Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Penyesalan Amel


__ADS_3

tiba-tiba Friska bersuara, “Ini pasti gara-gara lo kan? Pasti lo yang buat Rendi pingsan,” ucap Friska dengan nada tinggi, matanya berkilat saat menatap Amel.


Sofi menoleh ke Friska, dengan wajah lelah. “Kak, sudaah. Ini bukan waktunya menyalahkan orang lain,” ucap Sofi berusaha menenangkan Friska yang terlihat menatap Amel dengan emosi.


“Kalau nanti gue tahu lo yang bikin Rendi jadi begini, gue nggak akan ngelepasin lo gitu aja,” ancam Friska dengan tatapan menyala.


“Kak Friska, tolong tenang dulu kak. Kita di sini semua juga panik, nggak ada yang mau terjadi apa-apa dengan kak Rendi, termasuk kak Amel.” Sofi hanya bisa memohon kepada Friska supaya tidak membuat keributan di ruamh sakit.


Amel tidak mengubris ucapan Friska, dia hanya diam, pikirannya kacau. Dia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Amel duduk dengan meremas kedua tangannya, sesekali matanya terpejam. Sementara Lilian masih berdiri di depan pintu ICU.


“Bagaimana dengan keadaan Rendi?” tanya Lilian saat melihat pintu ICU terbuka, terlihat beberapa dokter keluar dari ruangan itu.


“Nyonya bisa ikut kami, nanti kami akan menjelaskan secara detailnya sambil kita malakukan pemeriksaan lain. Sementara ini Rendi belum sadar,” jawab salah dokter terbaik di rumah sakit itu.


Lilian mengangguk. “Kalian tunggu di sini. Mama pergi dulu,” ucap Lilian sebelum mengikut rombongan dokter yang mulai berjalan menjauh dari ruang ICU.


Mereka semua mengangguk. “Amel.. Saya ingin bicara dengan kamu.” Terdengar suara dokter Jhon.


Amel menoleh, dia melihat Dokter Jhon baru saja keluar dari ruang ICU. Amel mengangguk kemudian berdiri.


“Apa Lakak sudah bisa dijenguk?” tanya Sofi kepada dokter Jhon saat sudah berada di sampingnya.


Dokter Jhon mengalihkan pandangannya ke Sofi. “Bisa, tapi harus bergantian. Usahakan tidak membuat suara gaduh di dalam, kalian hanya diperbolehkan melihatnya sebentar untuk sementara ini," jelas dokter Jhon.


“Apa yang terjadi dengan Rendi, Kak?” kali ini Friska yang bertanya. Friska juga dekat dengan dokter Jhon sama seperti keluarga Rendi, sehingga dia biasa memanggilnya dengan sebutan kakak sama seperti Sofi.


“Aku belum bisa menjelaskan padamu. Ku tenanglah. Ingat, jangan terlalu menekan Rendi dengan berbagai macam pertanyaan jika dia sadar nanti dan jangan pernah menyinggung kejadian yang dulu mulai sekarang. Kau tahu, kan? peranmu sangat penting. Kau bisa saja memperparah keadaan Rendi sama seperti kejadian dulu.”


Friska tampak terdiam. “Apa Rendi akan baik-baik saja?” tanya Friska dengan suara bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.


“Iyaa, kamu nggak perlu khawatir. Aku pergi dulu,” pamit dokter Jhon kepada Friska dan Sofi.


Sebelum melangkah, Dokter Jhon mengalihkan pandangannya pada Amel. “Kamu ikut saya Mel,” pinta Dokter Jhon sambil berjalan meninggalkan ruang ICU dan diikuti oleh Amel di belakangnya.


“Duduklah," ucap Dokter Jhon setelah berada di ruangannya. Dia sedang menatap layar komputer di depannya.


Amel mengangguk, dan duduk di depan dokter Jhon. “Aku ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan Rendi?” Dokter Jhon menatap Amel dengan wajah serius.

__ADS_1


Amel tampak diam, dia ragu untuk memberitahukan kepada dokter Jhon, karena dia teringat pesan Rendi, agar dia tidak menceritakan kepada siapa-siapa.


