
Sebelum Amel masuk ke perusahaan Ryland Group, Devan sudah mencari tahu semua tentang perusahaan itu, setelah memastikan tidak ada yang aneh dengan perusahaan itu, dia baru mengijinkan Amel untuk bekerja di sana.
Sebenarnya Devan sudah meminta Amel untuk bekerja di perusahaannya, tetapi Amel menolak. Dia tidak mau bergantung terus dengan Devan. Dia ingin bekerja sendiri mengandalkan kemampuannya tanpa harus dibantu oleh orang lain.
“Semenjak aku bekerja di sana, aku belum pernah melihatnya, apalagi bertemu dengannya. Lagi pula ruang kerja CEO berada di lantai paling atas. Aku belum pernah menginjakkan kakiku di lantai itu,” ucap Amel cuek.
“Kamu jangan dekat-dekat dengan CEO itu, apalagi sampai tergoda olehnya. Aku bisa cemburu,” ujar Devan sambil menatap wajah Amel dengan wajah serius.
Amel tersenyum. “Tidak mungkin Kak, apalagi kalau CEO masih muda dan tampan, tidak mungkin dia menyukaiku. Orang seperti itu pasti dikelilingi oleh banyak wanita di sampingnya.”
Devan melirik Amel yang tampak menggelengkan kepala sambil tersenyum, saat mendengar perkataannya tadi. “Aku hanya mengingatkan saja. Sekarang kau itu milikku, jadi jangan pernah melirik pria lain selain diriku.”
Amel terkekeh. “Aku bukan barang Kak yang bisa kau miliki seenaknya saja.”
Devan menatap tajam Amel. “Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu dariku Mel. Kau tahukan bagaimana perjuanganku selama ini. Bukankah kau sudah setuju untuk menikah denganku nanti,” ucap Devan dengan wajah serius.
Amel tampak dia sesaat. “Berhenti membahas masalah ini. Mari kita makan, aku sudah sangat lapar.” Amel berusaha untuk mengalihkan pembicaraan saat melihat Devan terus menatap dirinya dengan wajah serius.
Devan hanya menghela napas pelan saat melihat Amel yang sudah mulai makan dengan lahap tanpa memperdulikan dirinya. Akhirnya Devan mengikut Amel untuk makan juga. Setelah mereka selesai makan, Devan mengantar Amel pulang.
“Kakak nggak mau mampir dulu?” tanya Amel saat mereka sudah tiba di tempat tinggalnya dan sedang berdiri setelah mereka turun dari mobil Devan.
Devan berjalan mendekati Amel. “Tidak usah, lain kali saja, aku masih ada urusan. Masuklah,” ucap Devan sambil mengelus pipi Amel sambil tersenyum.
Amel mengangguk. “Hati-hati di jalan, Kak,” ucap Amel sambil melambaikan tangan pada Devan.
Devan berjalan menuju mobilnya setelah mengangguk dan tersenyum pada Amel. Setelah memastikan mibil Devan sudah jauh, Amel masuk ke dalam rumah.
“Abang uda pulang?” tanya Amel pada pria yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Raka menoleh. “Kamu habis lembur?” tanya Raka saat melihat Amel yang baru saja pulang saat malam sudah gelap.
Amel merebahkan tubuhnya di sofa bersebelahan dengan Raka. “Nggak Bang, tadi habis makan dengan kak Evans.”
Raka menoleh. “Kenapa selalu merepotkan dia untuk menjemputmu? Aku juga bisa mengantar dan menjemputmu setiap hari.”
Amel menyandarkan tubuhnya dan menoleh pada Raka. “Kantor abang sama kantor Amel kan nggak searah Bang.”
Raka menatap malas pada Amel. “Kamu itu banyak sekali alasan. Mandi sana! Jangan dekat-dekat denganku,” ucap Raka sambil mendorong bahu sebelah kiri Amel.
__ADS_1
Amel menatap kesal pada Raka. “Amel ini masih lelah Bang. Jangan ganggu Amel dulu,” ucap Amel dengan wajah cemburut.
“Maaaaa! Ini Bang Raka dorong-dorong Amel,” teriak Amel dengan suara keras.
Raka terekekeh saat melihat wajah Amel yang tampak kesal. “Mama pergi, percuma kamu teriak sampai suaramu habis.”
Amel bangun dari duduk lalu menoleh pada Raka dengan tatapan tajam. “Dasar nyebelin.”
Amel membungkuk lalu mengambil bantal sofa dan meleparkan pada Raka. “Makan tuh bantal,” ucap Amel tertawa lebar lalu berlari meninggakan Raka yang terlihat terkejut dengan serangan tiba-tiba darinya.
“Awaas kamu, Mel,” pekik Raka saat melihat Amel sudah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Semejak kepergian Rendi, Amel tinggal di rumah Raka, atas desakan dari Raka dan Mamanya. Mereka takut terjadi apa-apa dengan Amel, karena melihat Amel yang mengurung diri dan tampak sangat terpukul dengan kepergian Rendi.
