Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Jaga Mata, Jaga Hati


__ADS_3

Setelah wisuda itu, Gita sudah hampir tidak pernah bertemu Nisa lagi, ternyata sahabatnya itu melanjutkan S2 di luar negeri, dia tidak ingin menyia-nyiakan beasiswa yang diberikan padanya. Meski begitu komunikasi mereka tak terputus.


Gita benar-benar merubah penampilannya saat ini, dia ingin terlihat sebagai pemimpin perusahaan yang kuat, tegas dan cantik.


Saat di kantor, dia akan berusaha seprofesional mungkin, bersikap sedewasa mungkin.


Dia bekerja dengan penuh keyakinan kalau dia bisa memimpin perusahaan ayahnya.


Kalau bukan gue yang mengurus perusahaan ini, siapa lagi? Gue gak mau kalau perusahaan yang bokap gue bangun bangkrut. Pikir Gita


Saat jam istirahat tiba, siang itu banyak karyawan yang mulai bergosip.


"Pak Angga sepertinya akan segera mundur deh, digantiin oleh bu Gita."


"Iya , tapi aku lebih percaya perusahaan ini dipegang oleh yang berpengalaman, kalau bu Gita 'kan baru lulus kuliah, bagaimana nasib kita kalau perusahaan ini jatuh?"


"Percayakan aja lah sama bos kita, mau iti siapapun, kita harusnya bersyukur bisa bekerja disini sampai saat ini dan bisa menghidupi keluarga kita."


"Bener juga sih."


"Kita doakan saja perusahaan ini semakin maju mau siapapun Direkturnya, ya 'kan?"


"Iya , aamiin."


"Aamiin….." jawab mereka kompak.


Gita yang lewat sempat mendengar obrolan para karyawannya, membuat dia semangat untuk membuktikan kinerjanya.


Saat makan di kantin kantor, ternyata ada Reza datang menghampirinya.


"Kamu gak kerja?" Gita


"Bos itu bebas sayang, hehe.." Rez


"Sombongnya, hmm…" Gita


Selama mereka mengobrol banyak mata yang memandang, memperhatikan mereka, mereka memang serasi, ada beberapa yang iri juga pada mereka, karena manusia tak semua hatinya sama.


Karena risih, Gita memilih kembali ke ruangannya dan memesan beberapa makanan dan juga minuman, meminta makanan itu diantarkan ke ruangannya.


Saat melewati lobi, Reza mencoba menggenggam tangan kekasihnya itu sambil berjalan.


Gita langsung menatap Reza karena kaget, tiba-tiba ada tangan lain menyentuhnya.


"Hmm.. ini dikantor, aku gak enak kalau kelihatan sama karyawan." Gita


"Gapapa, sebentar saja." Reza


Saat ingin membuka pintu ruangan kerjanya, gadis itu kebingungan.


"Za…" Gita


"Iya, ada apa?" Reza


"Bagaimana aku membuka handle pintu, kalau kamu memegang tangan kananku?" Gita

__ADS_1


"Hehe.. biar aku yang membukanya." Reza


Ceklek


"Silahkan masuk, tuan putri..!" Reza


Gita masuk, masih dengan posisi tangannya digenggam kekasihnya.


Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu, "Za, katanya sebentar, kenapa masih dipegang? lama-lama 'kan keringetan ini tangan," keluh Gita.


Namun dengan cepat Reza menempelkan jari telunjuknya di bibir berwarna pink alami itu.


"Ssttt… , sudah lama tak bertemu kamu makin cerewet aja Git." Reza


Apa-apaan sih dia? Bikin jantung gue balapan aja, berdetak tak karuan. Pikir Gita


"Hmmm…" Gita


"Aku jauh-jauh kesini karena merindukanmu." Reza


Reza semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah kekasihnya itu, hidung mereka kini beradu, nafas mereka saling bertukar terasa hangat, bibir Reza kini menempel tepat di bibir gadis itu, namun Gita yang merasa kaget sekaligus gugup, dia tidak melakukan pergerakan apapun.


Membiarkan bibir mereka saling berdekatan, Reza semakin menginginkan lebih, dia menekan bibirnya, hingga dapat merasakan sensasi bibir kenyal yang saling beradu.


Ceklek


"Astaga mataku ternodai." Angga


Mereka yang menyadari kedatangan Angga langsung menjauh, mengangkat bokong mereka dan menghempaskannya lagi ke sofa.


