
Rendi tersenyum senang saat melihat Amel tampak bahagia. “Tetapi kau hanya boleh menghabiskan waktu berdua denganku saat di Bali nanti, karena kita kesana untuk berbulan madu, bukan untuk liburan dengan mereka," ucap Rendi tegas. "Aku akan memberikan waktu sehari untukmu menghabiskan waktu dengan teman-temanmu."
"Baiklah. Aku sudah tidak sabar ingin ke Bali."
"Aku juga tidak sabar ingin berbulan madu," gurau Rendi.
"Kenapa diotak kakak hanya ada itu sih!"
"Kenapa memangnya? Kau adalah isitriku. Lagi pula seminggu lagi kita akan ke Jerman untuk melakukan resepsi kedua. Kita juga akan melakukan bulan madu kedua di sana. Kau tidak boleh lelah.”
Amel memicingkan matanya. “Mana ada bulan madu kedua? Apa kakak tidak lelah bulan madu terus?”
“Tentu saja tidak. Aku justru sangat bersemangat.”
“Cukup, Kak. Kakak membuatku merinding.”
Amel berjalan menuju tempat tidur dengan pelan. Tubuhnya masih sakit semua akibat gempuran dari Rendi. Dia ingin merebahkan tubuhnya sejenak. Rendi jiga terlihat mengikuti langkah Amel dari belakang dan berbaring di samping istrinya.
“Mel, aku ingin menanyakan sesuatu padamu?” Rendi berbaring miring menghadap Amel.
“Apa?” Amel juga memiring tubuhnya sehingg mereka saling berhadapan dengan jarak dekat. “Kau ingin tinggal di mana setelah resepsi pernikahan kedua kita?”
Amel terdiam sejenak, dia tampak berpikir. “Aku akan ikut ke mana kakak pergi. Kau adalah suamiku sekarang.”
“Kalau aku memintamu untuk tinggal di Jerman apa kau mau?”
Amel mengangguk. “Aku mau, Kak.”
“Apa kau yakin?? Kalau aku memberikanmu pilihan antara Jerman dan Indonesia, kau lebih memilih untuk tinggal di mana?”
Amel menghembuskan napas pelan, ini adalah pilihan yang sulit untuknya. Dia sama saja di suruh memilih antara keluarga atau suaminya. “Aku lebih suka tinggal disini kak! Lagi pula aku tidak bisa berbahasa Jerman, aku hanya bisa berbicara bahas inggris. Aku akan kesulitan jika tinggal di sana.”
Rendi tersenyum kemudian meraih tubuh Amel dan memeluknya. “Baiklah. kita tinggal di sini saja kalau begitu.”
Amel langsung mendongak menatap Rendi dengan wajah tidak percaya. “Benarkah? Apa Kakak serius?” tanya Amel bersemangat.
“Hhhmmm,” gumam Rendi sambil mengangguk. Dia kemudian mengelus kepala Amel.
Amel langsung tersenyum lebar. “Terima kasih, Kak,” ucap Amel senang. “Tapi kita akan tinggal di mana nanti? Apa kita akan tinggal di apartemen Kakak?” tanya Amel lagi.
"Apartemen kita sayang. Kau adalah istriku sekarang. Semua milikku juga menjadi milikmu sekarang."
Amel mengangguk. "Iya, Kak."
Saat ini Rendi tidak lagi memiliki rumah di indonesia karena sudah dijual sewaktu dirinya ke Amerika. Amel tidak mengetahui kalau Rendi memiliki beberapa apartemen mewah yang menyamai rumahnya dulu. Salah satunya adalah apartemen yang Amel tinggali sementara. Apartemen yang paling besar dan mahal adalah apartemen yang ada di Senayan. Apartemen yang pernah diminta oleh Kenan.
__ADS_1
“Apa kau menyukai apartemen itu?”
Amel mengangguk cepat. “Iyaa, aku menyukainya, tapi apartemen itu terlalu besar untuk kita berdua. Apa boleh mengajak Sofi untuk tinggal bersama kita?”
“Tidak! Dia akan mengganggu kita berdua nanti.”
Amel memukul dada Rendi pelan. “Kenapa kakak jahat sekali dengan adik sendiri? Kasian Sofi kalau harus tinggal sendiri di hotel ini. Aku dengar dia tidak ingin kembali lagi ke Jerman.”
“Dari mana kau tahu kalau dia tidak mau kembali ke Jerman?” tanya Rendi penasaran. Rendi heran karena selama ini Sofi tidak pernah mengatakan apa-apa padanya.
“Sofi yang bilang padaku.”
“Dia sudah besar, Mel. Dia harus mandiri. Dia tidak bisa ikut dengan kita, apalagi kita sudah menikah.”
Hembusan napas Amel menerpa dada Rendi, walaupun terhalang baju, Rendi masih bisa merasakan hembusan napas kasarnya. “Tapi kamar yang ada di apartemen kakak banyak sekali, sayang kalau tidak ada yang menempati.”
“Apa aku harus mengajak semua orang yang kita kenal untuk tinggal di apartemen kita agar ramai?”
“Bukan itu maksudku, Kak. Setidaknya kau ajak Sofi untuk tinggal bersama kita. kasihan dia, Kak ”
“Mel, kau tahu tidak kalau aku tidak suka orang lain memasuki wilayah pribadiku. Kau tahu sendiri dari dulu aku tidak pernah mengijinkan orang lain masuk ke dalam kamarku. Hanya kau yang aku ijinkan untuk masuk.”
