Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidak Mau Jadi Tameng


__ADS_3

Mereka setuju lalu berjalan ke ruang makan. Rendi duduk diapit oleh Amel dan Friska, sementara Lilian dan Sofi ada di sebrang mereka. Suasana menjadi hening, tidak ada yang bersuara.


Sofi melirik kakaknya yang diapit oleh 2 gadis cantik, seperti sedang menonton film cinta segitiga. Dia tertawa kecil saat membayangkan akan terjadi perang dingin di antara mereka.


"Amel makan yang banyak ya." Kemudian menoleh pada Friska, "kamu juga Friska makan yang banyak."


"Iya, Tante," jawab Friska dan Amel bersamaan


Sementara Rendi terlihat cuek, dia makan tanpa memperdulikan yang lain.


Friska menoleh sambil menyendokkan beberapa lauk ke piring Rendi. "Kamu harus makan yang banyak biar cepet sembuh."


Rendi melirik sekilas pada Friska. "Aku bisa ambil sendiri," jawab Rendi ketus, dia kemudian melanjutkan makannya.


Amel hanya melirik sekilas dan makan dengan sangat pelan. Rasanya sulit untuk menelan makanannya saat ini.


Mereka semua makan dalam diam, sampai ibu Rendi bersuara, "Mama uda selesai, kalian lanjutin makannya. Mama mau ke dapur dulu."


Yang lainnya melanjutkan makan malamnya, sementara Sofi nampak mencuri pandang kepada ketiga orang yang ada di depannya. Suasana berubah mencekam dan dia tidak berani bersuara.


Saat Rendi selesai makan, Friska buru-buru mengambil minum dan menyodorkan ke Rendi. Rendi hanya melirik sekilas pada Friska tanpa ada niat untuk mengambil air minum itu.


"Apa kamu sudah nggak mau menerima air minum dari aku lagi, Ren?" tanya Friska dengan mata berkaca-kaca.


Rendi masih bungkam. Beberapa detik kemudian dengan wajah dingin dia mengambil minum dari tangan Friska dan menghabiskan air minun lalu pergi meninggal meja makan. Friska kemudian menyusul Rendi.


Amel nampak hanya diam selama makan malam itu. Ada perasaan tidak nyaman saat melihat perhatian Friska kepada Rendi, apalagi saat Rendi mengambil minum dari tangan Friska.


Melihat wajah sendu Amel, Sofi merasa iba. "Kak Amel nggak apa-apa, 'kan?" tanya Sofi dengan wajah khawatir. Setidaknya tahu bagaimana perasaan Amel saat ini.


Amel tersenyum paksa. "Kak Amel nggak apa-apa." Amel berusaha menutupi kesedihannya.


Setelah selesai makan, dia dan Sofi berjalan ke ruangan keluarga lagi dan di sana sudah ada Rendi dan Friska yang sedang duduk bersebelahan sambil menonton televisi. Sofi dan Amel kemudian duduk di hadapan mereka.

__ADS_1


"Kenapa wajah kamu jadi seperti ini, Ren?"


Friska memegang wajah Rendi, selama 2 detik lalu di tepis oleh Rendi. Amel langsung terbakar api cemburu saat melihat Friska memegang wajah Rendi.


"Bukan urusan kamu," jawab Rendi ketus.


"Aku bantu kasih obat ya?" Friska berusaha untuk bersikap lembut walau Rendi menjawabnya dengan ketus.


"Nggak perlu."


"Kamu harus nurut Ren supaya lukanya cepat sembuh." Friska berlajan meninggalkan mereka lalu kembali lagi membawa obat oles.


Amel dan Sofi hanya memandang mereka dalam diam dan tidak ada niat ikut campur.


Friska mulai membuka tutup obat lalu mau mengoleskan ke wajah Rendi, tapi tangannya ditahan oleh Rendi.


"Aku bisa oles sendiri," ucap Rendi sambil menatap tidak suka kepada Friska.


"Kamu kenapa sih Ren bersikap kayak gini? Aku cuma mau bantu kamu ngolesin obat." Mata Friska sudah berkaca-kaca dan sedikit lagi hampir menangis.


Friska tertawa sinis. "Pacar? Dia maksud kamu?" Friska menunjuk Amel dengan wajah mengejek, "kamu kira aku percaya kalau dia itu pacar kamu?"


"Apa maksud kamu?" tanya Rendi.


"Aku tahu kamu nggak serius sama dia Ren. Kamu nggak mungkin suka sama dia."


