
"Lagian, abang juga nggak setuju kamu pacaran sama dia. Kamu kan belum lama kenal sama dia," ujar Raka dengan wajah tidak suka.
Sebenarnya, Raka masih heran, bagaimana bisa Amel bisa memutuskan untuk pacaran dengan Rendi, sementara mereka tidak pernah terlihat dekat sebelumnya. Raka hanya ada sesuatu yang aneh. Dia berniat untuk menyelidiki tanpa sepengetahuan Amel.
"Kenapa Abang nggak setuju?" Amel merubah posisi duduknya agar lebih santai.
"Abang takut dia cuma mainin kamu. Kamu tahu sendiri, kan, di sekolah banyak yang suka sama dia, termasuk Siska siswi tercantik di sekolah kita. Abang cuma nggak mau dia jadiin kamu sebagai koleksinya," jelas Raka.
Amel tertawa, "Emangnya Amel ini barang bisa dijadiin koleksi. lagian, kak Rendi nggam pernah menanggapi cewek yang dekatin dia, termasuk Siska," bela Amel.
Amel tidak bisa memberitahu Raka soal hubungannya dengan Rendi hanya pura-pura karena takut Raka akan semakin tidak setuju kalau dia tahu yang sebenarnya. Bagaimana pun, Amel sudah berjanji kepada Rendi untuk bersandiwara sebagai pacarnya.
"Kamu nggak takut diserbu sama fans fanatiknya Rendi?"
"Amel sudah biasa bmBang ngadepin fans Abang, jadi kemunginan tidak jauh beda dengan fans Rendi nantinya."
"Yang suka sama abang itu kalem-kalem, beda sama Rendi. Fans dia itu banyak yang bar-bar dan nggak waras."
"Rendi pasti bisa jagain Amel, Bang "
Amel terus membujuk Raka agar menyetujui dia berpacaran dengan Rendi, walaupun sebenarnya hanya pura-pura. Dia tidak mau ke depannya mereka berkelahi lagi karena kesalahpahaman.
"Abang tetap tidak setuju," ucap Raka dengan wajah serius.
Amel mengeluarkan jurus andalannya dengan memasang wajah memelas sambil memohon dengan menyatukan kedua telapak tangan di depan dadanya. "Amel mohon, Bang?"
Raka yang tidak tega melihat Amel sepeti itu kemudian berkata, "Kalau sampe abang tahu dia cuma nyakitin kamu, abang nggak akan segan-segan bikin perhitungan lagi sama dia. Lain kali, abang akan ngelepasin dia kayak kemarin," ujar Raka sambil menatap Amel lekat mata Amel.
"Rendi nggak akan nyakitin Amel. Makasih Abangku yang ganteng." Amel memeluk lengan Raka dengan senang lalu dia berlari masuk ke dalam rumah Raka.
Melihat Amel yang sudah masuk ke dalam rumahnya, Raka hanya bisa menghela napas berat. Mau tidak mau, dia harus pura-pura setuju di depan Amel. Dia berniat memberi peringatan kepada Rendi nanti untuk tidak main-main dengan perasaan Amel.
Raka kemudian menyusul Amel masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Amel sedang berjalan ke arah dapur, melihat Tamara sedang sibuk mengerjakan sesuatu. "Mama lagi ngapain?" Amel berjalan mendekati mama Raka.
Tamara menoleh ke belakang. "Mama lagi mau buat kue, Mel."
"Sini Amel bantu, Ma." Amel berdiri di samping ibu Raka dengan wajah antusias.
"Begini enaknya punya anak perempuan, bisa ngerjain sesuatu bareng-bareng. Bisa bantuin mama juga, nggak kayak kalau anak laki-laki." Tamara sengaja mengucapkan dengan keras saat melihat Raka melewati dapur menuju kursi yang berada di dekat dapur.
"Bahas aja terus Ma, jangan-jangan Raka ini bukan anak kandung mama ya. Sepertinya mama lebih sayang sama Amel dari pada Raka." Raka menyenderkan tubuhnya di kursi dengan wajah masam.
"Kalau kamu bukan anak kandung mama, uda mama buang dari dulu." Mama Raka terlihat masih sibuk membuat adonan kue bersama Amel.
