Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
# Pernikahan Dua Pasang Pengantin


__ADS_3

Episode Ekstra 2


Setelah sekian lama, Nisa akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya, dia kembali ke indonesia, dia kini sudah tinggal bersama keluarganya di Bandung.


Gadis itu sedang mencari pekerjaan dikota itu, dia tidak mau jika berbisnis dengan ayahnya, dia ingin di tempat lain, atau memulai usaha dari nol.


Angga yang mengetahui hal itu, dia langsung menuju kota Bandung, bahkan meninggalkan setumpuk pekerjaan yang harus di handle oleh Andra.


Dasar, bisa-bisanya demi perempuan dia menyiksa ayahnya sendiri. Batin Andra


Sebelum pergi ke luar negeri Nisa sudah dilamar oleh Angga terlebih dahulu, mereka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.


Pria itu kini bahkan sudah duduk di teras rumah calon istrinya.


"Eh calon mantu, pasti kamu capek mengendarai mobilmu dari kota Jakarta, minumlah, dan makanlah makanan ini..! Ini buatan Nisa." Pak Damar


"Hehe.. iya, terimakasih." Angga


Angga minum sambil celingak-celinguk, membuat Pak Damar tersenyum melihat tingkahnya.


"Nisa ada didalam, sebaiknya dihalalkan dulu baru boleh mencuri-curi pandang! Hmm.." Pak Andra


"Hehe.. " ucap Angga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


***


Sementara Dafa terus saja merajuk kepada ayahnya yang baru sampai rumah, dia sangat lelah, apalagi dengan pekerjaan menumpuk karena Angga pergi begitu saja.


"Pah, aku mau bertemu Mamah Jani, anterin aku Pah!" Dafa


"Papah cape Nak, besok saja ya!" Andra


"Papah, kan aku sudah bilang cepet nikah sama Mamah Jani, biar aku tidak sulit bertemu dengannya!" Dafa


Astaga, anak kecil pikir menikah itu tidak perlu persiapan. Keluh Andra


"Iya Dafa, Papah akan menikah dengan Mamah Jani." Andra


"Tapi kapan Pah?" Dafa


"Satu minggu lagi, kamu senang?" Andra


"Hore… janji ya Pah?" Dafa


"Iya." Andra


Andra segera menghubungi Jani, memintanya melakukan persiapan pernikahan dengan lebih cepat. Membuat wanita disebrang sana kaget dengan apa yang dia dengar.


Pasalnya wanita itu ingin acara yang sempurna menurut seleranya. Namun dia mengerti setelah mendengar cerita dari pujaan hatinya itu, ini semua demi Dafa.


Ya, hubungan mereka semakin dekat dengan beriringnya waktu, mereka bahkan kini sudah berencana menikah, dalam tahap persiapan.


Pria itu beristirahat, dia tertidur nyenyak saking lelahnya. Hingga dia terbangun mendengar suara panggilan anaknya yang paling besar.


"Pah.. " Angga


Tok


Tok


Tok


"Pah, apa Papah di dalam? Bukain dong Pah!" Angga

__ADS_1


Andra bangkit dengan malasnya, dia merasa hari ini dia tak mampu bahkan hanya untuk berjalan.


Pria itu dengan susah payah berjalan sampai ke depan pintu kamarnya, lalu memutar kunci dan membuka pintu.


"Ada apa Angga? Malam-malam teriak-teriak, kamu pulang ngapel kok mukanya gitu?" Andra


"Pah, nikahin aku ya Pah?" Angga


"Apa? Papah heran dengan kalian berdua, yang satu pengen Papanya nikah cepet yang satu pengen dinikahin cepet, astaga kepala pusing dengan permintaan aneh kalian." Andra


"Pah, Angga mohon Pah.." Angga


Kini anak itu berlutut di lantai, membuat Andra tak habis pikir.


"Hmm, kamu kok kebelet nikah kaya kebelet pipis aja, emangnya gampang, belum persiapannya." Andra


"Ayolah Pah, kita kan bisa membayar 10 kali lipat pasti beres seminggu." Angga


"Hmm.. mentang-mentang banyak uang." Andra


"Pah gimana?" Angga


"Memangnya keluarga Damar setuju?" Andra


"Kalau Papah bilang iya, malam ini aku tanyakan sama keluarga Nisa lewat telepon Pah." Angga


"Aish, gercep amat." Andra


"Iya Pah, bilang iya aja kok susah!" Angga


"Iya, yaudah Papah mau lanjut tidur." Andra


Angga yang kegirangan, dia langsung menghubungi Nisa, tentu saja Damar menyetujuinya.


Pak Damar ingin acara itu dilangsungkan di kota Bandung, namun ternyata Andra mengusulkan jika acaranya dilaksanakan di Jakarta karena waktu yang mepet itu.


