
Rendi mencibir. "Sofi, jika dia menikah denganmu, itu artinya aku adalah kakak iparnya yang sah, jadi dia harus menghormatiku lebih dulu."
Raka menoleh pada Sofi. "Sofi, tinggalkan kami sebentar. Aku ingin berbicara berdua saja dengan Kakakmu."
Sofi tidak langsung menjawab, melainkan dia menatap ragu pada Raka. "Sofi, menurutlah," lanjut Raka lagi ketika melihat Sofi belum juga beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah. Panggil aku kalau kalian sudah selesai bicara. Aku ke kamar dulu," pamit Sofi. .
Sebelum meninggalkan Raka dan Rendi, Sofi terlebih dahulu melayangkan tatapan kesal pada kakaknya yang tentu saja membuat Rendi mencibir adiknya.
"Ren, mungkin kau belum sepenuhnya percaya kalau aku mencintai adikmu, tapi perlu aku tegaskan sekali lagi kalau aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Amel. Perasaanku pada Amel sudah lama hilang. Kini, Amel hanya kuanggap sebagai adikku, sebagaimana selama ini dia menganggapku sebagai kakaknya."
Rendi masih diam sambil meneliti ekspresi wajah Raka guna mencari kebenaran dalam ucapannya. "Aku sungguh serius ingin menikahi Sofi. Aku harap kau memberikan restumu pada kami."
Rendi yang semula duduk bersandar seketika merubah duduknya menjadi tegak. "Raka, Sofi belum dewasa. Apa kau bisa menanganinya? Dia pecemburu berat sama sepertiku. Hatinya sangat mudah tersentuh, tapi dia juga sangat keras kepala." Rendi menjeda ucapannya, "apa kau yakin masih mau menikahinya?"
"Aku tahu. Aku akan tetap menikahinya dan akan menerima segala kekurangan dan kelebihannnya apapun itu," ucap Raka dengan mantap.
"Baiklah kalau begitu. Aku setuju kau menikah dengan adikku, tapi kau harus tahu kalau banyak yang menginginkan adikku selain dirimu, jadi jangan sampai kau menyia-nyiakan dia karena akan ada banyak pria yang siap membahagiankannya kalau kau mencampakkannya."
"Aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakannya," ujar Raka dengan tegas, "kapan aku bisa menemui orang tuamu?"
"Aku akan berbicara dengan orang tuaku terlebih dahulu. Aku akan mengabarimu besok. Menginaplah di sini, Amel sepertinya masih merindukanmu. Beberapa hari ini dia ingin mengunjungimu, tetapi tidak bisa karena dia sedang tidak enak badan."
Setelah selesai berbincang, Rendi pamit ke kamarnya, sementara Raka menghampiri Sofi ke kamarnya.
"Apa kau sudah selesai bicara dengan kak Rendi?" tanya Sofi setelah membuka pintu kamarnya ketika mendengar suara ketika pintu.
"Sudah. Dia sudah kembali ke kamarnya. Dia menyuruhku untuk menginap di sini," terang Raka.
Sofi tersenyum senang mendengar Raka akan menginap di apartemen kakaknya. Dia mengapit lengan Raka lalu berkata, "Kalau begitu, tidurlah di kamarku," gurau Sofi sambil melempar senyum menggoda pada Raka.
"Jangan macam-macam. Lebih baik kau tidur, aku akan ke kamar tamu."
"Memangnya aku kenapa? Aku kan hanya menawari untuk tidur di kamarku," ujar Sofi enteng, "lagi pula, kau sudah pernah tidur di kamarku waktu itu. Aku juga sudah pernah tidur di kamarmu. Memangnya ada yang salah? Apa kau tidak mau tidur denganku, kau tidak sayang denganku ya?" Sofi bertanya dengan menampilkan wajah polosnya.
Raka menatap Sofi sejenak lalu menghela napas halusnya. Dia tahu kalau Sofi sengaja ingin menggodanya. "Jangan memancingku Sofi atau kau akan menyesalinya nanti." Raka kembali menatap Sofi yang masih menempelkan tangannya pada lengan kirinya.
Sofi tersenyum lebar melihat wajah serius Raka. "Kau marah padaku?" Sofi berpura-pura sedih, "jangan-jangan benar kau tidak sayang padaku."