Amel jelas melihat Friska meliriknya dengan tatapan meremehkan, tetapi Amel memilih untuk tidak memperdulikannya. Dia hanya berusaha meredam kemarahannya yang mulai terpancing lagi setelah mendengar nada sinis dan merendahkan dari Friska.


"Kamu salah. Aku justru aku sangat mencintai dia."


Friska tertawa kecil. "Kau jangan bercanda Rendi. Dia itu dari kalangan bawah, nggak selevel sama kamu dan dia nggak pantas buat kamu," ucap Friska dengan wajah angkuh, "mungkin aja dia deketin kamu cuma untuk memanfaankanmu. Cewek kayak dia itu cuma mau harta kamu aja. orang seperti dia itu cuma mau jalan pintas biar bisa mengangkat derajat keluarganya yang miskin."


Dada Amel terbakar emosi setelah mendengar perkataan Friska yang menghina dan keluarganya. Ingin rasanya dia merobek mulut Friska agar berhenti berbicara buruk tentangnya.

__ADS_1


Rendi terlihat mulai marah. "Aku nggam pernah memandang seseorang dari statusnya. Kamu jangan keterlaluan Friska, Amel nggak seperti yang kamu tuduhkan."


"Kamu banyak berubah Ren. Apa dia yang membuat kamu kayak gini? Sepertinya dia membawa pengaruh buruk buat kamu. Lebih baik kau jauhi dia."


Rendi mencoba menekan amarahnya agae tidak lepas kendali. "Kamu nggam berhak mengatur hidup aku. Aku bebas nentuin siapa yang pantas untuk aku."


"Kamu bahkan lebih membela dia dari pada aku yang sudah lama mengenalmu. Apa dia sudah ngerayu kamu? Apa yang sudah dia berikan sama kamu sampai kamu bersikap kayak gini sama aku? Jangan-jangan dia uda ngasih....."


"Cukup! Aku memang miskin, tapi kamu nggak berhak menghina aku seenaknya. tuduhan kamu sama aku itu semuanya tidak benar. Aku nggam pernah ngerayu Rendi, apalagi mau mengamb hartanya." Amel bangun menatap marah kepada Friska. "Kamu nggak perlu ngehina aku seperti itu cuma untuk ngejauhin Rendi dari aku. Aku juga tahu diri. Aku bakal jauhi Rendi supaya kamu puas." Amel berlari meninggalkan rumah Rendi.


Rendi yang kaget, segera bangun dari duduknya. "Kau sudah kelewatan Friska. Kamu nggak berhak ikut campur urusanku sama Amel " Rendi menatap marah kepada Friska.


"Rendi tunggu!" teriak Friska saat melihat Rendi mengejar Amel. Sofi hanya diam menonton perdebatan dengan wajah lesu.


Diluar rumah Rendi berusaha untuk mengejar Amel. "Mel, tunggu!" teriak Rendi sambil menyusul Amel yang sudah keluar dari halaman rumahnya.


Amel terus berjalan dan tidak menghiraukan teriakan dari Rendi. "Aku bilang tunggu! Kamu nggak bisa pergi begitu saja." Rendi menggapai tangan Amel sehingga langkah Amel terhenti.


"Cukup Kak. Aku nggak mau berurusan dengan kalian lagi." Amel menatap Rendi dengan mata yang sudah berkaca-caca.


"Kamu harus ikut aku. kamu nggak boleh pergi!" Rendi menarik paksa tangan Amel menuju rumahnya lagi.


Rendi terus berjalan masuk ke dalam rumahnya dan tidak memperdulikan tatapan tidak suka dari Friska. "Rendi untuk apa kau bawa dia lagi. Dia sudah bilang mau menjauhi kamu, biarin aja dia pergi," teriak Friska saat melihat Rendi terus berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Rendi membawa Amel ke dalam kamarnya. "Lepas Kak, aku mau pulang!" Amel berusaha melepaskan tangan Rendi dari pergelangan tangannya.


"Kamu tidak bisa pergi begitu aja setelah bilang mau menjauhiku." Rendi tetap tidak mau melepaskan tangan Amel


"Ada baiknya Kakak selesaikan sendiri masalah Kakak dengan Friksa. Jangan libatkan aku lagi. Aku nggak mau ikut campur masalah kalian," ujar Amel dingin.


Sekuat tenaga dia menahan supaya air matanya tidak keluar.


"Apa maksudmu? Rendi menatap Amel dengan heran.

__ADS_1


"Aku tahu, Kakak ngerti apa maksud aku. Aku nggak mau jadi tameng kakak lagi." Amel berjalan cepat mengambil tasnya lalu berjalan keluar.


Bersambung....


__ADS_2