
"Memangnya telepon dari siapa?" Angga
"Reza." Gita
"Kenapa jadi Kakak yang mengangkatnya?" Angga
"Angkat ajalah Kak, berisik dari tadi nelpon terus," ucap Gita sambil memberikan ponselnya.
Angga Pun menuruti apa yang diminta oleh adiknya itu, dia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan Reza.
"Halo Git, kenapa nomormu sulit dihubungi, kamu juga menghilang, apa kamu pulang ke Jakarta?" Reza
"Iya, dia ada dirumah, aku yang menyuruhnya pulang." Angga
"Eh kak Angga, syukurlah kalau Gita pulang dengan selamat, hehe..." Reza
"Makanya kalau mau berbuat sesuatu itu dipikirkan dulu! karena kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa." Angga
"Iya Kak maaf, aku juga besok pulang, disini juga ada Kirana, Dafa dan tante Jani, ini Dafa katanya mau ngobrol sama Kak Angga." Reza
Dafa mengambil ponsel itu dan mengobrol dengan kakaknya, menceritakan keseruan mereka selama di Bali hari ini.
Tentu Angga menanggapinya dengan senang, membuat Gita bertanya-tanya kenapa ada Dafa disana.
Saat mendengar penjelasan Angga bahwa disana ada Kirana dan Jani juga, membuat Gita kini berpikir positif, jika yang mengangkat teleponnya tadi bukanlah cewek yang digoda Reza.
Gadis itu langsung tersenyum senang, dia kembali ceria , menyambar ponsel yang ada di tangan Angga, lalu bernyanyi menuju kamarnya.
"Pah, Gita kenapa, aneh bnaget?" Angga
"Gak tahu, hari ini dia bertingkah aneh, sebentar-sebentar bete, kemudian ceria, entahlah Papah juga bingung." Baskoro
Gita mulai mengirim pesan pada Reza dan bertukar pesan romantis.
Hahaha, gue terlalu khawatir, padahal gue tahu Reza tuh cinta mati sama gue. Batin Gita
***
Keesokan harinya Reza pulang terlebih dahulu meninggalkan Kirana, Dafa dan Jani yang masih ingin menikmati indahnya pulau Bali.
Reza memang meninggalkan indahnya Bali, namun yang membuat hatinya indah tidak ada disana, membuatnya lebih memilih pulang.
***
Hubungan mereka semakin hari semakin kuat, sudah saling percaya satu sama lain, sudah saling mengerti dan mengalah. Bahkan mereka kini sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka yang akan diadakan minggu depan.
"Gak kerasa ya, udah mau dihalalin lagi." Gita
__ADS_1
"Hmm, iya… hari bahagia kita seminggu lagi. Hehe.." Reza
"Awas loh.., jangan sampe gugup dan salah nyebut nama aku pas ijab kobul..!" Gita
"Hahaha, siap…" Reza
Pasti bisa, masa iya salah ngucapin nama? Pikir Reza
***
Hanna dan Maya begitu senang, mereka bahkan yang paling sibuk, mengurus baju pengantin, dekorasinya, mereka menginginkan hal yang mereka bayangkan. Untung saja selera dua sahabat itu sama, sehingga hanya ada perdebatan kecil lalu mereka menemukan keputusan yang tepat.
"Gita pasti cantik pake yang ini Han?" Maya
"Iya bagus, tapi lebih bagus yang ini deh May," Hanna menunjukan baju pengantin yang lain.
"Tapi, ini kita cari yang berhijab apa biasa aja?" Maya
"Sepertinya berhijab deh, Gita bilang mau yang tertutup, sepertinya dia mau merubah penampilannya, apalagi setelah menikah." Hanna
"Oke, kita cari yang berhijab satu yang biasa satu, lalu kita tanyakan lagi nanti!" Maya
"Dua, dua aja biar ada perbandingan lagi, biar Gita memilih maunya yang mana!" Hanna
"Oke, kita masing-masing pilihin dua set pakaian.. hehe" Maya
***
Nisa yang mendapat kabar baik itu, dia menyempatkan untuk kembali ke Indonesia.
Namun dia tidak kembali ke Jakarta, melainkan ke Kota Bandung, ternyata ayahnya mengembangkan bisnis di kota Bandung, dan sudah pindah sejak kepergian Nisa ke luar negeri.
Pak Damar yang melihat anaknya pulang, dia menyambutnya dengan bahagia.
