
Amel melambaikan tangan dengan cepat tanda tidak setuju. “Bukan itu maksudku, Kak. Aku nggak mau menggunakan kartu itu.”
“Apa kamu belum mengerti juga, kenapa pin kartu itu tanggal ulang tahunmu?”
“Kenapa?”
“Itu berarti kartu itu aku peruntukan untukmu agar kau bisa gunakan kapanpun kau butuh. Aku akan marah kalau kau menolaknya.”
“Tapi Kak ....”
Rendi menatap tajam Amel. “Aku nggak punya niat lain, Mel. Aku nggak akan meminta imbalan apapun kalau kau menggunakan uang itu.”
Amel tampak diam. Dia justru merasa terbebani harus menerima kartu itu. Mereka hanya berstatus pacaran tapi Rendi sudah begitu percaya kepadanya sampai memberikan kartu itu.
“Dengar Mel. Aku sudah pernah bilang. Aku nggak pernah menganggap hubungan kita ini hanya main-main. Kalau kamu benar-benar serius denganku, kamu harus menerima kartu itu dan menggunakannya. Kalau nggak, maka ... aku akan menganggap kamu nggak serius denganku dan berniat meninggalkan aku suatu saat nanti.” Rendi menatap Amel dengan wajah serius.
Amel sedikit takut saat Rendi menatapnya dengan tajam apalagi setelah mendengar perkataan Rendi. “Baiklah, Kak. Amel akan menerimanya. Kalau nanti Kakak memerlukan uang. Kakak bisa bilang kepadaku.”
Seketika wajah Rendi berubah. “Bagus. Itu baru calon istri yang baik.” Rendi mengacak-acak rambut Amel sambil tersenyum senang.
Amel menghembuskan nafas pelan. “Kita masih pacaran, Kak,” ujar Amel mengingatkan.
“Sama aja sayang. Dengan ku menerima kartu itu, sudah menandakan kalau kamu akan menjadi calon istriku nanti,” ujarnya tidak mau kalah.
“Terserah Kakak saja. Asalkan Kakak senang.” Amel malas meladeni pikiran konyol Rendi. Amel memasukkan kartunya lagi ke dalam dompetnya.
“Apa aku bisa membeli rumah dengan kartu ini?” tanya Amel penasaran.
“Tentu saja. Kamu bahkan bisa membeli mall besar dengan kartu itu,” ujar Rendi enteng.
“Benaran? Apa Kakak nggak nyesel pacaran dengan orang kayak aku?” tanya Amel mendekatkan wajahnya ke Rendi.
“Orang seperti apa maksudmu? Rendi menoleh malas ke Amel.
“Yaa, orang biasa sepertiku. Wajah standar, tubuh standar, wajah yang biasa saja. Nggak ada yang istimewa sama sekali dalam diriku. Pokoknya, semua yang ada di diriku ini, bisa kakak temukan dengan mudah pada cewek lain ”
__ADS_1
Dahi Rendi mengerut mendengar perkataan Amel, dia menatap Amel sejenak. “Kamu jangan bicara omong kosong.” Rendi mengelus lembut rambut Amel kemudian memandangi ponselnya. Dia sudah mengambil kembali ponselnya setelah dia melepas pelukannya pada Amel tadi.
“Kakak, sedang chat sama siapa sih? Kenapa cuekin aku?" Amel menampilkan wajah kesalnya kepada Rendi.
“Kenapa? Apa kau cemburu kalau aku chat dengan cewek lain?” goda Rendi.
“Tentu saja. Memangnya cuma Kakak yang bisa cemburu.”
Sudut bibir Rendi membentuk senyum tipis. “Aku lagi balas pesan mama.” Setelah Rendi mengetik sesuatu, dia kemudian menyodorkan ponselnya ke Amel. “Ku bisa periksa kalau kamu nggakbpercaya padaku. Aku nggak pernah balas kalau ada cewek lain yang mengirim pesan sama aku.”
Melihat Amel diam saja, tanpa ada niat mengambil ponselnya. Rendi kemudian meraih tangan Amel dan meletakkan ponselnya. “Periksa aja,” ucap Rendi sambil tersenyum.
Amel menggeleng. “Nggak usah, Kak. Aku percaya denga Kakak.”
Amel mengembalikan ponsel itu ke tangan Rendi. Saat Amel mengembalikan ponsel ke tangan Rendi. Rendi tidak sengaja menangkap benda asing ada di tangan Amel. Pandangannya tertuju pada benda kecil berwarna putih. Rendi kemudian menarik tangan Amel.
“ Ini cincin dari siapa?” Rendi menatap cincin yang tersemat di jari manis Amel.
Amel mengalihkan pandangannya ke tangan yang sedang di pegang Rendi. “Ini mama Tamara yang belikan untuk Amel.”
