Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pagi Yang Indah


__ADS_3

Teruntuk Dedek Gemes apalagi Bocil diharap minggir..!! Ini hanya untuk yang sudah dewasa.. Banyak adegan 21+. Diharapkan bijak dalam mencari bacaan. Bagi yang tidak suka boleh di skip.


Mentari mulai menyingsing, Amel sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu, saat ini dia sedang menatap wajah tampan yang sedang terlelap di depannya. Alis tegas, mata sipit, bibir seksi berwarna merah yang sedikit terbelah, hidung mancung serta dagu runcing, semua tercetak sempurna di wajah Rendi. Membuat Amel yang melihatnya merasa iri. Baru kali ini dia bisa melihat secara detail wajah Rendi dari jarak yang sangat dekat.


Setelah puas memandang wajah suaminya, Amel mengangkat tangannya, dia mencoba menyentuh wajah Rendi. Dia mulai meraba alis, turun ke pipi, berlanjut ke hidung lalu turun ke bibir.


Amel terdiam sesaat, tangannya berhenti di bibir Rendi, Amel tersenyum kemudian menyentuh dengan lembut bibir merah itu. Tanpa sadar dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Rendi. Saat akan menjauhkan wajahnya, Rendi membuka matanya lalu menarik tengkuk Amel.


Mata Amel terbelalak saat Rendi melu*mat bibirnya dengan napas yang memburu. Amel berusaha menjauhkan tubuhnya dengan menahan dada Rendi menggunakan kedua tangannya, tetapi sia-sia, Rendi justru menarik tubuh Amel agar menempel padanya menggunakan satu tangan, dan satu tangan lagi menahan tengkuk Amel.


Rendi terus melu*mat dan menyesap bibir Amel, karena Amel tidak bisa bergerak lagi, dia memutuskan untuk membalas ciuman Rendi. Dia mulai terbawa suasana. Bibir mereka saling berpagutan dan saling mence*cap.


Rendi melepaskan ciumannya, kemudian memposisikan diri diatas Amel lalu menatap penuh hasrat padanya. Rendi menyeringai. "Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkannya," ucap Rendi dengan suara serak.


"Aku.." Belum sempat Amel meneruskan ucapannya, Rendi sudah membungkam mulut Amel dengan bibirnya. Tangan Rendi mulai bergerak liar di tubuh istrinya. Rendi tidak memberikan jeda untuk Amel berisitirahat.


Semenjak Rendi berhasil memasuki Amel pertama kali. Dia mulai tidak bisa menahan diri saat berdekatan dengan Amel apalagi jika melihat tubuh polos istrinya. Rendi seperti kehilangan akal. Pagi ini, mereka awali dengan pagi yang penuh gairah.


Amel melenguh panjang etika Rendi berhasil menyatukan tubuh mereka. "Tubuhmu membuatku ketagihan sayang. Aku bahkan tidak ingin berhenti," ucap Rendi dengan suara parau sambil terus memacu gerakannya.


Amel merintih kesakitan, Rendi kemudian mengecup kening Amel. "Maaf sayang. Maafkan aku," ucap Rendi sambil memperlambat gerakannya.


Saat mereka mencapai puncaknya, terdengar suara lenguhan dari mulut mereka berdua. Amel memegang wajah Rendi dan mengusap keringat suaminya setelah menyelesaikan pergulatan mereka.


"Aku sangat mencintaimu Kak." Rendi mengecup singkat bibir Amel. "Aku juga sangat mencintaimu sayang." Rendi berbaring di samping Amel sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Rendi merapikan anak rambut di wajah Amel sambil memeluknya. "Apa masih sakit?" tanya Rendi lembut.


"Iyaa."


Seketika Rendi merasa bersalah. "Maafkan aku sayang karena tidak bisa mengendalikan diriku sehingga menyakitimu."


Amel tersenyum. "Kakak tidak perlu minta maaf, itu sudah menjadi tugasku. Bukan salah Kakak."


"Apa perlu aku panggilkan dokter?"


