
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Sofi yang sedang menunduk sambil menatap ke dalam laci nakas samping tempat tidur Raka langsung terdiam. Tubuhnya menegang saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
Sofi langsung berdiri tegak, lalu membalikkan badannya. Dia terkejut ketika melihat sudah ada yang Raka di depannya. "Aku.."
Lidah Sofi seketika terasa kelu dan tenggorokannya seolah tercekat. Kata-kata yang ada di dalam pikirannya seolah tertahan di kerongkongannya.
Raka terlihat memandang Sofi dengan wajah datarnya. "Aku..Aku," ucap Sofi terbata-bata, "kenapa kau bisa ada di sini?"
Sofi yang menyadari pertanyaan konyolnya seketika merutuk kebodohannya dalam hati. Bagaimana bisa dia melontarka pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
Raka mulai melangkah maju dibarengi langkah mundur oleh Sofi. "Ini adalah kamarku. Kalau bukan di sini, lalu di mana seharusnya aku berada?" tanya Raka mendekatkan wajahnya pada Sofi. "Bukankah seharusnya aku yang bertanya padamu? Sedang apa kau di dalam kamarku?" Seketika Sofi merasa gugup ditatap oleh Raka dengan jarak dekat.
Raka terus melangkah maju, semenatara Sofi terus mundur sampai kakinya membentur nakas samping tempat tidur Raka. "Aku ke sini.. Ponselku mati, jadi Mama menyuruhku untuk mengambil charger di sini." Sofi tampak gugup menjawab pertanyaan Raka.
Raka langsung mengernyit. "Mama? Aku bahkan tidak melihat mama saat aku masuk ke rumah."
Bola mata Sofi terus bergerak ke segala arah. Dia berusaha untuk menghindari tatapan Raka. "Mama dan kak Amel sedang ada di taman belakang," ucap Sofi sambil menunduk.
Raka menyunggingkan senyum miring di bibirnya. "Mama hanya mengerjaimu. Charger yang dia maksud juga ada di ruang keluarga," ucap Raka datar. "Sepertinya dia masih berniat untuk mendekatkan kita berdua. Mungkin dia masih mengharapkanmu menjadi menantunya."
Sofi tampak salah tingkah berada di jarak yang sangat dekat dengan Raka. Aroma tubuh Raka membuatnya gugup. "Keluarlah..Kau bisa meminta charger dengan bi Sarti." Raka menjauhkan tubuhnya dari Sofi, kemudian membalikkan badannya.
"Rakaaa," panggil Sofi dengan suara rendah seraya menatap punggung Raka yang tampak sedang berjalan menuju lemari pakaiannya.
Raka menghentikan langkahnya. "Apa?" ucap Raka tanpa menoleh pada Sofi.
Sofi merasa sedih melihat sikap Raka terhadapnya. Dia tidak pernah menduga kalau hatinya terasa perih melihat sikap dingin Raka.
Sofi memandang punggung Raka dengan tatapan sedih. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Sofi dengan suara pelan, "apa kau sebenarnya tidak pernah mencintaiku?
Raka termenung sejenak. "Apa selama ini, kau hanya menjadikanku sebagai pelampiasan saja karena kak Amel sudah menikah dengan kakakku?"
Raka memejamkan matanya sebentar, lalu berbalik berjalan mendekati Sofi lagi. Raka kemudian berdiri tepat di depan Sofi. "Apa kau sungguh tidak tahu, bagaimana perasaanku yang sebenarnya terhadapmu?" tanya Raka dengan wajah datar dan tatapan dingin.
"Tidak tahu. Aku tidak tahu sama sekali," jawab Sofi sambil menatap sendu pada Raka. "Bagaimana aku bisa tahu perasaanmu padaku, kalau semenjak kita putus, kau langsung menjauh dariku seolah membenciku. Sikapmu berubah menjadi dingin."
Raka menghela napas halus, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Tidak ada gunanya lagi membahas masalah ini. Hubungan kita sudah berakhir," ucap Raka dingin.
"Aku harus tahu bagaimana perasaanmu agar aku bisa memutuskan apakah aku harus melepasmu atau tidak."