“Bicaralah yang jujur karena ini sangat penting untuk mendiagnosis sakitnya. Agar saya bisa menentukan pemeriksaan apa selanjutnya.” Dokter Jhon mengamati mimik wajah Amel sebentar. Perasaan gelisah, sedih, bingung, tergambar jelas di wajah Amel.


“Aku tahu Rendi pasti memintamu untuk merahasiakannya, kan? Kamu tenang saja. Aku akan merahasiakan untuk semetara ini. Aku tahu anak itu pasti akan melindungimu mati-matian agar orang tuanya tidak menyalahkanmu kalau terjadi sesuatu dengannya." Dokter memberi jeda sebentar.


"Sebelum dia pingsan, dia sudah menghubungiku terlebih dahulu tadi. Dia bertanya beberapa hal. Dia memintaku untuk merahasiakan apapun dari orang tuanya kalai terjadi sesuatu denganya nanti. Dia memintaku untuk melindungimu. Aku sudah curiga sejak dia menelpon aku tadi.”


Dokter Jhon menatap Amel dengan tenang. Tidak tergambar apapun dari mimik wajahnya.


“Sebenarnya kak Rendi naik 2 wahana ekstrim bersamaku. Saat aku tahu, dia tidak boleh menaiki wahana ekstrim. Aku sudah melarangnya untuk tidak ikut menaiki wahana itu, tetapi, dia tetap memaksa untuk menemaniku,” ungkap Amel dengan pelan.


Matanya masih sembab akibat terlalu lama menagis, ujung hidungnya memerah, matanya terlihat tampak tidak fokus.


Dokter Jhon menghela napas berat lalu memijat pelipisnya. “Anak bodoh ini. Sepertinya ingin cepat mati,” umpat Dokter Jhon saat mendengar penjelasan Amel.


Dokter Jhon mengalihkan pandangannya pada Amel. "Aku tahu, Rendi merahasiakan sakitnya darimu. Jadi, wajar saja kamu tidak akan tahu seberapa berbayanya kalai Rendi menaiki wahana ekstrim itu. Dia hampir saja kehilangan nyawanya kalau saja, dia telat untuk ditangani tadi.”


Mata Amel membelalak. Seluruh tubuhny gemetar saat mendengar perkataan dokter Jhon. “ Ak-aku ti+idak tahu ... kalau akibatnya akan seperti ini,” jawab Amel terbata-bata dengan suara bergetar hebat, air matanya kembali jatuh.


”Aku tahu itu. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu atas insiden ini karena kau tidak tahu apa-apa mengenai sakit Rendi yang sebenarnya. Mulai sekarang, kau harus lebih berhati-hati. Kau harus melarangnya untuk pergi ke tempat seperti itu lagi. Sementara ini kau jangan beritahu kepada siapapun mengenai kejadian sebenarnya. Kalau orang tua Rendi tahu, kau tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.”


“Apa selama Rendi bersamamu dia pernah mengalami gejala lain? Contohnya mengeluh sakit, penglihatan kabur atau sakit kepala, gejalan apapun itu, setelah insiden perkelahian Rendi dengan temanmu?”


“Apa perkelahian itu menyebabkan masalah serius untuk Rendi?” tanya Amel dengan heran.


"Iyaaa, karena kejadian perkelahiannya itu, memicu kambuhnya penyakit Rendi yang dulu. Aku rasa temanmu memukul cukup kuat di bagian kepala Rendi waktu itu. Akan berakibat fatal jika saja, temanmu memukul kepala Rendi dengan benda tumpul.”


Amel dia mematung, tiba-tiba pandangannya kabur karena pelupuk matanya dipenuhi oleh genangan air mata. Dia sangat terkejut mendengar penuturan dokter Jhon. Pasalnya, selama ini Rendi tidak mengatakan apa-apa setelah insiden perkelahian itu. Dia juga tidak pernah menyalahkan Raka karena sudah memukulnya.


”Dia pernah mengeluh sulit untuk tidur dan mudah lelah. Aku juga pernah melihatnya mengerjapkan mata sambil memegang kepalanya.”


“Apalagi?”


“Tidak ada lagi. Aku hanya merasa dia bertingkah aneh semenjak perkelahian itu,” jawab Amel yang tampak membayangkan kejadian dulu.


“Seperti apa?”

