
Ratu yang kaget dan penasaran, tanpa sarapan terlebih dahulu dia bergegas pergi, bahkan belum sempat membangunkan suami dan anaknya itu. Membiarkan mereka tertidur pulas.
Sani berjalan begitu cepat, Ratu pun sama dia berjalan mengimbangi Sani.
Bugh..
"Sani , kamu tidak apa-apa?, ayo cepat bangun." Ucap Ratu sambil mengulurkan tangannya, dia ingin membantu Sani yang jatuh tersandung karena berjalan terlalu terburu-buru.
"Tidak apa-apa Ratu, aku baik-baik saja, tinggalkan saja aku , Ratu pergilah terlebih dahulu..!" Ucap Sani sambil menunduk dan sedikit nada sedih.
"Tidak usah drama, ayo cepat..! Aku penasaran sekali." Ucap Ratu.
Akhirnya Sani bangun dan mengikuti Ratunya,
"Ratu kita berjalan santai saja, kakiku sedikit sakit.."
"Hmm.. kamu tadi yang membuatku kaget dan penasaran, kamu juga yang semangat sekali, kenapa mendadak begini? Jangan bilang kamu membesar-besarkan masalah, dan mengerjaiku." Tanya Ratu curiga.
"Tidak Ratu, aku memang benar mendengar berita besar tentang selir Mey, mana berani aku mengerjai Ratu." Ucap Sani membela diri.
"Ya sudah ayo kita buktikan, jika kau bercanda, habislah kau..!" Ancam Ratu
"Kenapa Ratu semakin galak setelah menjadi seorang ibu? Sudahlah, lagipula aku tidak berbohong." Pikir Sani
Akhirnya mereka sampai di paviliun selir Mey, memang disana sudah ramai, para pelayan berkumpul dan sedang bergosip disana.
"Tidak didunia nyata, tidak di dunia komik, mengapa para wanita selalu saja suka kepo dan ghibah sih." Pikir Ratu.
"Kalian kembalilah bekerja..! Jangan berkumpul disini dan berbicara yang tidak-tidak." Ucap Ratu pada sekumpulan pelayan.
Mereka mundur dan menunduk,
"Baik yang mulia Ratu.." Jawab mereka dengan kompak, lalu membubarkan diri.
__ADS_1
Ratu bergegas memasuki kamar selir, di sana sudah ada tabib istana, ada Rizad juga yang sedang menunggu bayinya dengan wajah murung, sementara terlihat selir Mey yang berbaring di ranjang, entah dia tidur atau tidak sadarkan diri.
"Salam yang mulia.. " Ucap tabib yang disusul oleh Rizad.
"Aku ingin tahu, kejadian yang sebenarnya itu seperti apa?"
"Begini yang mulia, sepertinya selir Mey mengalami emosi yang tidak menentu, dia juga seakan hilang kesadarannya, menjelang pagi tadi, selir ditemukan dalam keadaan tangan yang terluka, dia menyayat nadinya dengan pisau buah." Tabib menjelaskan
"Apa? Apakah ini termasuk percobaan bun*h diri?."
"Iya sepertinya begitu yang mulia."
"Lalu bagaimana keadaanya sekarang?"
"Selir tidak sadarkan diri yang mulia, dia juga telah kehilangan banyak darah, hamba tidak tahu dia akan bertahan atau tidak, tapi hamba dan tabib yang lainnya sudah memberikan pertolongan dengan sebaik mungkin."
"Berapa lama dia akan bertahan jika terus begini?."
"Hamba tidak tahu yang mulia, tapi hamba memperkirakan jika memang selir masih tidak sadar dalam 3 hari, itu sudah tidak ada harapan lagi."
Ratu mendekati selir yang sedang berbaring, "kamu terlalu memaksakan diri Mey, seandainya kamu mampu menciptakan kebahagiaan mu sendiri dan menerima semuanya dengan ikhlas mungkin tidak akan berakhir seperti ini." Ucap Ratu pelan.
Ratu lalu menghampiri bayi perempuan yang digendong Rizad, mengambil alih untuk menggendongnya.
"Hmm.. dia manis sekali bukan?" Tanya Ratu pada Rizad.
"Ah… iya benar yang mulia." Jawab Rizad yang sedikit kaget dengan pertanyaan itu.
"Jagalah dia dengan baik..!, aku akan mengutus orang yang bisa merawat dan menyusui anakmu dengan baik, kamu tidak usah khawatir." Ucap Ratu sambil mengelus pipi bayi itu.
***
Sementara itu, di paviliun Ratu ada seorang ayah yang kewalahan.
__ADS_1
"Dimana ibumu nak? Kenapa dia tidak ada?."
"Jangan menangis nak, ayah disini."
"Pelayan…"
Datanglah pelayan dengan langakah cepat, "Iya yang mulia…"
"Apa kau melihat kemana Ratu pergi?"
"Tidak yang mulia."
"Sudahlah, sekarang kau pegang dulu pangeran kecil, ajak dia bermain di luar sebentar mungkin dia akan berhenti menangis, aku akan mandi dan bersiap-siap dulu..!"
"Baik yang mulia.."
Pelayan itu pun akhirnya keluar, berusaha menenangkan Pangeran agar bisa berhenti menangis. Dengan segala cara dia lakukan, akhirnya bayi tampan itu berhenti menangis dan mulai tertidur lagi.
Pelayan itu membiarkan tubuh bayi gemoy itu tersinari matahari pagi, membuat bayi itu merasa hangat dan nyaman, membuat tidurnya semakin dalam memasuki alam mimpinya.
Deon yang mandi dengan terburu-buru, dia juga tidak mempedulikan apa itu bersih atau tidak, dia seakan mendengar tangisan bayinya terus berulang di dalam kamar mandi.
"Tenang sayang, sebentar lagi ayah selesai..!" Teriak Raja Deon.
Padahal bayi itu sedang ada diluar bersama pelayan, haha..
Karena terlalu khawatir membuatnya mendengar suara tangisan yang sebenarnya tidak ada, bukan horor… tapi itu memang kerap terjadi pada seorang ibu bahkan kini seorang ayah yang sedang khawatir.
Tapi kini ayah itu merasakan perut yang mules, dia menyelesaikan dulu buang hajatnya itu.
"Tunggu nak, sebentar lagi.." Teriak Deon lagi.
Dia kini memahami betapa repotnya istrinya itu selama mengasuh bayinya. Bahkan seringnya Ratu mengeluh ingin menikmati mandinya lebih lama, Deon kira itu terlalu berlebihan, nyatanya kini dia mengalaminya sendiri.
__ADS_1
.
Bersambung...