
Setelah berpikir beberapa saat, Amel akhirnya berjalan dan duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum ke arah Rendi. "Buka baju Kakak, Amel bantu oleskan."
Rendi bersorak senang dalam hati saat mendengar Amel mau membantunya. Dia kemudoam melepaskan baju dengan sangat pelan. Luka di tubuhnya memang terasa sakit jika dia banyak bergerak. Rendi sengaja memanfaat itu supaya bisa lebih dekat dengan Amel.
Setelah bajunya terlepas, Rendi kemudian duduk di hadapanya. "Kenapa kamu diam saja? Katanya mau bantu aku oleskan obat?" Rendi memandang Amel yang terlihat menundukkan kepalanya sejak tadi.
Amel mengangkat kepalanya setelah terdiam beberapa saat. "Maaf Kak, tadi Amel kira kakak belum selesai melepas bajunya." Amel mencari alasan, padahal dia sedang menahan gugup karena jantungnya terus berdebar sehingga membuatnya sedikit salah tingkah.
Amel mengoleskan obatnya ke tubuh Rendi dengan sangay hati-hati. Terdapat beberapa luka lebam yang mulai berwarna biru keunguan dan beberapa bagian terlihat bengkak. Sesekali Rendi meringis, menahan sakit saat Amel tidak sengaja menyentuh lukanya.
"Kakak harus banyak istirahat. Lebih baik rebahan di kamar. Kangan banyak melakukan aktifitas." Amel menasehati Rendi sambil terus mengoleskan obatnya.
"Aku tidak suka berbaring terlalu lama." Rendi terus menatap Amel yang terlihat sedang fokus mengoleskan obatnya.
"Kakak harus tahan dulu. Bagaimana juga luka lebam tidak mungkin cepat hilang. Butuh setidaknya seminggu agar benar-benar hilang. Kakak nggak mungkin ke sekolah dengan keadaan seperti ini."
"Aku cuma mau ijin 3 hari. Tidak lebih lama karena sebentar lagi ujian akhir sekolah. Aku tidak mau ketinggalan banyak pelajaran.
"Satu sekolah akan heboh melihat keadaan Kakak seperti ini, apalagi kakak terkenal murid paling cerdas dan yang tidak pernah membuat masalah di sekolah. Kalau Kakak tiba-tiba datang ke sekolah dengan wajah seperti ini, fans Kakak akan histeris melihatnya. Giru-guru juga pasti heboh," jelas Amel panjang lebar.
"Aku tidak peduli dengan pandangan orang lain. Aku tidak hidup untuk menyenangkan mereka. Yang terpenting aku tidak merugikan mereka," kata Rendi acuh tak acuh.
Amel berhenti sejenak lalu menghela napas. "Tapi tetap saja kakak tidak boleh begitu. bagaimapun, jangan sampai ada yang tahu kalau Kakak berkelahi dengan Raka, walaupun Kakak tidak peduli dengan pandangan orang lain, tapi setidaknya Kakak harus sedikit merubah sikap cuek dan dingin Kakak. "
Amel merubah posisi kepalanya bertatap langsung dengan Rendi dan mencoba mengoleskan ke wajahnya dengan jarak yang aman pastinya. Dia tidak mau kejadian sebelumnya terjadi lagi.
"Apa yang salah dengan sikap aku?" Rendi menaikkan satu alisnya sambil terus menatap Amel.
"Ng-nggak... [ggak ada yang salah. Hanya saja, Kakak terlihat sulit dijangkau sehingga membuat orang lain takut mendekati Kakak," ujar Amel sedikit tegagap.
"Apa kau juga takut padaku?" Rendi menatap intens Amel.
"Tentu saja, bukan cuma aku, tapi hampir semua orang sekolah. Padahal, mereka ingin sekali bisa dekat dengan Kakak. Apa kakak tidak tahu? Hampir seluruh murid cewek menyukai Kakak. Bahkan mereka mempunyai club tersendiri. Kakak sangat populer di sekolah," jelas Amel panjang lebar.
__ADS_1
"Darimana kau tahu? Aku bahkan tidak tahu."
"Tentu saja tahu. Setiap hari mereka selalu membicarakan Kakak. Kakak terlalu cuek dan tidak peduli dengan orang sekitar, makanya kakak tidak tahu."
"Itu karena aku tidak mau membuang waktuku dengan hal yang tidak penting. Aku tidak mau mereka salah paham terhadapku kalau aku merespon mereka. Apalagi, aku sudah menyukai orang lain."
Amel nampak terkejut dan tiba-tiba berhenti dan menatap wajah Rendi. "Jadi kakak sudah menyukai orang lain?" Ada sedikit rasa tidak nyaman di hati Amel saat mendengar perkataan Rendi.