"Mama tega buang anak mama yang ganteng ini?" Raka melihat ke arah mamanya dengan wajah memelas.
"Untungnya kamu anak kandung mama jadi nggak jadi mama buang," ucap Tamara tanpa melihat ke Raka.
"Abang mendingan istirahat di kamar, biar lukanya cepet sembuh jadi cepat masuk sekolah."
"Abang bosen di kamar terus."
"Belom, nanti aja!."
"Gimana mau cepet sembuh. Apa abang mau lukanya ninggalin bekas nanti?"
"Iyaa, iyaa, abang kasih obat dulu." Raka melangkah ke kamarnya yang berada di lantai 2 dengan langkah malas.
Amel tersenyum saat Raka menuruti omongannya. Mereka berdua pun sibuk membuat aneka kue sampai mereka lupa waktu, bahkan Amel sudah lupa memberitahu Rendi kalau dia sedang berada di rumah Raka.
Setelah semua kue jadi, Amel dan Tamara menata kue di atas meja. Sebagian mereka bawa ke ruang keluarga untuk dinikmati sambil menonton televisi. Di sana juga sudah ada Raka yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Ma, nanti jam 7 Amel pulang ya? Soalnya Amel juga belom mandi."
"Kamu mandi dulu aja sebelum pulang. Di kamar tamu kan ada baju yang sudah mama beliin buat kamu kalau sewaktu-waktu kamu menginap di sini jadi ada baju ganti."
__ADS_1
"Nggak usah, Ma. Amel mandi di kos aja," tolak Amel sopan.
"Kapan kamu menginap lagi? Sudah lama kamu nggak nginap di sini," tanya ibu Raka.
"Kalau minggu ini Amel nggak sibuk, Amel pasti menginap di sini," jawab Amel sambil tersenyum.
"Bener ya? Mama tunggu loh," ujar Mama Raka senang.
Raka hanya diam saja mendengar percakapan ibunya dengan Amel, meskioun begitu, dia senang melihat kedekatan Amel dengan ibunya.
"Iyaa Ma, nanti Amel kabarin Mama."
"Iyaaa."
Amel kemudian beralih menatap Raka. "Bang pinjem charger dong, hanphonr Amel mati nih."
Raka berdiri. "Bentar abang ambil dulu."
Raka kemudian berjalan mengambilkan charger ponselnya lalu memberikan ke Amel. Amel segera mengisi batrei ponselnya tanpa menghidupkannya.
Mereka pun lanjut mengobrol sambil menonton televisi. Sesekali mereka tertawa saat ada adegan lucu yang mereka tonton. Saat pukul 7 malam, Amel pamit pulang pada Tamara. Raka yang ingin mengantar Amel, tetapi dilarang oleh ibunya karena Raka masih belum sembuh total.
Ibu Raka meminta supir untuk mengantarkan Amel pulang, tapi Raka tetap ingin mengantar Amel. Setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Raka diijinkan mengantar Amel, tapi dengan syarat harus diantar oleh supir. Tamara tidak mengijinkan anaknya untuk membawa mobil sementara.
Amel turun di susul Raka di sebelahnya, setelah tiba d kos Amel. Mereka berhenti tepat di depan pintu masuk kos Amel. Tanpa mereka sadari, Rendi melihat mereka dari dalam mobil yang terparkir di sebrang kos Amel.
Rendi terus memperhatikan mereka sambil memegang erat setir mobilnya. Amel memang tidak terlalu memperhatikan mobil itu karena sering kali ada mobil yang parkir di situ. Lagi pula, dia juga tidak hafal dengan mobil Rendi.
"Makasih Bang uda nganterin Amel. Abang hati-hati di jalan," ucap Amel sambil tersenyum manis.
"Iyaa, kamu langsung istirahat. Besok kamu harus sekolah pagi, 'kan?"
"Iyaa Bang. Abang juga harus inget, jangan lupa minum obat sama abang harus rajin kasih obat oles biar cepat hilang bekasnya," ujar Amel, "lihat nih muka ganteng gini masa banyak lukanya." Amel memegang wajah Raka.
__ADS_1
Rendi yang melihat Amel memegang wajah Raka langsung terbakar cemburu. Dia meremas dengan kuat botol air mineral yang ada di samping kemudinya.
Bersambung...