Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Rencana Ina


__ADS_3

Gita memberikan surat itu pada ibunya.


"Kamu ngelakuin apa Git sampe mamah harus dateng ke kampus?"


"Gak tahu mah, besok ke kampus Gita aja, aku juga penasaran. Hehe."


"Tapi mamah percaya kan Gita gak akan ngelakuin hal yang aneh-aneh?."


"Hmm.. mamah jadi kepo."


"Tadi Gita sempet berdebat sama temen kampus, terus dia mau main kasar, tapi Gita melawan karena mempertahankan diri, apa karena itu ya, tapi dia gak Gita apa-apain kok?."


"Ya paling dilebih-lebihkan, kita cek besok..!"


Gita hanya mengangguk-ngangguk kecil, dengan posisinya masih tidur terlentang.


Bu Hanna keluar kamar untuk melihat suaminya, sementara Gita malah tertidur begitu nyenyaknya.


Ketika hari sudah sore namun Gita masih dalam posisi yang sama.


"Git bangun, ada yang nyariin tuh!" Bu Hanna


"Gita masih ngantuk mah."


"Kamu ini mentang-mentang lagi dapet, tidur siang aja kamu bablasin Git."


"Aji mumpung mah, hehe."


"Bener nih gak mau keluar? Apa kamu mau pacarmu Reza mamah bawa kesini, biar dia bisa melihat betapa jeleknya kamu saat tidur?"


"Apa? Jangan dong mah! Gita mandi dulu, ok mah!."


Gadis itu bergegas menuju kamar mandi, mandi dengan durasi cukup lama karena ia ingin tubuhnya tercium wangi.


Sementara Reza berbincang dengan bu Hanna, dia beralasan hanya datang untuk mengantar pakaian Angga yang sudah dia pinjam.


Namun ibu itu mengerti jika pasangan baru ini masih di tahap pertama pacaran, lagi kangen-kangennya, lagi sayang-sayangnya. Hehe


Sore itu bahkan Angga sudah pulang, dia yang tahu betul jika calon adik iparnya bermaksud menemui Gita, dia malah mengajak Reza bermain game lagi.


Reza yang tak mampu menolak pun, terpaksa menyetujuinya.


Gita yang sudah berdandan cantik, dia keluar kamar dan menuju ruang tamu.


"Maaf yah udah nunggu lama." Ucap Gita sambil menunduk


"Reza dikamar kakakmu Git." Ucap Bu Hanna

__ADS_1


Ternyata disana hanya ada ibunya saja, Gita sebenarnya ingin menghampiri kamar kak Angga namun ia tidak punya alasan.


Gita menonton Tv dengan wajah betenya, Angga yang lewat sekedar mengambil cemilan, melihat adiknya .


"Kamu nonton sendirian Git, nonton aja pake dandan segala? Hehe.."


"Iya lagi nonton, kakak kira Gita lagi maen karate."


"Astaga sensi amat."


"Maklum lagi dapet."


"Oh pantesan, kalau gitu kakak gak jadi ajak kamu main game deh, takut kena marah terus sama yang lagi dapet. Hahaha.." 


"Kak Angga.." Teriak Gita melemparkan bantal sofa, namun malah mengenai Reza yang berniat menyusul Angga, bahkan saking kencangnya membuat pria itu terjungkal ke belakang.


Angga Pun melarikan diri. Gita bingung harus bagaimana, dia hanya pura-pura menonton Tv lagi, seolah-olah tidak melakukan kesalahan.


"Sayang.. sakit tahu."


"Maaf aku gak sengaja."


"Tenagamu kuat banget, sini aku temenin nontonnya."


Mereka akhirnya menonton televisi ditemani cemilan dan minuman.


Namun Gita yang risih, langsung memindahkan chanel nya, tapi sialnya semua chanel hari ini romantis.


Tidak ada kartun ya jam segini? Pikir Gita


"Kita udahan nontonnya ya?."


Angga datang lagi, mengganggu acara mereka. "Za sini deh, aku tadi beli game baru, aku baru inget."


Mereka lanjut main game sampai malam, membuat Gita benar-benar kesal.