Setelah Amel lulus dari kampusnya, Amel memutuskan untuk pulang ke indonesia dan dia kembali tinggal di rumah Raka.
*****
Pagi ini Amel bangun lebih pagi dari biasanya. “Ma, Amel berangkat dulu ya?” ucap Amel berjalan menuju Tamara dan mencium kedua pipinya.
Tamara menahan tangan Amel. “Ini kan masih pagi Mel, kamu nggak sarapan dulu?” tanya Tamara saat Amel tampak buru-buru.
“Bohong Ma, dia itu mau pacaran,” ucap Raka acuh sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Amel mengalihkan pandangannya pada Raka. “Enak aja, Amel ini mau kerja Bang.” Amel menatap sebal pada Raka. “Makanya Bang, cari pacar biar nggak jomblo terus,” ucap Amel tersenyum mengejek pada Raka.
Raka menatap Amel. “Berangkat sana, nanti kamu telat,” usir Raka.
“Yaa udah, Amel juga mau berangkat ini. Amel berangkat dulu ya bang, Ma,” pamit Amel. Dia berjalan dengan langkah cepat saat melihat Raka dan Tamara mengangguk.
Amel tampak tersenyum saat melihat Devan sedang bersandar di pintu mobilnya sambil menatap layar ponselnya. “Kakak uda dari tadi?” Amel berjalan mendekati Devan.
Devan mengangkat kepalanya dan tersenyum saat melihat Amel sudah berada di depannya. “Belum, ayoo kita berangkat,” ajak Devan sambil membuka pintu untuk Amel.
“Makasih ,Kak” ucap Amel saat akan masuk ke dalam mobil.
Devan berjalan ke sisi mobil yang lain dan masuk ke dalam mobilnya, setelah itu mobil Devan melaju meninggalkan kediaman Raka. Amel berjalan masuk ke dalam kantornya setelah berpamitan dengan Devan.
*****
__ADS_1
“Pagi kak Fadil,” sapa Amel, saat melihat Fadil tampak masuk ke dalam ruangannya.
Fadil tersenyum. “Amel, bahan presentasi untuk meeting bulanan semuanya udah siapkan?”
Amel mengangguk. “Sudaah Kak, semuanya sudah sama Bela.”
“Jangan sampai ada yang salah ya, soalnya CEO kita akan ikut dalam meeting kita kali ini.”
“Iyaa kak.” jawab Amel mantap.
“Ya udah kalau gitu, saya mau ke ruangan saya dulu.” Fadil berjalan meninggalkan ruangan Amel. Fadil menjabat sebagai Asisten Pribadi CEO.
Saat Bela sudah tiba di kantor, mereka mulai mempersiapkan semua yang dibutuhkan untuk meeting, sebelum meeting di mulai. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, Semua karyawan dari berbagi divisi mulai berjalan menuju ruangan meeting.
“Mel, gue gugup banget,” ucap Bela saat mereka sudah berada di dalam ruangan meeting. Mereka duduk paling ujung agar tidak terlalu menarik perhatian.
Amel meraih tangan Bela. “Jangankan lo Bel, gue aja keringet dingin in,i” ucap Amel dengan senyuman paksa.
“CEO kita galak nggak ya kira-kira?” tanya Bela sambil terus menatap ke pintu masuk ruang meeting.
Terlihat semua orang sudah berkumpul di ruangan meeting. Ada sekitar 30 orang termasuk beberapa manager dan perwakilan dari berbagai cabang perusahaan yang berada diluar kota.
“Gue juga nggak tau, kita harus tetap tenang.”
Setelah menunggu sekita 15 menit, tampak Siska sekertaris CEO memasuki ruangan. Tidak lama kemudian masuklah Fadil dan beberapa petinggi perusahaan itu. Amel dan Bela tampak hanya menunduk dari tadi.
“Selamat pagi semua, maaf saya datang terlambat,” ucap pria tampan yang mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya, yang terlihat sangat pas di tubuhnya.
Amel terkejut saat melihat pria yang baru saja berbicara. “Kamuu? Kenapa bisa ada di sini?” ucap Amel dengan suara keras, saat melihat pria itu sudah menduduki kursi CEO.
Semua orang sontak menoleh pada Amel, saat dia mendengar Amel berkata seperti itu pada CEO mereka.
“Lama tidak bertemu nona Amel,” ucap pria itu dengan senyum menggoda.
“Kamu anak baru, tidak sopan sekali berbicara seperti itu dengan CEO perusahaan ini!” bentak Siska sambi menatap tajam pada Amel.
Pria itu menoleh pada Siska yang duduk di sampingnya. “Kamu jangan membentaknya seperti itu Kamu bisa menakutinya,” ucap pria itu lalu menoleh pada Amel.
“Tidak ada yang boleh memarahi dia kecuali aku, Dia itu wanitaku,” ucap pria dengan senyuman miring.
__ADS_1
Bersambung...