Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Membujuk Raka


__ADS_3

Amel Sudah berada di depan rumah Raka. Pintu terbuka setelah Amel memencet bel berai-kali.


"Abang Raka ada, Bi?" tanya Amel ketika melihat bi Sarti yang membuka pintu.


Bi Sarti tersenyum saat melihat Amel yang datang. "Ada di kamarnya, mari masuk, Non." Bi Sarti membuka lebar pintunya.


"Kalau Mama, ada nggak, B?" Amel berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh bi Sarti dari belakang.


"Nyonya lagi keluar, Non. Belum pulang," jawab Bi Sarti.


Amel berhenti di ruang tamu. "Amel mau ke kamar bang Raka, bibi bisa pergi sekarang."


Bi Sarti yang sudah mengerti dengan keakraban Amel dengan keluarga Raka, mengangguk dan berjalan meninggalkan Amel sendiri. Amel berjalan menuju kamar Raka yang berada di lantai 2.


Amel tersenyum lebar saat Raka membuka pintu kamarnya setelah dia mengetuk. "Kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini?" tanya Raka saat melihat Amel sudah ada di depan kamarnya.


Amel masuk ke kamar Raka lalu menghempaskan tubuhnya di sofa panjang. "Biasanya juga nggak pernah bilang. Memangnya Amel nggak boleh ke sini lagi?" Amel menoleh ke Raka yang terlihat duduk di sebelahnya.


"Bukan gitu. Abangkan bisa minta pak Didi buat jemput kamu." Raka terlihat kurang bersemangat.


"Nggak ah. Takut kelamaan kalau nunggu dijemput. Mama pergi kemana, Bang?"


Raka menyandarkan kepalanya di sofa. "Lagi ke butik, bentar lagi juga pulang. Kenapa?"


"Nggak apa-apa. Amel cuma kangen, uda lama nggak ketemu mama." Amel melirik Raka tanpa bergerak.


"Lo cuma kangen sama Mama doang ama gue nggak?"


"Kalau sama Abangkan ketemu terus tiap hari di sekolah."


"Gimana kabar lo sama Rendi?" Raka menatap Amel yang terlihat sedang memegang ponselnya.


"Baik-baik aja, kenapa?" Amel melihat wajah malas Raka.


"Nggak apa-apa."


"Bang. Amel boleh nanya sesuatu nggak?" Amel merubah posisi duduknya menjadi tegak.


Alis Raka terlihat menyatu. "Apa?”


Amel tersenyum lebar. "Tapi Abang jangan marah ya? janji?"


"Iyaa, kapan sih abang marah sama kamu? Mau nanya apaan?"

__ADS_1


"Kenapa abang putus sama Nit?" tanya Amel dengan wajah serius.


Waja Raka terlihat sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan Amel. "Kamu tahu dari mana?" Raka menatap Amel yang terlihat diam sejenak.


"Dari Nita. Katanya Abang nggak bales pesan dan nggak mau nganggkat telpon dari Nita semenjak putus"


Raka menghembuskan napas berat. "Dia habis ngadu sama kamu?" Raka terlihat sedikit kesal.


"Bukan ngadu Bang, cuma cerita aja. Kasian Nita Bang, tadi aja pas Amal ketemu dia, penampilannya berantakan. Mata bengkak, hidung merah karena kebanyakan nangis, matanya cekung, mukanya pucet. Kelihatan tambah kurus gitu bang," jelas Amel.


"Abang nggak bisa pacaran sama dia lagi." Raka duduk sambil memegang tengkuknya.


"Kenapa? Bukannya selama ini abang nggak pernah ribut sama Nita? Nita juga cewek yang baik, nggak neko-neko "


Raka mengalihkan pandangannya, saat Amel menatapnya dengan heran. "Abang nggak cinta sama dia Mel." Raka memejamkan matanya sejenak.


"Kalau abang nggak cinta, kenapa abang mau pacaran sama dia? Itu sama aja abang mainin perasaan Nita."


"Abang juga dari awal uda nolak Nita, tapi dia maksa abang buat nyoba jalanin dulu. Abang uda berusaha buat buka hati abang buat dia, tapi nggak bisa Mel."


"Terus kenapa abang tiba-tiba mutusin Nita tanpa adanya masalah?"


"Abang sudah berapa kali minta putus sama Nita, tapi Nita nggak mau. Abang sudah bilang kalau abang nggak bisa cinta sama dia. Abang juga nggak mau dia buang-buang waktunya sama abang."


"Iyaa. Untuk yang itu memang abang yang salah. Harusnya Abang nggak nerima dia buat jadi pacar abang." Raka tampak menunduk.


