
“Jam berapa kau bertemu dengan temanmu sayang?” Rendi berjalan mendekati Amel yang tampak sedang berhias di depan meja rias.
“Pukul 10 pagi kak!” Amel mengoleskan lipstik berwarna peach pada bibirnya.
“Kenapa kau berdandan cantik sekali sayang? Kau bisa menarik perhatian banyak laki-laki nanti,” ucap Rendi sambil memeluk Amel dari belakang.
Amel menoleh sedikit. “Aku hanya menggunakan make up tipis kak.” Amel sudah mewanti-wanti untuk memakai make up setipis mungkin. Dia tahu kalau Rendi pasti akan protes jika dia berdandan berlebihan.
Rendi meletakkan kepalanya di bahu Amel. “Kau tidak boleh terlihat cantik di mata orang. Aku tidak mau, kalau sampai ada laki-laki lain yang tertarik padamu nanti.”
“Kak, aku hanya memakai concelear dan lispstik saja.” Amel mengoleskan concelar untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya akibat dia kurang tidur belakang ini. Rendi tidak pernah membuatnya tidur nyenyak.
“Tapi kau masih terlihat cantik sayang!” Rendi tidak rela jika ada laki-laki yang menatap wajah cantik istrinya. Dia tidak ingin mempunyai saingan baru. Dia sudah cukup senang karena Raka dan Devan sudah memutuskan untuk melepaskan Amel. Dia tidak mau sampai ada Raka-Raka dan Devan-Devan yang lain, muncul tiba-tiba dan mengganggu kehidupan rumah tangganya.
“Kak, apa aku harus memakai topeng keluar agar orang lain menatap aneh diriku?” Rendi tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. “Kau bahkan masih menggemaskan jika memakai topeng sayang,” gombal Rendi.
Amel memutar kedua bola matanya. “Kak.. jangan menggangguku. Aku harus bersiap untuk pergi,” ucap Amel ketika tangan Rendi mulai bergerak liar.
“Bagaimana kalau kau batalkan saja pertemuanmu dengan temanmu? Kau bisa bertemu dengan mereka besok.” Rendi muka mengecup leher belakang istrinya.
“Tidak bisa kak. Bukankah besok kita akan ke Bali.” Amel segera menghentikan Rendi, kalau tidak, dia tidak akan bisa pergi hari ini. Dia tidak mau kalau sampai Rendi berubah pikiran dan tidak mengijinkan dia keluar untuk bertemu dengan sahabatnya.
“Justru itu sayang, kau bisa berbincang dengan mereka selama perjalanan ke Bali besok. Aku masih ingin berdua denganmu sayang!”
“Kak, jangan meninggalkan bekas lagi di situ! Teman-temanku bisa melihatnya nanti.” pekik Amel ketika Rendi mulai menyesap lehernya. Dia sudah susah payah menyamarkan warna merah keuanguan yang ada di lehernya menggunakan foundation dan concelear. Dia bahkan menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyamarkan bekas di lehernya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan meninggalkan bekas di dalam.” Rendi langsung mengangkat tubuh Amel ke tempat tidur. “Kak, turunkan aku! Aku harus pergi kak!” Amel berusaha memberontak.
“Jangan bergerak sayang, kau bisa jatuh nanti!” Rendi menurunkan Amel di tempat tidur. “Kak, bukankah kau sudah berjanji akan mengijinkan aku keluar untuk bertemu dengan temanku,” ucap Amel cepat saat melihat Rendi sudah berada di atasnya. Amel tampak gugup. Dia berusaha mencari cara agar bisa lolos kali ini.
Rendi tersenyum. “Iyaa, tapi setelah ini.” Rendi langsung membungkam mulut Amel dengan bibirnya saat melihat Amel tampak akan protes. Amel yang awalnya menolak kini sudah pasrah. Tubuhnya langsung merespon ketika mendapat sentuhan lembut dari Rendi. Perlahan Rendi berhasil menanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuh mereka berdua.
Rendi berhenti sejenak, lalu menatap manik hitam Amel. “Kau cantik sekali sayang!” Rendi mengecup kening dan bibir Amel kemudian melajutkan menjamah tubuh istrinya. Setelah melakukan pemanasan, Rendi langsung melakukan penyatuan. “Aah Mel, kau sempit sekali sayang!” Terdengar erangan dari mulut Rendi. Amel menyeka keringat suaminya yang ada di dahinya. “Apa kakak tidak lelah?” ucap Amel di sela-sela kegiatan mereka.
Rendi menyeringai. “Aku bahkan masih kuat melakukannya 3 kali.” Rendi memompa tubuhnya dengan cepat. Walaupun mereka sudah melakukan beberapa kali semenjak menikah, Amel terkadang masih merasakan sakit di bagian sensitifnya. “Jangan kak. Aku harus pergi setelah ini!” cegah Amel cepat.