"Akhirnya Papah bisa ketemu sama kamu." Pak Damar
"Iya Pah, kebetulan memang baru bisa mengambil cuti sekarang, sekalian mau menghadiri acara pernikahan Gita." Nisa
"Anaknya pak Baskoro itu? Kapan kamu ke Jakarta?" Pak Damar
"Besok Pah, karena pernikahannya lusa." Nisa
"Papah jadi keingetan sama temen Papah yang mau jodohin anaknya, kira-kira kamu mau gak Nis?" Pak Damar
"Emm, dicoba aja dulu Pah, taaruf aja, tapi pilihan Papah pasti yang terbaik," ucap Nisa sambil tersenyum.
"Papah sebenarnya belum bertemu dengan anak teman Papah itu, tapi teman Papah itu sahabat lama Papah, dia baik dan tampan, anaknya pasti juga sama." Pak Damar
__ADS_1
"Bersahabat lama, tapi kenapa belum kenal anaknya Pah?" Nisa
"Anaknya baru ketemu, sempat hilang juga, ketemu udah gede aja, hehe.. tapi kalau dipikir, temen Papah juga belum pernah ketemu kamu, cuma lihat foto kamu aja." Pak Damar
Pak Damar langsung menghubungi sahabatnya itu, mengajaknya bertemu ketika lusa nanti sudah sampai di Jakarta.
Pak Damar akan membahas perjodohan anaknya yang sempat dibicarakan dulu, belum sempat bertemu dengan anak Andra, dia terlanjur pergi ke Bandung dan membangun bisnis disana, bahkan berkembang pesat. Membuatnya terpaksa pindah membawa istrinya itu, hingga hampir 1 tahun dia tidak pernah bertemu lagi dengan sahabatnya itu.
***
Keesokan harinya Nisa, dan kedua orangtuanya pergi ke Jakarta. Mereka menginap di salah satu hotel di sana, ya.. karena rumah mereka yang ada di Jakarta sudah mereka jual.
Nisa yang tahu sahabatnya sibuk dengan persiapan pernikahannya, dia menghubungi Gita terlebih dahulu, memastikan apakah dia bisa diajak bertemu. Namun ternyata Gita tidak bisa, membuat Nisa harus berdiam diri hari ini di hotel, sementara ayah dan ibunya pergi entah kemana.
Ternyata Pak Damar mengunjungi rumah Andra, untuk bertemu karena rasa rindu, dan untuk membahas anak-anak mereka.
"Kamu, rencana berapa lama di Jakarta?" Andra
"Entahlah, 3 hari mungkin, anakku mau menghadiri hari pernikahan sahabatnya, yang kebetulan anaknya keluarga Pak Baskoro, jadi saya juga datang, siapa tahu kan bisa bertemu partner bisnis, hehe." Damar
"Beneran anak kamu sahabatnya Gita? Kalau anaknya Pak Baskoro saya kenal semua." Andra
"Wah, kebetulan sekali.. jadi bagaimana kalau kita kenalkan anak-anak kita besok, di acara pesta pernikahan?" Damar
"Tapi Pah, apa Nisa sudah setuju?" Ibunya Nisa
"Mamah tenang aja, Papah sudah membicarakan masalah ini dengannya." Damar
"Bagaimana Ndra, besok di pesta keluarga Baskoro, oke?" Pak Damar
"Baiklah…" Andra
Mereka berbincang-bincang lumayan lama, membahas masa lalu yang mereka habiskan bersama, sementara Ibunya Nisa, dia menemani Dafa bermain, anak itu baru pulang sekolah.
Dafa menanyakan banyak hal, termasuk menanyakan bagaimana caranya agar Mamah Janinya itu bisa tinggal dengannya.
"Hahaha.. ya gak bisa dong sayang, kalau kamu mau Mamah Jani tinggal disini, Papah kamu harus menikah dulu dengannya." Ibunya Nisa
Ibunya Nisa tahu jika Andra itu duda dari cerita yang dia dengar dari suaminya, mengenai Jani, pengasuhnya yang menjelaskan jika Jani itu wanita yang dekat dengan Dafa dan merupakan seorang janda.
"Jadi harus menikah dulu ya tante?" Dafa
"Iya dong." Ibunya Nisa
Dafa menhembangkan senyumannya, entah apa yang dipikirkan bocah itu.
Bersambung…
__ADS_1