Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Calon Istri Raka


__ADS_3

Raka menghampiri Amel dan Sofi yang sedang duduk di ruang keluarga. "Mama ke mana?"


Sofi dan Amel yang sedang mengobrol seketika menoleh ke belakang. "Mama lagi pergi sebentar," jawab Amel.


Raka melirik Sofi sekilas. "Ke mana?" Raka terlihat masih berdiri di belakang Amel, tanpa ada niat untuk duduk.


"Ke supermarket bang," jawab Amel seraya menatap televisi yang ada di depannya.


"Ya udah." Raka membalikkan badannya.


"Abang, mau ke mana?" tanya Amel ketika melihat Raka mulai melangkah.


"Ke kamar," jawab Raka singkat. Sofi hanya diam sembari mengalihkan pandangannya ke samping kiri. Dia tidak berani menatap Raka langsung.


"Ngapain di kamar? Mendingan duduk di sini Bang." Amel menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Amel uda lama nggak ngobrol sama abang." Raka akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelah kanan Amel, sementara Sofi di sebelah kiri Amel.


"Abang keluar kota sama siapa?" tanya Amel sembari menoleh pada Raka yang terlihat sedang duduk menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Sama Nita," jawab Raka singkat.


Amel langsung menoleh pada Raka. "Cuma berdua?" tanya Amel dengan wajah terkejut.


"Iyaaa."


Sofi terlihat meremas kedua tangannya. "Abang balikan sama Nita lagi?"


"Ada urusan kerjaan. Nita, kan sekertaris abang," jelas Raka tanpa menoleh pada Amel.


Amel kemudian memutar sedikit tubuhnya menghadap Raka. "Kata mama, abang mau ngenalin calon abang sama mama?"


Dada Sofi berdenyut nyeri mendengar pertanyaann kakak iparnya. "Mama memang tidak bisa dipercaya. Bisa-bisanya dia cerita hal itu padamu," ucap Raka kesa; seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Memangnya Amel nggak boleh tahu mengenai siapa calon abang?" tanya Amel dengan wajah cemberut.


"Bukan itu maksud abang Mel. Abang belum yakin dengan pilihan abang, bagaimana bisa mama sudah bercerita padamu," Jelas Raka seraya menoleh pada Amel, setelah sebelumnya sempat melirik ke arah Sofi yang terlihat sedang menunduk menatap pada layar ponselnya. 


"Jadi, siapa calon abang yang mama maksud? Apa Nita?" tanya Amel dengan wajah penasaran.


"Abang akan mengatakan padamu, kalau abang sudah yakin dengannya Mel," ucap Raka dengan suara pelan. Sebenarnya dia tidak nyaman membahas mengenai hal itu karena sedang ada Sofi di sana. 


Sofi meremas kuat ponsel yang sedang dia pegang. Air matanya menetes tanpa dia bisa cegah. Untung saja Raka dan Amel tidak menyadarinya. Dengan gerakan cepat Sofi menghapus ait mata yang baru saja jatuh di pipinya.


"Mendingan abang buruan nikah bang. Nanti keburu tua. Lagian yang ngantri, kan banyak bang." Amel sebenarnya sengaja mengompori Sofi karena ingin melihat bagaimana reaksi adik iparnya.


"Kamu kayak mama aja, ngedesak nikah terus. bosen abang dengernya," ucap Raka dengan malas.


"Memangnya abang nggak mau nikah? Mau melajang seumur hidup?" cibir Amel.


"Abang akan menikah, tapi nanti Mel. Masih banyak yang harus abang persiapkan." Raka tampak tidak berminat untuk membahas masalah pernikahannya, terlebih lagi ada Sofi yang mendengarkan obrolan mereka.


"Amel harap abang tidak salah memilih pendamping hidup abang nantinya," ucap Amel dengan tulus.


"Yaa. Abang juga berharap seperti itu."                             


"Abang bisa ikut ke Jerman, kan nanti?" tanya Amel di sela-sela kegiatannya mengupas kulit kacang. Dia sangat berharap kalau Raka bisa ikut menga]hadiri pesta pernikahannya yang kedua di Jerman nanti.

__ADS_1


Raka menatap ke depan sembari berpikir. "Nggak tahu, kerjaan abang lagi banyak."     


Amel langsung mencebikkan bibirnya. "Kalau sampai abang nggak ikut, Amel tidak mau bicara dengan abang lagi," ancam Amel seraya menatap tajam pada Raka.


"Abang usahakan Mel," ucap Raka dengan wajah lesu seraya mengacak rambut Amel.