Raka menatap dalam mata Sofi. "Lakukan sesukamu. Aku tidak ingin membahas masa lalu lagi. Kau yang sudah menyakitiku Sof, jadi aku rasa kau tidak perlu repot-repot untuk mencari tahu mengenai perasaanku. Bukankah sudah ada 2 laki-laki yang mengantri untuk bisa menjadi kekasihmu, jadi lebih baik kita urusi kehidupan masing-masing."
__ADS_1
Sofi meremas kuat kedua sisi dressnya, matanya tampak mulai berkaca-kaca. "Keluarlah. Aku ingin berganti pakaian." Raka berjalan kembali menuju lemari pakaian.
Melihat mata Sofi yang mulai berair membuat hati Raka terasa perih. Raka mulai membuka perlahan kancing kemeja. Sofi terlihat masih belum mau beranjak dari kamar Raka. Dia masih beridiri mematung menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Raka mulai melepaskan kemejanya, setelah itu menoleh ke sisi kiri, saat menyadari belum ada pergerakan dari Sofi. "Apa kau sungguh ingin melihatku berganti pakaian di sini?" tanya Raka sambil menatap Sofi.
Lamunan Sofi seketika buyar. "Aku belum selesai bicara denganmu," jawab Sofi pelan.
Raka meletakkan kemeja kotornya di keranjang, lalu berjalan mendekati Sofi lagi dengan bertelajang dada. "Apa kau sungguh masih penasaran bagaimana perasaanku padamu? Apa perlu aku tunjukkan perasaanku yang sesungguhnya di sini?"
Raka menunduk menatap wajah Sofi yang tampak memerah karena melihat tubuh Raka. Setika jantungnya berdetak kencang melihat pemandangan yang ada di depannya.
Raka menunduk lagi untuk mensejajarkan wajah mereka berdua, lalu menatap lekat mata Sofi. "Baiklah..Kalau memang itu yang kau mau."
Perlahan Raka memiringkan wajahnya seraya mendekatkan wajah mereka hingga jarak diantara mereka mulai terkikis. Sofi langsung menutup matanya, ketika hidung mereka nyaris saja bersentuhan. Sofi bisa merasakan hembusan napas halus Raka menerpa wajahnya.
Seketika dada Sofi bergemuruh membayangkan bibir mereka akan menyatu. Menit berlalu, tapi Sofi tak kunjung merasakan apapun. "Buka matamu," bisik Raka di telinga Sofi.
Sofi tersentak dan langsung membuka matanya. "Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau menutup matamu?" Raka terlihat sudah menjauhkan wajahnya. Dia berdiri sambil menatap ke arah Sofi dengan wajah tenang.
Berbanding terbalik dengan Sofi. Wajah Sofi langsung memerah karena malu. Dia tidak sanggup menatap iris mata Raka yang terus menatapnya dengan intens. "Aku..." Sofi tidak tahu bagaiama harus menjawab pertanyaan Raka.
"Apa kau berpikir kalau aku akan menciummu? Atau justru kau berharap ka..." Raka sengaja menggantungkan kata-katanya untuk melihat ekspresi wajah Sofi.
Sofi yang merasa ada yang menyentuh kepalanya langsung mengangkat kepalanya menatap Raka yang terlihat sudah berjalan ke arah lemari.
Sofi menatap penuh arti pada Raka. Sebenarnya masih banyak yang ingin dia katakan pada Raka karena semenjak putus Raka tidak pernah meresponnya lagi. Pesan dan telponnya tidak pernah dibalas olehnya.
Setelah Raka mengambil pakaian di lemarinya, dia menoleh sejenak pada Sofi. "Keluarlah sekarang Sof, kalau tidak, kau tidak akan bisa keluar lagi dari kamarku hari ini," ucap Raka dengan wajah serius.
Sofi langsung merasa gugup. "Baiklah," ucap Sofi pelan. Dia kemudian melangkah keluar dari kamar Raka dengan langkah cepat.
Raka menghembuskan napas kasarnya setelah kepergian Sofi. Dia kemudian melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Butuh waktu setengah jam untuk membersihkan tubuhnya. Setelah berpakaian dia melangkah menuju jendela kamarnya. Dia menatap keluar tepatnya ke arah gazebo yang ada di taman belakang rumahnya. Pandangannya tertuju pada gadis cantik bertubuh langsing dan berwajah blasteran Jepang-Jerman yang wajahnya sangat mirip dengan suami Amel.