“Baiklah sayang! Kita bisa melakukannya besok lagi saat bulan madu di Bali.”
"Tapi kak..."
"Tidak ada tapi-tapi..." Rendi langsung memotong ucapan Amel.
Rendi mempercepat gerakannya saat akan mencapai klimaksnya. Suara lenguhan Amel terdengar nyaring di seluruh kamar. Amel merasa sesuatu yang hangat mengalir dalam rahimnya. “Terima kasih sayang,” ucap Rendi ketika sudah melakukan pelepasan. Rendi mengecup singkat bibir Amel.
“Tidurlah sebentar, setelah itu kau baru boleh pergi.” Rendi membawa tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Amel mendongakkan kepalanya. “Tapi, kakak janji setelah ini mengijinkan aku pergi.”
“Iyaa sayang, tapi kau harus selalu mengabariku. Kau tidak boleh mengabaikan pesanku atau telponku. Aku akan langsung datang menyusulmu jika kau mengabaikanku terlalu lama.”
Sebenarnya apa yang dia takutkan? Aku ini hanya wanita biasa yang berwajah standar. Aku jadi ragu dengan penglihatannya. Jangan-jangan dia minus. Dia memperlakukan aku seperti tuan putri yang cantiknya sejagat raya. Dia bahkan bisa mendapatkan 10 kali lipat lebih cantik dariku. Aku bahkan malu untuk mengakui diriku sendiri.
“Baik kak,” ucap Amel singkat. Amel kembali menatap wajah suaminya. “Kak, sejak kapan kakak jatuh cinta padaku?”
__ADS_1
“Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”
“Aku hanya ingin tahu saja.” Amel penasaran kapan Rendi mulai menyukainya. Selama bersekolah di sana, dia tidak pernah melihat Rendi sekalipun memperhatikannya. Seperti biasa Rendi selalu terlihat acuh dan cuek jika berpapasan dengannya di sekolah. Berbeda sekali dengan sekarang.
Bola mata Rendi menghadap ke atas seolah mengingat kejadian masa lampau. Di saat pertama kali bertemmu dengan Amel. “Saat kau memberikanku payungmu padaku!”
“Haaaahh.” Amel terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan Rendi. “Kapan aku memberikan payung padamu?” tanya Amel dengan alis menyatu. Amel merasa tidak pernah memberikan payung pada Rendi, apalagi mereka tidak pernah beristeraksi selain kejadian saat di kantin.
Rendi tersenyum tipis. “Saat itu sedang hujan deras, kau malah memberikanku payungmu satu-satunya, dan berlari meninggalkanku dalam keadaan basah.”
Mulut Amel terbuka dengan mata terbelalak. “Benarkah aku pernah melakukan itu? tapi kenapa aku tidak ingat?” Amel mencoba mengingat lagi kejadian tersebut.
“Mungkin kau lupa. Kejadian itu sebelum kau masuk SMA. Dan aku baru saja pindah ke Indonesia.”
“Jadi kita pernah bertemu sebelum aku duduk di bangku SMA?”
“Iyaa, saat itu aku melihatmu masih mengenakan seragam SMP.” Rendi tersenyum saat mengingat kejadian itu. Bahkan hatinya selalu berdebar saat mengingat wajah Amel kala itu.
”Sejak kejadian itu, bayanganmu selalu muncul dalam pikiranku. Gadis kecil bertubuh ramping, rambut panjang dengan tubuh yang basah akibat guyuran air hujan, tersenyum lebar padaku sambil melambaikan tangan meninggalkanku. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu.”
Astaagaa..Kenapa harus saat hujan dia melihatku. Apa aku terlihat cantik waktu itu? pasti jelek.. Aku sangat yakin pasti jeleek.. haaduuuh dia sudah melihat sisi terjelekku ternyata.
“Hanya karena itu kakak jatuh cinta padaku? Hanya karena aku memberikan payung?” tanya Amel heran. Dia merasa itu adalah hal biasa yang akan orang lain biasa lakukan, apalagi payung bisa di dapatkan di mana saja dengan harga murah.
“Tentu saja, di saat orang lain hanya melewatiku dan tidak memperdulikanku, kau malah datang dengan wajah polos menawarkan payungmu untukku. Kau memberikan satu-satunya benda yang paling kau butuhkan saat itu kepadaku. Itu sama saja kau memberikan benda paling berharga yang kau punya padaku. Kau bahkan tidak memperdulikan dirimu sendiri yang basah kuyup akibat terkena guyuran air hujan.” Mulai saat itulah Rendi berusaha mencari keberadaan Amel.
__ADS_1
Bersambung...