Raka melepas tangan Sofi dari lengannya, menariknya masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya. "Kenapa pintunya kau tutup?" Wajah Sofi menegang saat Raka merapatkan tubuhnya ke tembok.
"Bukankah kau menyuruhku untuk tidur di sini?" Raka mengurung Sofi dengan kedua tangannya yang bertumpu pada tembok.
Sofi menelan salivanya saat Raka menatap wajahnya dari dekat. "Ak-aku...." Sofi memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan mata Raka, "aku.. aku hanya bercanda," imbuh Sofi.
Raka meraih dagu Sofi lalu memutar wajahnya agar bertatapan dengannya. "Sofi, aku adalah pria normal. Jangan sekali-kali kau memancingku. Aku bisa saja lepas kendali kalau kau terus menggodaku." Sofi bisa merasakan hembusan napas Raka menerpa wajahnya.
__ADS_1
Sofi memberanikan diri menatap mata Raka, meskipun jantungnya berdebar kencang. "Kenapa kau serius sekali. Aku kan hanya bercanda," ujar Sofi dengan suara lirih.
"Kakakmu sudah menyetujui hubungan kita. Aku akan langsung menemui orang tuamu, setelah dapat kabar dari Rendi." Raka mendekatkan mulutnya ke telinga Sofi lalu berbisik, "bersiaplah, aku akan menikahimu dalam waktu dekat. Aku tidak akan melepaskanmu setelah kau resmi menjadi istriku." Setelah berbisik, Raka kembali menatap dalam bola mata Sofi.
Seketika wajah Sofi memucat. Dia langsung mendorong tubuh Raka agar menjauh darinya. "Aku akan mengantarmu ke kamar tamu." Dengan gerakan cepat, Sofi membuka pintu. Dia sudah tidak bisa mengendalikan laju detak jantungnya akibat perkataan Raka.
Senyum tipis tersungging di bibir Raka ketika melihat Sofi sudah keluar dari kamar dengan wajah memerah. Dia kemudian ikut menyusul Sofi ke kamar tamu.
"Masuklah." Sofi membuka pintu lalu masuk bersama Raka. Dia mengambil selimut dan bantal dalam lemari setelah itu di letakkan di atas tempat tidur.
"Apa kau ingin berganti pakaian?" tanya Sofi sambil menghampiri Raka yang sedang berdiri sambil menatapnya.
"Tidak," jawab Raka.
"Ya sudah, aku kembali ke kamarku dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Raka, Sofi berjalan ke arah pintu, tapi sebelum sempat keluar, Raka sudah menghadangnya dan menutup pintunya.
"Kau mau ke mana?" tanya Raka dengan alis terangkat sebelah.
Sofi menatap Raka dengan berani. "Raka, minggir. Aku mau keluar."
"Kau panggil aku apa tadi? Raka??" tanya Raka dengan wajah tidak senang.
"Memangnya apa yang salah?"
Raka menarik tangan Sofi lalu menyudutkannya di belakang pintu. "Jadi, menurutmu tidak ada yang salah?" Raka mendekatkan wajahnya pada Sofi sambil menatap tajam padanya.
Raka meraih dagu Sofi lalu menatapnya dengan tatapan menusuk. "Sofi, aku lebih tua darimu dan aku juga akan menjadi calon suamimu. Ubah panggilanmu padaku mulai sekarang. Ini Indonesia, bukan di Jerman, di sini, kau tidak boleh memanggil nama kepada orang yang lebih tua darimu, terlebih pada orang yang akan menjadi suamimu nanti. Panggil aku dengan benar kalau tidak mau mendapatkan hukuman dariku," ujar Raka dengan wajah tegas.
Sofi menelan salivanya dengan susah payah. Tatapan Raka membuat kakinya gemetar. "Ak-aku, tapi aku sudah terbiasa memanggilmu seperti itu," ujar Sofi dengan gugup.
"Kau harus mengubahnya mulai sekarang," ujar Raka sambil melepaskan jarinya dari dagu Sofi.
"Jadi, aku harus memanggilmu apa?" tanya Sofi dengan suara rendah sambil menatap ke bawah.
"Sayang," jawab Raka dengan enteng.
Mendengar itu, Sofi langsung mengangkat kepalanya dengan mata yang membesar. "Sayang?" ulang Sofi dengan wajah terkejut.
