
Setelah bertemu dengan Amel di rumah Raka, Rendi tidak langsung pulang ke rumah sakit. Dia memutuskan untuk pergi ke hotelnya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat ini, dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Ketakutan yang selama ini ada dipikirannya, akhirnya terjadi juga. Hubungannya dengan Amel akhirnya kandas. Kebahagian baru saja dia rasakan harus hilang begitu saja. Rendi berteriak keras di dalam mobil yang melaju dengan kencang.
Sesampainya di hotel, dia langsung berjalan menuju lift. Dengan langkah cepat dia masuk ke kamarnya. Rendi mengambil vas bunga yang ada di meja dan meleparkannya ke tembok. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengusap kasar rambutnya dan berteriak. Dia berjalan menuju jendela kaca dan terlihat menghubungi seseorang, setelah berbicara cukup lama, dia kembali memasukkan ponselnya ke saku celanannya.
Rendi hanya diam menatap keluar jendela, dengan tangan di dalam saku celananya. Sorot matanya tajam dengan ekpresi wajah dingin. Cukup lama Rendi berdiri di depan jendela. Rendi berjalan ke arah pintu setelah mendengar suara bel.
“Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau di rumah sakit?” ucap pria yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar Rendi. Dia adalah Kenan, sepupu Rendi.
Rendi diam saja, tidak menanggapi pertanyaan Kenan. Dia berjalan menuju sofa lalu duduk. “Kau kenapa lagi? kenapa kamarmu seperti ini?” tanya Kenan lagi saat melihat pecahan vas bunga yang sudah bertebaran di lantai kamarnya.
Rendi menoleh acuh pada Kenan. “Aku butuh bantuanmu!” ucap Rendi tanpa menjawab satupun dari pertanyaan Kenan tadi.
Kenan duduk santai di depan Rendi dengan kaki bertumpu dengan kaki satunya. “Aku tidak menyangka seorang Rendi membutuhkan bantuan dariku! Aku kira tidak ada yang tidak bisa kau lakukan!” ucap Kenan tersenyum mengejek.
Rendi bersandar di sofa dan menatap Kenan dengan tajam. “Kau mau membantu aku atau tidak?”
Senyum di wajah Kenan memudar saat melihat tatapan menghunus dari Rendi. “Kau jangan menatapku seperti itu! Kau bisa membunuhku dengan tatapanmu itu! Apa begini caramu meminta bantuan kepada orang lain?” ucap Kenan saat melihat tatapan mengerikan dari Rendi, tatapannya berkilat.
“Kenan, aku sedang tidak ingin bercanda!” ucap Rendi tegas.
Kenan mengangguk-angguk. “Baiklah, Kau ini kenapa berlagak serius denganku? Aku jadi merinding melihat tatapanmu itu!” ucap Kenan mencoba mencairkan suasana yang sedikit mencekam. “Katakan! Apa yang bisa aku bantu?” Kenan memangku tangannya.
“Kemarilah!” ucap Rendi enteng meminta Kenan untuk mendekatinya.
Kenan mengangkat tangannya seperti hendak memukul Rendi. “Kau ini..! Di sini yang perlu itu kau apa aku? Kenapa memerintahku seenaknya!” teriak Kenan sambil berjalan menuju tempat duduk Rendi.
Rendi hanya diam tidak merespon protes dari Kenan. Rendi membisikkan sesuatu di telinga Kenan, terlihat wajah keduanya sangat serius, tidak ada lagi tawa di wajah tampan Kenan seperti saat pertama kali dia datang.
“Kau ini benar-benar sudah gila ya? Kau pikir aku tidak tidak ada kerjaan apa?” ucap Kenan kesal setelah mendengar semua perkataan dari Rendi.
“Hanya kau dan Jhon yang bisa membantuku!”
Kenan berjalan ke tempat duduknya semula. “Kau meminta bantuan Jhon juga?” lirik Kenan saat mendengar perkataan Rendi.
“Hhhmmm,” gumam Rendi malas.
__ADS_1
Kenan geleng-geleng kepala. “Kalau aku jadi Amel, aku tidak akan melepaskan pria sepertimu! Harusnya dia menyesal telah membuangmu! Apa dia sedikit gila? Padahal aku sedikit tertarik padanya!” racau Kenan. saat mengingat permintaan yang Rendi bisikkan tadi.
Rendi menatap tajam Kenan. “Apa kau sudah bosan hidup? Jangan coba-coba dekati dia, Aku akan membuatmu menyesal jika kau berani mendekatinya!” ancam Rendi saat mendengar perkataan Kenan.
Dia tidak akan membiarkan kalau Kenan mendekati Amel, walaupun dirinya sudah tidak ada hubungan lagi dengan Amel, tetap saja dia tidak menyukai kalau sepupunya itu mendekati Amel
Kenan tersenyum konyol. “Aku hanya bercanda Ren! Jangan tegang sekali! Kau tidak lihat kepalamu itu sudah mengeluarkan uap panas dari tadi! santailah sedikit. Matamu bisa copot kalau kau terus melotot ke arahku,” ucap Kenan enteng.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengar omong kosongmu itu!” ucap Rendi dengan wajah datar saat Kenan terus saja menggodanya.