"Lebih baik abang selesaiin masalah abang sama Nita. Setidakny, abang jangan ngilang gitu aja. Kasih penjelasan ke Nita. Jangan ngehindar gitu aja." Amel merasa sedikit kesal dengan Raka.


“Kalau abang masih ngerespon dia, itu sama aja abang ngasih harapan sama dia Mel. Abang takut dia salah ngartiin nanti.” Raka tampak merasa serba salah.


"Kasih kesempatan buat Nita ketemu sama abang sekali aja. Kasian Nita, Bang."


"Abang nggak tega ngeliat cewek nangis di depan abang. Makanya abang nggak mau ketemu dia "


"Kalau gitu, abang bisa bicara lewat telpon. Setidaknya abang bisa jelasin ke Nita." Amel masih terus membujuk Raka agar mau menyelesaikan masalahnya dengan Nita.


"Oke, abang akan temuin dia, tapi ini terakhir kalinya. Abang cuma mau jelasin aja sama dia. bukan balik sama dia lagi."


"Iya bang, yang penting Nita uda dapet penjelasan dari Abang,” ucap Amel dengan wajah gembira.


"Tapi, dengan satu syarat."


Amel memajukan wajahnya mendekat ke Raka. "Apa?"

__ADS_1


"Kamu temenin abang jalan-jalan hari ini. Abang bosen di rumah terus."


"Emang mama uda ngijinin abang buat keluar?" tanya Amel.


"Udaah. Besok Abang uda mulai masuk sekolah." Raka berjalan ke lemari baju. "Abang ganti baju dulu. Habis itu kita jalan." Raka berbalik menatap Amel sebantar.


"Oke." Amel berdiri. "Amel tunggu di bawah ya bang!" Amel sedikit berteriak karena Raka sudah masuk ke kamar mandi.


"Yaa!" teriak Raka.


Amel berjalan menuruni tangga, menuju dapur "Ada yang bisa dibantu, Non? tanya Bi Sarti saat melihat Amel berjalan ke arahnya.


"Amel haus, Bi," jawab Amel yang mengehentikan langkahnya di depan kulkas dan mengambil botol minuman dingin"


Setelah minum, Amel berjalan menuju ruang keluarga dengan membawa botol yang di teguknya tadi dan menunggu Raka turun.


"Amel ... kapan kamu dateng?" Amel menoleh dan melihat mama Raka sedang berjalan ke arahnya.


"Pulang sekolah Amel langsung ke sini, Ma. Mama dari mana?"


"Mama habis dari butik. Oya ini mama beliin buat kamu?" Mama Raka menyerahkan paper bag besar dan satu paperbag kecil.


Amel mengambilnya dan menunduk untuk membukanya. "Kok banyak banget, Ma?" Amel mengangkat kepalanya saat melihat pakaian yang dibeli oleh mama Raka.


Mama Raka duduk di Sofa dan meletakkan paperbag lainnya di atas meja. "Iyaa, habis mama liat bajunya bagus-bagus banget. Mamakan nggak mungkin beliin buat Raka." Mama Raka menatap Amel sambil tersenyum.


"Tapi ini banyak banget, Ma." Amel berjalan membawa paperbag dan duduk di samping mama Raka.


"Ngaak apa-apa. Kamu kan anak mama juga." Mama Raka memegang tangan Amel, “coba kamu bukapaperbag yang kecil itu,” tunjuk mama Raka pada paperbag berwarna maroon yang tergeletak di samping belanjaannya.


Amel memajukan tubuhnya untuk meraih paperbag itu. Amel dibuat tercengang setelah melihat isi di dalamnya. “Ini buat Amel,Ma?” Amel memegang cincin berwarna putih dengan berlian kecil di tengahnya. walaupun bentuknya sederhana tapi terlihat mewah.


Tamara menggangguk. “Lamu suka nggak? Mama tadi mampir ke toko langganan mama waktu mau ambil kalung berlian pesanan Mama. Kebetulan Mama lihat cincin itu, sepertinya cocok untuk kamu, jadi sekalian mama beli.”


“Tapi Ma ... Amel nggak bisa nerima ini, sepertinya cincin ini mahal.” Amel memasukkan kembali cincin itu ke kotaknya, lalu memberikannya kembali ke Mama Raka.


“Nggal. Itu murah kok. Terima ya? Lagian cincin ini tidak bisa di kembalion. Anggap aja ini hadiah ulang tahun kamu nanti.” Tamara meletakkan kembali ke tangan Amel.


“Tapi Ma ....”


“Mama sedih loh kalau kamu nggak mau terima pemberian .ama,” ujar Tamara dengan mimik yang dibuat sedih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2