“Udah Amel tolak, Kak, tapi mama bilang dia akan sedih kalau Amel nggak nerima cincin ini,” terang Amel dengan pelan. Dia melihat perubahan di wajah Rendi. Seketika dia menjadi takut Rendi akan marah dengannya.
“Kembalikan ke mama Raka." Rendi melepaskan tangan Amel.
“Tapi Kak ....” Belum sempat Amel meneruskan perkataannya. Rendi sudah menatap Amel dengan mata yang berkilat.
“Kamu mau tunangan sama Raka?” tanya Rendi dengan rahang yang menegang.
“Nggak Kak. Ini pemberian mama tamara, bukan Raka." Amel berusaha menjelaskan.
Rendi membenarkan posisi duduknya dan mendekatkan tubuhnya ke Amel. “Apa kamu nggak tahu makna cincin ini?”
“Kata mama, ini sebagai hadiah ulang tahun Amel nanti, Kak,” jawab Amel cepat sambil melihat ke arah cincin itu.
“Apa kamu benar-benar nggak tahu, apa tujuan mama Raka memberikan cincin itu sama kamu?"
__ADS_1
Amel terlilhat dia dengan wajah bingung.
"Asal kamu tahu, cincin ini terdiri dari 2 pasang. Tidak bisa dibeli secara terpisah dan biasa digunakan untuk lamaran atau pernikahan. Secara nggak langsung, dia mau menjadikan kamu menantunya." Rendi menahan amarah.
“Tapi, mama hanya membeli 1 cincin dan itu pun cuma di kasih ke Amel.”
“Gmana kalau dia menyimpannya untuk diberikan pada Raka nanti? Kalau kamu nggak percaya, kita bisa ke toko cincin ini untuk nanya langsung. Cincin ini nggak banyak di pasaran Mel. Dengan kata lain cincin ini terbatas. Apa kamu tahu harga cincin ini berapa?”
Amel terdiam sejenak.n“Amel nggak tahu Kak. Mama Tamara cumw bilang harga cincin ini nggak mahal.”
Rendi mengelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis saat mendengar perkataan Amel. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kepolosan Amel. “Dengan merk itu, diperkirakan harganya 65 juta. Itu adalah perkiraan dari harga terendah. Kemungkinan harganya bisa lebih dari itu.”
Amel mematung dengan mata Amel terbelalak. Dia kemudian menatap ke cincin yang berada di tangannya. “Amel nggak tahu kalau cincinnya semahal itu, Kak. Kalau Amel tahu dari awal, pasti Amel nggak akan menerimanya ”
“Kamu kira dengan cincin seharga itu,ama Raka nggak punya niat lain sama kamu? Aku yakin dia akan jodohinn kamu samad Raka.” Rendi menatap datar Amel yang terlihat masih terkejut.
“Kembaliin cincin itu. Aku nggak mau ada cincin lain yang melingkar di jarimu selain dariku. "Aku bakal beliin yang lebih bagus dari itu.” Rendi mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu memejamkan matanya sebentar.
“Tapi Amel sudah janji untuk pakai cincin ini terus. Amel nggam enak kalau tiba-tiba Amel mengembalikannya,” ucap Amel samb meremas jari tangannya.
Rendi langsung menoleh ke Amel. “Jadi, kamu tetap mau make cincin itu?”
“Bukan, Kak. Amel nggak bisa ngembalikan cincin ini, takutnya mama tersinggung. Apalagi, Amel sudah janji untuk terus memakainya.” Amel memegang tangan Rendi yang terlihat mulai marah lagi.
“Aku anggap kamu menerima lamaran Raka kalau kamu masih memakai cincin itu. Apa kamu sudah lupa dengan janjimu? Sebelum aku melamar kamu, kamu nggak boleh menerima lamaran dari siapapun."
Amel melihat guratan kekecewaan dan kemarahan dalam sorot mata Rendi.
“Amel ingat, Kak. Amel nggak akan pake lagi. Amel bakal simpannya aja, tapi Amel nggak bisa ngembalikannya, Kak. Tolong ngertiin Amel. Sekaliii ... ini saja.” Amel berusaha membujuk Rendi dan memegang lengan Rendi yang terlihat diam saja.
Bagaimana ini? Aku bahkan belum memberitahunya soal Devan dan tentang ponsel baru itu. Membayangkan reaksinya seperti apa saja, sudah membuat lidah terasa kelu.
Rendi masih belum merespon Amel. Dia terlihat memandang lurus ke depan dengan wajah dingin. “Kak, kangan marah. Kakak tahux kan, sedekat apa aku dengan mama Raka?” Amel berusaha membujuk ke Rendi kembali.
Rendi berdiri dan tidak menghiraukan Amel. Karena dia sedanga marah, dia berusaha untuk meredamnya dengan diam. Rendi berjalan ke balkon kamarnya, menatap lurus ke taman.sambil berdiri membelakangi Amel.
__ADS_1
Bersambung...