Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Rahasia Yang Dibongkar


__ADS_3

Reza mengantar ibunya pulang terlebih dahulu, lalu dia pergi ke lokasi yang sudah Angga share ke ponselnya.


"Ada apa ya? Apakah terjadi sesuatu?." Ucap Reza pelan


Dia melajukan mobilnya sedikit lebih kencang khawatir jika terjadi sesuatu dengan kakak iparnya itu. Setelah sampai dia berhenti terlebih dahulu memastikan jika itu lokasi yang benar.


"Disini kan? Rumah siapa itu?." Reza


Reza memilih menghubungi Angga, untungnya telepon itu diangkat dan menyuruh Reza langsung masuk saja.


"Assalamu'alaikum.." Reza


"Waalaikumsalam.." Nisa


"Eh Reza, ada perlu apa datang ke rumahku?" Nisa merasa heran.


"Oh ini rumahmu, aku hanya datang mencari Kak Angga." Reza


"Masuk aja kalau gitu, kak Angga ada sih tapi mereka sepertinya tidak bisa diganggu." Nisa


Mereka? Siapa? Pikir Reza


Ternyata Angga menyuruh Reza datang untuk menggantikannya bermain catur, Pak Damar kalah 1 ronde, namun 1 ronde saja memerlukan waktu hampir 3 jam, itu sangat melelahkan untuk Angga, dia juga merasa tak enak jika menyudahi permainannya.


Angga kini bisa bernafas lega, dia meluruskan punggungnya yang sudah pegal, belum lagi p@ntatnya yang sudah terasa panas.


Namun Reza begitu bersemangat, dia berusaha mengalahkan Pak Damar yang menurutnya sulit untuk dikalahkan.


Angga tidak berani mengganggu mereka, dia pulang secara diam-diam dan menjadikan Reza sebagai penggantinya.


Dia gak akan marah kan? Pikir Angga


Angga melajukan mobilnya sedikit lebih kencang, dia ingin segera merebahkan tubuhnya.


"Yes gue menang." Ucap Reza kegirangan


"Duh kalah lagi, sepertinya faktor usia, jika saja saya seumuran dengan kalian yang masih muda, pasti kalian kalah." Pak Damar


Hais, jelas-jelas dia kalah, gue harus pulang sekarang nih. Pikir Reza


"Kak Angga mana?." Tanya Reza pada Nisa


"Sudah pulang." Jawab Nisa


"Jadi gue ditinggal?." Reza merasa kesal.


Sudah dibantu juga, eh malah ditinggal, kalau bukan kakak ipar, udah gue maki-maki dia. Batin Reza

__ADS_1


Sepanjang jalan Reza marah-marah, hari juga sudah gelap, ketika pulang pun dia diinterogasi oleh bu Maya. Karena bu Maya sempat bertanya pada Gita, namun sedang tidak bersama Reza.


Saat Reza menceritakan semuanya, bu Maya malah menertawakan anak lelakinya itu, membuat Reza semakin kesal.


***


Gita yang sedang belajar memakai pensil alis, dia terkejut saat ada telepon masuk, membuat ukiran alisnya jadi keluar dari jalur yang seharusnya.


"Astagfirullah…" Gita


"Siapa sih bikin kaget aja, gue harus bikin ulang nih, masa alisnya jadi panjang sebelah, nyerong pula." Ucap Gita


Namun saat melihat nama Reza, dia melupakan rasa kesalnya. Dia ngobrol lewat telepon, saling bertukar cerita hari ini.


Begitu asyik, sampai lupa waktu, satu jam berlalu akhirnya mereka menyudahi percakapan lewat telepon itu.


Gita merasa haus, dia pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Baskoro yang kebetulan masih bangun dan sedang bersantai di ruang tamu dia tertawa melihat wajah Gita.


"Ada apa sih pah, sampe ketawa gitu?" Bu Hanna yang duduk disamping suaminya.


"Mamah ngajarin Gita make up itu yang bener dong..!" Baskoro


"Udah bener pah." Hanna


"Masa hasilnya begitu?" Baskoro


"Tunggu Gita balik lagi kesini..! Ok?." Baskoro


Bu Hanna sempat ingin tertawa melihat halis hasil lukisan Gita, namun dia tidak ingin jika disalahkan oleh suaminya.


