
Reza yang sudah merasa lapar dia bergegas menuju cafe tempat dimana ia janjian dengan klien nya, dia memesan makanan dan menghabiskannya dengan cepat, lalu menyuruh pelayan membersihkannya sebelum klien nya datang.
Akhirnya kenyang juga, tinggal menunggu klien datang..
Tiba-tiba mata Reza terfokus pada 2 wanita yang sedang makan dan mengobrol dengan canda tawa. Reza mulai mengenali salah satunya.
Bukannya dia temannya Gita ya? Tapi sayang sekali tidak ada Gita disana, kalau ada sudah aku ejek dia habis-habisan biar dia marah. .hmm
Tak berselang lama klien yang ditunggu akhirnya datang, dia mengobrol cukup lama sekitar 20 menit dan akhirnya kesepakatan pun terjadi, Reza tersenyum senang.
Reza berniat kembali, dia pun harus melewati meja yang ditempati Gita dan Nisa.
Reza melangkah dengan cuek, tapi saat mendengar percakapan mereka, dia merasa mendengar suara orang yang dikenalnya.
Bukannya itu suara Gita? Pikirnya
Reza menoleh, tapi yang dia lihat hanya Nisa dan teman wanitanya yang cukup cantik menurutnya, lalu dia menoleh kembali dan mengacuhkan mereka karena dia pikir itu bukan Gita.
Setelah kepergian Reza, Nisa mulai penasaran.
"Git, gimana perjodohan lo sama kak Reza?"
"Gak gimana-gimana, ya masih gitu aja sih, cuman kan gue gak ke kampus, dia juga sibuk di kantornya jadi belum ketemu lagi."
"Lah.. tadi kan ada kak Reza lewat? Belum ketemu gimana.. astaga."
"Ya.. maksud gue, belum ketemu ngobrol gitu Nis, gak diantar jemput juga kan smaa dia, kalau tadi sih gue yakin dia gak ngenalin gue."
"Oh, hahaha.. bener Git, dia cuman berhenti bentar trus pergi, emang kayaknya gak ngenalin wajah baru lo deh, emang pangling sih.. gue aja kaget."
"Masa sih? Gue bagusan gini apa gaya yang biasanya?kalau maslah Reza, udahlah biarin aja, gue suka darting kalau ketemu dia, bahas nya aja males, mending bahas hal yang lain."
"Ok deh, lo tuh ya segitu bencinya sama kak Reza, hmm.. bagusan gini lah lebih manusiawi, eh lebih kecewean, eh salah ngomong mulu gue, haha.. pokoknya bagusan gini Git, hehe .."
"duh omongan lo, kalau bukan temen udah gue apain gitu, hmm.."
__ADS_1
"Gimana kesan lo 2 hari ini kerja di kantor keluarga lo, enak kan jadi Bos?" Tanya Nisa begitu antusias.
Gita mulai bercerita tentang hari pertama dia bekerja, tentang tumpukan dokumen, tentang OB wanita itu dan banyak hal lainnya lagi, taka ada yang terlewatkan satupun.
Gita memang sedang merindukan sahabatnya itu, selama 2 hari ini dia benar-benar penat dengan kertas, buku, pulpen dan kantor. Dia butuh canda tawa yang membuat otaknya sedikit rileks.
Wanita itu tidak mempedulikan seberapa lama dia berada di cafe itu, bahkan waktu istirahat sudah lewat, iya.. bos kan bebas. Hehe
***
Pak Surya mondar-mandir menunggu kedatangan nona mudanya itu. Karena sudah 2 jam berlalu Bos nya belum kembali, bahkan dia tidak tahu kemana nona nya pergi karena Gita pergi sendiri tanpa memberitahu siapapun.
Pak Surya bahkan mengira Gita hanya makan dikantin kantor, tapi tidak ada.
Dia mengecek ke beberapa rumah makan disekitar perusahaan juga tidak ada, sementara ia tidak memiliki nomor ponsel pribadi Bos mudanya.
Jika dia menghubungi pak Baskoro, dia takut membuat orang tua Gita khawatir, dia akan menunggu kedatangan Gita beberapa jam lagi, berharap bos nya baik-baik saja.
Sebenarnya kemana nona Gita pergi? Gumam pak Surya dalam hati.
"Maaf tuan Reza, sepertinya nona Gita keluar di jam istirahat dna belum kembali juga." Ucap Pak Surya
"Benarkah? Tidak disiplin sekali, baiklah saya akan menunggu disini." Ucap Reza lalu duduk di kursi Gita dan memutarnya sehingga menghadap ke arah belakang, dimana ia bisa melihat ke arah luar jendela.
Pak Surya mengenali Reza dan tahu jika dia akan dijodohkan dengan Anggita, maka dari itu dia tidak memprotes atas kelakuan Reza yang diluar batas ini.
Gita yang baru datang diberitahu tentang kedatangan Reza, dia langsung bergegas ke ruangannya.
"Mau apa lo dateng kesini? Main duduk di kursi orang lagi, gak sopan." Ucap Gita
Reza tersenyum, dia sudah menyusun kata-kata di dalam pikirannya, akan mengejek Gita dengan ketidak disiplinan wanita itu. Saat Reza membalikkan kursinya.
Dia terdiam, dan membulatkan matanya agar bisa melihat lebih jelas lagi.
Bukannya tadi jelas aku mendengar suara wanita jadi-jadian itu? Kenapa jadi orang lain. Pikir Reza
__ADS_1
Gita yang geram, "Astaga, lo tuh ya ditanya malah bengong, mau ngapain sih kesini? Ganggu gue aja."
Reza menelan salivanya, dia benar-benar Gita cewek yang gue kenal kan? Masa sih?
Reza ingin memastikan kembali apa yang dilihatnya, dia berjalan mendekat, membawa bunga dan cake tadi.
"Ini gue cuman bawain lo cake dan bunga, biasalah disuruh nyokap, katanya ucapan selamat datang di dunia bisnis." Ucap Reza sedikit ragu, bahkan suaranya pelan.
"Oh, ya udah sini, makasih, lo udah boleh pulang sekarang..!" Ucap Gita sembari mengambil bunga dan cake itu. Cake yang ukurannya memang mini.
Lelaki itu hanya diam terpaku saat mendengar suara familiar itu lagi, bahkan ucapannya yang kasar pun masih terdengar sama. bahkan dia lupa akan semua kata-kata ejekan yang tersusun rapih di pikirannya.
Dia tidak bergerak sama sekali dari posisinya itu, dia masih kaget dengan apa yang dia lihat, belum percaya dengan penampilan baru Gita.
"Kenapa masih disitu? Apa ada lagi yang mau lo kasih sama gue?"
Reza menoleh, "Tidak.."
Lelaki itu melangkahkan kakinya keluar, bahkan rencana untuk mengejek pun dia lupakan.
Gita pun merasa heran, ada apa dengan dia, mendadak pendiam begitu?
Dia menaiki lift menuju lantai bawah, beberapa karyawan di dalam lift mulai berbisik. Penasaran dengan Reza yang datang membawa bunga ke ruangan Bos nya.
"Mungkin dia pacarnya." Ucap salah satu dari mereka pelan.
"Iya, beruntung ya, ganteng, perhatian."
"Iya, padahal penampilan bos kan kemarin aja aneh, tapi bisa dapet cowok kaya gitu."
"Bos kita memang hebat.."
Meskipun mereka berbicada dengan keras pun sebenarnya Reza tak akan mendengarnya, karena ia masih sibuk dengan lamunannya.
ya.. sama, cewek yang di cafe tadi benar dia.
__ADS_1
Bersambung...