"Tapi, aku maunya di Bandung Dra." Damar


"Tapi gak mungkin kalau seminggu saja persiapannya, belum lagi keluargaku, sebenarnya aku juga akan menikah minggu depan, akupun jadi bingung, acara anak-anak diundur saja Mar!" Andra


"Wah, kalau begitu satu pesta dua pengantin saja, persiapan kamu juga pasti sudah 50% tinggal nambah porsi, nambah undangan, nambah kursi pelaminan, hehe…" Damar


"Memangnya mereka mau?" Andra


"Ya kamu bicarakan dengan anak kamu, aku juga akan membicarakannya dengan Nisa, tapi sepertinya anakku tidak akan masalah, dia wanita yang tidak banyak menuntut." Damar


"Oke, kita bicarakan dulu dengan anak-ank kita, lalu kita kabari lagi lewat telepon." Andra


"Iya.." Damar


Telepon itu pun terputus, Andra dengan segera menghampiri anaknya, namun dia bingung harus memulai pembicaraan seperti apa.


Apa Angga mau acaranya digabungkan? Bagaimana kalau dia menolak? Ya gapapa juga dia nolak, paling dia nikah 2 bulan kedepan, padahal dia kebelet, hahaha... Pikir Andra


Ternyata Angga tidak mempermasalahkannya, yang penting dia SAH menjadi suami Nisa, dia tidak ingin menunda nunda lagi.


Andra juga tak lupa membicarakan hal ini dengan Jani.


"Apa, kamu serius Mas?" Jani


"Iya, dua rius, tiga rius malah." Andra


"Mas….." Jani

__ADS_1


"Iya, Angga dan Nisa setuju dengan keputusan ini, tinggal kamu yang belum." Andra


"Kamu udah dua kali bikin aku kaget Mas, tanggal pernikahan dimajukan, untung belum sebar undangan, sekarang Nikah barengan sama anak kamu, hmm.." Jani


"Jadi gimana, kamu mau?" Andra


"Aku minder ah Mas nanti dibandingin sama pasangan pengantin muda." Jani


"Kamu itu lebih cantik, gak usah minder!" Andra


"Hahaha gombal." Jani


"Jadi..?" Andra


"Iya aku mau, aku gak masalah kok, justru nanti bisa merayakan hari pernikahan bersama juga." Jani


Masalah pun selesai, semua acara dan persiapan dilakukan Jani dan dibantu oleh Kirana, 3 hari menuju hari pernikahan keluarga Nisa sudah ada di Jakarta, mereka menempati rumah besar yang nantinya akan ditempati Angga dan Nisa.


Ya, rumah itu hadiah dari Baskoro atas pernikahan anak Angkatnya itu, anak yang sekarang jarang berkunjung. Hehe


***


Acara pernikahan itu sungguh meriah, lebih  meriah karena ada dua pasang pengantin dan tamu yang bahkan lebih banyak.


Gita dan Reza pun hadir, mereka begitu antusias, Gita begitu ingin melihat Angga dan Nisa.


"Hey Nis, kamu cantik banget." Gita


"Eh pengantin baru, aku gugup Git." Nisa


"Gue juga dulu gitu, eh aku maksudnya, hehe.." Gita


Namun tante Jani lebih heboh dari Nisa, dia seperti wanita yang baru menikah saja, itulah yang dipikirkan semua orang saat melihat tingkahnya.


"Git, gimana make up tante, bagus gak? Ini bulu matanya pas gak sih? Alisnya juga, sama gak sih? Astaga lipstiknya apa gak terlalu merah ya?" Jani


"Hehe, tante udah cantik ko, lagian MUA nya juga udah ahli, pasti pas, gak ada yang panjang sebelah, hehehehehe.." Gita


"Itu tan, alis kanannya miring," Reza mencoba mengerjai tantenya itu.


"Mana Za, yang bener kamu?" Jani


Gita memukul paha Reza dengan pelan namun tetap rasanya sakit, membuat Reza meringis.


"Sayang, kamu memukul, main tinju atau apa? Sakit banget." Reza


"Makanya kamu jangan membuat suasana makin kacau!" Gita


***


Dua mempelai itu sama halnya dengan Gita dulu. Sedang menanti kata Sah dari luar.


"Sah…" suara teriakan tamu undangan.


"Udah Sah tuh, tapi yang sah buat pengantin yang mana, aku bingung. Hehehehe" Reza


Jani dan Nisa saling berpandangan, mereka tak mendengar suara lelaki yang mengucapkan ijab qobul, hanya mendengar kata sah yang keras dari para tamu.


Dan saat terdengar kata Sah yang kedua.


"Alhamdulillah… ," ucap Reza, Gita, Nisa, dan Jani.


"Hahahaha… ," mereka pun tertawa bersamaan

__ADS_1


__ADS_2