"Git, ko halis kamu begitu?." Hanna


"Oh ini, tadi Gita kaget mah, jadi pensil alisnya juga ikutan kaget mah, jadi gini deh.hehe.." Gita lalu duduk bersama.


"Hahaha.. mana ada pensil alis kaget? Kamu aja yang gak bisa." Ucap Angga yang baru nongol dari kamarnya.


Mereka saling melempar ejekan, ya...suasana keluarga itu begitu hangat, selalu saja ada kejadian yang membuat mereka tertawa.


***


Pagi ini Reza berangkat ke kantor, seperti biasa dia juga mengantar Gita ke kampus.


Di rumah Maya ditemani suaminya, Sajanya merasa dia ingin menikmati hari liburnya lebih lama, karena usianya sekarang dia mudah lelah.


Meta yang berniat mendekatkan diri pada tantenya itu, dia kini sudah ada didepan pintu.


Setelah merasa jika tantenya itu memberi jarak padanya, Meta akan mencoba mendapatkan hati Maya lagi, agar diperlakukan seperti dulu.

__ADS_1


Saat Meta datang, pelayan menyambutnya, dan memberitahu jika majikannya sedang berada di halaman belakang.


Saat meta menghampiri tante dan om nya itu, dia mengurungkan niatnya, dia malah menguping pembicaraan mereka. Setelah puas mendengarkan, Meta berpura-pura baru datang dan menyapa tante dan om nya itu.


Setelah beberapa menit mengobrol, Meta segera pamit, dia memiliki urusan yang lebih penting.


Meta langsung menaiki mobilnya itu, melajukan mobilnya menuju ke Rumah sakit.


Bukankah ini kabat yang sangat mengejutkan? Pikir Meta.


Dia memang tahu jika tante Jani masuk rumah sakit, namun dia belum sempat menjenguk karena memang tidak terlalu memperdulikan hal itu.


Sesampainya di Rumah Sakit, dia langsung duduk dan menyapa tantenya.


"Tante, apakah masih sakit? Maaf ya tante aku baru sempat menjenguk." Meta


"Iya gapapa kok, tante juga sudah merasa lebih baik, apalagi Kirana merawat tante dengan baik." Jani


"Tante, pasti tante sangat tersiksa selama ini." Meta


"Maksud kamu tentang luka tante? Tante benar-benar sudah merasa lebih baik kok." Jani


"Bukan, maksud aku selama ini kan tante hidup berdampingan dengan anak selingkuhan om Aldi." Meta


Kirana yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Meta, mulai mendengarkan lebih fokus.


"Ma-maksud kamu apa Meta? Jangan berbicara yang aneh-aneh dan tidak masuk akal." Jani


"Sudahlah tante, tante itu sudah cukup menderita dan baik hati loh merawat anak selingkuhan om Aldi, pasti itu sangat berat, apalagi sampai puluhan tahun." Meta menatap Kirana dengan tatapan meremehkan.


"Sudahlah, tante tidak mengerti, tante mau istirahat saja." Jani


"Ok, aku perjelas tante, aku tahu jika Kirana itu anak haram yang dibawa oleh Om Aldi dan tante terpaksa merawatnya, iya kan? Harusnya tante jujur saja biar dia sadar diri..!" Meta


Jani terkejut karena Meta tahu rahasia ini, dan terkejut karena dia mengatakan hal ini di depan Kirana.


"Maksud kak Meta apa?" Kirana


"Bukankah sudah jelas, kamu itu anak haram, anak selingkuhan papamu, dan tante Janiku adalah orang yang kalian sakiti, paham?." Meta


Kirana benar-benar kaget, bahkan dia hampir terjatuh karena lemas. Dia berjalan mendekati Jani.


"Mah, apa semua yang dikatakan kak Meta itu benar?." Kirana bertanya dengan berderai air mata.


Jani bingung harus menjawab apa, dia belum siap mengatakan yang sebenarnya, dia juga sebenarnya sudah mau melepaskan masa lalunya dan menerima Kirana.


Jika Kirana tahu pun, seharusnya itu dari mulutnya atau mulut Aldi, bukan dari orang lain, dan kata-kata Meta terlalu menyakitkan untuk Kirana yang sebenarnya juga korban, gadis itu tidak mempunyai kesalahan apapun.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2