
Wajah Amel bersemu merah, perkataan Rendi berhasil membuatnya malu. "Berhenti bercanda, Kak," ucap Amel dengan wajah merona.
Rendi menatap mata Amel dari dekat. "Kenapa? Apa kau tidak ingin mempunyai anak denganku? Itu adalah cara paling cepat untuk mendapatkan restu dari orang tuaku. Ibuku sangat menyukai anak kecil. Dia tidak mungkin tega menelantarkan cucunya sendiri."
"Kakaaaak!" teriak Amel dengan wajah malu.
Rendi menutup telinga sebelah kanannya yang berdekatan dengan Amel. "Kenapa kau berteriak kencang sekali sayang? Apa kau ingin membuat calon suamimu tuli?" kata Rendi dengan wajah polos.
Amel menatap tajam pada Rendi. "Jangan bicara sembarang, Kak. Orang tuamu bisa pingsan kalau itu benar-benar terjadi," oceh Amel dengan wajah cemberut.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kita harus mencobanya dulu. Aku yakin akan berhasil."
Rendi sengaja menggoda Amel karena menurutnya wajah Amel terlihat imut saat dia sedang kesal. Wajah malu-malunya membuat Rendi ingin terus menggodanya.
"Apa Kakak mau diusir oleh mereka karena mencoreng nama baik keluarga?" ujar Amel ketus saat melihat Rendi terus saja tersenyum.
"Tidak masalah, asalkan aku bisa hidup denganmu selamanya," jawab Rendi enteng.
"Sebenarnya yang ingin mempunyai anak itu, Kakak atau orang tua Kakak?" tanya Amel kesal.
"Tentu saja aku," jawab Rendi, "eeh....maksudku tentu saja orang tuaku," ralat Rendi cepat. Dia angsung mendekatkan wajahnya pada Amel. "Apa kau setuju dengan ideku?" tanya Rendi dengan senyum jahilnya.
"Tidaak. Kita harus menikah dulu."
Rendi terkekeh. "Beritahu aku kalau kau berubah pikiran. Aku siap kapan saja kalau kau mau."
"Kakaaak!" teriak Amel dengan wajah memerah.
Rendi menatap wajah Amel. "Ada apa sayang? Sudah kubilang jangan berteriak. Aku akan menciummu jika kau berteriak lagi," ujar Rendi dengan senyum menggoda di wajahnya.
"Berhenti menggodaku, Kak. Apa selama kakak berada di Amerika, Kakak sering menggoda wanita seperti ini?" Amel menampilkan wajah curiga.
Tiba-tiba saja Amel merasa cemburu membayangkan kalau Rendi mengatakan hal seperti itu pada wanita lain. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya.
Rendi menangkup wajah Amel. “Apa dulu kau pernah melihatku merespon wanita lain selain dirimu?”
Amel menggeleng. “Tidak pernah, tetapi aku tidak tahu bagaimana kehidupan kakak saat berada di Amerika. Bisa saja kakak berubah.”
Rendi tersenyum sambil mengelus pipi Amel. “Aku tidak pernah menggoda orang lain selain dirimu.”
Amel tidak membalas ucapan Rendi. “Apa kau tidak percaya padaku?” lanjut Rendi saat melihat Amel tampak masih diam.
“Bukan seperti itu.” Amel menunduk. “Aku hanya....” Amel tidak menyelesaikan ucapannya.
“Orang yang aku cintai hanya kamu, Mel. Dari dulu hingga sekarang, hanya ada dirimu di dalam hatiku.”
Belum sempat Amel mengeluarkan suara, sudah terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Amel. Amel mengambil ponselnya lalu menatap nama yang tertera di layar ponselnya.
“Siapa?” tanya Rendi saat melihat Amel hanya memegang ponselnya tanpa mengangkatnya. Amel menoleh ragu pada Rendi.
“Kak Evans,” jawab Amel pelan.
__ADS_1
“Angkatlah.”
Amel menatap sesaat pada Rendi sebelum menjawab telpon dari Devan. Amel berdiri dan ingin melangkah pergi, tapi ditahan oleh Rendi. ”Angkat di sini saja.”
Amel menoleh pada Rendi dengan ragu. Dia takut kalau Rendi akan salah paham dengan dirinya. Akhirnya Amel duduk kembali di dekat Rendi lalu mengangkat telponnya.