"Iyaa, aku sudah lama menyukainya, tapi aku tidak tahu bagaimana isi hatinya. Aku takut dia tidak menyukaiku."
Amel berusaha menguasai dirinya dan terlihat tetap tenang meskipun hatinya kecewa. "Kenapa Kakak tidak mencoba mengatakannya?" Amel berusaha untuk tetap bersikap biasa.
Rendi mengalihkan pandangannya ke samping. "Aku takut dia akan menolakku nanti."
Apa dia bercanda? Cewek gila mana yang akan menolaknya.
"Apakah cewek itu punya kelainan?" Amel sedikit tidak percaya kalau ada cewek yang bisa membuat Rendi tidak memikiki kepercayaan diri sama sekali. Dia tidak habis pikir cewek mana yang menyia-nyiakan seorang Rendi.
Rendi langsung menatap Amel dengan sedikit terkejut. "Kenapa kau bilang seperti itu?"
"Amel hanya ingin tahu cewek seperti apa yang tidak menyukai Kakak, apalagi sampai menolak Kakak."
"Di mataku dia adalah cewek yang sempurna." Rendi mengarahkan pandangan matanya sedikit ke Amel. "Apa kau mau disebut punya kelainan juga kalau kau menolakku." Rendi menatap Amel tanpa berkedip.
"Tentu saja tidak mau. Aku kan bukan cewek itu."
Amel memasang wajah tidak suka saat dia disamakan dengan cewek tersebut. Intinya dia cemburu. Ada rasa sakit saat mendengar perkataan Rendi tentang cewek itu.
Wajah Rendi terlihat lesu. "Aku hanya tidak yakin dengan perasaannya. Dia pernah bilang kalau dia menyukai seseorang."
"Apakah Kakak tahu siapa orangnya?" tanya Amel penasaran.
"Aku tidak tahu. Aku tidak punya keberanian untuk bertanya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku takut akan kecewa, apalagi ada cowok lain juga yang menyukainya, saingan aku cukup berat."
"Apakah dia lebih tampan dari Kakak?" tanya Amel penasaran.
Apakah barusan dia memujiku tampan?
"Aku tidak tahu karena aku tidak pernah menilai seseorang dari wajahnya. Yang pasti dia adalah laki-laki yang paling dekat dengannya. Mereka selalu bersama dan sangat akrab."
"Beruntung sekali cewek itu disukai oleh dua cowok sekaligus," ucap Amel mencoba mengalihkan pandangannya.
Rendi menatap Amel dengan penuh arti. "Justru orang yang bisa mendapatkannya lah yang beruntung."
Amel merasa seperti orang bodoh saat ini, berpura-pura tegar padahal hatinya hancur berkeping-keping. "Apa Kakak sangat menyukai orang itu?" tanya Amel dengan suara agak bergetar.
"Iyaa, bukan hanya sekedar menyukainya, tapi aku sangat mencintai dia. Aku bahkan tidak bisa membuka hatiku lagi untuk orang lain lagi." Rendi berusaha mengungkapkan isi hatinya, berharap Amel mengetahui kalau dialah orang yang dimaksud Rendi.
Saat mendengar pengakuan Rendi, Amel merasa seperti separuh jiwanya hilang. Pikiranya kacau dan wajahnya pucat seketika.
Baru saja dia ingin berjuang mendekati Rendi, tapi dia sudah dihadapakan pada kenyataan bahwa Rendi sudah menyukai orang lain dan tidak mau membuka hatinya untuk siapapun. Pupus sudah harapannya untuk mendekati Rendi. Kesempatannya sudah hilang.
Mungkin sudah saatnya aku harus melupakanmu, tapi aku tidak yakin, apa semudah itu aku bisa melupakanmu? Apalagi kau adalah cinta pertamaku.
Rendi yang melihat wajah Amel yang pucat lalu bertanya, "Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit?" Rendi memegang dahi Amel, dia merasa khawatir.
Amel berusaha menguasai dirinya dan dia berusaha tetap tenang, walaupun matanya sudah mulai berkaca-kaca. Mungkin sebentar lagi akan keluar air matanya. dia berusaha mengalihkan pandangannya,
"Nggak Kak, Amel baik-baik aja, cuma sedikit pusing," ucap Amel bohong. Dia kembali mengoleskan obat ke wajah Rendi.
Rendi menangkap tangan Amel yang sedang berada di wajahnya. "Kalau kamu pusing, lebih baik kamu istirahat sekarang. Aku bisa oleskan sendiri, lebih baik kau tiduran di sini." Rendi menatap khawatir kepada Amel yang sedang menghindari tatapannya.
Bersambung....
__ADS_1