Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pesan Rendi (Sesion 2)


__ADS_3

Amel menatap Kenan. "Apa kamu tahu di mana dia sekarang?" tanya Amel dengan wajah tegang.


Kenan tampak meneliti ekspresi Amel sejenak. Dia menyandarkan tubuhnya kembali pada sofa. "Kalau aku bilang dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, apa kamu akan percaya?" tanya Kenan dengan tatapan penuh selidik.


Wajah Amel memucat, tangannya tiba-tiba berkeringat. "Ap-apa maksudmu?" tanya Amel dengan suara pelan dan terbata-bata.


"Operasinya gagal, mulai sekarang kamu harus melupakannya," jawab Kenan dengan wajah serius.


Mata Amel membelalak. Amel terus menggelengkan kepalanya tanpa henti. "Ti-tidak mungkin.. Kamu bohong, kan?" Amel meremas kuat kedua tangannya.


Kenan menatap serius pada Amel. "Mel, dengarkan aku. Mulai sekarang, aku yang akan menjagamu. Mungkin dia sudah tahu kalau operasinya akan gagal waktu itu. Sehingga dia meninggalkan pesan padaku untuk mengajamu, sebelum dia memasuki ruang operasi untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya."


Mata Amel berkaca-kaca, tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya sudah tidak bisa fokus lagi. "Aku tidak percaya kepadamu, tidak.. ini tidak mungkin. Kenan tolong jangan bercanda denganku," ucap Amel dengan suara keras.


Kenan sedikit terkejut saat melihat reaksi Amel, di dalam hatinya ada rasa iba saat melihat Amel tampak masih terpukul dengan kepergian Rendi. "Kamu harus menerima kenyataan yang ada Mel. Aku akan menggantikan Rendi menjagamu."


Amel menatap Kenan dengan tatapan memohon. "Kenan, tolong jangan berbohong padaku! Apa Rendi masih marah denganku? Itukah alasannya selama ini dia tidak pernah menemuiku?" tanya Amel dengan air mata yang sudah mulai menetes.


"Apa kau ingin mengunjungi makamnya dulu, baru kamu dapat percaya dengan kata-kataku?"


Amel menggeleng kuat. "Dia sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku."


Kenan menghela napas. "Kamu pikir kenapa selama ini dia tidak pernah muncul lagi di hadapanmu?"


Amel mencoba mengendalikan perasaan sedihnya. Dia menghapus air matanya dengan cepat. "Mungkin dia masih marah denganku."


"Kalau dia marah denganmu, untuk apa dia repot-repot memintaku untuk menjagamu."


Seketika badan Amel menjadi lemas, karena perkataan Kenan ada benarnya. "Aku tidak percaya. Katakan padaku kalalu kamu berbohong Kenan. Kalau kamu takut aku menganggunya, kamu tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Selama dia masih hidup, aku tidak akan mengganggunya lagi. Yang penting dia bisa hidup dengan baik walaupun tanpa aku."


Kenan menatap Amel dengan wajah serius. "Kamu harus melupakannya. Dia tidak akan bisa kembali lagi."


Amel berdiri. "Aku tidak bisa. Aku harus meminta maaf dulu kepadanya. Dia pasti masih marah denganku." Amel berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


Kenan mengejar Amel, saat melihatnya berjalan seperti orang linglung. Kenan meraih pundak Amel. "Tunggu Mel, kamu tidak bisa pergi dengan keadaan seperti ini."


Langkah Amel terhenti saat dia sudah meraih handle pintu. Amel menoleh dan menatap tajam Kenan. "Aku akan tetap menunggunya," ucap Amel dengan nada dingin.


Kenan mengangguk. "Baiklah, itu terserah kamu, aku akan menunjukkan pesan terakhir dari Rendi," ucap Kenan tenang. "Ayo kita duduk lagi," ajak Kenan setelah dia melepaskan tangannya dari pundak Amel.


Amel berbalik dan mengikuti langkah kaki Kenan menuju sofa. Kenan berjalan menuju


meja kerjanya, lalu mengambil sesuatu, setelah itu dia kembali mendekati Amel. Kenan menyodorkan sebuah amplop berwarna putih.


"Ini adalah surat yang Rendi tulis sehari sebelum operasi," ucap Kenan saat melihat Amel tampak diam saja.


Amel tidak langsung mengambil amplop yang ada di tangan Kenan. Dia hanya memandang amplop itu, tanpa ada niat untuk mengambilnya. "Ambilah," ucap Kenan saat melihat tatapan keraguan dalam mata Amel.


Amel mengangkat tangan kanannya dan mengambil ampop itu dengan tangan yang gemetar. "Tenang saja, aku tidak pernah membuka surat itu," imbuh Kenan saat melihat Amel tampak memandangmya sebentar kemudian beralih pada amplop yang ada di tangan kanannya.


Setelah menyerahkan amplop pada Amel, Kenan berjalan lagi menuju meja kerjanya. Amel menatap Kenan yang terlihat sudah berjalan kembali ke sofa dengan membawa sesuatu di tangannya.