Rendi terus menatap Amel saat dia sedang berbicara dengan Devan ditelpon. Ada perasaan gelisah di dalam hati Rendi, saat mendengar percakapan Amel ditelpon. Raut wajahnya tampak berubah, tetapi Rendi langsung merubah kembali ekpresinya sebelum Amel menyadarinya. Dia berusaha untuk menutupi perasaannya.
“Kenapa?” tanya Rendi saat melihat Amel mengakhiri telponnya.
Amel menoleh pada Rendi. “Kak Evans ingin bertemu denganku kak.”
“Kapan?”
“Dia akan menjemputku 2 jam lagi, dia akan menjemputku di rumah Raka.”
Amel yang melihat Rendi hanya diam langsung berkata, “Aku tidak akan pergi kalau Kakak tidak mengijinkan aku bertemu dengannya.”
Rendi berdiri. “Pergilah. Aku tidak akan melarangmu bertemu dengannya.”
Rendi berjalan menuju tempat tidur lalu meletakkan ponselnya di nakas kemudian merebahkan tubuhnya pada kasur dan memejamkan matanya.
Amel berjalan mendekati Rendi lalu berdiri di samping tempat tidurnya. “Aku akan berbicara dengan kak Evans mengenai hubungan kita.”
Rendi membuka matanya. “Kalau kau belum siap untuk mengatakan pada Devan, jangan dipaksakan. Aku tidak ingin membebanimu. Aku sudah memberikan waktu 3 bulan untukmu. Kau tidak perlu terburu-buru.”
Amel duduk di tepi tempat tidur. “Aku tidak ingin menunda lebih lama lagi. Aku akan langsung memberitahu kak Evans.”
Rendi bangun dari tidurnya, lalu menatap Amel. “Apa kau yakin akan langsung memberitahunya? Apa kau tidak takut menyesal nantinya?”
“Jangan menggodaku. Kalau kau berkata seperti itu membuatku jadi jadi ingin cepat-cepat menikahimu.”
“Bagaimana kalau orang tua Kakak tidak mau memberikan kita restu walapun kita sudah berusaha semampu kita?" tanya Amel dengan raut wajah cemas.
Rendi meraih bahu Amel dan menatapnya. “Kita akan tetap menikah walaupun tanpa restu mereka. Aku yakin orang tuaku akan luluh seiring berjalannya waktu.”
“Kehidupan kita tidak akan bahagia kak tanpa adanya restu dari orang tuamu. Aku tidak ingin menikah kalau mereka tidak merestui kita.”
Wajah Rendi langsung menegang. “Kalau kau tidak mau menikah denganku? Apa kau berencana untuk menikah dengan Devan, jika orang tuaku tidak merestui kita?"
"Kakak jangan salah paham. Bukan itu maks...."
"Lalu apa maksudmu?
"Aku... aku hanya...."
"Mel, kalau kau berencana untuk menyerah seperti itu, lebih baik kita berenti sekarang sebelum semuanya terlambat. Aku tidak mau kecewa pada akhirnya."
"Maksud Kakak?"
"Aku tidak akan memaksamu lagi kalau kau tidak mau menikah denganku. Aku akan melepasmu Mel kalau memang itu keingananmu. Kalau kau tidak mau berusaha, aku akan berhenti sampai sini. Aku tidak akan pernah kembali padamu lagi Mel kalau kau mengecewakan aku kali ini. Aku memang sangat mencintaimu, tetapi aku juga bisa lelah. Sekarang semua terserah padamu Mel."
__ADS_1
"Aku bukannya tidak mau menikah denganmu kak, tetapi kita harus mendapatkan restu dari orang tuamu dulu baru kita bisa menikah. Aku bisa menunggu sampai orang tuamu memberikan restu, asalkan Kakak juga mau bersabar dan tidak terburu-buru. Ini juga salahku, mereka tidak menyukaiku karena kesalahanku di masalalu."
"Mel, orang tuaku bukanlah orang tua yang kolot. Mereka pasti akan merestui kita kalau melihat aku bisa bahagia. Orang tuaku pernah berjanji satu hal padaku dulu kalau aku selamat setelah operasi, mereka akan mengabulkan apapun yang aku minta. Aku bisa menagih janji mereka nanti saat kita meminta restu nanti."
Amel memegang tangan Rendi sambil menggeleng kuat. "Jangan Kak. Aku tidak mau mereka menerimaku karena terpaksa. Aku akan berusaha untuk mendapatkan restu dari orang tuamu kak. Aku tahu mungkin akan berat, aku hanya orang biasa. Aku tidak secantik Friska. Aku juga tidak memiliki latar belakang yang membuat orang tuamu takjub. Aku akan berusaha sekeras mungkin agar mereka bisa menerimaku."
