
Akhirnya Raja pergi bersama pengawal tadi menuju paviliun selir Mey.
Sesampainya disana terdengar teriakan selir Mey yang begitu keras.
"Mana Raja? Aku ingin bertemu dengannya."
"Aku tidak mau diobati, kalau tidak ada Raja disini."
"Ya ampun, benar-benar emosinya tidak stabil.. " keluh Deon dalam hati
Akhirnya Deon masuk, ia mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi dan apa yang diinginkan Mey terlebih dahulu.
Saat selir Mey melihat kedatangan Raja, ia berlari memeluk orang yang ia cintai itu dengan erat.
"Kemana saja kamu Deon, aku menunggu mu begitu lama disini, kenapa kau mengabaikanku dan anakmu?hiks.." Ucap selir Mey menumpahkan emosinya ia menangis memeluk Deon, meski Deon tak membalas pelukannya.
Tangan Raja seakan enggan memeluk wanita jahat di hadapannya itu, meski ia begitu mengasihi nasib Mey, tapi ia tidak boleh goyah dengan air mata Mey, bahkan Mey tetap berbohong tentang ayah anak itu.
Tabib menghampiri, "Yang mulia raja, tolong bujuk nyonya agar mau diobati, lihatlah darah yang mengalir, kemungkinan calon bayinya terancam."
"Astaga aku baru menyadarinya, Mey cepat kamu tidur dulu ya..! Biarkan tabib memeriksa mu dan mengobati mu, kasihan anakmu perlu pertolongan."
"Ini juga anakmu, aku mau kau disampingku, menemaniku disini..!"
"Hmmm… baiklah."
Raja menuntun selir Mey, dan menyuruhnya berbaring diatas ranjang, tabib istana langsung memeriksa selir dengan cekatan, ia takut kalau ia terlambat menangani pendarahan selir.
Raja menemani Mey, ia duduk di sampingnya dengan tangan yang digenggam erat oleh selir.
Raja bisa mendengar dan melihat jika memang Mey sedang merasa kesakitan, terkadang dia akan meringis kesakitan dan terkadang menggenggam tangan Deon begitu kencang.
Tiba-tiba Mey pingsan, ia mungkin tidak bisa menahan rasa sakitnya, tapi tabib istana terus melakukan pertolongan bahkan kini dengan 3 tabib sekaligus.
__ADS_1
Setengah jam berlalu akhirnya semua tabib merasa lega, janin selir Mey selamat membuat Deon merasa lega.
"Syukurlah calon bayi nyonya masih bisa diselamatkan yang mulia."
"Kenapa ini bisa terjadi?"
"Emosi nyonya sedang tidak stabil yang mulia, ibu hamil memang memerlukan perhatian yang lebih, saya mengira jika nyonya mogok makan, dan tadi sempat mengamuk, membuatnya terjatuh lalu mengalami pendarahan, dan membuat tubuhnya benar-benar lemah."
"Hmm.. begitu ya, berikan pengobatan yang terbaik, saya akan menyempatkan untuk berkunjung kesini agar kondisinya membaik."
"Tidak lama lagi pasti nyonya sudah sadar, dan harus dipastikan jika nyonya mau makan yang mulia."
"Iya aku tau, aku akan menemaninya dan menyuapinya, siapkan saja makanan sehat dan obat terbaik..!"
"Ya ampun, aku tidak bisa membiarkan bayi tidak bersalah itu terancam mat* karena emosi Mey yang tidak stabil ini. Haruskah aku memperhatikannya demi anak itu, meski aku tahu dia bukan anakku?" Ucap Raja dalam hati.
Selir Mey membuka matanya, ia tersenyum melihat Deon ada disampingnya, ia begitu merindukan sosok itu. Setelah sekian lama ia berharap dan terus berharap kini ia bisa mendapatkan sedikit perhatiannya.
"Terimakasih Deon.." Ucap selir Mey dengan suara lemah
Deon membantu Mey bangun, dan membantunya minum. Setelah itu ia menyuapi Mey sampai makanannya habis, tak lupa ia memberikan obat yang tabib berikan, ia memastikan Mey meminumnya dengan benar.
Setelah selesai, "istirahatlah Mey… jaga kesehatanmu, kasihan anakmu, jangan siksa dia..!, aku ada urusan.. besok aku janji akan menjengukmu lagi."
"Benarkah? Janji ya..!"
"Iya.. aku pergi dulu."
Raja melangkahkan kakinya keluar, dengan ditatap oleh mata Mey yang berkaca-kaca seakan tak rela membiarkan Deon pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, Deon terus berpikir, apakah dia harus tegas dan membiarkan Mey menjalani hukumannya itu, atau dia memberikannya sedikit perhatian demi calon bayi yang malang itu, akankah Ratu mengizinkannya. Begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi yang sedang Deon pikirkan.
Deon harus mengambil keputusan yang paling baik untuk semuanya. Dia memilih kembali ke paviliun Ratu dan menceritakan semuanya.
__ADS_1
Setelah sampai disana, ia disambut dengan wajah ketus sang Ratu.
"Hmm.. bagaimana keadaan selirmu? Rencana apa lagi yang ia lakukan? Apa kau luluh dengan sandiwaranya? Huh.. menyebalkan."
"Ya ampun, ternyata ada yang begitu cemburu." Ucap Raja sambil menghampiri sang Ratu, ia duduk di sebelahnya, memegang kedua tangan Ratu, dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Lepaskan…! Tanganmu mungkin tadi telah membelai selir kesayanganmu itu, aku tak mau disentuh." Ucap Ratu yang masih cemburu
"Astaga, kenapa gue bisa cemburu sih, kenapa tingkah gue kekanak-kanakan sekali, ini pasti bawaan bayi.. Gita ayolah kendalikan dirimu..!" Keluh Gita (Ratu) dalam hatinya
"Aku suka jika kau cemburu." Ucap Raja
"Aku tidak sedang cemburu, kau berlebihan."
"Bukankah kau yang berlebihan saat ini, hmm.. hmmm.."
"Sudahlah, tidak usah dibahas. Jadi ada apa yang gawat sampai selir mu itu membutuhkanmu?" Ratu mulai sedikit serius meski masih tampak jelas ia berbicara dengan nada kesal dan cemburu
Akhirnya Raja Deon menceritakan semua yang terjadi disana. Dia bahkan meminta saran pada Ratu, ia benar-benar bingung harus mengambil langkah apa.
Ratu mendengarkan dengan begitu antusias, ia bahkan tidak menyela cerita Deon.
Lalu Ratu mengambil keputusan.
"Tak apa jika kau sedikit perhatian hanya demi keselamatan anaknya, asal perhatianmu lebih banyak padaku..!"
"Benarkah? Terima Kasih… kamu memang istri yang pengertian." Ucap Deon sambil memeluk istrinya itu.
Ratu melepaskan pelukan Deon dan berkata,
"Tapi dengan satu syarat."
"Ya ampun, aku tiba-tiba merasakan aura dingin di sekitarku." Keluh Deon dalam hati, ia merubah ekspresi penuh cinta dengan ekspresi sedikit tegang.
__ADS_1
Bersambung