
"Hahaha… lo tuh yang harusnya sadar diri, dasar cewek matre." Ucap Gita, dia berniat pergi namun tangannya ditahan seseorang.
Saat tangan itu ditarik, dengan sigap Gita menangkis tangan yang akan melayang ke pipinya, membalikkan keadaan.
Kini posisi wanita itu terkunci oleh Gita.
"Jangan coba-coba menggunakan fisik, karena gue gak akan segan-segan!." Ancam Gita, lalu melepaskan tangan Wina.
Meski Wina lebih senior dari Gita tapi dia tidak akan pernah takut.
"Dasar cewek kasar, tenaga kuda, kalau diliat-liat penampilan Lo tuh aneh, pasti Lo itu anak miskin yang mau deketin Reza yang anak orang kaya, harusnya ngaca dong, Lo tuh yang matre! Tapi jangan harap Reza suka sama cewek model kaya lo, jangan mimpi!."
"Hahahaha… terserah." Ucap Gita yang tidak ingin melayani perempuan cerewet itu.
"Stop.. kalian itu apa-apaan sih, pagi-pagi udah ribut, Gue udah sarapan gue mau pulang, dan Lo Gita..! Nanti gue jemput lagi." Ucap Reza menunjuk pada wajah Gita.
"Terserah.." jawab Gita kesal.
"Apa? Ngapain kamu repot-repot jemput dia Za?." Wina merasa ini sesuatu yang aneh.
Reza berlalu pergi tanpa menjawab pertanyaan dari wanita itu, sementara Gita tertawa sinis pada Wina seolah meledek Wina yang sedang dirundung kekalahannya.
"Lo pasti pake pelet ya? Mana mau Reza sama lo. Awas aja ya, gue bakalan patahin tuh pelet lo..!." Ucap Wina mengepalkan tangannya.
"Sono pergi ke dukun..! Haha.." Ucap Gita.
Pelet apa? Pelet ikan, iya kali gue suka main gituan, dasar. Pikir Gita
Karena pagi ini menguras emosi jiwa, Gita akhirnya duduk dan memesan makanan, dia tiba-tiba merasa lapar. Sementara Wina sudah berlalu pergi entah kemana.
Gita duduk menunggu pesanannya sambil menyempatkan mengirim pesan pada Nisa agar menghampirinya.
Sedang asyik Gita menikmati Batagor kuah yang pedas, tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Hai… Git."
Membuat wanita itu tersedak, begitu terasa perih karena tersedak kuah pedas.
Uhuukk..
Uhuukk..
__ADS_1
Gita mengambil gelas minumannya, meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Ya ampun Nis, lo kira-kira dong, gue lagi makan yang pedes pake acara keselek pula, nyiksa banget lo." Keluh Gita
"Upss… sorry." Ucap Nisa sambil mengangkat kedua tangannya yang ia satukan, sebagai tanda permohonan maaf.
"Gue kangen banget sama lo, so sibuk banget sih.. ciee.. yang udah jadi Bos." Goda Nisa.
"Apaan sih lo, gue lebih suka ke kampus, di kantor tuh gak bebas, banyak aturan, belum lagi dokumen yang menumpuk yang gue gak ngerti, bikin pusing."
"Hahaha… jangan gitu Git. Lo harus semangat..!"
"Iya, iya, li mau makan apa gue traktir deh?."
"Asik ditraktir Bos.hehe.." Ucap Nisa kegirangan seperti anak kecil.
Gita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Selama makan, Nisa menceritakan hal-hal seru yang terjadi padanya. Dia mengaku bertemu laki-laki tampan yang menjadi idamannya, dia juga bercerita tentang Fans rahasia Gita yang sempat mengirim kado saat Gita tidak masuk kuliah, dan Nisa membawa kado itu pulang.
Gita sama sekali tidak tertarik dengan pria misterius itu. Tapi dia mendengarkan semua curhatan sahabatnya itu.
***
Reza yang baru sampai di kantor ternyata ia terlambat datang, membuat asistennya Reno menanyakan perihal meeting yang sempat tertunda.
Ya ampun gue lupa lagi. Pikir Reza
Setelah meeting itu selesai, Reza menuju ruangannya, memikirkan alasan apa yang akan digunakan agar bisa membawa Gita jalan-jalan sepulang dari kampus.
Gue harus bisa bawa dia jalan-jalan, terus gue kerjain dia, pasti seru. Hehehe
Reza senyum-senyum sendirian, membuat Reno sedikit heran.
"Bos.. kenapa senyum-senyum sendiri?."
"Gapapa, kamu gak usah kepo!." Keluh Reza
"Hari ini ada pertemuan dengan beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan proyek baru kita pak."
"Emm.. baiklah, ayo kita pergi..!"
__ADS_1
Reza dan Reno pergi menuju tempat yang telah disepakati. 20 menit berlalu akhirnya mereka sampai.
Reza begitu kesal, melihat wajah laki-laki yang sempat membuatnya cemburu itu.
Oh ternyata dia perwakilan dari salah satu perusahaan Pak Baskoro, pasti dia orang penting, gue harus bisa bersaing sama dia. Pikir Reza
Kenapa tatapan dia seolah seperti singa yang ingin menerkam musuhnya? Bukankah kita disini bekerjasama, bukan berduel. Pikir Angga melihat tatapan Reza.
Pertemuan itu berlangsung lancar, karena Reza juga harus bersikap profesional, dia tidak boleh melibatkan perasaannya.
Namun saat berjabat tangan, sangat terlihat jelas jika tatapan Reza menunjukan ketidaksukaannya.
Haha.. calon adik ipar gue gini amat. Pikir Angga
Angga tak menghiraukannya, dia berpura-pura tidak melihat kearah Reza, sebenarnya lelaki itu ingin melepaskan tawanya namun sekuat tenaga ia menahannya.
Saat Angga memasuki mobilnya.
"Hahahahahaha…. Astaga, segitu sukanya dia sama Gita." Reza akhirnya bisa tertawa lepas di dalam mobil.
"Pak Angga kenapa?." Tanya Pak Surya.
"Tidak apa-apa, hanya ada sesuatu yang lucu aja, ayo jalan.. kita kembali saja ke kantor..!"
"Baik.." Ucap Surya dengan wajah yang masih bingung, selama rapat bukankah tidak ada yang lucu, bahkan pertemuan itu terkesan serius. Dan selama mereka berjalan beriringan sampai ke mobil, tidak terjadi sesuatu.
Apanya yang lucu? Pikir Surya
***
Sementara Reza marah-marah tidak jelas saat perjalanan pulang, membuat Reno juga merasa heran. Bukankah pertemuan tadi lancar dan sukses, bahkan akan sangat menguntungkan, namun kenapa Bos nya malah bersikap aneh.
Si Bos kenapa? Apa dia lagi PMS? Haha.. sudahlah, biarkan saja, daripada nanti aku yang kena marah. Pikir Reno
***
Sementara di kampus, Gita yang ingin makan siang dihadang beberapa wanita.
Ya ampun, mana udah laper, pake acara drama dulu lagi. Guman Gita dalam hati
Bersambung...
__ADS_1