
Tak berselang lama tabib istana datang untuk memeriksa keadaan selir Mey.
"Sebenarnya aku sakit apa tabib?, akhir-akhir ini tubuhku lemas sekali."
"Hmm.. jagalah kesehatanmu nyonya, dan berterimakasihlah pada calon anak nyonya karena ia menyelamatkan nyawa nyonya..!"
"Maksud anda?"
"Nyonya sedang mengandung, dan yang mulia Raja akan membiarkan anda tetap tinggal disini, memberi makanan yang sehat dan bergizi agar calon anak anda sehat."
"Benarkah? Syukurlah."
"Kalau begitu, saya permisi nyonya."
Ketika tabib istana itu keluar, selir Mey mulai berpikir jika ia hamil maka anak ini kemungkinan adalah anaknya Rizad, tapi Deon memperlakukannya dengan baik, bahkan menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi, selir Mey mengira bahwa Raja Deon mengakui anaknya itu.
Kekhawatiran Selir Mey akhirnya hilang, dia seperti mendapat harapan baru, dia akan melewati hari-harinya dengan lebih baik meski diperlakukan seperti tahanan yang tidak boleh kemana-mana, tapi dia bisa lolos dari eksekusi.
***
Pagi hari ini ada yang berbeda, Ratu tidak merasakan mual di pagi hari setelah ia mendekati Deon dan berusaha mencium wangi ketiak suaminya itu.
Ketika Deon masih tidur, Ratu terus saja menempelkan hidungnya dekat dengan ketiak sang Raja, entah mengapa ia begitu tergiur dan menurutnya itu wangi dab menyegarkan membuatnya tidak mual lagi.
"Astaga, kamu sedang apa? Membuatku geli saja, aku belum mandi sayang, kan bau. Aku mandi dulu ya?" Ucap Raja kaget ketika bangun ia melihat Ratu yang menempelkan hidungnya tepat di ketiaknya.
"Gue juga gak tau tiba-tiba ketiak lo wangi dan seger bikin gue gak mual, hiks.. ko gue malu-maluin gini sih, astaga." Gumam Gita dalam hati, lalu ia menjauh dari tubuh Deon.
"Jangan..! Kalau kamu mandi nanti wanginya hilang, nanti yang tercium wangi sabun lagi." Ucap Ratu
__ADS_1
"Astaga, bisa-bisanya gue ngomong gitu." Keluh Gita dalam hati, ia sampai menutup mulut dengan kedua tangannya, ia tidak percaya kalau bisa memohon hal yang begitu tak masuk akal.
"Astaga, kau ini kenapa? Lalu aku tidak boleh mandi hari ini?"
"Boleh, tapi jangan kamu sabuni ketiakmu..! Jangan ya..!" Ucap Ratu menghampiri Raja, memeluknya dan mendekatkan wajahnya di ketiak sang Raja.
"Astaga, kenapa gue jadi begini, ketek orang ko wangi sih, kenapa gue jadi segila ini ya.. jijik kan ngendus-ngendus ketek si Deon apalagi bulunya itu panjang banget sampe bisa kali gue kepang itu bulu ketek. Kendalikan dirimu Gita..! Hey utunnya Anggrek jangan aneh-aneh deh jangan malu-maluin gue..!" Keluh Gita dalam hatinya
"Aku baru tahu, kalau kamu suka wangi ketiakku.hehe" Ucap Raja Deon sambil tersenyum nakal.
Ratu yang malu karena masalah ketiak ini, memalingkan wajahnya sambil berkata, "Itu bukan kemauanku, calon anakmu yang minta."
"Hahaha.. calon anak ayah memang unik, ya udah ayah mandi dulu, ayah janji ketiak ayah tidak akan ayah sabunin, biar ibumu senang." Ucap Raja yang menghampiri Ratu dan mengelus perutnya itu
"Astaga Deon, sudah kubilang itu cuman kemauan anakmu yang gak bisa aku kendalikan.huh.. mandi sana..! Sabunin aja semuanya..!" Ucap Ratu kesal
Akhirnya perdebatan di pagi hari selesai, Raja Deon memilih mandi tanpa menyabuni ketiaknya, ia tidak ingin mengejek Ratu lagi yang akan membuatnya marah.
"Ketek nya di sabunin gak ya?, astaga Gita sadar woyy sadar, ketek orang aja lo demen mana bau gak disabunin." Pikir Gita (Ratu) sambil memukul-mukul kepalanya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Raja
"Ah tidak apa-apa, ayo kita sarapan..!"
Merekapun akhirnya menikmati sarapan pagi, tapi entah mengapa mata Gita (Ratu) selalu fokus pada ketiak sang Raja, ia penasaran apakah benar jika Raja melewatkan bagian itu saat memakai sabun.
"Gita ayolah, jangan malu-maluin..! Kenapa sekarang lo doyan banget sama bau keteknya dia." Keluh Gita lagi dalam hatinya
Hari ini Gita (Ratu) lewati dengan berperang melawan keinginan calon bayinya, dia berpikir mungkinkah ini salah satu ngidam yang langka dan menyusahkan, hmm.. sungguh membuatnya kerepotan.
__ADS_1
"Jaga harga dirimu Gita..! Tahan sampai malam, ketika si Deon itu tidur dan tak sadar kalau lo nempel di ketiaknya. Ok.. pasti bisa..!"
Tiba-tiba Pangeran Xia datang berkunjung, memberikan berkas-berkas pada Raja Deon. Gita begitu penasaran dengan isi berkas itu,
"Mungkinkah itu sebuah bukti-bukti yang bahkan memberatkan selir Janie? Dari wajah Pangeran Xia sepertinya itu sesuatu yang penting dan butuh peperangan antara pikiran dan hati pangeran."
Pikir Gita (Ratu) mencoba menerawang seakan dia seorang peramal.
Raja mengajak pangeran Xia mengobrol secara empat mata, Ratu pun membiarkannya, ia memilih bercerita kepada Sani tentang ngidam yang dia alami.
Sani tertawa terbahak-bahak ia begitu tidak menyangka jika cara ngidam Ratu sangatlah konyol. Ratu memelototi Sani dan membuatnya berhenti tertawa.
"Maafkan saya Ratu, tapi itu benar-benar lucu." Ucap Sani sambil menahan tawanya
"Tapi memang ada sebagian ibu hamil yang ngidam dengan cara yang aneh, Ratu tidak usah khawatir, bukankah sudah lebih baik pagi ini Ratu tidak muntah-muntah lagi?" Ucap Sani
"Iya, tapi menempel pada ketiak Raja itu lebih memalukan, lebih baik aku muntah setiap pagi.huh…" keluh Ratu
Pangeran Xia akhirnya pamit, dan saat itu Ratu menghampiri Raja untuk ikut melihat isi berkas-berkas itu.
"Aku kira itu isinya bukti-bukti kejahatan.hhmm.." Ucap Ratu
"Apa kamu mencoba menjadi seorang peramal? Hehehe." Jawab Raja Deon
Saat berkas itu dibuka, Raja membulatkan matanya seakan ia tidak percaya isi lembaran-lembaran kertas itu.
Bersambung...
Rekomendasi novel hari ini, yuk kepoin..!
__ADS_1