Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Berakhir Sudah


__ADS_3

Sofi duduk menghadap pada Raka. “Raka, maafkan atas ucapanku yang kemarin. Aku hanya emosi karena kau terus memojokkan Mike. Kau hanya salah paham,” ucap Sofi ketika Kenan sudah masuk ke dalam kamarnya.


Raka masih tampak acuh. Dia seperti enggan mendengar penjelasan dari Sofi. “Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku berbicara seperti itu padamu. Tolong maafkaan aku Raka. Aku janji tidak akan seperti itu lagi,” sambung Sofi lagi saat melihat Raka masih diam.


Raka menoleh pada Sofi. “Aku sudah memaafkanmu, tetapi maaf Sofi, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi,” ucap Raka dengan wajah dinginnya.


Sofi langsung mematung setelah mendengar perkataan Raka. Dia tidak menyangka kalau Raka benar-benar marah padanya. Kata-kata yang semula ingin disampaikan tertahan di tenggorokannya. Sofi berusaha keras mengeluarkan suaranya. Air matanya mulai menggenang, dan sebentar lagi akan keluar.


“Raka, tolong dengarkan penjelasanku dulu!” ucap Sofi dengan suara bergetar.


Raka memalingkan wajahnya ketika melihat Sofi yang tampak sedang menahan air matanya. Dia tidak sanggup melihat Sofi menangis. Dia takut akan luluh nantinya.


“Jelaskanlah jika itu membuatmu lega, tetapi keputusanku tetap tidak akan berubah Sof.”


Sofi memejamkan matanya sehingga air matanya langsung jatuh ke pipinya. “Raka, tidak bisakah kita perbaiki hubungan kita? Aku bisa jelaskan semua kesalahpahaman kemarin.”


“Sofi, ini bukan tentang kesalahpahaman kemarin. Masalahnya terletak padamu. Sepertinya kau belum sepenuhnya bisa lepas dari masalalumu. Aku rasa kau juga tidak tahu, untuk siapa hatimu kau berikan. Mungkin saja perasaanmu padaku bukan perasaan cinta.” Raka memadang wajah Sofi dengan wajah serius.


“Aku mencintaimu Raka. Perasaanku pada Willy sudah lama hilang, yang tersisa hanyalah perasaan sakit karena merasa dikhianati. Aku sudah lama putus dengannya. Hanya saja dia belum bisa menerima keputusanku sehingga memutuskan untuk menyusulku di sini,” Sofi berusaha untuk menahan tangisnya.


“Kalau masalah Mike, aku benar-benar tidak memiliki perasaan apapun padanya. Kami bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Dia selalu melindungiku dan menjagaku. Aku marah kemarin bukan karena aku mencintai Mike, Aku marah karena aku menjelek-jelekkan dia. Aku rasa kau akan melakukan hal yang sama kalau aku menjelekkan kak Amel di depanmu apalagi kalau aku menuduhnya dengan tuduhan yang salah.”


Raka terdiam, dia sedang mencerna semua ucapan Sofi.


“Melihatmu bersikeras mengakhiri hubungan kita, aku mulai berpikiran lain. Jangan-jangan justru kau yang tidak mencintaiku, jadi kau menjadikan masalah kemarin untuk lepas dariku,” ucap Sofi dengan wajah piasnya. “Apa kau berencana untuk kembali lagi pada mantan pacarmu?”


Raka menatap heran pada Sofi. Dia tidak mengerti jalan pikiran Sofi saat ini. Kenapa dia justru membawa-bawa mantan pacarnya yang tidak ada hubungannya dengan masalah mereka.


“Sofi, jangan mengambil kesimpulan sendiri tanpa tahu kebenarannya.”


Sofi menaikkan sudut bibirnya. “Bukankah kau juga seperti itu? Berspekulasi sendiri tanpa tahu kebenaran yang sesunggunya!” ujar Sofi dingin. Hatinya sakit ketika dia membayangkan kemungkinan Raka masih mencintai mantan pacarnya.

__ADS_1


“Nita tidak ada hubungannya dengan keputusanku Sof. Jangan menyeretnya ke dalam permasalahan kita!”


“Kau begitu membelanya. Aku rasa dugaanku memang benar.” Sofi berusaha menguasi perasaannya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Raka, aku tanya sekali lagi, apa kau sungguh ingin mengakhiri hubungan kita?”


“Jawabanku tetap sama. Kau sendiri yang bilang tidak akan pernah mau menjauhi Mike. Jadi, biarkan aku yang pergi. Aku tidak suka kalau kekasihku terlalu dekat dengan lawan jenisnya.”


“Tapi, aku sungguh tidak memiliki hubungan apapun denganya, Raka.“


“Bukankah sudah aku bilang, bukan hanya itu alasannya. Kau belum sepenuhnya melupakan masalalumu, dan, yang terpenting kau tidak mencintaiku.”


