
Dafa yang bersemangat, dia langsung turun dari mobil begitu pun Angga yang menyusul adiknya itu, membuat Pak Nanang bisa bernafas lega.
Angga sudah menghubungi Kirana terlebih dahulu, jadi dia tahu kalau Tante Jani dan Kirana ada di Rumah.
Bocah itu begitu tak sabaran, bahkan lupa mengucapkan salam, dia langsung memeluk Jani.
"Mah, kening aku benjol nih Mah, dan Kak Angga malah ngetawain aku, bukannya diobatin." Dafa
"Hmm… ngadu." Angga
"Wah, kenapa bisa seperti ini?" Jani
"Iya jadi seperti ikan louhan 'kan tante, pfftt … ," Angga berusaha menahan tawanya.
"Ih, Kakak gak boleh gitu!" Kirana
Jani pergi ke belakang dan mengompres kening Dafa yang memar itu.
"Mak, udahan nih? Eike haus." Yusi (Karyawan salon Jani), kalau lagi normal namanya Yusuf, hehe..
"Ambil aja sendiri, kan kamu udah biasa di rumah emak." Jani
Yusi pergi ke belakang, dia membuat minuman dingin sendiri. Kirana dan Jani membiarkan pria itu, eh.. wanita itu, hmm.. yusi menggeledah isi lemari es.
"Mah, itu siapa? Itu laki-laki atau perempuan?" Dafa
"Hahahaha, itu pegawai salon Mamah, emm dia lelaki sih, hmm … ," Jani bingung bagaimana menjelaskannya.
"Oh jadi dia lelaki, tapi Kak Angga gak gitu deh." Dafa
"Ya iyalah Daf, Kakak kamu itu 'kan ganteng, gagah." Angga
Yusi yang sudah meracik minuman segarnya langsung duduk disebelah Angga.
"Nama you siapa? You tampan, eike jadi ser seran, hehehe..." Yusi
Angga mulai menggeser bokongnya, berniat memberi jarak di antara mereka.
"Hahaha, apa yang ser seran Yus?" Jani
"Hati eike lah Mak, tipe eike banget ini mak," ucap Yusi sambil memegang pahan Angga. Membuat pria itu kaget dan juga takut secara bersamaan.
"Kak Angga jomblo kok, pfft..." Kirana
"Jomblo, tapi Kakak masih normal kali." Angga
Saat Yusi mendekat, namun Angga menjauh, Yusi mendekat lagi menggeser bokongnya.
"Gapapa Angga, kalau berdekatan sama Yusi, 'kan kalian mahram, hahaha.." Jani
"Tante, tapi aku suka yang bukan mahram, aku pulang ya Tante, titip Dafa, nanti sore papah jemput dia, assalamu'alaikum." Angga langsung pergi begitu saja, dia tidak mampu membayangkan apa yang terjadi jika dia masih ada disana.
Sementara Jani dan Kirana tertawa terbahak-bahak, Dafa juga ikut tertawa karena melihat mereka tertawa, tanpa mengerti sebenarnya di bagian mana yang lucu.
Yusi hanya mendengus kesal karena incarannya kabur begitu saja.
***
Angga akhirnya bisa keluar dari rumah itu, kini dia sudah didepan gerbang. Namun dia bingung pulang naik apa, karena Pak Nanang sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
Angga memesan taksi online dan menunggu di pos depan rumah Jani. Dia tidak berani masuk ke dalam rumah itu lagi.
Astaga, kenapa bisa-bisanya aku digodain cewek jadi-jadian. Batin Angga
Angga merasa keputusannya menemani Dafa ke rumah ini adalah keputusan yang sangat salah, jika tahu begini, pria itu akan memilih pergi ke kantor saja.
Namun penyesalan memang selalu datang diakhir, seperti penyesalannya akan cinta yang datang terlambat.
Angga melihat taksinya datang, dia langsung masuk dan bisa bernafas lega.
Akhirnya mobil itu sampai di rumah kediaman Andra, pria itu turun dan merasa jika hari ini sangat-sangat melelahkan baginya.
Saat didalam kamar, saat dia menonton TV, dia tak sengaja mendengarkan lagu yang pas dengan keadaan hatinya, membuat dia menikmati setiap liriknya.
Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Kau jauh dariku pergi tinggalkanku
Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa
Cinta datang terlambat
Kau jauh dariku pergi tinggalkanku
Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat
Mungkin memang kucinta
Mungkin memang kusesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu…
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
__ADS_1
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat
Cinta datang terlambat................
"Iya, cinta datang terlambat, sayang sekali." Ucap Angga yang sedang menatap langit-langit kamarnya.
***
Keesokan harinya Angga mulai ceria lagi, dia akan mencoba move on meskipun dia seakan masih bisa mendengarkan suara merdu Nisa yang mengaji.
Angga bersiul dipagi hari, membuat Dafa dan Andra merasa heran.
"Padahal kemarin Kakak galau deh kaya yang patah hati, kenapa sekarang senang sekali?" Dafa
"Anak kecil gak boleh kepo!" Angga
"Hmm…" Dafa
"Memangnya beneran kamu lagi patah hati?" Andra
"Gak pah, mana ada cowok ganteng kaya aku patah hati ditolak wanita Pah, Hehe.." Angga
"Hahaha, ganteng tapi jomblo kata kak Kirana juga." Dafa
"Kalau kamu memang belum punya calon, biar Papah jodohin aja sama anak temen Papah, gimana?" Andra
"Aku pikir-pikir dulu deh Pah." Angga
"Tapi dia calon yang solehah deh Angga, masa kamu gak mau?" Andra
"Emang Papah pernah ketemu?" Angga
"Nggak, cuma fotonya aja." Andra
"Ya udah Papah atur aja deh, mungkin jodoh pilihan Papah itu yang terbaik." Angga
Andra tersenyum senang, dia akhirnya mendapatkan lampu hijau dari anaknya, dia bisa berbesanan dengan sahabatnya itu.
Semoga aja jodoh dari Papah bisa cocok sama aku, bisa membuat aku lupa dengan suara merdu itu, aku juga harus memperbaiki diri lebih baik lagi untuk menyambut jodohku kelak. Pikir Angga
Angga bergegas pergi ke Kantor, hari ini dia membawa mobilnya sendiri, memarkirkan mobilnya dan keluar dari mobil dengan semangat pagi, semangat untuk bekerja.
Namun sepanjang jalan dia melihat beberapa karyawan menatapnya heran namun sambil tersenyum.
Angga tak menghiraukan mereka, dia berjalan melewati lobi, dia naik lift menuju lantai atas menuju ruangannya.
Dia bersiul pelan, membuka pintu dengan percaya diri.
"Kakak, tumben kesini, ada apa?" Gita
Angga mengedip-ngedipkan kedua matanya, mencoba mengingat, dan mencari jawaban dari pertanyaan adiknya itu.
Ada apa ya? pikir Angga.
Namun satu hal yang kini baru dia sadari.
Bersambung...
__ADS_1