang penting yang ibunya tidak ingin orang lain tahu.


Dia bingung, namun amplop itu sedikit terbuka membuatnya semakin penasaran ingin membacanya.


Jika aku membacanya, apa mamah akan marah padaku? Pikirnya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2