Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 65 Ditemani Ibu Suri


__ADS_3

"Dari mana saja selama seharian penuh?, bahkan aku menunggumu sampai bosan begini."


Ratu menghampirinya dengan cepat, "Maafkan aku ibu, aku hanya berjalan-jalan."


"Hmm.. ibu lihat baju kamu tidak seperti biasanya."


"Hehe… ini baju paling sederhana ibu, aku ingin memakainya saja."


"Hahaha.. jangan gugup begitu Anggrek, dulu ibu pun pernah muda, dan terkadang ibu nakal sepertimu, ibu tau apa yang telah kalian lakukan dari pagi hari."


"Ibu…. Maafkan aku."


"Tidak apa-apa menantuku, hanya saja ibu mengkhawatirkan calon cucu ibu. Ibu kemari karena ibu mendengar bahwa Deon sedang pergi selama 2 hari, jadi ibu berniat menemanimu, tapi ternyata menantuku begitu menikmati hari tanpa suaminya, Hahaha"


"Hehe.. terimakasih ibu atas perhatiannya, aku akan selalu berusaha menjaga calon cucu ibu."


"Iya.. iya, kau mengingatkanku pada masa mudaku dulu. Banyak sekali belanjaan mu? Sini ibu lihat..!" Dengan cekatan ibu Suri mengambil belanjaan Ratu, membuka semua bungkusan dan melihat semuanya satu persatu.


"Wah… ada jajanan juga, ibu mau ya? Kita makan bersama saja, bagaimana?" Ibu Suri terlihat senang


"Iya ibu, ambilah sebagian barang yang ibu suka..!"


"Bagus-bagus sekali, lain kali.. ajaklah ibu jika kau mau berjalan-jalan..!"


"Baik bu.."


Akhirnya mereka sama-sama membongkar semua barang belanjaan, memilih mana yang bagus dan cocok.


Sani yang melihat pemandangan itu merasa sedikit heran, "Aku kira ibu Suri akan marah, ternyata mertua dan menantu itu sangat kompak.hehe"


Sani berpikir, ia mulai penasaran dengan kehidupan ibu Suri ketika muda, apakah sama persis dengan Ratu yang sekarang, yang ceria, berani, dan selalu membuat orang khawatir dengan tingkahnya yang terkadang diluar batas.


Setelah selesai membereskan barang-barang belanjaannya, Ratu mengajak ibu Suri menikmati semua jajanannya.


Sani yang tak enak jika ikut bergabung, dia memilih pergi. Hingga dia menyadari bahwa dia tidak melihat Pangeran Ceng lagi.

__ADS_1


"Apakah dia sudah pulang?"


Sani yang merasa lelah, berusaha bersantai di sekitar taman paviliun Ratu. Dia melihat ada salah satu pohon bunga mawar yang mati, Sani mulai menghampiri dia begitu sedih karena pohon itu telah lama ia rawat.


Sani berniat memetik bunga yang sudah kering itu, tanpa sengaja ia tertusuk duri yang ada di tangkainya.


"Aaww…"


"Kamu kenapa?"


"Pangeran, saya tidak apa-apa hanya luka kecil, anda mau bertemu Ratu?"


"Ah tidak, aku sudah lelah ingin pulang, tapi aku teringat denganmu, lalu aku kembali lagi kesini.hehe"


Sani yang sedang berbunga-bunga, ia tampak mematung dan tak keluar satu katapun dari mulutnya.


"Sani… sani.." Pangeran memanggil namanya, karena melihat Sani yang bengong.


"Ah iya pangeran?"


"Malah melamun, ini ambilah..!"


"Uang ganti rugi, bukankah aku sudah berjanji akan mengganti uang kamu yang dihabiskan Ratu, apakah itu cukup?"


"Astaga, aku lupa tentang uang ini, aku kira dia mencariku karena alasan lain. Cukup Sani jangan berpikir yang aneh-aneh" Ucap Sani dalam hati


"Sebenarnya.. tidak usah pangeran, ini… ambilah kembali uangnya."


"Tidak apa-apa ambilah..! Aku pulang dulu."


Sani menatap punggung sang Pangeran yang mulai menjauh dari pandangannya.


"Aku tidak mungkin bisa menggapainya."


***

__ADS_1


Rizad yang sudah dibebaskan, ia memilih kembali ke istana. Sepanjang jalan dia hanya merenungi perkataan Raja, dia benar-benar dilema.


"Kenapa Raja bisa tau kalau aku yang melakukannya?, sekarang aku harus apa?, aku tidak yakin akan bisa hidup tenang setelah kejadian ini."


Rizad langsung menghempaskan tubuhnya ke ranjang, "Sungguh nyaman, rasanya tubuhku terasa sakit karena selama seharian diikat di kursi."


Bayangan selir Mey menghiasi pikirannya, dimana Mey saat itu masih sangat berbeda dengan Mey yang sekarang.


Mey yang dulu sering tersenyum padanya, begitu ceria dan cerewet, setiap bertemu.. Mey akan menceritakan semua kegiatannya seharian, berbicara tanpa jeda, menurut Rizad itu sangatlah lucu. Hingga kini Rizad masih mengingat semua itu.


Kakak pengawal adalah sebutan yang Mey lontarkan untuk Rizad, dulu banyak pujian yang Rizad dapatkan dari Mey.


Kakak pengawal pemberani.


Kakak pengawal yang tampan dan manis.


Kakak pengawal yang gagah.


Semua kata-kata manis itu membuat Rizad perlahan-lahan menyukainya, bahkan berharap bisa memilikinya, hingga dimana suatu ketika Mey lebih tertarik dengan Pangeran Deon. Mulai menjauh darinya dan lebih sulit digapai.


Hingga akhirnya, bayangan-bayangan itu hilang karena kini Rizad tertidur, yang membuat semua itu berganti menjadi bayangan mimpinya.


***


Malam ini Ratu tidur bersama ibu Suri, Ratu merasa terhibur hari ini. Sudah puas berjalan-jalan dan ditemani mertua yang sangat memaklumi dirinya, membuatnya nyaman dan tidak merasa canggung.


Ibu Suri terlihat sudah tertidur pulas, Ratu yang kini sering mengalami susah tidur berharap ditemani Raja, karena aroma tubuh sang Raja akan membuat Ratu tertidur lebih cepat.


"Bukankah besok dia seharusnya sudah kembali? Hmmm… kenapa malam ini aku merindukannya? Ah tidak mungkin, bayi ini yang merindukannya hingga mempengaruhiku."


Ratu mencoba memejamkan matanya, tapi ia tetap masih kesulitan untuk tidur, rasanya ia ingin berguling-guling di kasur, tapi ia ingat jika kini perutnya sudah mulai membesar, membuat gerakannya terbatas, hingga akhirnya dia tertidur juga.


Malam masih begitu gelap, Raut wajah Ratu ketika tertidur seakan sedang bersedih, mulai meneteslah air mata dari sudut matanya.


"Jangan pergi mah...!"

__ADS_1


Teriak Gita (Ratu)


Bersambung...


__ADS_2