
Amel menggeleng pelan. "Amel harus pulang. Masih ada tugas sekolah yang harus Amel kerjain," tolak Amel.
"Kamu bisa ngerjain di sini dan pulang pagi-pagi sekali."
"Lain kali aja Kak. Nanti kalau libur Amel menginap di sini."
"Ya sudah. Ayo aku antar kamu pulang." Rendi mengajak Amel keluar dari kamarnya.
"Tunggu dulu, Kak." Amel menahan tangan Rendi yang sudah mau menariknya.
Rendi meneloh ke belakang. "Kenapa? Apa kamu berubah pikiran?"
Amel memegang tangan Rendi. "Tangan Lakak harus diobati dulu."
Rendi menoleh ke tangannya yang terluka kemudian tersenyum dan mengelus wajah Amel dengan lembut. "Iyaa sayang." Wajah Amel memerah mendengar panggilan baru Amel.
Amel kemudian mengajak Rendi untuk duduk di tepi tempat tidur. "Kakak duduk di sini dulu, aku mau mengambil kotak obat di bawah."
"Nggak perlu, di kamar ini ada kotak obat. kamu bisa ambil di lemari nakas itu, ada di laci paling bawah." Rendi menunjuk lemari yang dia maksud.
Amel berjalan dengan cepat menuju lemari lalu menunduk saat membuka laci paling bawah setelah tu mengambil kotak obatnya.
Amel meletakkan kotak obat di atas nakas sebelah tempat tidur. "Ikut aku sebentar." Amel menarik tangan Rendi yang tidak terluka dan Rendi hanya menurut kepada Amel. Dia berjalan mengikuti Amel dari belakang.
Amel memasuki kamar mandi dan berdiri tepat di depan wastafel kamar mandi. "Mungkin ini bakal sakit, tapi Kakak harus tahan sedikit." Amel menatap Rendi sejenak.
"Iyaaa," ujar Rendi tersenyum.
Amel mengarahkan tangan Rendi ke air yang sudah keluar dari keran wastafel setelah dia memastikan suhu air sudah sesuai. Beberapa kali Rendi terlihat meringis, menahan sakit. Mungkin karena Rendi tadi menggenggam pecahan kaca dengan kuat sehingga meninggalkan luka cukup dalam. Setelah selesai membersikan lukanya, Amel mengambil handuk kecil bersih yang tersedia di kamar mandi lalu mengeringkan luka Rendi dengan saat hati-hati.
Rendi hanya memandang wajah Amel yang terlihat fokus membersihkan lukanya. Yang dia pikirkan saat ini adalah rasa bahagianya karena telah mengetahui perasaan Amel yang sesungguhnya. Dia tidak menghiraukan luka yang ada di tangannya.
Amel berjalan keluar dari kamar mandi, setelah selesai mengeringkan tangan Rendi. Dia dan Rendi duduk kembali di tepi tempat tidur lalu membuka kotak obat dan menyemprotkan antiseptik spray ke tangan Rendi. Setelah kering, dia membalut tangan Rendi dengan perban medis.
"Kakak harus ke dokter untuk diobati dengan benar. Amel cuma mencegah biar lukanya nggak infeksi saja." Amel mengangkat wajahnya dan menatap Rendi setelah selesai membalut lukanya.
__ADS_1
Rendi menatap tangannya yang terbalut perban dan masih dipegang oleh Amel. "Nggak perlu, ini udah cukup."
"Apa aku harus menyeret Kakak ke dokter dulu baru Kakak mau nurut?" Amel menatap marah kepada Rendi yang tidak mendengarkan kata-katanya.
Rendi tertawa kecil. "Kenapa kamu galak banget sama aku?" Amel menatap tajam kepada Rendi saat melihat ucapan seriusnya justru ditanggapi dengan candaan oleh Rendi. Bisa-bisanya dia bercanda saat seperti ini.
Melihat Amel tampak marah, Rendi berkata, "Iyaa sayang, besok temani aku ke dokter. Ini sudah malam. Aku juga harus mengantar kamu pulang."
"Iya, pulang sekolah aku langsung ke sini."
"Nggak usah. Aku bakal jemput kamu besok ke sekolah." Rendi berdiri, "ayo aku antar kamu pulang."
Amel yang sudah mengambil baju dan tasnya kemudian berjalan mengikuti Rendi. Mereka melangkah menuruni tangga beriringan dan berjalan ke ruang keluarga. Terlihat sudah ada mama Rendi di sana berserta Sofi dan Friska. Mereka sedang asik mengobrol.