"Dan ini, barang yang ditinggalkan Rendi untukmu." Kenan meletakkan kotak berukuran kecil berwarna merah di atas meja, setelah itu dia duduk kembali.


Kenan mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Buka saja kalau kamu penasaran," saran Kenan saat melihat kening Amel berkerut.


Amel mengangguk, kemudian dia menatap kembali pada amplop putih itu. Amel mengalihkan pandangannya kepada Kenan sejenak. "Bolehkah aku membukanya sekarang?" Amel mulai membuka amplop yang ada di tangannya, saat melihat anggukan dari Kenan.


Dear Amelia Putri.


Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Sebenarnya sempat terpikir olehku untuk membuat pesan lewat vidio, supaya lebih gampang, tetapi aku tahu kamu pasti tidak ingin melihat wajahku lagi.


Aku tidak ingin membuatmu bertambah benci padaku, itulah sebabnya aku hanya menuliskan surat ini. Sampai saat ini aku masih belum bisa melepaskanmu. Aku masih tidak rela kalau hubungan kita berakhir begitu saja.


Aku tidak bisa melihatmu bahagia dengan orang lain. Mungkin Inilah salah satu keegoisan terbesarku yang membuatmu merasa muak denganku, tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau aku masih sangat mencintaimu Mel.


Ini adalah surat terakhir yang aku tulis untukmu. Saat kamu membaca surat ini, mungkin saja Kenan sudah memberitahukan padamu, kalau aku sudah menjalani operasi.

__ADS_1


Maafkan aku, kalau selama ini sudah memyembunyikan sakitku darimu, itu kulakukan karena aku tidak ingin kamu khawatir denganku. Aku juga takut kamu akan meninggalkan aku, saat kamu tahu tentang sakitku ini


Sebenarnya aku sangat takut, takut kalau aku tidak bisa bangun lagi setelah melakukan operasi. Seandainya operasiku gagal dan aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, kuharap kamu bisa memaafkan semua kesalahanku Mel.


Kalau nanti aku masih memiliki kesempatan untuk hidup, dan bisa bertemu lagi, aku berharap kamu tidak membenciku lagi. Sangat berat untukku karena harus berpisah denganmu Mel.


Aku harap kamu tidak akan melupakan aku, walaupun hanya kebencian yang tersisa dalam hatimu saat ini, tetapi tidak masalah bagiku, selagi kami masih ingat padaku. Hal yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat aku menghabiskan waktu bersamamu.


Aku sudah meminta Kenan untuk menjagamu, kalau kamu memiliki masalah apapun itu, kamu bisa langsung mengatakan padanya. Dia pasti akan membantumu. Kamu tidak perlu sungkan dengannya.


Aku tahu kalau ada Devan dan Raka yang selalu siap untuk membantumu, tetapi aku tetap berharap kamu bisa mengurangi bebanku dengan meminta bantuan kepada Kenan saat kamu sedang mendapatkan masalah.


Aku harap kamu tidak mengalami kesulitan apapun saat menjalani hari-harimu kedepannya. Kartu yang kuberikan padamu. Aku harap kamu bisa menggunakannya untuk keperluanmu.


Anggap saja itu sebagai penebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, dan cincin yang pernah aku berikan padamu, bisa kamu jual atau buang jika kamu tidak sudi untuk menyimpannya.


Maafkan aku karena menulis surat yang panjang dan membuatmu malas untuk membacanyankarena hanya lewat sini, aku bisa mencurahkan sedikit isi hatiku. Jaga dirimu baik-baik Mel.


Aku harap kamu akan hidup bahagia seperti sebelum mengenal aku. Aku sangat mencintaimu Mel.. Sangat... sangat mencintamu. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca surat ini.


Dari orang yang akan selalu mencintaimu.


Rendi Sapta Wijaya.


Setelah Amel selesai membaca surat dari Rendi air matanya langsung mengalir deras. "Kamu mau kemana?" tanya Kenan saat melihat Amel berdiri dengan cepat. "Aku-ku akan menemuinya," ucap Amel panik.


Kenan menahan tangan Amel, saat melihatnya tampak akan keluar dari ruangannya. "Apa kamu gila, kemana kamu akan pergi mencarinya?"


Amel menoleh pada Kenan. "Lepaskan aku Kenan," ucap Amel marah.


"Tidak akan, kamu harus dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang lupakan Rendi. Kamu harus menerima kenyataan kalau dia sudah tidak ada lagi," ujar Kenan dengan nada tegas.


Amel terduduk di lantai dengan tangan yang masih dipegang oleh Kenan. Dengan tubuh yang bergetar Amel mulai menangis. Kenan melepaskan tangannya. Dia mencoba untuk mengangkat tubuh Amel dan menggendongnya menuju sofa.

__ADS_1


Amel hanya diam. Dia tidak punya tenaga lagi untuk memberontak. Kenan meletakkan tubuh Amel di sofa panjang miliknya. Setelah itu, dia berjalan menuju pintu keluar. Dia ingin memberikan waktu untuk Amel menenangkan dirinya.


Bersambung....


__ADS_2