
Rendi memandang dokter Bianca dengan tatapan sendu. “Aku juga takut kak," ucap Rendi lirih.
"Apa kakak tahu, apa yang aku rasakan selama ini?" tanya Rendi dengan wajah sedih.
"Setiap malam, saat aku akan tidur, aku selalu khawatir. Berbagai macam pertanyaan muncul di benakku, apakah aku masih bisa bangun esok hari? Apa aku masih bisa bertemu dengan orang-orang aku yang sayangi? Apa keluargaku dan Amel bisa hidup dengan baik setelah aku tidak ada? Apa mereka akan sedih dengan kepergianku?" Itulah penyeban Rendi sulit tidur di malam hari. Berbagai pikiran buruk terlontas di benaknya.
"Aku takut mereka sakit karena memikirkan kepergianku. Kau tau sendiri bagaimana kondisiku setelah kecelakaan itu. Aku hanya ingin menikmati sisa hiduku saja kak. Aku tidak bisa bertaruh nyawa, jika tingkat keberhasilan operasiku sangat kecil yang berakibat operasiku akan gagal nanti.”
Hal yang paling ditakutkan oleh Rendi adalah jika operasinya gagal dan dia tidak bisa banfun lagi. Dia tidak mau meninggalkan orang-orang yang dia cintai tanpa berpamitan terlebih dahulu.
Rendi selalu merasa gelisah dan takut saat memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Dia tidak sanggup meninggalkan keluarganya begitu saja, terlebih lagi saat ini ada Amel di hidupnya.
Dia takut Amel akan sedih jika dia tidak ada. Dia bahkan sudah memikirkan rencana kedepannya untuk dia dan Amel, sebelum dia mengetahui penyakitnya semakin parah, tetapi sepertinya keadaan tidak berpihak padanya. Dia harus menerima dengan lapang dada kenyataan pahit yang menghampirinya.
“Tapi kau tidak boleh pesimis dulu. Apa kau akan menyerah begitu saja? Kita harus mencoba untuk berobat ke Amerika. Di sana banyak dokter hebat dengan peralatan yang canggih yang bisa menunjang pengobatanmu,” ujar dokter Bianca dengan mata berkaca-kaca.
Rendi mengalihkan pandangannya saat melihat dokter Bianca berusaha menahan tangisnya.
“Bukankah kakak sendiri yang bilang, kalau operasi otak adalah operasi besar yang beresiko tinggi. Apalagi cidera otak yang aku alami adalah cidera otak berat. Aku tidak yakin akan selamat kali ini. Tolong mengerti aku kak, beri aku waktu untk mempersiapkan semua."
Rendi ingin melakukan sesuatu terlebih dulu sebelum dioperasi untuk berjaga-jaga, jika nanti dia tidak bisa bangun lagi. Dia ingin mempersiapkam segala sesuatunya sehingga dia bisa pergi dengan tenang.
Biacana menarik kursi dan duduk tepat di samping Rendi. Dia kemudian memegang tangan Rendi. “Kita bisa mencoba metode lain Ren. kau harus percaya padaku dan Jhon. Kami akan berusaha menyelamatkanmu,” bujuk Bianca dengan air mata yang sudah keluar dari kelopak matanya.
Rendi masih mengalihkan pandangannya ke samping. Dia tidak sanggup menatap dokter Bianca yang sudah menitikkan air matanya.
“Kalaupun aku bersedia dioperasi, aku tidak ingin kau dan Jhon ikut menanganiku. Aku tidak mau membuat kalian merasa bersalah, jika seandainya terjadi apa-apa padaku. Aku tidak mau kalian merasakan rasa bersalah seperti yang aku rasakan selama ini.”
__ADS_1
Dokter Bianca menghapus air mata di wajah cantiknya, lalu menggenggam erat tangan Rendi. Dokter Bianca bisa melihat rasa bersalah dan penyesalan yang dalam pada sorot mata Rendi.