“Tapi Sofi adalah adikmu, Kak, bukan orang lain,” ucap Amel dengan wajah cemberut.
Dia masih terus membujuk Rendi supaya mengijinkan Amel untuk adiknya tinggal bersama mereka. “Kak, kau mendengar ucapanku tidak sih?” sambung Amel lagi ketika Rendi tidak merespon perkataannya melainkan malah sibuk mengelus kepalanya.
"Baiklah, aku akan bersikap manis." Amel tersenyum lebar pada suaminya.
"Tapi kita lebih baik tinggal di Senayan. Dia sana lebih besar dan semua sudah lengkap di sana. Kita tinggal membawa badan saja. Rumah Raka juga lebih dekat dari sana. Kau bisa ke rumahnya mememui mama Tamara kalau kau bosan."
"Iyaa Kak aku mau. Terima kasih suamiku tercinta," ucap Amel dengan wajah gembira sambil mencium pipi kanan dan kiri Rendi.
Rendi menoel hidung Amel. "Kau ini pintar sekali merayuku."
"Ting tong." Terdengar bel kamar mereka. Mereka menoleh serempak.
"Biar aku yang buka!" ucap Rendi sambil turun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju pintu.
"Kak Amel mana?" Sofi langsung berjalan masuk saat pintu sudah dibuka.
Rendi langsung menarik baju belakang Sofi. "Kau mau kemana? Kau tidak bisa lagi masuk sembarangan ke kamar ini."
Sofi berusaha menepis tangan Rendi. "Lepas Kak. Aku harus berbicara dengan kak Amel sebentar."
Amel bangun dari tidurnya. "Kak, biarkan Sofi masuk," ucap Amel saat dia mendengar keributan antara kakak dan adik itu. Rendi melepaskan tangannya.
__ADS_1
"Cepat bicara, setelah itu langsung pergi. Kau ini mengganggu kami saja," ucap Rendi dengan wajah kesal.
Sofi menatap tidak suka pada kakaknya. "Aku tidak peduli dengan Kakak." Sofi berjalan mengampiri Amel yang sedang bersandar di tempat tidur. "Kak, bolehkah aku meminta nomor ponsel Raka?"
Rendi berjalan ke tempat tidur lalu duduk bersebelahan dengan Amel. "Kak, kau pergi dulu. Aku sedang ingin berbicara berdua dengan kak Amel," ucap Sofi kesal saat melihat kakaknya berada di samping Amel.
"Heey, kenapa kau mengusirku? Ini adalah kamarku, seharusnya kau yang pergi dari sini." Rendi nampak begitu kesal dengan adiknya.
Amel memegang tangan Rendi. "Kak tolong tinggalkan kami sebentar. Sepertinya Sofi tidak nyaman kalau kau mendengarnya," ucap Amel lembut.
Rendi melirik tajam pada adiknya. "Aku tidak tertarik dengan urusanmu. Kau ini merepotkan aku saja." Rendi akhirnya melangkah keluar dari kamarnya, meskipun sebenarnya dia tidak mau pergi.
"Apa terjadi sesuatu denganmu dan Raka?"
"Iyaa Kak, nanti akan aku ceritakan pada kakak. Saat ini aku harus bertemu dengannya," ucap Sofi dengan wajah cemas.
"Tunggu sebentar." Amel meraih ponselnya, kemudian mencari nomor ponsel Raka. Setelah menemukannya Amel langsubg mengirimkannya ke nomor Sofi.
Sofi langsung menghubungi Raka dengan ponselnya. Beberapa kali Sofi mencoba menelponnya tapi tidak diangkat oleh Raka.
Sofi mulai panik. "Kak bisakah kau menghubunginya untuk datang ke apartemen? Aku harus berbicara dengannya," pinta Sofi dengan wajah memohon.
Dahi Amel mengerut. Dia sebenarnya penasaran dengan apa yang sudah terjadi dengan mereka, tetapi Amel tidak mau ikut campur.
"Kenapa tidak menyuruhnya untuk datang ke sini saja?" tanya Amel penasaran. Padahal lebih mudah untukknya kalau bertemu dengan Raka di hotelnya
"Jangan, Kak. Aku tidak ingin dia bertemu dengan Willy."
"Baiklah."
Amel memutuskan untuk menghubungi Raka menggunakan ponselnya. Saat panggilan telpon tersambung, Raka langsung mengangkat telponnya. Amel meminta Raka untuk datang ke apartemen Rendi. Awalnya Raka menolak, tetapi karena Amel terus membujukknya akhirnya Raka menuruti permintaan Amel.
"Apa dia mau kak?" tanya Sofi dengan wajah penasaran. Amel mengangguk pelan.
"Dia akan datang sejam lagi. Kau bisa menunggunya di loby. Aku sudah memintanya untuk menunggu di sana," ucap Amel lembut
Sofi langsung memeluk Amel. "Terima kasih Kak. Tolong rahasiakan dari kak Rendi." Sofi melepaskan pelukannya.
Amel mengangguk. "Baiklah."
Sofi lalu berdiri. "Kalau begitu aku pergi dulu, Kak."
"Iyaa. Hati-hati," ucap Amel lembut.
Rendi masuk kembali ke kamarnya setelah Sofi pergi. "Lebih baik kita istirahat, Sayang," ucap Rendi sambil merebahkan tubuhnya ke tempat tidur lalu menarik Amel dalam pelukannya setelah melihat Amel mengangguk.
__ADS_1
Bersambung..