
Tidak terasa 2 minggu telah berlalu, Ratu begitu senang melihat kesembuhan si Putih, kini ia bisa berjalan-jalan dengan kudanya itu.
Setelah kesembuhan kudanya, Ratu menjalankan rutinitasnya lagi seperti biasanya ia juga disibukkan dengan berbagai latihan, seperti memanah, berkuda, berlatih beladiri dan berlatih menggunakan pedang. Rey selalu setia menemani Ratu latihan, Sani pun selalu ada untuk sang Ratu menjadi pelayan sekaligus teman untuknya.
"Putih, larilah lebih cepat..!" Ucap Ratu
Ratu sangat senang bisa bermain bersama si Putih lagi.
Sementara Sani juga ikut berteriak, karena khawatir,
"Ratu hati-hati, awas jatuh Ratu..!"
"Astaga, dalam keadaan sakit atau dalam keadaan senang, Ratu selalu saja membuat ku khawatir. Tidak adakah yang lebih baik dari ini?" Keluh Sani ia berbicara sendiri
"Hahahaha…" Rey yang mendengar keluhan Sani seketika tertawa, merasa itu memang lucu.
"Apa kau mendengarnya?" Tanya Sani
"Tentu saja, bukankah dari tadi aku berada disampingmu."
"Tolong jangan beritahu Ratu tentang apa yang baru saja aku bicarakan tadi ya…!"
"Baiklah, baiklah.. lagipula aku tidak seperti pangeran Ceng, aku tidak suka membicarakan hal yang tidak penting."
"Iisshh…"
Disatu sisi ia merasa lega, tapi ia tak mengira jika Rey juga bisa meledek seorang Pangeran
* *
Raja juga disibukkan dengan pelatihannya, banyak kegiatan yang ia lakukan di istana bahkan di luar istana membuatnya tidak bisa menikmati hari-harinya. Ia sempat merasa jenuh dan lelah dengan rutinitasnya selama dua minggu terakhir ini, ia bahkan belum sempat mengunjungi Ratu Anggrek. Raja merindukannya, di saat dia ingin meluangkan waktu untuk bertemu dengannya selalu saja ada hal yang mendesak membuatnya membatalkan kunjungannya itu.
"Sudah dua minggu aku seperti ini, rasanya aku mulai muak, tapi apalah dayaku ini sudah menjadi takdirku, dan untuk kau Heri, kau lah yang membuatku sibuk seperti ini, sangat jelas sekali jika kau ingin mempersulitku." Gumam Raja Deon kesal
Setiap hari Raja selalu disibukan dengan buku-buku politik, buku mengenai sejarah kerajaan, buku perang dan strategi, dan banyak lagi ditambah latihan-latihan fisik yang tidak boleh absen.
* *
__ADS_1
Entah mengapa hari ini terasa berbeda, Ratu merasa lelah padahal ini baru siang hari dan tidak banyak hal yang ia lakukan, biasanya ia akan beraktivitas sampai sore hari bahkan malam hari.
Ia sedikit pusing, dan ambruk di samping kudanya itu.
Sani yang panik langsung berlari dengan kekhawatirannya itu,
"Ratu… ratu bangun..!" Sani menepuk-nepuk pipi sang Ratu tapi ia tak kunjung bangun
"Sepertinya Ratu pingsan karena kelelahan, sebaiknya kita segera membawanya kembali ke paviliun." Ucap Rey tak kalah sama khawatirnya dengan Sani
Setelah sampai, Sani menyuruh pelayan yang lain untuk memanggil tabib istana tapi sayang tabib istana sedang berada di luar istana.
Sani begitu mengkhawatirkan sang Ratu, sudah satu jam Ratu belum sadar juga.
"Bagaimana ini, kenapa Ratu belum bangun juga? Tidak biasanya ia seperti ini, meski ia berlatih sampai malam, ia tak pernah mendadak pingsan begini, semoga Ratu tidak apa-apa." Gumam Sani pelan yang terduduk di samping sang Ratu
Ratu mulai sadar, perlahan ia membuka matanya. Saat ia melihat ke arah samping dan melihat Sani sedang terlelap menunggunya.
"Sani.. sani.." Ratu mencoba membangunkannya
Sani pun terbangun,
"Kenapa aku tiba-tiba ada disini, bukankah tadi aku sedang bersama si Putih?"
"Emm.. iya Ratu, entah kenapa tiba-tiba Ratu pingsan begitu saja, saya sampai khawatir sekali."
"Ia aku juga merasa tubuhku ini sedikit lemah, biasanya tidak seperti ini, aku juga pusing rasanya ingin makan buah-buahan yang segar dan sedikit masam."
"Baiklah, nanti saya akan menyuruh pengawal memetiknya di perkebunan istana, oh iya Ratu tabib istana sedang berada diluar istana jadi belum sempat memeriksa keadaan Ratu."
"Aku sudah baik-baik saja, aku sedang tidak ingin diperiksa olehnya, dia selalu membawa jarum-jarumnya itu. Sebaiknya jika dia datang bilang saja kalau aku sudah sembuh, dan suruh dia pergi..!"
"Ah.. seperti itu, baiklah Ratu, saya permisi."
Sani akhirnya pergi keluar untuk membawakan beberapa buah-buahan pesanannya itu.
Sani berjalan sambil memikirkan perubahan sang Ratu,
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba Ratu ingin buah yang asam?, mungkinkah Ratu….. oh astaga jika ini benar ibu Suri pasti sangat senang."
Sani berjalan dengan tersenyum-senyum berharap apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan.
Dia membawa keranjang, dan meminta salah satu pengawal memetik buah yang segar dan belum masak sempurna, karena Ratu ingin yang sedikit asam, saat Sani sibuk menunjuk-nunjuk buah yang menurutnya sesuai.
"Sedang apa kau Sani, Ratu mana?"
Sanipun menoleh,
"Salam Pangeran.., sudah lama kita tidak bertemu, ah iya saya sedang memilih buah-buahan untuk sang Ratu, Ratu ada di paviliunnya ia sedang beristirahat karena tadi sempat pingsan."
"Benarkah? Kalau begitu aku akan ikut denganmu, aku ingin menjenguknya, berikan keranjang itu padaku..!" Pangeran Ceng langsung merebut keranjang yang dipegang oleh Sani, ia sangat bersemangat sekali, karena sudah beberapa hari ini ia tak bertemu Ratu, sebenarnya ia ingin bermain dan berlatih beladiri dari Ratu Anggrek.
Saat Pangeran Ceng melihat isi keranjangnya,
"Ini kan belum matang Sani, Rasanya pasti kecut, kau ini tak pandai memilih buah yang manis."
"Itu memang pesanan Ratu.. pangeran,ia tak ingin yang manis, ia meminta buah yang sedikit masam."
"Astaga, mungkinkah?"
"Sepertinya begitu."
"Memangnya kau tau apa yang aku pikirkan?"
"Emm.. sepertinya apa yang pangeran pikirkan sama dengan apa yang saya pikirkan saat ini."
Ucap Sani sambil tersenyum
Mereka tambah bersemangat memilih buah-buahan itu, bahkan untuk memastikan apa yang mereka pikirkan, mereka memilih buah yang sepertinya sangat masam. Mereka kompak sekali, entah hanya rasa ingin tahu atau bahkan sekalian ingin mengerjai Ratu mereka.
Wkwkwkwkwk…..
Bersambung...
...jangan lupa like setelah membaca..!...
__ADS_1
...bisa tinggalkan jejak di kolom komentar juga ya..!...
...TERIMAKASIH :)...