“Aku sudah sering bilang Ren, itu bukan salahmu. Berhenti menyalahkan dirmu sendiri. Sampai kapan kau akan hidup dalam bayang-bayangnya? Kau harus melupakannya Ren, agar Friskila bisa tenang di sana. Kau sama saja menyiksa hidupmu sendiri, jika terus mengingatnya.”
Dokter Bianca kira selama ini, Rendi sudah melupakan masalalunya, karena dia melihat Rendi tampak baik-baik saja selama ini. Ternyata dugaannya salah.
Rendi memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya. Dokter Bianca bisa melihat tatapan mata Rendi seperti menyimpan luka yang sangat dalam, yang tidak mudah untuk diobati.
“Aku sudah berusaha melupakannya kak, tapi tidak bisa. Aki juga tersiksa kak.."
Bayangan Friskila saat mereka mengalami kecelakaan selalu muncul saat Rendi menatap wajah Friska. Itulah sebab Rendi tidak bisa menatap wajah Friska lama-lama karena akan mengingatkanku pada Friskila.
Rendi selalu berusaha menghindari Friska agar dia bisa melupakannya, tetapi Friska justru semakin gencar mendekati Rendi. Bahkan Rendi berkali-kali sengaja menyakiti hati Frsika dengan bersikap acuh dan tidak peduli padanya agar Friska menjauhinya, tetapi justru hati Rendi semakin sakit saat melihat Friska terluka.
Rendi juga tertekan, jika harus bersikap seperti itu pada Friska, tapi semua dia lakukan demi kebaikan mereka berdua. Rendi tidak ingin kalau Friska merasakan sakit, saat Rendi tidak ada di sisinya nanti.”
Dokter Bianca dan dokter Jhon bisa merasakan perasaan tertekan dari nada bicara Rendi. “Kau tidak seharusnya bersikap seperti itu padanya Ren, dia juga terluka. Kau harusnya juga mengerti perasaanya. Dibalik sikap keras kepalanya, dia hanya gadis rapuh Ren," ucap dokter Bianca pelan.
Rendi menatap wajah Bianca yang terlihat sedih. “Aku sudah pernah bersikap baik padanya kak, tapi dia salah mengartikan sikapku padanya. Dia semakin tidak bisa melepasku kak. Aku bahkan sudah melakukan berbagai cara untuk memberikan dia pengertian, tapi dia seolah tidak mau menerima kenyataan yang sebenarnya, kalau aku tidak bisa bersamanya,” ucap Rendi putus asa.
Dokter Bianca mengangguk. “Dia memang keras kepala. Sulit untuk memberikan dia pengertian," aku dokter Bianca. "Apa tidak pernah terpikirkan olehmu untuk memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya?” dokter Bianca menatap Rendi yang tampak menunduk dan mengusap kasar wajahnya.
Rendi menganggkat wajahnya kembali lalu menatap dokter Bianca dengan tatapan sayu. “Aku tidak bisa kak. Aku sudah mencintai Amel. Aku tidak bisa menyakitinya juga. Saat aku bersama Amel, pelan-pelan aku bisa melupakan Friskila kak.”
Dokter Bianca menghela napas panjang. “Aku memang berharap kau bisa melupakannya, tapi tidak dengan menyakiti perasan Ellen Ren. Kalau pun kau dan Ellen tidak bisa bersama, setidak kalian tidak boleh saling membenci. Kalian tidak boleh menyiksa diri kalian sendiri. Aku sadar kalau ini tidak mudah untuk kalian. Mungkin aku juga akan seperti itu, jika berada di posisi kalian. Sekarang yang harus kau lakukan adalah fokus pada kesembuhanmu.”
“Aku juga ingin melupakannya kak. Kepalaku akan langsung sakit, jika secara tidak sengaja aku mengingat Kila. Setiap Ellen mengungkitnya, aku tidak bisa mengontrol diriku kak. Aku akan langsung emosional. Dia sering kali mengingatkanku pada kejadian itu. Dia selalu berusaha untuk menceritakan masa laluku pada Amel, agar Amel menjauhiku."