Rendi memeluk Amel. "Maafkan aku. Aku hanya takut kamu akan menyerah jika orang tuaku nanti tidak langsung merestui kita," ucap Rendi pelan. "Orang tuaku tidak pernah memandang orang dari status sosial dan latar belakangnya Mel," lanjut Rendi lagi.
"Sebenarnya aku hanya tidak percaya diri untuk bersanding denganmu, Kak. Kau memiliki segalanya. Kau bisa mendapatkan wanita manapun yang kau inginkan. yang pastinya lebih dari aku. Banyak wanita di luar sana yang mau menikah denganmu dengan senang hati, tapi aku akan egois kali ini, aku sudah memutuskan untuk tidak akan melepaskanmu lagi, apapun yang terjadi nanti."
Rendi melepaskan pelukannya. "Yang aku inginkan hanya kamu Mel. Aku tidak mau menikah dengan orang lain."
"Terima kasih kak karena kau sudah memilihku," ucap Amel.
Rendi langsung mengecup singkat bibir Amel. "Aku mencintaimu Mel," ucap Rendi dengan senyum bahagia. "Jadi kamu akan pulang ke rumah Raka dulu setelah ini?” Rendi mengalihkan pembicaaran.
“Aku akan meminta kak Evans untuk menjemputku di sini saja.”
“Kau akan pergi kemana dengannya?”
“Dia cuma bilang akan menjemputku. Dia tidak mengatakan akan pergi kemana,” ucap Amel pelan.
“Apa kau sudah makan?”
Amel menggelengkan kepala. “Belum.”
Rendi meraih telpon hotel yang ada di atas nakas untuk memesanan layanan kamar. Setelah selesai memesan makanan, Rendi menutup telponnya lalu berdiri sambil menatap Amel.
“Aku akan mandi dulu. Setelah itu kita makan bersama. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana.” Rendi berjalan menuju kamar mandi setelah melihat anggukan dari Amel.
Amel memutuskan untuk membereskan tempat tidur Rendi. Saat Amel sedang merapikan bantal, ponsel Rendi yang berada di atas nakas berbunyi. Amel menoleh dan melihat panggilan masuk dari Friska. Amel langsung duduk di tepi tempat tidur.
Berbagai macam pikiran muncul di kepalanya. Sejujurnya dia masih takut kalau Rendi akan meninggalkan dirinya demi Friska. Bagaimanapun hubungan antara Rendi dengan Friska sudah dekat, jauh sebelum dia mengenal Rendi.
Rendi keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah diganti. Dahinya mengerut saat melihat Amel tampak sedang melamun. Rendi berjalan mendekati Amel lalu duduk di sampingnya. “Kamu kenapa?”
Lamunan Amel buyar saat mendengar pertanyaan Rendi. Amel menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa.” Amel sengaja menghindari tatapan Rendi.
Rendi terlihat memegang bahu Amel lalu memiringkan wajahnya sedikit agar bisa menatap wajah Amel yang sedang menunduk. “Ada apa?” tanya Rendi lagi. Rendi yakin kalau Amel sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Tadi Friska menelpon, Kakak.”
Rendi bangun dan membungkuk sedikit untuk meraih ponselnya yang berada di atas nakas. Rendi terlihat memeriksa isi ponselnya. Amel berdiri ketika Rendi yang tampak sibuk dengan ponselnya. Rendi mendongak saat melihat Amel mulai melangkah.
“Kamu mau ke mana?” tanya Rendi sambil menahan tangan Amel.
“Aku mau ke kamar Sofi, sepertinya kakak sedang sibuk.”
Rendi berdiri lalu manarik tangan Amel menuju sofa panjang. “Aku hanya membalas beberapa pesan yang berhubungan dengan kerjaan. Kita makan dulu. Sebentar lagi makanan akan datang.”
Amel tampak mendiamkan Rendi. “Sudah aku bilang aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Friska,” lanjut Rendi lagi saat melihat Amel tampak diam saja. Rendi bisa menebak penyebab Amel mendiamkannya adalah karena panggilan masuk dari Friska.
__ADS_1
Amel tersenyum. "Iyaa Kak, aku tahu. Aku tidak marah, Kak."
Bersambung...