Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 79 Keputusan Rizad


__ADS_3

Ronda malam ini tak segampang yang dibayangkan Deon. Bayinya itu benar-benar manja, saat dia terbangun karena pipis, ayahnya bergegas mengganti celananya, lalu ditimang-timang supaya tidur, tapi saat akan dibaringkan kembali, seakan bayi itu mengetahuinya, lalu mulai menangis lagi. Alhasil selama hampir satu jam Deon menimangnya, barulah bayi itu bisa dibaringkan karena benar-benar sudah terlelap.


"Nak, kamu itu menggemaskan sekaligus pandai mengerjai ayahmu ini, bahkan kau melakukannya sejak dalam kandungan ibumu.hmm..calon Raja yang penuh taktik."


Dalam semalam itu Ratu hanya dibangunkan 3 kali saja untuk menyusui, itu pun langsung tertidur lagi sementara Deon yang selanjutnya menjaga bayinya itu. 


Raja memang bisa menikmati tidurnya jika Pangeran Kecil itu tidur, namun karena memang bayi itu bangun tidur, bangun tidur dan bangun tidur lagi, membuat kepala Deon sakit di pagi hari.


"Astaga, baru semalam saja badanku rasanya pegal-pegal semua, haruskah aku libur kerja hari ini?" Keluh Deon


Ratu bangun dengan wajah sumringah, "akhirnya aku bisa menikmati tidur malamku, terimakasih suamiku." Ucap Ratu menatap Raja yang sedang duduk lesu di ranjang.


"Iya sama-sama sayang, apakah hanya ucapan terimakasih saja, tidak adakah hadiah? kamu akan menikmatinya selama 6 malam kedepan, ternyata menjaga bayi itu tidak semudah yang aku bayangkan."


"Hadiah apa? Makanya, kamu harus memperhatikanku lebih dari biasanya..! Karena aku telah bekerja keras selama ini.. aku akan mandi lalu sarapan." Ucap Ratu berlalu pergi begitu saja


"Sayang, hadiahnya? Tidak adakah ciuman mesra pagi ini?." Tanya Deon yang bertambah lesu saja pagi ini.


Raja kini hanya mampu memeluk guling yang berada disampingnya dan berkata, "bukankah dia sedikit kejam padaku?." Tanya Raja pada gulingnya.


Karena tak mendapat jawaban dari si guling, akhirnya Raja pun melakukan hal yang sama dia akan bersiap-siap, dia tidak boleh libur seenaknya, bahkan seorang Raja mempunyai banyak pekerjaan, rakyatnya begitu banyak, begitu banyak pula hal yang harus diurus, bahkan masalah selir Mey dan Rizad pun belum ia selesaikan.


Mereka sarapan bersama, sebagai ucapan terimakasih pagi ini Ratu melayani Raja makan, menyuapinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Matamu begitu menunjukan pada dunia kalau kamu semalam kurang tidur, hehe.. apa sebaiknya kamu istirahat dulu saja di sini?"


"Sebenarnya aku ingin, bahkan ingin dimanjakan istriku sampai aku tertidur, tapi.. aku mempunyai urusan penting hari ini, akan ku tagih janjimu besok saja." Ucap Deon sambil tersenyum nakal


"Siapa yang berjanji? Kau sendiri yang mengatakannya, dasar.. suami licik." Keluh Ratu


"Licik pada istri sendiri bukankah itu tidak masalah?"


"Hmm.. iya iya, sebaiknya kau segera berangkat, aku juga sibuk, mau memandikan Pangeran."


"Lain kali, mandikan juga suamimu..!"


"Haha.. cemburu pada bayi."


"Bukankah kemarin kau juga cemburu padanya.hmm.."


"Selamat bekerja." Ucap Ratu lalu menutup pintu tanpa membiarkan Deon berbicara lagi.


Ratu ingin memandikan bayinya, lalu memberinya ASI dan membuatnya tidur nyenyak.


Memang kebanyakan bayi yang baru lahir beberapa bulan akan lebih banyak tertidur di pagi dan siang hari, tapi begadang di malam hari.


***

__ADS_1


Rizad begitu setia menemani selir Mey, dia merasa tidak ingin jauh dari bayi mungil itu.


"Kamu memang sangat mirip ibumu, nak.."


Sebenarnya Rizad tidak sengaja memberitahu Mey tentang kebenaran sang Raja. Waktu itu dia begitu kesal pada Mey yang terus menunggu Raja datang bahkan sampai mengacuhkan anaknya.


Disaat bayi itu menangis, Mey menyuruh pelayan untuk menghentikan tangisan bayi itu, sementara dia hanya termenung menunggu kehadiran Raja Deon.


"Untuk apa kau menunggu seseorang yang memang sekarang bukan milikmu lagi? Lihatlah anakmu, dia begitu ingin diperhatikan olehmu, Raja tidak akan datang dia sudah tau anak itu anak kita, jadi berhentilah berharap dan terimalah keadaanmu yang sekarang..!"


Selir Mey kaget mendengar kenyataan itu, tapi apa yang dikatakan Rizad membuat Mey semakin mengacuhkan anaknya.


"Bawa dia pergi dari sini, dia begitu berisik, untuk apa dia ada disini? Dia tidak berguna." Ucap Mey


Rizad begitu murka mendengar perkataan Mey, dia menilai jika bayi itu perlu orang tua yang benar-benar tulus. Rizad bertekad akan mengasuh bayinya meski tanpa Mey.


"Cobalah kau berdamai dengan keadaan, terimalah takdir hidupmu, berubahlah..! karena masih ada kebahagiaan jika kau mau menerima apa yang ada."


Rizad pergi dari ruangan itu, ia tidak ingin kekesalannya ia lampiaskan pada selir Mey.


Dia benar-benar akan menemui Raja, menerima tawarannya dulu, dia begitu menginginkan hak asuh atas anaknya itu, apapun resikonya.


Dia juga bertanya-tanya apakah selir Mey akan tetap mendapatkan hukuman penggalan yang sempat tertunda, jika memang benar.. bukankah dia harus mengurus anaknya sendirian, apakah ia harus mencari ibu persusuan, atau mencari ibu baru untuk anaknya.

__ADS_1


Memang akan membingungkan, tapi satu hal yang penting, untuk saat ini dia hanya akan fokus pada bayinya.. untuk kedepannya cukup jalani saja.


Bersambung...


__ADS_2