Sebenarnya dia mau ngapelin aku atau kak Angga sih? Batin Gita


***


Keesokan harinya Gita pergi ke kampus bersama ibunya, Hanna berpakaian cukup mewah hari ini.


Semua mata tertuju pada Gita dan Hanna, melihat penampilan mereka yang berbeda jauh.


Mereka lalu berjalan masuk menuju ruangan Rektor, mencari tahu sebenarnya ada masalah apa sampai bu Hanna harus datang ke kampus.


Ternyata dugaan Gita benar jika Ina yang kemarin berdebat dengan Gita memberikan laporan palsu, bahkan ada surat dari rumah sakit yang menyatakan dia mengalami lebam-lebam.

__ADS_1


"Tapi maaf pak, saya tidak merasa melakukannya."


"Tapi ini sudah jelas ada hasil visum nya Gita, bahkan Ina akan mengusut kasus ini ke kantor polisi."


"Apa?, memangnya ada buktinya jika saya yang melakukannya? Bisa saja kan Ina berkelahi dengan orang lain." Jawab Gita


"Maaf Pak Rektor yang terhormat, saya sangat percaya pada anak saya, beri kami waktu untuk menelusuri kasus ini, saya pastikan anak saya tidak bersalah, dan jangan sampai hal ini tersebar." 


"Baiklah bu, saya juga sangat menghormati keluarga Pak Baskoro, saya hanya ingin memastikannya terlebih dahulu."


"Baik.. saya permisi pak."


Kebetulan sekali saat mereka keluar tak jauh dari sana Gita bisa melihat Ina, gadis itu bersama ayahnya yang akan memberi laporan lagi mengenai hal ini. Saat Gita mendekat memang terlihat banyak lebam.


"Hmm.. kamu kenapa Ina? Bukannya kemarin baik-baik saja."


"Ini ulahmu Gita." Ucap Ina dengan nada tinggi.


"Benarkah? Bahkan aku tak melakukan apapun, kalau tahu begini, sebaiknya kemarin aku patahkan saja lenganmu sekalian, haha.." Gita tertawa, hanya merasa geli dengan fitnah ini.


"Emm.. Ina ini anakmu ya Hans?."


"Bu Hanna.. anda disini juga?." Tanya Hans ayah dari Ina.


"Ah iya, anak saya di fitnah temannya, tapi kami akan mengurusnya hingga tuntas dan menuntut balik." Ucap Bu Hanna serius.


"Apa anaknya bu Hanna yang bermasalah denganmu? Jangan macam-macam sama dia, kamu mau keluarga kita kehilangan mata pencaharian?." Ucap Hans berbisik di telinga Ina.


Seketika wajah gadis itu berubah pias, namun dia menepis rasa takutnya.


Bukankah dia orang miskin? Dia gak akan sanggup menyewa pengacara? Dia tidak akan bisa menemukan kebenarannya kan? Batin Ina


Gita dan bu Hanna berlalu pergi, membiarkan ayah dan anak itu berdiskusi berdua dengan berbisik-bisik.


Namun Ina yakin seyakin yakinnya jika Gita bukan anak orang kaya, mungkin saja anak bu Hanna yang di fitnah itu adalah orang lain, dan Gita kebetulan bertemu dengan bos ayahnya itu.


Ina meyakinkan ayahnya jika yang bermasalah dengan nya adalah orang miskin, dia juga meyakinkan ayahnya jika dia berkata jujur bahwa dia memang terluka, dirundung oleh gadis itu (Gita).


"Bukankah ayah lihat sendiri jika Gita penampilannya saja seperti itu, dia memang kasar yah, dia merundung aku, makanya aku mau laporin dia lagi." Ucap Ina.


"Ok, ayah akan bantu kamu, membela kamu jika memang apa yang kamu katakan itu benar, tapi jika itu adalah kebohongan dan menimbulkan masalah yang berbalik padamu, ayah tidak bisa membelamu lagi, catat itu Ina..!" Ucap Hans dengan tegas.


Glek..


Ina merasa sedikit tegang, namun ia yakin Gita tak akan mampu membela diri, dia bertekad membuat laporan ke duanya, dia berjalan menuju ruangan Rektor.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2