Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Mengkhawatirkan Dafa


__ADS_3

Hari ini Gita dan Angga pergi ke Kantor bersama.


"Git duduknya di depan dong! Kakak berasa jadi supir kalau gini," keluh Angga


"Gak ah, aku lagi ingin duduk di belakang Kak." Gita


"Hmm.., oh iya Git, setelah kamu tahu Papah udah sehat lagi, Kakak harap kamu tidak menghentikan niatmu dulu untuk memimpin perusahaan." Angga


"Iya Kak, aku akan berhenti ketika aku nanti hamil mungkin. Hehe.." Gita


Saat mobil itu sudah sampai di perusahaan, Angga kaget melihat adiknya yang sudah mebyilangkan tangannya di dada, berdiri disana menatap ke arahnya.


"Hahaha, sepertinya hari ini akan seru." Gita


Angga tahu jika ada Dafa, ini merupakan pertanda tidak baik, pagi hari yang cerah ini seakan mendung seketika dengan kilatan petir yang kencang.


Gita berjalan terlebih dahulu dengan santai, sementara Angga berjalan dengan lemas menuju Kantornya.


Aku harap dia tidak menyusahkanku hari ini. Pikir Angga


"Angga, maafkan Papah yang tidak bisa menahan Dafa, tapi dia berjanji tidak akan mengganggu saat kamu bekerja." Andra


"Hmm, iya Pah." Angga


"Yasudah, Papah berangkat dulu ke Kantor ya? Titip adikmu ini, kalau dia nakal, kamu telpon saja Papah..!" Andra


"Iya Pah," jawab Angga dengan lesu.


Angga mengajak adiknya itu masuk ke dalam, namun entah mengapa anak itu mulai membuat Angga kesal, Dafa tidak mau masuk dengan berjalan kaki, dia ingin digendong di punggung kakaknya itu.


"Ayolah Dafa, ini di Kantor, apa kamu mau Kakak bilang sama Papah?" Angga


"Bilang aja kalau Kakak mau merepotkan Papah, kasian 'kan Papah kalau dia bolak-balik kesini, hehe.." Dafa


Ish, kenapa aku selalu kalah berbicara darinya. Pikir Angga


Akhirnya dengan terpaksa, dia menggendong Dafa sampai ke ruangannya, meski menggunakan lift tetap saja melelahkan karena harus melewati lobi dan anak itu benar-benar tidak mau turun.


Sesampainya di ruangan pagi ini, Angga langsung memesan minuman dingin, membuat OB disana sedikit kebingungan.


"Maaf, apa tidak terlalu pagi Pak?" OB 


"Gapapa, aku haus dan ingin yang segar, aku lelah." Angga


Dafa mengabaikan kakaknya yang kelelahan, dia dengan santai duduk di sofa, memainkan ponselnya.


Sesekali Dafa akan tertawa, entah apa yang sedang dilakukan anak itu, yang terpenting bagi Angga adalah anak itu tidak mengganggunya.

__ADS_1


Mengingat hari ini hari penting, Angga tidak bisa membiarkan Dafa terus menempel padanya.


"Dafa, apa kamu yang memberikan nomor ponsel kakak pada ibu temanmu?" Angga


"Aku hanya memberikan nomor Angga Pratama saja, bukankah dia ibu dari Angga Pratama? Hmm…" Dafa


"Iya tapi itu bukan Kakak." Angga


"Tetap saja aku tak salah, aku hanya memberinya nomor ponsel Angga Pratama, hehehe.." Dafa


"Dafa … ," ucap Angga pelan dengan giginya yang saling beradu.


Angga bingung menghadapi anak itu, dia selalu kalah bicara. Entah kenapa dulu anak itu begitu manis namun sekarang menjadi sering mengerjai dia.


Dafa mulai melompat-lompat di sofa, Angga mulai melarangnya dan berusaha menangkapnya, namun dia malah berlari membuat Angga kewalahan.


Bagaimana bisa aku bekerja jika ada dia? Pikir Angga.


Ini saatnya Angga mencari orang yang bisa menjaga adiknya yang nakal. Dia menelpon Kirana, berharap gadis itu sedang tidak punya kesibukan.


