Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Hanya Asumsimu


__ADS_3

Perlahan tangannya terulur ke wajah Raka. Dia mengusap wajah tampan yang ada di depannya. "Kau sudah bangun?" Raka membuka matanya ketika merasakan sentuhan tangan di wajahnya.


Sofi langsung menarik tangannya dari wajah Raka. Ada rasa malu ketika tertangkap basah oleh Raka sedang memegang wajahnya. Sofi belum bereaksi kecuali gerakan menarik tangannya tadi.


Raka langsung mengulurkan tangannya lalu menempelkan telapak tangannya ke dahi Sofi sehingga membuat wajah Sofi memerah karena malu.


"Sepertinya demammu sudah turun." Raka langsung bangun dari tidurnya lalu dengan gerakan menyilang, melewati tubuh Sofi untuk menjangkau termometer yang ada di atas nakas.


Sofi terlihat masih belum bergerak atau membuka suaranya. Dia hanya memperhatikan saat Raka mengarahkan alat pengukur suhu itu ke dahinya.


"Benar sudah turun, tapi masih hangat." Dengan acuh tak acuh Raka kembali melewati tubuh Sofi dengan gerakan menyilang untuk meletakkan termometer tersebut.


Sofi terus memandang ke arah Raka, kemudian berkata, "Apa aku deman semalam?"


Sofi bertanya tanpa sadar dengan tatapan terus tertuju pada Raka. Sofi memang tidak tahu apa yang terjadi padanya semalam. Dia berusaha untuk mengingat, tapi ingatakannya sama-samar terlintas di benaknya. 


"Iyaa, demammu tinggi sekali." Raka melangkah turun dari tempat tidur, "kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali." Raka berjalan ke arah pintu, "jangan ke mana-mana," perintah Raka sebelum dia mengilang dari balik pintu.


Sofi berusaha untuk bangun dari tidurnya. Dia menyusun beberapa bantal agar bisa bersandar dengan nyaman. Kepalanya masih terasa pusing dan perutnya terasa perih karena memang dari kemaren dia belum memakan apapun. Dengan wajah yang masih pucat, Sofi meraih ponselnya yang ada di dalam tasnya yang diletakkan Raka di atas nakas.


Sofi melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dan banyak pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Sofi mulai membalas satu-persatu pesan yang masuk. Dia juga mengirimkan pesan pada Amel dan kakaknya. Dia hanya takut kalau mereka mencarinya karena dia belum memberikan kabar apapun pada mereka.


Setelah membalas semua pesannya, Sofi berniat untuk meletakkan ponselnya di atas nakas, tetapi dia urungkan saat mendengar nada panggilan masuk. Sofi menatap sejenak layar ponselnya, setelah itu dia mengangkat telpon tersebut. Dengan suara lemah, Sofi mulai berbicara. Tidak lama berselang, Raka masuk dengan membawa nampan.


Sofi mendongak menatap Raka sejenak lalu kembali menunduk seraya menutup mulutnya seraya berbicara dengan suara sangat pelan. Dia cepat Sofi mengakhiri pembicaraannya di telpon.


Sorot mata Raka berubah dingin ketika samar-samar mendengar Sofi menyebutkan nama Willy seraya mengucapkan permintaan maaf. Sofi bisa melihat lirikan acuh tak acuh dari Raka ketika sedang berjalan ke arahnya untuk meletakkan nampan di atas nakas.


Raka meraih mangkok bubur lalu menyodorkan pada Sofi. "Makanlah, setelah itu minum obatmu."


Ekspresi datar Raka membuat hati Sofi sedikit kecewa. Tadinya dia berpikir kalau Raka mungkin khawatir dengannya, tapi melihat ekspresi Raka tampak datar saja, membuat Sofi berpikir kalau sebenarnya Raka terpaksa untuk merawatnya karena dirinya pingsan saat bersamanya.

__ADS_1


Hatinya seakan tercubit. Berharap Raka akan menampakkan wajah cemas dan perhatiaanya, namun yang dia dapat hanya sikap acuhnya. Beban, satu kata itulah yang menggambarkan dirinya saat ini.


Raka terlihat menatap dalam mata Sofi. "Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku bisa di sini?"


Sofi menatap Raka dengan wajah penasaran. Sebenarnya dia sudah bisa menebak secara kasar apa yang terjadi dengannya hingga dia berakhir di kamar Raka, tapi dia ingin mendengar langsung dari mulut Raka.


"Kau pingsan setelah terkena air hujan cukup lama."


Sofi memandang Raka dengan alis yang mengerut. Dia bisa melihat ada jejak rasa bersalah di sorot matanya.


"Aku lalu membawamu ke sini."


Raka terlihat sangat tenang. Ekpresi dingin yang dia tunjukkan sebelumnya sudah hilang entah ke mana. "Jangan pernah kau menerjang hujan seperti semalam. Berbahaya untukmu." Ada sedikit nada cemas dan nada memerintah dalam perkataan Raka.


"Kau menjagaku sepanjang malam?" Sofi memancarkan sorot mata teduh saat menatap Raka.


Raka terlihat mengalihkan pandangannya sejenak saat tidak sengaja bertemu pandang dengan Sofi. "Tidak. Aku sempat tertidur."


Sofi tidak banyak bicara. Dia meraih bubur tersebut lalu berkata, "Maafkan aku karena sudah merepotkanmu." Sofi tidak berani menatap Raka sama sekali. Tanpa menunggu jawab darinya, Sofi memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


Sofi menunduk seraya menahan bubur yang ada di mulutnya dengan mulut yang menggembung setelah mendengar ucapan Raka. Yang dia tangkap dari ucapan Raka adalah dia sudah merepotkannya karena jatuh pingsan.