__ADS_1
“Dia melakukan itu karena sangat mencintaimu Ren. Dia tidak ingin kehilanganmu. Dia hanya tidak terima karena kau lebih memilih orang lain di bandingkan bersamanya. Dia mati-mati berjuang untuk meluluhkan hatimu. Kau sendiri tahu, dari kecil dia sudah menyukaimu," jelas Bianca.
"Dia bahkan rela mengalah demi Friskila. Dia menghilangkan keegoisannya supaya kalian bisa bersama. Dia mengabaikan perasaanya padamu karena kalian berdua adalah orang yang paling dia sayangi. Ellen juga terluka Ren, saat dia mengungkit kecelakaan yang merenggut nyawa kakaknya sendiri. Dia juga merasa sangat kehilangan sama sepertimu. Kau sendiri tahu semenjak kecelakaan itu, sikapnya mulai berubah.”
”Aku juga tertekan kak, setelah kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Kila. Aku bahkan berpikir untuk tidak hidup lagi. Aku depresi kak," ucap Rendi dengan wajah Frustasi.
Bianca tentu saja tahu, bagaimana Rendi melewati masa-masa sulit Rendi swtelah kecelakaan itu terjadi. Dia bahakan mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau gangguan stres pasca trauma adalah kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa yang traumatis, baik dengan mengalaminya maupun menyaksikannya.
Kebanyakan orang yang mengalami kejadian traumatis akan menghadapi kesulitan dalam menjalaninya, tetapi dengan waktu dan perawatan diri yang baik, kesulitan akan berkurang. Jika pengalaman yang traumatis tersebut tetap menghantui sampai membuat seseorang kesulitan dalam menjalani hidup, maka orang tersebut mengidap PTSD.
Rendi hampir gila karena kejadian yang merenggut nyawa Friskila. Dia bahkan sempat ingin mengakhiri hidupku saat itu. Dia tidak bisa melupakan tatapan terakhir Friskila padanya.
Dengan wajah berlumuran darah Friskila masih berusaha tersenyum dan mengenggem erat tangan Rendi. Dengan napas pendek dan tersengal-sengal Friskila berkata kalau dia sangat mencintai Rendi dan ingin Rendi hidup dengan baik nantinya.
Rendi yang saat itu juga terluka parah tidak bisa melakukan apa-apa saat itu. Dia hanya bisa terbaring lemah di sampingnya. Selama ini Rendi selalu mengkonsumsi obat-obatan, agar dia bisa hidup normal seperti orang lain. Hingga suatu hari Rendi bertemu dengan Amel. Perlahan semuanya berubah. Rendi merasa memiliki semangat baru.
Dia selalu merasa nyaman, jika berada di dekatnya. Rendi seolah memiliki kehidupan baru. Bahkan Rendi tidak lagi membutuhkan obat-obatan itu. Dia selalu merasa bahagia bila berada di dekat Amel. Hari-hari yang dia lewati bersama Amel lebih berwarna membuatnya bahagia. Sebab itulah, Rendi tidak bisa melepaskan Amel.
Rendi tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Dia sangat mencintainya Amel. Doa tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti, jika Amel benar-benar meniggalkannya.
Dokter Bianca menunduk sebentar. Dia menghela napas berat, lalu memandang Rendi lagi. “Aku tahu Ren. Aku juga tidak bisa menyalahkan kalian berdua. Bagaimanapun, kalian di sini hanyalah korban dari keadaan yang tidak kalian inginkan. Tindakan Ellen yang menyeret Amel dalam permasalahan kalian juga tidak bisa dibenarkan karena Amel tidak tahu apa-apa. Aku akan bicara pada Ellen untuk tidak mengungkit masalah itu lagi," tutur dokter Bianca lembut.
"Apakah Ellen sudah memberitahukan semuanya pada Amel?” tanya dokter Bianca dengan wajah penasaran.
Rendi menggeleng saat dokter Bianca menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Belum.”
Alis dokter Bianca berkerut. “Apa kau akan menceritakan semuanya pada Amel?”
__ADS_1
Rendi tampak terdiam sesaat. “Aku takut dia akan meninggalkan aku, jika dia tahu semuanya kak. Bagaimana kalau Amel tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya?”
Bersambung...