"Iya Kak, lagian aku lagi libur kuliah, aku akan berangkat sekarang." Kirana


"Iya, makasih ya?" Angga


"Santai aja Kak." Kirana


Astaga, bocah ini bisa-bisanya memperlakukan aku dan Kirana jauh berbeda, jika dengan Kiranan dia seperti kucing kecil yang manis. Pikir Angga


Kirana membawa Dafa keluar untuk jalan-jalan, itu membuat Angga merasa lega. Kini dia bisa fokus bekerja.


***


Kirana mengajak Dafa ke mall, membelikannya ice cream dan mengajaknya bermain permainan di lantai 3 mall itu.


Bocah itu begitu menikmatinya, hingga dia merasa dekat dengan Kirana dan mulai curhat berbagai kegiatannya, Dafa juga bercerita tentang kejahilannya pada Kakaknya, membuat Kirana tertawa.


"Hahaha, itu lucu, tapi kamu jangan begitu lagi..! Kasian Kak Angga, bagaimana kalau dia kaget sampai pingsan dan harus dibawa ke Rumah sakit." Kirana


"Iya Kak, hmm.. aku libur selama 2 minggu Kak, ingin mengajak Kakak dan Papah liburan, tapi sepertinya mereka sibuk." Dafa


"Kamu jangan sedih begitu..! Coba saja kamu bicarakan siapa tahu mereka mempunyai waktu luang dan bisa berlibur denganmu." Kirana


"Hmm, aku mau pergi ke Bali." Dafa


"Tempat yang indah, apa Kakak boleh ikut?" Kirana


"Tentu boleh, Kakak cantik justru harus ikut." Dafa

__ADS_1


"Oke, nanti kita pergi sama-sama ya?" Kirana


"Oke Kak." Dafa


Setelah puas bermain, Dafa memilih ikut bersama Kirana, dia juga ingin bertemu dengan Jani.


Bocah itu merindukan wanita yang telah dianggapnya ibu.


***


Gita dan Angga memilih memesan makanan online, mereka memesan makanan pedas yang bisa membuat rasa ngantuknya hilang, dan membuat mereka bersemangat lagi.


Saat pesanan datang, tetap saja mereka berebutan, padahal mereka memesan makanannya masing-masing.


"Itu punya aku, Kak!" Gita


"Nyobain Git, kelihatannya enak nih." Angga


"Ih, makan saja makanan yang Kakak pesen!" Gita


Namun Angga langsung mencoba Bakso kuah itu meski tanpa izin Gita.


"Hah… pedes banget, seger nih, buat Kakak aja ya?" Angga


"Yaelah Kak, aku juga maunya yang itu, Kakak pesen aja lagi!" Gita


Dengan terpaksa Gita mengambil makanannya, membawanya kabur menuju ke ruangannya.


Memesan makanan bersama Kak Angga adalah ide terburuk. Batin Gita


Saat hari mulai sore, Andra menelpon Angga untuk menanyakan keadaan Dafa, saat itu Angga baru menyadari jika adiknya belum kembali, dengan segera dia menghubungi Kirana.


Namun betapa kagetnya Andra saat mengetahui jika Dafa berada di rumah Jani.


"Memangnya kenapa Pah kalau dia disana?" Angga


"Papah gak enak, takut dia mengatakan hal yang aneh, menjodohkan Papah dengan Jani, dan satu lagi, bagaimana kalau dia mengacau disana? Dirumah saja begitu berantakan jika ada Dafa." Andra


"Aku akan kesana setelah jam pulang Pah." Angga


"Papah akan kesana sekarang." Andra


Andra menutup teleponnya dia tidak mau jika anaknya mengacau di rumah orang. Lelaki itu begitu tergesa-gesa, bahkan dia pulang lebih dulu dibandingkan yang lain.


Sepanjang jalan Andra merasa tidak tenang, dia tidak ingin jika Jani dibujuk oleh Dafa untuk menjadi ibunya, maka akan terkesan jika Jani terpaksa dekat dengannya.


Belum lagi Dafa yang selalu berbuat onar, akhir-akhir ini anak itu menjadi nakal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2