"Ma, Rendi mau antar Amel pulang, sudah malam." Rendi berhenti di ruang keluarga.
Mereka menoleh bersamaan. Lilian lalu mengalihkan pandangannya pada Amel. "Kamu mau pulang sekarang, Mel? Nggak nginap saja di sini? Biar besok pagi dianter sama pak Iyan."
Amel tersenyum kaku. "Makasih, Tante, tapi Amel pulang saja. Amel harus ngerjain tugas sekolah yang mau dikumpul besok," tolak Amel.
"Sofi, pinjamankan jaket kamu sama Amel, ini sudah malam. Angin malam nggak bagus untuk Amel," tital Lilian sambil memandang Sofi.
"Nggak usah Ma. Di Mobil ada jaket Rendi," sahut Rendi.
Ibu Rendi mengalihkan pandangannya ke tangan Rendi yang terbalut perban. "Tangan kamu kenapa Ren?"
Rendi menoleh sekilas pada tangannya. "Tadi Rendi nggak sengaja jatuhin gelas, Ma. Waktu Rendi mau coba bersihin, tangan Rendi kena pecahan kacanya, tapi sudah diobatin sama Amel," ucap Rendi bohong.
"Kamu harus hati-hati dong, Ren. Belum juga luka waktu itu kamu sembuh, udah nambah luka baru lagi," omel Lilian.
"Iya Ma. Rendi bakal hati-hati mulai sekarang Besok Rendi mau ke rumah sakit."
"Kenapa nggak panggil dokter Jhon aja ke rumah?"
"Nggak usah Ma. Rendi mau ke rumah sakit sekalian Rendi pemeriksaan lanjutan yang Mama minta waktu itu."
__ADS_1
"Baiklah, nanti mama telpon dokter Jhon untuk menyiapkan semua pemeriksaan untuk kamu besok." Rendi mengangguk tanda menyetujui.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati di jalan ya Mel," ujar Lilian.
"Iya Tante, Amel pulang dulu." Lilian mengangguk.
"Kamu langsung pulang Ren habis nganter Amel," ujar Lilian.
"Iya, Ma." Mereka berjalan keluar diikuti oleh tatapan tajam dari Friska.
******
Di dalam mobil, Rendi terus menggengam tangan Amel dan tidak mau melepaskannya barang sedetikpun. Padahal, tangannya terluka. Rendi sedang membayangman kalau saja tadi Amel langsung pergi dari rumahnya dan tidak kembali lagi ke kamarnya. Raka pasti sudah mengambil kesempatan ini untuk menjauhkan Amel darinya.
"Kalau kamu lelah, kamu bisa tidur aja, nanti aku bangunin kalau udah sampe."
Amel mengangguk. Dia menyenderkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Dia merasa sangat lelah hari ini. Bukan hanya fisik, tapi juga hati.
Mobil berhenti saat tiba di depan kos Amel, Rendi membangunkan Amel, kemudian turun dari mobil. "Kamu langsung istirahat. Jangan mikir apa-apa lagi." Rendi mengantarkan Amel sampai depan pintu kosnya.
"Iyaa, kabarin kalau Kakak sudah sampai rumah," balas Amel.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh pergi dari, apalagi mau menjauhi aku seperti tadi Mel." Rendi menatap Amel yang sedang menunduk karena menghindari tatapannya.
"Maaf, Kak," ucap Amel pelan.
Rendi kemudian mengusap lembut kepala Amel. "Masuklah, ini sudah malam. Aku harus pulang."
Amel kemudian mengangkat wajahnya. "Iyaa, Kakak hati-hati di jalan." Rendi mengangguk lalu berjalan masuk ke mobil dan pergi meninggalkan kos Amel.
Amel meletakkan tas sekolah lalu mengerjakan tugas sekolahnya. Setelah selesai, Amel mengirim pesan kepada Rendi untuk menanyakan apakah dia sudah sampai atau belum. Setelah menunggu cukup lama, belum ada juga kabar dari Rendi. Amel memutuskan untuk tidur saja, mungkin Rendi juga sudah tidur pikirnya.
Amel terbagun saat ponselnya berbunyi. Dia mengangatkan telpon tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"Haloo, ini siapa?" tanya Amel dengan suara serak khas bangun tidur.
__ADS_1
Bersambung...