
Kenan tampak terkejut saat melihat wajah Amel. “Masuklah.” Kenan berjalan melewati Amel diikuti oleh Fadil di belakangnya.
“Aku ingin bicara berdua saja dengamu,” ucap Amel setelah berada di dalam ruangan Kenan. Kenan yang belum sampai ke meja kerjanya langsung berhenti dan menoleh ke Amel dengan alis yang terangkat. Dia kemudian menoleh pada Fadil.
”Pergilah.” Kenan mengerakkan kepalanya menuju pintu.
“Ada apa dengan wajahmu? Kenapa tegang sekali?” tanya Kenan yang sudah duduk di sofa setelah Fadil keluar dari ruangannya.
Amel menatap Kenan dengan wajah serius. “Kenapa kamu berbohong kepadaku mengenai Rendi?”
Kenan mengeryit. “Berbohong soal apa?” Mendadak Kenan memiliki fisarat buruk saat mendengar perkataan Amel.
“Kalau Rendi sebenarnya masih hidup.”
Kenan tampak terkejut saat mendengar perkataan Amel. Dia berusaha membenarkan posisi duduknya dan melonggarkan dasi yang melilit kerah bajunya. Tiba-tiba dia mereasa sesak saat memdengar perkataan Amel.
“Apa kamu sudah bertemu dengannya?” Kenan malah mengajukan pertanyaan lain pada Amel.
“Iyaa,” jawab Amel pendek.
Kenan memajukan tubuhnya. “Lalu bagaimana reaksinya saat melihatmu?”
“Tidak penting bagaimana reaksinya saat melihatku, tapi yang ingin aku tanyakan kenapa kamu berbohong kepadaku? Padahal kamu tahu kalau aku sangat terpukul dengan kepergian Rendi saat itu.”
“Aku hanya ingin melindungimu. Aku punya alasan tersendiri kenapa aku tidak memberitahumu. Aku mem ....”
Amel dan Kenan menoleh serempak, saat mendengar pintu terbuka. “Kau, kenapa kau bisa ada di sini?”
Rendi menatap Amel lalu beralih pada Kenan seoleh bertanya kenapa bisa wanita yang pernah menabraknya waktu itu ada di ruangan Kenan.
Wajah Amel menegang saat melihat Rendi sedang berjalan ke arah mereka. Amel tampak menatap Rendi terus menerus saat Rendi sudah berdiri di dekat Kenan saat ini.
Kenan berdiri lalu menepuk bahu Rendi. “Kenapa kamu tidak mengabariku dulu kalau mau ke sini?”
Rendi menatap tidak suka kepada Kenan. “Kenapa? Apa aku mengganggu kencanmu dengan wanita ini?” tanya Rendi sambil menatap Amel sekilas.
“Mel, keluarlah dulu. Nanti kita bicara lagi.”
“Tapii.....”
Kenan berjalan melewati Rendi kemudian menarik tangan Amel supaya bangun dari duduknya. “Aku akan menjelaskannya nanti,” ucap Kenan saat melihat kalau Amel tampak keberatan meninggalkan ruangan itu.
Rendi menatap tangan Kenan yang tampak sedang memegang tangan Amel. “Lepaskan tanganmu darinya,” ucap Rendi dingin.
Kenan langsung menoleh pada Rendi saat mendengar ucapan Rendi. Kenan terkejut saat melihat tatapan mengerikan dari Rendi yang mengarah padanya setelah tadi dia menatap tajam pada tangannya yang sedang memegang tangan Amel.
Kenapa tatapannya sangat menyeramkan? Bahkan saat dia lupa ingatan saja, masih tetap tidak mengijinkan siapapun untuk menyentuh Amel. Aku bahkan merinding melihat tatapannya itu, seolah-olah dia akan memakanku hidup-hidup. Mengerikan sekali, batin Kenan
Melihat Kenan tampak diam saja sambil memadangnya. Rendi berkata lagi, “Apa kau tidak dengar perkataanku. Kubilang lepaskan tanganmu,” ucap Rendi dengan suara tinggi sambil menatap tajam Kenan.
“Menjauh darinya!” Rendi menarik kerah belakang Kenan dengan cepat, membuat Kena terdorong mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.
“Kau ini, kenapa menarik kerah bajuku?” tanya Kenan dengan wajah kesal.
“Kalau kalian ingin berkencan jangan di sini,” ucap Rendi dingin sambil menatap tajam pada Kenan.
Kenan menoleh pada Amel yang tampak terkejut dengan tindakan Rendi tadi. “Keluarlah dulu Mel, aku janji akan menjelaskan padamu nanti.”
Amel menatap Rendi sejenak lalu mengangguk dan bejalan keluar dari ruangan Kenan.