Raka belum yakin kalau Sofi mencintainya. Setelah kemarin merenungkan semuanya. Dia merasa hubungannya dengan Sofi tidak akan berhasil, itulah sebabnya dia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan Sofi lagi. Dia tidak ingin menjalani hubungan yang nantinya akan berakhir sia-sia.


“Aku mencintaimu Raka. Kenapa kau tidak percaya juga denganku?”


“Karena sikapmu tidak mencerminkan kalau kau mencintaiku.”


Sofi tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan Raka. Sepertinya Raka tidak ingin memperbaiki hubungan mereka.


Raka mengangkat kepalanya yang sempat menatap ke bawah. “Menikahlah denganku. Hanya itu caranya agar aku percaya pada perkataanmu.”


Sofi tampak berpikir. Dia memang ingin menikah tetapi tidak untuk sekarang. Dia tidak ingin menikah terlalu cepat. Dia masih ingin mengejar impiannya.


“Aku belum mau terikat hubungan pernikahan Raka. Aku masih muda. Aku masih ingin menimati masa mudaku dulu.”


Raka berdiri lalu menatap Sofi. “Kalau begitu lupakan saja. Aku tidak akan memaksamu Sofi,” ucap Raka tenang, “apa masih ada lagi yang ingin kau sampaikan?”


Ponsel Sofi tiba-tiba berbunyi. “Tunggu sebentar,” Sofi mengangkat telponya di depan Raka. “Iyaa, kau di mana?”


“Aku masih di vila.”


“Baiklah, tunggu di situ. Aku akan segera ke sana.” Sofi mengakhiri sambungan telponnya lalu menatap ragu pada Raka. Dia bingung harus memberitahu Raka atau tidak, “Raka, bisakah kita bicara nanti lagi. Aku... Aku harus pergi,” ucap Sofi terbata-bata dengan suara pelan.

__ADS_1


“Apa kau akan bertemu dengan laki-laki kemarin?”


Raka hanya menampilkan wajah datarnya saja. Dia bisa menebak kalau yang menelpon Sofi pasti laki-laki yang bertemu dengannya di pantai. Dia sempat mendengar kemarin kalau mereka akan bertemu lagi.


Sofi menenunduk dan meremas tangannya. “Iyaa. Aku sudah berjanji padanya untuk bertemu lagi. Aku tidak enak jika membatalkan tiba-tiba. Aku akan bertemu dengannya sebentar Raka.”


Raka tampak menatap Sofi cukup lama, seolah sedang berpikir keras. “Pergilah. Aku anggap masalah kita selesai sampai di sini. Untuk kedepannya tidak ada yang perlu kita bahas lagi.” Raka berdiri dan berencana melangkah meninggalkan Sofi, tapi dihentikan oleh Sofi.


“Raka tunggu dulu. Aku hanya akan menjelaskan pada Mike kalau aku sudah memiliki kekasih. Dia pasti mengerti karena dia temanku.”


Langkah Raka terhenti lalu berkata, “Sofi apa kau tidak keberatan jika aku berdekatan dengan Nita?”


Sofi terdiam dengan wajah bingung.


“Jika kau memang tidak keberatan dengan hal itu, maka baiklah. Kita jalani saja hubungan kita seperti itu. Hubungan yang saling menyakiti satu sama lain. Aku lelaki, bisa dengan mudahnya membuang perasaanku dan mementingkan egoku, berbeda denganmu. Walaupun pada akhirnya kita berdua akan terluka, aku akan melakukannya jika itu maumu.”


“Tapi Mike berbeda dengan Nita. Dia adalah mantan pacarmu. Dia masih mengharapkanmu sampai sekarang.”


Raka menoleh sedikit pada Sofi lalu berkata dengan dingin. “Mike juga menyukaimu, lalu di mana letak perbedaanya? Apa hanya karena kalian tidak pernah menjalin hubungan maka kau bisa mengatakan seperti itu?”


“Mike tidak menyukaiku Raka. Sudah kubilang dia hanya sahabatku, berbeda dengan Nita yang jelas-jelas masih mencintaimu dan masih berharap bisa menjalin hubungan lagi denganmu.”


Raka terlihat menyunggingkan sudut bibirnya. “Bukankah Willy juga masih mencintaimu dan masih menginginkanmu?”


Ponsel Sofi berdering lagi. Sofi bergegas mengangkatnya. “Tunggu Sebentar Mike, aku akan segera ke sana.” Sofi langsung mematikan telponnya setelah selesai berbicara dengab Mike.


Sofi berdiri lalu berkata, “Raka, aku harus pergi. Kita bicara lagi nanti.”


“Sudahlah Sofi, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Pergilah. Mulai saat ini, hubungan kita berakhir sampai di sini.”


Raka berjalan masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Sofi dan Sofi hanya menatap punggung Raka hingga menghilang lalu pergi meninggalkan vila tersebut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2