
Selama di dalam mobil Nisa mencoba mengajak Angga ngobrol, namun jawabannya selalu singkat.
Gue ngomong 10 kata, lah dia cuma jawab 1 kata doang? Batin Nisa.
Nisa bertanya berbagai hal, menanyakan warna kesukaan Angga dan makanan kesukaannya juga.
"Kenapa kamu bertanya makanan kesukaanku?."
"Hehe.. ya gapapa kan kak? Aku pengen tahu aja, mungkin aku bisa masakkin kakak lain kali kalau aku sempat."
"Oh, boleh juga."
"Rumahmu yang mana?"
"Itu kak yang warna putih abu, berhenti di rumah yang sebelumnya saja kak..!"
"Putih abu kayak anak SMA aja, hehe.. apa kamu malu diantar sama kakak temanmu sendiri, apa aku kelihatan tua?"Tanya Angga heran.
Angga berniat mengantar gadis itu sampai depan pintu rumahnya, bahkan akan meminta maaf karena terlambat mengantar gadis itu yang keasyikan main bersama adiknya.
"Hahaha, tua gimana kak? Kakak justru ganteng bnaget." Ucap Nisa yang keceplosan, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu menunduk malu..
Astaga mulut ku, kenapa kau bilang begitu? Batin Nisa
"Gapapa kak sampe sini aja, aku tidak mau nanti kakak ikit kena marah papaku." Jawab Nisa lagi.
Angga tersenyum kecil melihat tingkah teman adiknya ini, namun tidak mungkin Angga menurunkan gadis itu begitu saja. Dia lebih dewasa dan berpikiran matang.
Angga melajukan mobilnya hingga depan gerbang rumah putih abu itu.
"Ayo turun, biar kakak antar sampai rumah."
"Gak usah kak." Ucap Nisa, dia benar-benar merasa sedikit gugup.
"Ayo cepat, ini sudah malam." Ucap Angga , dia berjalan lebih dulu, dan Nisa pun mengikutinya.
Nisa ingin menghentikan Angga dengan menahan tangannya, namun ketukan pintu itu terlanjur terdengar.
Tok
Tok
Tok
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam sebentar.."
Aduh gimana ini? Batin Nisa
Gadis itu hanya bersembunyi di balik tubuh besar Angga, menarik bajunya, berusaha mengajak lelaki itu pergi dari sana.
"Kamu gak usah takut, segalak apa sih ayah kamu?" Tanya Angga
"Kak, ayo kita pergi..!"
"Pergi kemana? Ini kan rumah kamu."
__ADS_1
"Tapi ini… bukan…" Ucap Nisa yang terputus karena pintu kini telah terbuka.
"Cari siapa Mas?." Tanya seorang bapak-bapak berkumis tebal itu.
Sepertinya ayah Nisa memang garang. Pikir Angga
"Ini pak, saya mengantar anak bapak pulang, tadi sempat bermain dengan adik saya dan pulang kemalaman."
"Mana dia? Biar saya gorok dia, dia udah 3 bulan gak pulang, buang-buang waktu dengan anak gelandangan dan geng motor itu." Bapak itu marah
Reza kaget, dia mematung tak berdaya, namun sedikit bingung, apa benar Nisa 3 bulan tidak pulang.
Nisa memperlihatkan dirinya, dia muncul dibalik tubuh Angga.
"Maaf pak, kami salah alamat." Ucap Nisa menarik tangan Angga yang masih dalam keadaan linglung itu.
Setelah sampai di dekat mobil Angga. Nisa menepuk-nepuk pundak Angga.
"Kak, kakak gapapa?."
"Yang tadi itu ayah kamu?"
"Gak tahu, aku gak kenal, lagian kakak main nyelonong aja, rumah aku berada di sana, melewati 3 rumah dari sini."
"Astaga, kenapa kamu baru bilang."
"Gak sempat, kakak sih buru-buru gitu." Ucap Nisa, dia berjalan kaki menuju rumahnya, Angga pun mengikutinya dengan perasaan campur aduk, meninggalkan mobilnya terparkir di depan rumah bapak garang tadi.
Jantungku hampir copot, dan ternyata salah rumah? Astaga Angga Angga, kamu ini memalukan sekali. Batin Angga
"Darimana? Pulang malam begini, dan laki-laki itu siapa?" Tanya Pak Damar ketus.