Wajah Amel bersemu merah. "Tidak perlu Kak."

__ADS_1


Rendi menyeringai. "Kau tidak akan merasa sakit lagi kalau kita sering melakukannya. Kau akan terbiasa nanti." Ada maksud lain dari perkataan Rendi.


Amel memukul pelan dada Rendi. "Dasar mesum," ucap Amel dengan wajah bertambah merah.


Rendi tersenyum. "Aku berkata yang sebenarnya sayang. Kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada kak Bianca. Walaupun dia belum menikah, tetapi dia seorang dokter, dia pasti tahu tentang ini."


"Jangan membuatku malu kak!"


"Kita memang harus sering melalukannya, agar mama cepat mendapatkan cucu. Aku sudah berjanji untuk segera memberikannya cucu yang lucu untuknya."


"Kakak, berhenti membahasnya!" Amel membenamkan wajahnya di dada Rendi. Dia ingin menyembunyikan wajahnya yang seperti udang rebus.


Rendi tersenyum senang saat melihat Amel tampak masih malu. Dia mempererat pelukannya. "Aku sangat bahagia Mel bisa menikah denganmu. Akhirnya kau menjadi milikku," ucap Rendi sambil mengelus lembut rambut Amel.


"Aku juga sangat bahagia kak."


"Apa kau lapar?"


"Iyaaa, aku hanya makan sedikit semalam," ucap Amel pelan.


"Tapii Kak, bagaimana kalau mereka mencari kita?" tanya Amel dengan wajah khawatir.


Rendi tersenyum. "Mereka tidak akan mencari kita sayang. Mereka pasti mengerti." Rendi meraih gagang telpon lalu menghubungi bagian restoran. Setelah memesan layanan kamar.


Rendi bangun kemudian meraih celananya. "Lebih baik kita membersihkan tubuh dulu," ucap Rendi. "Apa kau bisa berjalan sendiri ke kamar mandi?" tanya Rendi saat Amel tampak bangun dari tidurnya.


Amel terlihat meringis saat dia akan duduk. "Bisa kak," ucap Amel pelan.


Amel bergerak turun dari tempat tidur dengan tubuh yang dibalut selimut. Amel kembali meringis menahan sakit. "Aku akan menggedongmu." Rendi menghampiri Amel. "Tidak perlu Kak. aku bisa sendiri," tolak Amel cepat. Dia masih merasa malu jika ada yang melihat tubuh polosnya.


Seolah tahu apa yang ada dipikiran Amel, Rendi berkata, "Kau tidak perlu malu sayang. Aku sudah melihat semuanya, bahkan aku sudah menyentuh dan merasakannya langsung," ucap Rendi sambil menatap nakal pada Amel.


"Kak, jangan membahasnya terus," pekik Amel.


Tidak menunggu lama, Rendi langsung meraih tubuh Amel dan membawanya ke kamar mandi. Amel hanya diam, karena dia juga merasa kalau dia kesulitan berjalan. Rendi menurunkan Amel dengan hati-hati. "Bagaimana kalau kita mandi bersama?" goda Rendi.


Amel mendorong tubuh Rendi dengan 1 tangannya dan satu tangan lagi memegang selimut yang menutupi tubuhnya. "Tidak mau! cepat keluar Kak," usir Amel dengan wajah memerah.

__ADS_1


Rendi tersenyum senang saat melihat wajah malu-malu Amel. Sebelum keluar Rendi mengecup dan mengelus kepala Amel. "Baiklah. Aku akan menunggu di luar." Rendi berjalan keluar dari kamar mandi.


Setelah kepergian Rendi, Amel mengunci pintu lalu melepaskan selimut yang membungkus dirinya. Mata Amel terbelalak saat melihat tubuhnya dipenuhi oleh tanda berwarna merah, terutama pada bagian leher dan dadanya. Amel meraba tanda itu, semenjak kejadian semalam, Amel memang belum pernah melihat tubuhnya, karena dia langsung terlelap.