__ADS_1


“Tapi sepertinya tidak ada hubungannya dengan penyakit Rendi karena ini berhubungan dengan perilakunya,” ucap Amel ragu saat melihat Dokter Jhon menatap antusias padanya.


“Katakan saja. Aku hanya ingin tahu.”


“Semenjak kejadian perkelahian dengan Raka. Dia terlihat lebih emosional. Moodnya bisa berubah dengan cepat. Dia sulit mengendalikan dirinya sendiri. Dia mudah sekali marah dan meledak tiba-tiba, terkadang dia tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan hal sepele bisa memicu amarahanya,” ungkap Amel.


“ Apa dia bersikap begitu karena berkaitan denganmu?”


Amel mengangguk. “Lalu apa lagi?” tanya Dokter Jhon penasaran.


“Dia terlihat sering cemas dan jadi lebih sensitif. Dia gampang tersinggung, tidak sabar, suka berpikiran negatif denganku, dan sangat posesif denganku. Terkadang dia bertindak di luar nalar.”


“Benarkah? Tapi kenapa Rendi tidak pernah memberitahuku soal perubahan perilakunya itu?”


“Apakah ini semua ada hubungannya dengan sakit Rendi?”


“Tentu saja, itu sangat erat hubungannya dengan penyakit Rendi. Kalau benar yang kamu sebutkan tadi, sepertinya, aku harus melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada Rendi. Karena kalau dia sudah menunjukkan perubahan perilaku/kepribadian seperti itu, itu berarti dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Perubahan perilakunya tersebut termasuk salah satu indikasi mengacu pada tingkat keseriusan penyakitnya, selain dari gejala yang berasal dari fisik.”


Amel mulai terisak. “Apakah Rendi bisa sembuh?”


“Aku akan berusaha keras untuk itu, tapi untuk sementara kau tidak boleh memicu emosinya. Kau harus sabar menghadapi perubahan sikapnya yang terkadang berlebihan. Sebenarnya, itu bukanlah sifat Rendi yang asli, perubahan perilakunya disebabkan oleh penyakit yang dia derita sekarang. Dia seperti itu juga karena dipicu kejadian masalalunya. Kau harus bisa memakluminya. Kemungkinan besar, kedepannya dia akan  lebih bersikap protektif terhadap orang terdekatnya, terutama dirimu. Aku tidak bisa memberitahu dirimu apa alasanya perubahan sikapnya itu, tapi yang pasti, kau dan Friska tidak boleh membebani pikirannya."


“Baik Dokter.”


"Dan kau harus ingat, Rendi tidak boleh berkelahi lagi. Dia tidak boleh mendapatkan guncangan kuat dan terlalu ekstrim pada kepalanya. Dia juga tidak boleh mendapatkan pukul keras di kepalanya, yang pasti kepala tidak boleh terbentur dengan sesuatu. Kau harus bisa menjaganya baik-baik kalau sedang bersama dengannya. Karena, sesakit apapun Rendi, dia tidak akan mengatakan apaapun padamu. Dia akan tetap diam sekalipun sedang sekarat. Dia tidak mau membuatmu khawatir."


Amel masih terisak. "Ini semua salahku, Rendi begini karena aku."


"Kau jangan menyalahkan diri sendiri. Kau tidak boleh menampakkan wajah sedihmu saat Rendi sadar nanti, itu akan menambah beban pikirannya."


Amel mengangguk lemah. "Kira-kira kapan kak Rendi akan bangun? Kenapa dia belum sadar juga?"


"Saya juga belum tau, saya akan terus memantau perkembangan Rendi! berdoa saja supaya dia cepat sadar," imbuh Dokter Jhon.


Amel tampak menunduk, mengapus air matanya. "Baik Dok. Apa saya sudah bisa menjenguknya setelah ini?" tanya Amel dengan suara pelan.


"Bisa. Kalau begitu lebih baik kita ke sana. Saya juga harus memeriksa kembali kondisi Rendi." Dokter Jhon berdiri sambil memakai kembali jas dokternya yang dia lepas tadi. Dia dan Amel berjalan keluar menuju ruang ICU tempat Rendi sedang di rawat.

__ADS_1


Besambung..


__ADS_2