Yaelah, pake acara iklan segala, padahal dikit lagi, nanggung banget. Pikir Reza


"Ishh, ini kantor, kalau kalian ngebet, nikah aja..! Mamah sama Papah pasti seneng." Angga


"Iya maunya juga gitu, tapi adik Kakak maunya tahun depan." Reza


"Ini Git proposal yang kamu harus pelajari, Kakak mau langsung ke ruangan Kakak lagi, disini panas, awas kamu jangan macam-macam Za..!." Angga


"Hehe, cuma satu macam Kak, jadi boleh 'kan?" Reza


"Ya ampun, susah kalau ngomong sama kamu, bikin darting aja." Angga


Angga melangkah pergi, dia tidak ingin mengotori matanya lagi, dia juga tidak ingin membuat hati dan jiwanya meronta-ronta.


Sabar, tahan Angga, jaga mata, jaga hati..! Pikir Angga


Angga membuka pintu dan membiarkan pintu itu terbuka lebar.


"Kak, tutup lagi dong pintunya..!" Teriak Gita yang kesal.


Angga menengok, memperlihatkan kepalanya sedikit, "Biar kamu bisa melanjutkan kegiatan tadi?"


Wajah Gita merona karena malu, "bukan begitu maksudku Kak." Gita


Sementara Reza hanya tersenyum melihat wajah malu kekasihnya itu, sungguh lucu.

__ADS_1


Angga juga pergi meninggalkan dua insan yang dimabuk cinta itu. Angga hanya berharap suatu saat nanti dia bisa menemukan seseorang yang bisa diajak menjalin rumah tangga yang dengan tujuan yang sama, mencari ridhonya.


Reza bangkit, lalu melangkahkan kakinya, menutup pintu itu kembali, mendekati Gita, kini mereka saling berhadapan.


Reza menggemgam tangan kekasihnya itu.


"Kamu mau ngapain?" Gita


"Melanjutkan kegiatan tadi, hehe" ucap Angga sambil mengedipkan sebelah matanya.


Gita tidak menggerakan tubuhnya sedikitpun, dia tidak ingin menolak maupun menanggapi ucapan Reza.


Saat tangan Reza membelai pipi mulus Gita, dan entah kenapa Gita Refleks menutup matanya.


Tok


Tok


Tok


Kegiatan itu terhenti seketika, ternyata ada yang mengantar pesanan makanan Gita tadi. Membuat Reza kini menyerah.


Bener kata kak Angga, memang harus dihalalin dulu nih. pikir Reza


***


Di kediaman Baskoro, Hanna merasa senang karena kini suaminya sudah bisa berjalan lagi, tanpa tongkat meski harus pelan-pelan.


"Alhamdulillah ya Pah." Hanna


"Iya Mah, sebulan lagi pasti papah udah bisa lari nih Mah, hehe.." Baskoro


"Aamiin…" Hanna


"Kalau Papah udah sembuh, apa mau mengurus perusahaan lagi?" Hanna


"Hmm… Papah akan mempercayakannya sama Gita mah, paling Papah hanya akan membantu, mendampingi dia." Baskoro


"Tapi kalau Gita menikah, apa Reza akan mengizinkan dia bekerja?" Hanna


"Iya juga ya Mah, apalagi kalau udah hamil, emm nanti Papah pikirkan lagi deh Mah, karena Angga sudah tidak bisa diandalkan, dia mempunyai tanggung jawab dengan keluarga Pak Andra, adiknya, dan perusahaan keluarganya." Baskoro


Jika jadi Angga, hidupnya memang penuh dengan tanggung jawab, disana dibutuhkan , disini dibutuhkan.


Namun selama Baskoro mampu dan keadaanya benar-benar membaik, dia akan mengurus perusahaannya lagi. Dia juga akan membantu memajukan perusahaan Andra, dengan menanam saham modal disana.


"Mah, Papah ngerasa menyesal sekarang," keluh Baskoro


"Menyesal, menyesal karena apa?" Tanya Hanna dengan serius.


"Menyesal kenapa tidak membuat anak yang banyak, bila perlu kita berobat keluar negeri, atau melakukan bayi tabung, ternyata 2 anak sedikit sekali," keluh Baskoro.


"Hahaha… kirain apa, syukuri aja Pah..!" Hanna


"Bagaimana kalau kamu hamil lagi?" Baskoro

__ADS_1


"Apa? Papah serius?" Hanna


Bersambung...


__ADS_2