"Pokoknya abang harus ikut, titik."


Raka menghela napas mendengar paksaan dari Amel.  "Kau mau ke mana?" tanya Raka Ketika melihat Amel berdiri.


"Mau mandi. Amel gerah bang," jawan Amel dengan cepat. Dia kemudian menoleh pada Sofi. "Sof, tunggu di sini ya? kak Amel mau mandi dulu."


Sofi mengangguk. "Iyaa kak." Amel langsung berjalan ke lantai atas, kamar yang dulu dia tempati.       


Sepeninggal Amel. Suasana langsung hening. Tidak ada pembicaraan antara Raka dan Sofi. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing, 


Sofi yang sedang memegang ponselnya langsung terkejut, ketika melihat panggilan masuk dari ponselnya. Beberapa saat Sofi tampak ragu, tapi detik kemudian dia akhirnya mengangkat telpon masuk tersebut.


"Iyaa Mike, ada apa?" Sofi terlihat mengecilkan suara ketika menyebut nama Mike. Sepelan apapun dia berbicara, tentu saja Raka masih bisa mendengarnya.


Merasa canggung, Sofi akhirnya berdiri dan sedikit menjauh dari Raka. Dia tidak nyaman, jika Raka mendengar percakapan mereka. Sebenarnya dia tidak ingin Raka salah paham padanya.


Setelah selesai berbicara di telpon. Sofi kembali duduk di tempat semula. Dia tidak melihat lagi keberadaan Raka di sana. Dia mendunga kalau Raka sudah pergi ke kamarnya. Sofi akhir berjalan menuju kamar Amel, yang berada tidak jauh dari kamar Raka.


*****


Raka mengetuk pintu kamar Amel, sebelum dia masuk. Perlahan dia memasuki kamar Amel yang terlihat sedikit gelap karena lampu yang hidup hanya lampu tidur.


Raka kemudian menghidupkan lampu kamar, agar dia bisa melihat dengan jelas. Setelah lampu dia hidupkan, kini, dia bisa melihat Sofi sedang tertidur di tempat tidur.


Sofi tertidur saat dia menunggu Amel mandi. karena tidak tega melihat Sofi yang tampak kelelahan dan tidur dengan lelap, Amel memutuskan untuk tidak membangunkannya.


Rendi juga menyarankan agar Raka mengantar adiknya pulang saat dia sudah bangun. Waktu sudah menunjukkanm pukul 8 malam, tetapi Sofi belum juga terbangun sehingga Raka memutuskan untuk membangunkannya.


"Sof, bangun.."


Melihat Sofi tidak bergerak, Raka kembali membangunkan Sofi, hingga Sofi membuka matanya. "Kenapa kau ada di sini?" Sofi yang terkejut melihat Raka ada di kamar Amel langsung terbangun dan duduk dengan posisi tegak.


Raka berdiri. "Apa kau ingin menginap di rumahku?" Raka tampak menatap Sofi dengan wajah datarnya.


"Haaaahh??" Sofi tidak mengerti maksud perkataan Raka. Dia tidak tahu kalau Amel sudah pulang terlebih dahulu.


"Amel sudah pulang bersama dengan kakakmu," jelas Raka.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" Sofi langsung turun dari tempat tidur.


"Amel tidak tega membangunkanmu. Dia memintaku untuk mengantarmu. Bersiaplah. Aku akan menunggumu di bawah."


Melihat Raka akan keluar dari kamar, Sofi langsung menghentikan langkah kaki Raka. "Tunggu. Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


Raka menoleh pada Sofi. "Mengenai?"


"Apa benar kau sudah memiliki calon istrinya dan akan menikah dengannya?" Sebenarnya Sofi tidak ingin menanyakan hal itu, hanya saja hatinya tidak merasa tenang sebelum tahu kebenarannya.


"Lebih baik aku mengantarmu sekarang, ini sudah malam. Aku juga sudah lelah." Sebenarnya Raka hanya berusaha untuk menghindari pertanyaan dari Sofi. Dia hanya sedang tidak ingin membahas apapun mengenai kehidupan pribadinya.


"Aku tidak akan pulang sebelum kau menjawab pertanyaanku."   

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa aku akan katakan padamu," ucap Raka dingin.


Mata Sofi mulai berkaca-kaca. "Apa ini alasanmu kenapa kau bersikeras putus denganku? Mike dan Willy hanya alasan bagimu agar bisa lepas dari, bukan?"