Raka menatap Sofi datar lalu berkata, "Makan dengan benar. Kenapa kau malah melamun?" Raka masih terus memandang wajah Sofi yang terlihat termenung.


Sofi berusaha menguasi dirinya. Keputusannya untuk ikut Amel ke rumah Raka, sepertinya adalah keputusan yang salah. Sebenarnya dia masih berharap Raka masih memiliki perasaan padanya, tapi sekarang harapannya itu seolah sirna melihat sikap dingin dan acuh tak acuh Raka padanya.


Sofi mengangakat kepalanya lalu tersenyum manis pada Raka. Senyum penuh kepalsuan untuk menutupi rasa sakit di hatinya. "Aku pasti sudah sangat merepotkanmu, bukan?" 


Raka meneliti perusahan ekspresi wajah Sofi yang tiba-tiba berubah. "Dengan cara apa, aku bisa membalas kebaikanmu?" Perkataan Sofi seolah menyadarkan Raka kalau mereka sekarang hanyalah orang asing saat ini. Dia seperti memberikan jarak di antara mereka berdua.


"Aku akan segera pulang setelah sarapan," sambung Sofi lagi ketika tidak mendapati respon apapun dari Raka.

__ADS_1


Dengan sorot mata dingin, Raka menatap Sofi seraya berkata, "Sepertinya kau tidak suka berlama-lama di rumahku." Raka tersenyum sinis. "Apa kau sudah memintanya untuk menjemputmu ke mari?" Tidak hanya sorot matanya, nada bicaranya Raka juga sangat tajam.


Sofi mendongak menatap bingung pada Raka karena tidak mengerti sama sekali maksud dari perkataannya. Untuk sesaat Sofi tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia termenung seraya berpikir, berusaha untuk memahami arah pembicaraan Raka, tetapi dia masih tidak bisa memahami arti dari perkataanya.


Sofi kemudian mengerutkan keningnya. "Raka, apa maksudmu?" 


Raka menunjukkan wajah tidak senangnya mendengar pertanyaan Sofi. "Apa kau sudah kembali bersama lagi dengan si brengsek itu?"


Seketika Sofi mengerti. Orang yang dia maksud adalah Willy. Mengingat dia baru saja menerima telpon dari Willy dan lagi, sebutan itu adalah sebutan yang diberikan Raka pada mantan kekasihnya.


"Namanya Willy, Raka. Jangan pernah menyebutnya seperti itu."


Sofi sedikit kesal mendengar ucapan Raka. Bukan karena dia masih mencintainya. Hanya saja, sebutan itu dirasa kurang pantas untuk disematkan pada Willy, mengingat selama mereka menjalin hubungan, tidak pernah sekalipun Willy memperlakukannya dengan buruk dan lepas kendali seperti terakhir kali mereka bertemu. Sofi berusaha untuk memaklumi Willy saat itu karena dia berpikir Willy saat itu gelap mata karena tidak ingin berpisah dengannya.


Raka mencibir dengan wajah dinginnya . "Sepertinya kau masih mencintainya." Raka menampilkan senyuman mengejek ke arah Sofi, "kalau kau mencintainya, kenapa masih berusaha untuk kembali padaku? Apa kau ingin mempermainkan aku?"    


Raka sungguh tidak mengerti bagaimana perasaan Sofi sesungguhnya padanya. Melihat dia marah hanya karena dia menyebut Willy dengan kata brengsek membuat Raka meragukan perasaan Sofi padanya.


Sofi memejamkan matanya sejenak lalu meletakkan mangkok bubur di atas nakas dengan gerakan lemah. "Percaya atau tidak, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap Willy. Aku hanya berteman dengannya sekarang. Bagaimana pun kami sudah mengenal dari kecil."


Raka terlihat menampilkan senyum sinisnya. "Berteman? Dengan mantan kekasihmu? Apa kau pikir aku ini bodoh?"


Raka memiliki firasat buruk terhadap hubungan pertemanan Sofi dan Willy. Walaupun Sofi sudah tidak memiliki perasaan apapun saat ini pada mantan kekasihnya, tetapi bukan berarti Willy berpikiran sama terhadap Sofi. Laki-laki tidak akan menjalin suatu hubungan baik dengan mantan kekasihnya, jika laki-laki tersebut tidak memiliki maksud lain.


Sofi memandang sedih ke arah Raka. "Aku berkata yang sebenarnya Raka. Aku sungguh berteman dengannya."


Mengingat Sofi kembali dekat dengan Willy, seketika membuat hati Rati menjadi gusar. Meskipun begitu, raut wajahnya masih terlihat tenang, Raka tampak belum bereaksi apapun. Dia masih memandang dalam mata Sofi.


"Maaf, tidak seharusnya aku ikut campur masalahmu. Itu adalah hakmu untuk dekat dengan siapapun."


Sofi tersenyum miris seraya menunduk. "Melihatmu seperti ini membuatku yakin kalau kau sebenarnya tidak pernah mencintaiku, Raka. Sepertinya dugaanku benar kalau aku hanya pelarianmu saja saat kak Amel tidak bisa membalas cintamu," terka Sofi dengan wajah kecewa dan sedih.

__ADS_1


Raka menyentuh kepala Sofi lalu mengacak rambutnya. "Jangan terlalu banyak berpikir. Itu hanya asumsimu saja."


Bersambung...


__ADS_2