“Baiklah, kenapa kau tidak cari orang lain saja untuk mengurus hal ini? Aku ini pewaris Merion Group, bisa-bisanya kau memintaku untuk mengurus hal seperti itu! Kau itu sedang meremehkan aku atau sedang mengerjai aku? Aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu!” ucap Kenan dengan wajah kesal.
“Kau jangan lupa di perusahaan keluargamu, Aku mempunyai saham 65%, itu sudah cukup untuk menduduki posisi Direktur Utama di perusahaanmu. Aku bisa mendepak posisimu kapan saja aku mau!”
Kenan tersenyum kecut. “Kau tidak boleh melibatkan urusan pribadi dengan urusan perusahaan! Kenapa tidak kau minta Jhon untuk mengurusnya?”
Rendi menatap malas pada Kenan. “Aku sudah memintanya untuk melakukan hal lain!”
“Kau benar-benar luar biasa, hanya untuk seorang gadis kau melakukan ini semua? Aku sangat kagum padamu,” Kenan geleng-geleng sambil tepuk tangan.
“Wajar saja Ellen sangat tergila-gila padamu! Ternyata kau benar-benar istimewa, seperti martabak telor!” ucap Kenan tertawa kecil.
“Aku tidak mau! Dia bahkan tergila-gila padamu, Aku tidak mau dijadikan pelampiasan olehnya!”
“Apa kau belum bisa juga melupakan Friskila? Jangan bilang kalau kau menjadi playboy karena Friskila menolakmu!”
Kenan menunjuk pada Rendi. “Kauu..! Aku sudah melupakannya sejak lama. Aku hanya belum menemukan gadis yang cocok denganku! Tidak ada hubungannya sama sekali dengannya!”
Rendi tersenyum sinis. “Kau bahkan menghajarku 2 kali karena dia!”
“Sudahlah, aku tidak mau membahas dia! Kalau kau sudah putus dengan Amel, kenapa kau masih bersusah payah seperti ini? Bukankah di luar sana masih banyak yang mengantri untuk menjadi pacarmu? Aku saja, kalau terlahir menjadi seorang gadis, aku dengan senang hati akan menikah denganmu!”
“Kau jangan menyamakan aku denganmu! Aku tidak mudah untuk jatuh cinta pada orang lain, tidak sepertimu!”
“Kau ini..!! Apa gunanya kau jadi anak konglomerat dan punya wajah tampan, kalau tidak kau pergunakan dengan sebaik-baiknya!”
“Lebih baik kata-kata itu kau pergunakan untukmu sendiri! Cepat putuskan! Kau mau membantuku atau tidak? Jangan membuang-buang waktuku!” tanya Rendi tidak sabar.
__ADS_1
“Apa aku punya pilihan lain selain ini?”
“TIDAK,” jawab Rendi cepat.
“Lalu, kenapa masih bertanya? Membuatku kesal saja!”
“Baiklah! Kau boleh pergi!”
“Kau mengusirku?”
“Untuk apa lagi kau berada di sini? Otakmu itu isinya apa? Kau kira aku senggang. Aku tidak tahan melihatmu lama-lama di dalam kamar ini! pergilah” ucap Rendi dengan wajah jengah.
“Setidaknya kau tawari aku minum atau traktir makan! Anggap saja ucapan terima kasih karena aku mau membantumu. Aku bahkan sudah jauh-jauh ke sini hanya untuk menemuimu!?” ucap Kenan kesal saat melihat perlakuan Rendi.
“Apa perusahaanmu sudah bangkrut sehingga kau tidak bisa membeli makanan sendiri!” ejek Rendi dengan wajah acuh.
“Heey, hati-hati kalau bicara! Kau ini menyumpahi keluarga bangkrut?” teriak Kenan tidak terima dengan perkataan Rendi.
“Lebih baik kau pergi! Kau hanya perlu memberikan aku laporan tentang tugasmu!”
“Waaaah, kau benar-benar menganggap dirimu itu bos ya? Aku ini sepupumu? Bukan kacungmu!” ujar Kenan dengan wajah kesal.
“Aku tidak peduli! Pergilah..! Jangan mengangguku! Mataku sakit lama-lama melihatmu!”
Kenan berdiri. “Aku menyesal telah setuju membantumu! Aku juga tidak ingin melihat wajahmu itu! Membuatku emosi saja!”
“Pergilah! dan ingat, jangan sampai ada yang tau soal permintaan aku ini!”
“Kau harus memberikan aku kompensasi tinggi, jika aku sudah berhasil membantumu! Ingat itu!”
“Itupun kalau aku masih hidup!”
“Kau harus tetap hidup, jika tidak.. Aku yang akan menikahinya nanti!”
Rendi menoleh pada Kenan dengan rahang yang mengeras. “Kau benar-benar cari mati ya..!!”
Kenan berjalan menjauhi dari Rendi. “Maka dari itu, tetaplah hidup! Aku pergi!” ucap Kenan saat sudah berada di depan pintu dan berjalan keluar tanpa mendengar jawaban dari Rendi.
__ADS_1
Rendi tampak menunduk sebentar dan membuang napas berat. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memejamkan matanya.
Bersambung...