"Dia kakak temanku pah, dia mengantar Nisa pulang."
"Jalan kaki?"
"Hahaha.. tidaklah pah, masa iya jalan kaki, mobilnya terparkir di rumah tetangga sana."
"Papah gak suka ya anak gadis pulang malam, cepat masuk..!"
"Maaf pak, jangan marahi Nisa seperti itu, maaf karena saya telat mengantarnya pulang, maaf juga karena adik saya mengajaknya bermain sampai larut begini, perkenalkan saya Angga kakak dari temannya Nisa."
"Sebentar, wajahmu familiar. . Ah iya pak Angga anaknya pak Baskoro kan? Bukannya seminggu lalu kita bertemu membahas kesepakatan kita."
"Iya saya Angga, benarkah? Maaf pak saya memang tidak terlalu memperhatikan satu persatu rekan bisnis saya, karena terlalu banyak."
Ucap Angga dia juga sempat mengingat namun memang tidak ingat.
"Ayo masuk dulu, tidak apa-apa kok jika anak saya main di rumah nak Angga, itu aman, saya hanya tidak ingin anak saya keluyuran malam diluar."
"Tidak usah pak, saya pulang saja."
Namun pak Damar menarik tangan Angga menyuruhnya duduk terlebih dahulu, bahkan Nisa disuruh ayahnya itu membuatkan minuman hangat.
Akhirnya dengan terpaksa Angga mengobrol dulu sampai 30 menit berlalu, kemudian dia pamit pulang.
Nisa merasa tidak enak karena perlakuan ayahnya itu, dia juga meminta maaf pada Angga, namun pria itu memaklumi jika terkadang sikap orang tua memang seperti itu.
__ADS_1
Angga pulang dengan terburu-buru, bahkan lupa dengan pesanan adiknya itu.
Setelah sampai dia membaringkan tubuhnya di ranjang, membayangkan kejadian konyol tadi, dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
Bodoh, bagaimana bisa aku salah alamat? Pikirnya.
Tok
Tok
Tok
"Ada apa Git?."
"Mana pizza nya kak?."
"Astagfirullah, kakak lupa. Hehe.. besok aja ya..! Ok?."
"Nyebelin.." Gita menutup pintunya lagi.
Dia merasa kesal, bahkan dia melewatkan acara makan malamnya demi bisa makan pizza itu dengan banyak.
Dia menuju kamarnya dan menghubungi Reza agar rasa kesalnya hilang.
"Hallo…" suara seorang wanita di seberang sana
Gita menutup teleponnya dengan cepat.
Wanita? Siapa? Itu bukan suara tante Maya.. oh jadi dari tadi dia tidak menghubungiku karena sedang bersama wanita lain. Pikir Gita
Dia merasa semakin kesal, dia menuju dapur mengambil cemilan sebanyak mungkin, memakannya sambil menonton TV.
Angga yang keluar dari kamarnya, menghampiri Gita.
"Kamu sedang apa dek? Ngemil segitu banyak, udah mau tengah malam tahu, kamu nanti bisa gendut." Ledek Angga
"Berisik, ini juga gara-gara kakak, aku sampai kelaparan menunggu pizza itu dan melewatkan makan malam, menyebalkan." Ucap Gita sambil terus mengunyah.
"Maaffin kakak dek, sebenarnya…" Ucap Angga menghampiri Gita, bahkan kini dia duduk dan makan bersama adiknya itu.
Angga menceritakan kejadian konyolnya tadi, seketika Gita tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha.. lucu sekali, kakak sih ceroboh sekali, main nyelonong aja, so tau lagi, hahahaha makasih loh kak udah balikin mood aku." Jawab Gita, dia merasa terhibur dengan cerita kakaknya itu.
"Hmm.. iya iya, aku menderita dan kamu senang." Ucap angga kesal.
Mereka begitu menikmati film horor di tengah malam, adik kakak itu memiliki selera film yang sama.
Namun seketika suasana menjadi tegang, listrik rumah tiba-tiba mati.
"Kak, kok jadi horor beneran sih?."
"Cuma mati lampu Git bentar lagi juga nyala."
Dan saat lampu rumah itu menyala seluruhnya, Angga terjungkal ke belakang, dan Gita berteriak kencang.
Bersambung...
__ADS_1