"Kenapa? Tidak suka?" tanya Raka dengan wajah tidak senang.
"Apa tidak ada panggilan yang lain?"
Raka nampak berpikir sejenak. "Honey," jawab Raka dengan raut wajah tanpa beban.
"Bagaimana kalau aku panggil kakak saja?" usul Sofi.
Raka langsung menampilkan wajah datarnya. "Aku bukan kakakmu."
__ADS_1
"Kalau abang?" tanya Sofi lagi.
"Kau bukan adikku."
Sofi menghembuskan napas pelan. "Bagaimana kalau setelah kita menikah, aku baru memanggil sayang. Aku harus menyesuaikan terlebih dahulu dengan panggilan itu," usul Sofi.
"Aku tidak mau," tolak Raka dengan tegas.
"Aku mohon Raka. Pelan-pelan aku akan membiasakan diri memanggilmu sayang, tapi untuk saat ini biarkan aku memanggilmu kakak, bagaimana? Heemmm?" bujuk Sofi sambil menampilkan wajah memohon.
Raka yang tidak tahan melihat wajah Sofi yang menggemaskan, akhirnya dia luluh juga. "Baiklah, tapi kau harus pelan-pelan merubah panggilanmu."
"Iyaaa, Sayang," jawab Sofi cepat sambil tersenyum senang, "kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu."
Ketika Sofi akan berbalik, Raka menahan tangannya. "Tunggu Sayang. Jangan pergi dulu, aku masih merindukanmu."
Sofi berbalik dan melihat Raka sedang menatapnya dengan lekat. Sejujurnya, Sofi juga sangat merindukan Raka karena mereka sudah lama tidak pernah bertemu dan mereka juga tidak saling bertukar kabar.
"Aku juga merindukanmu," ucap Sofi dengan tatapan penuh rindu.
Tanpa menunggu lama, Raka menarik Sofi dalam pelukannya. Saat berpelukan, mereka bisa merasakan jantung mereka bedua berdegup dengan kencang.
"Tidurlah, ini sudah malam," ucap Raka setelah melepaskan pelukannya.
Sofi tersenyum sambil mengangguk. "Iyaa, selamat malam, Sayang." Sofi berjinjit dan mengecup bibir Raka sebelum keluar dari kamar.
Tubuh Raka berdesir saat bibir mereka bersentuhan tadi. "Tunggu dulu." Raka kembali menahan tangan Sofi saat sudah meraih handle pintu.
Sofi menoleh. "Ada apa?" tanya Sofi dengan wajah bingung.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja setelah kau menggodaku, Sayang." Sofi tersentak saat Raka sudah mengungkungnya di tembok belakang pintu.
"Aku tidak menggodamu," ucap Sofi dengan wajah polosnya.
"Kau seenaknya menciumku dan setelah itu kau mau pergi begitu saja." Raka mendekatkan wajahnya pada Sofi hingga menyisakan sedikit jarak di antara mereka, "sedari tadi, aku sudah berusaha keras menahan diriku, tapi kau malah memancingku. Kau harus bertanggung jawab dulu sebelum pergi."
Detik kemudian bibir mereka berdua sudah menempel. Raka memegang wajah Sofi dan melu-mat bibirnya dengan lembut. Sofi terlihat tidak menolak dan justru membalas ciuman Raka sama lembutnya.
Mereka berdua nampak memejamkan mata, saling melu-mat dan mencecap. Saat Sofi mulai terbuai dengan permainan bibirnya, tangan Raka terulur mengunci pintu. Setelah itu tangan kiri Raka melingkar di pinggang Sofi dan merepatkan tubuh mereka berdua.
Ciuman lembut Raka, membuat Sofi melayang. Semakin lama, ciuman mereka semakin dalam dan ketat. Hembusan napas mereka pun mulai terasa panas, Raka segera menghentikan pagutannya.
"Maaf Sofi, kita harus berhenti. Aku takut tidak bisa menahan diri kalau kita masih meneruskannya." Sofi menunduk dengan wajah memerah karena malu.
Raka menunduk lalu mencium pucuk kepala Sofi dengan lembut. "Kembalilah ke kamarmu, sudah malam."
Sofi mengangguk. "Aku ke kamar dulu." Raka mengangguk.
__ADS_1
Bersambung.....