Sofi tidak bisa lagi menahan air matanya. Melihat sikap dingin Raka padanya. Apalagi kalau mengingat rencana Raka yang akan mengenalkan calonnya pada ibunya membuat Sofi berpikir, kalau Raka sebenarnya tidak pernah mencintainya.


Hubungan mereka belum lama berakhir, tetapi Raka dengan mudah sudah mendapatkan pengganti dirinya. Membayangkan hal itu membuat Sofi kecewa dan sedih.


Raka berbalik menghampiri Sofi. "Bukankah itu kemauanmu untuk bisa lepas dariku agar bisa bersama dengan pria itu?"


"Bukankah aku sudah bilang, jika aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Mike. Kami hanya berteman Raka," jelas Sofi.                                  


"Berpelukan di tempat umum, apakah itu bisa dikatakan teman? Kau pikir aku akan percaya denganmu? Kalian saja masih saling berhubungan. Kau bahkan menjauh dariku saat mengangkat telpon darinya."


"Aku..Itu karena.."


"Sudahlah Sof..Aku harap kedepannya kita jangan lagi mencampuri masalah pribadi masing-masing. Hubungan kita sudah berakhir." sela Raka dengan cepat.


Sofi menatap nanar pada Raka. "Apa kau harus bersikap sedingin ini padaku?" tanya Sofi dengan suara bergetar.


Raka tampak hanya diam sambil memandang Sofi yang terlihay sudah mengeluarkan air matanya lagi. "Apa aku harus menjauh dari hidupmu, agar kau bisa hidup bahagia?"


Melihat Raka masih diam, Sofi berkata lagi, "Baiklah, kalau itu memang maumu. Aku tidak akan pernah muncul di hadapanmu lagi." Sofi akhirnya berjalan keluar dari kamar Amel.


Raka mendongakkan kepalanya ke atas sembari memejamkan matanya sejenak. Dia menghela napas lalu berjalan keluar untuk menyusul Sofi.


"Kau mau ke mana?" tanya Tamara, ketika melihat anaknya berjalan melewati ruang keluarga.


"Mau menyusul Sofi, Ma," jawab Raka cepat.


"Sofi? Memangnya dia belum pulang?" Ibu Raka baru saja dari kamarnya. Dia tidak melihat Sofi ketika keluar dari rumahnya.


"Nanti saja Raka jelaskan. Raka harus menyusul Sofi," ucap Raka dengan wajah cemas.


Dia melangkah keluar rumah dengan langkah cepat. Saat tiba di depan rumah, ternyata di luar sedang hujan deras. Raka bertambah khawatir saat tidak melihat keberadaan Sofi di depan rumahnya.


Raka menduga kalau Sofi sudah pergi meningglakan rumahnya. Raka kembali masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah mendapatkan kunci mobilnya, Raka langsung melajukan mobilnya keluar dari rumahnya.


Raka melajukan mobilnya dengan pelan untuk mencari Sofi. Hujan deras membuat jarak pandangnya terbatas. Raka langsung menghentikan laju mobilnya, ketika melihat Sofi berjalan di tengah hujan yang masih berada di dalam komplek tempat Raka tinggal.


Raka kemudian keluar dari mobilnya dengan memakai payung. Raka lalu menghadang Sofi tepat di depannya. "Apa kau bodoh? Kenapa kau berjalan ditengah hujan deras begini?" Raka membantak Sofi dengan wajah emosi.


Sofi tampak tidak menghiraukan Raka. Dia melewati Raka begitu saja. "Sofi berhenti!" Raka berteriak memanggil Sofi. Melihat Sofi masih berjalan dan tidak menghiraukan panggilannya. Raka kembali menghadang Sofi.


"Ikut aku!" Raka langsung menarik Sofi yang tampak sudah basah kuyup. Tangannya bahkan sudah dingin dan jari tangannya sudah mengerut.


"Lepaskan aku. Aku tidak mau ikut denganmu," ucap Sofi seraya menghempaskan tangan Raka.


Raka menarik tangan Sofi lagi. "Jangan keras kepala Sofi. Turuti aku atau aku akan menggendongmu masuk ke dalam mobilku," ancam Raka dengan rahang yang mulai mengeras dan tatapan tajam.


"Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu lagi."


"Jangan menguji kesabaranku Sofi," ucap Raka penuh penekanan. "Ikut aku!" Raka menggenggam kuat tangan Sofi, agar dia tidak bisa pergi lagi.


Sofi lalu menatap Raka. "Raka, mulai saat ini. Aku tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun denganmu. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi."


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2