Raka berdiri sambil memasukkan tangan satunya ke dalam saku celananya. Tatapannya dalam dan teduh seolah menyimpan kerinduan yang begitu dalam pada gadis yang sedang ditatapnya.
Raka hanya diam seraya terus menatap gadis tersebut. Dia kemudian memijat pangkal hidungnya sambil memejakan matanya, setelah itu dia menghembuskan napas panjang seraya menatap ke arah bawah setelah itu berjalan menuju tempat tidur.
******
__ADS_1
Tamara langsung menarik tangan Amel menuju taman belakang sambil melihat situasi di sekitarnya. Setelah memastikan tidak ada orang. Tamara mengajak Amel untuk duduk di gazebo.
"Mel, sebenarnya mama sengaja menyuruh Sofi untuk ke kamar Raka mencari charger karena ingin bertanya dengan kamu," ungkap Tamara dengan suara pelan. Dia takut kalau nanti akan ada yang mendengarnya.
"Amel tahu Ma," ucap Amel sambil tersenyum. "Mama pasti mau tanya soal Raka dan Sofi, kan?" tebak Amel.
Amel memang mulai curiga saat ibu Raka menyuruh Sofi untuk mengambil charger di kamar Raka, padahal Amel tahu, kalau di ruang keluarg mereka selalu menyimpan powerbank dan charger cadangan.
Amel sebenarnya sudah curiga, saat ibu Raka membahas wanita lain di depan Sofi, padahal Amel tahu, kalau ibu Raka sangat ingin menjadikan Sofi sebagai menantunya, jadi Amel menduga kalau ibu Raka senagja mengatakan itu untuk melihat reaksi dari Sofi.
Amel juga menduga kalau Raka pasti belum menceritakan mengenai hubungannya dengan Sofi ada ibunya.
Tamara mendekatkan badannya pada Amel. Dia duduk tepat di sebelah Amel. "Iyaaa..Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka? Mama lihat Sofi juga terlihat lebih pendiam jika mama sedang membahas Raka. Begitupun Raka. Saat mama membahas mengenai Sofi, wajahnya terlihat dingin dan menyiratkan kesedihan," terang ibu Raka.
Amel menatap sekilas ke sekitarnya, lalu menunduk mendekatkan wajahnya pada ibu Raka. "Sebenarnya mereka sempat menjalin hubungan Ma, tapi akhir mereka putus," ungkap Amel dengan suara pelan.
Mata Tamara langsung berbinar sejurus itu wajahnya juga terlihat kecewa. "Benarkah?"
"Iya Ma," jawab Amel sambil mengangguk.
"Kenapa mereka bisa putus?" tanya Tamara dengan wajah penasaran.
"Amel juga tidak tahu Ma," jawab Amel sambil menggeleng. "Amel cuma sempat memergoki mereka berdua sedang berdebat Ma. Setelah itu mereka seperti orang asing tidak saling bertegus sapa," ungkap Amel.
Seketika wajah Tamawa menjadi kecewa. "Mel, tolong bantu mama untuk menyatukan mereka kembali," mohon Tamara penuh harap. "Mama sudah terlanjur suka dengan Sofi."
Ibu Raka memang dari awal sudah berniat untuk menjodohkan anaknya dengan Sofi. Dia tidak menyangka kalau anaknya bahkan sudah menjalin hubungan dengan calon menantu idamannya.
"Tapi bagaimana caranya Ma?"
"Nanti akan mama pikirkan caranya, yang terpenting kamu tolong bantu mama ya?" pinta Tamara dengan suara pelan.
"Baik Ma."
"Mama harap mereka bisa bersatu kembali, agar mama bisa segera menimang cucu," ucap Tamara sambil terkekeh.
"Iyaa Ma.. Bang Raka juga sudah cukup umur untuk menikah. Semoga mereka berjodoh."
"Iyaaa..Itu adalah harapan terbesar mama saat ini."
Bersambung...
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..