"Dia itu manusia atau vampir sih. Kenapa dia suka sekali menghisapku dan meninggalkan banyak tanda merah di tubuhku?" gumam Amel pelan.


Amel menghela napas. Dia berpikir bagaimana dia bisa keluar dan bertemu banyak orang kalau di lehernya saja mempunyai banyak tanda. "Sepertinya aku harus selalu berada di dalam kamar sebelum tanda ini hilang," gumam Amel lagi.


Amel memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, dia berendam sejenak untuk merileksasikan tubuhnya. Sebelum berendam, Amel memasukan air mawar ke dalam bathup.


Aroma mawar dipercaya bisa memberikan ketenangan dan meredakan rasa sakit. Amel mulai merendam tubuhnya. Dia meluruskan kakinya lalu bersandar dan memejamkan matanya sejenak. Puas berendam, Amel mulai membilas tubuhnya.


Sambil menunggu Amel mandi, Rendi membereskan baju mereka yang tergeletak di lantai. Dia tersenyum saat membayangkan kejadian semalam. Setelah memungut semua pakaian mereka, Rendi ingin melangkah menuju lemari, tetapi langkah terhenti saat melihat bercak berwarna merah segar yang menempel di seprai.


Rendi berjalan menuju tempat tidur. Dia merabanya lalu tersenyum. "Aku akan menyimpan seprai ini sebagai kenangan. Seprai ini sebagai saksi penyatuan cintaku dengan Amel. Bercak merah ini juga membuktikan kalau aku adalah laki-laki pertama Amel."


Rendi melepas seprai itu lalu berjalan menuju lemari. Dia melipat seprai itu dan memasukannya ke brankas. Rendi memperlakukan seprai itu layaknya benda yang sangat berharga. Sementara baju kotor dia letakkan di sudut lemari yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik laundry.


Rendi kembali menelpon ke bagian houskeeping untuk membersihkan kamar sekaligus mengganti seprainya. Tidak lama kemudian 4 orang dari bagian houskeeling datang. Rendi meminta mereka untuk membersihkan kamarnya dengan cepat. Dia tidak mau mereka melihat Amel dalam keadaan baru selesai mandi.


Sebelum Amel keluar kamar mandi, kamar mereka telah selesai dibersihkan. Makanan yang Rendi pesanpun sudah datang dan sudah diletakkan di atas meja. "Kau sudah selesai?" ucap Rendi ketika melihat Amel keluar dari kamar mandi sambuk berjalan sangat pelan.


Amel mengangguk. "Aku meminta mereka membersihkan kamar dan mengganti seprai selagi kau mandi," jelas Rendi ketika melihat Amel tampak heran melihat kamar mereka sudah rapi dan bersih.


Amel berjalan dengan hati-hati, terlihat dia beberapa kali meringis. Rendi menghampiri Amel. "Apa perlu aku gendong lagi?" Rendk tampak khawatir saat melihat Amel terus saja meringis ketika melangkah.


Amel menggeleng cepat. "Tidak perlu Kak, lebih baik Kakak mandi." Amel ingin membiasakan berjalan sendiri sampai rasa sakitnya menghilang.


"Baiklah sayang, aku mandi dulu. Sementara kau bisa memakai bajuku. Aku akan meminta Sofi untuk membawakan baju-bajumu nanti," ucap Rendi saat melihat Amel hanya mengenakan bathrobe.


"Iyaa Kak," ucap Amel pelan. Dia berjalan menuju lemari untuk mengganti bajunya. Setelah itu dia berjalan dengan pelan ke tempat tidur kemudian duduk. Amel meraih ponselnya. Terlihat banyak sekali pesan masuk dari teman-temannya, banyak dari mereka yang mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Amel memang mengundang teman SMA dan teman kuliahnya, termasuk para sahabatnya. Mereka bahkan datang lebih awal saat hari pernikahan Amel untuk berbincang dengan Amel sebelum acara dimulai. Semua sahabatnya turut senang karena akhirnya Amel bisa menikah dengan pria yang dicintainya.


Bersambung...


.

__ADS_1


__ADS_2