“Jangan dekat-dekat dengannya. Aku tidak suka,” ucap Rendi saat melihat Amel telah keluar dari ruangan Kenan. Rendi kemudian berjalan menuju meja kerja Kenan lalu berdiri di depan dinding kaca sambil menatap keluar.
Kenan menghampiri Rendi dan berdiri di sampingnya. “Kenapa? Apa kau cemburu?” Kenan mencoba meneliti perubahan ekspresi pada wajah Rendi.
__ADS_1
Rendi menoleh pada Kenan dengan senyuman sinis. ”Apa kamu tidak waras? Untuk apa aku cemburu hanya karena wanita itu.”
“Lalu kenapa kamu begitu marah saat aku menyentuh tanganya tadi. Kamu bahkan menarik kuat kerah bajuku sampai aku leherku tercekik. Kau juga melarangku untuk dekat denganya. Apakah ini tidak aneh?”
Rendi memasukkan tangannya ke saku celananya dan menatap lurus ke depan dengan wajah acuh tak acuh. “Aku hanya tidak suka dengannya. Apalagi saat dia menatapku, perasaanku tidak nyaman saat bertatapan dengannya. Aku bahkan tidak bisa melupakan wajah dan tatapannya padaku setelah pertemuan terkahirku dengannya. Aku tidak bisa tidur tenang semejak itu.”
Kenan menepuk bahu Rendi. “Apa kamu benar-benar tidak mengenali wajahnya atau mengingat siapa dia?”
Alis Rendi naik sebelah. “Apa kau sudah gila? Aku bahkan baru bertemu dengannya dua kali, lalu apa yang perlu aku ingat darinya?” tanya Rendi kesal. “Aku ke sini bukan untuk membahasnya.”
“Lalu untuk apa kau ke sini?”
Rendi menghadap ke Kenan. “Apa kau mengenal wanita yang bernama Amelia Putri?”
Kenan terkejut saat Rendi menyebut nama Amel. “Ada apa dengan wajahmu itu? Kenapa kau sangat terkejut saat mendengar namanya?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget, dari mana kau tahu nama itu?”
“Kau tidak perlu tahu. Melihat dari ekpresimu tadi, kau pasti mengenalnya. Beritahu aku di mana wanita itu berada, aku harus menemuinya.”
“Aku tidak akan memberitahumu keberadaannya jika kau tidak katakan kepadaku untuk apa kau mencarinya?"
Rendi menatap Kenan sejenak lalu beralih menatap pemadangan luar. “Sebelum aku ke sini, aku mampir ke Jepang terlebih dulu. Aku pergi berkunjung ke Hotel dan Resortku yang ada di sana. Aku berniat untuk menjualnya karena aku akan membangun Hotel dan Resort di Jerman. Semejak oma dan opaku meninggal, tidak ada yang membantuku untuk mengawasi perkembangan resort dan hotelku yang ada di Jepang, tapi aku terkejut saat mengetahui tidak bisa menjualnya karena kepemilikannya sudah berpindah menjadi kepemilikan wanita itu. Aku sudah bertanya kepada Jhon, tetapi dia hanya bilang kalau aku ingin mengetahuinya, aku harus ke indonesia. Dia tidak mau memberitahuku bagaiamana bisa hotel itu berpindah tangan tanpa sepengetahuanku. Apalagi aku tidak mengenal nama wanita itu.”
Kenan tertawa mengejek kebodohan sepupunya. “Apa kau tidak ingat kalau kamu sendiri yang dulu meminta Jhon untuk mengalihkan kepemilikan resort dan hotel itu pada Amelia. Kamu bahkan sampai mengancam Jhon saat dia menentang keputusanmu.”
Rendi langsung menoleh pada Kenan dengan wajah tidak percaya. “Apa kau pikir aku sudah gila? Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu.”
Rendi langsung menoleh pada Kenan dengan wajah tidak percaya. “Apa kau pikir aku sudah gila? Tidak mungkin aku melakukan hal bodoh seperti itu.”
“Nyatanya kau memang sudah gila dan juga bodoh,” cemooh Kenan
Rendi menoleh pada Kenan dengan tatapan tajam. “Apa kau sudah bosan hidup?”
Kenan terkekeh saat melihat ekspresi wajah Rendi yang tidak terima dengan perkataannya. “Aku hanya bercanda, kau ini memang payah. Sama sekali tidak mempunyai selera humor.”
“Apa kau sudah gila? Bunuh saja aku sekalian,” peik Kenan dengan wajah kesal. ”Aku bahkan tidak mempunyai waktu untuk diriku sendiri karena harus mengurus perusaanmu juga, apa kau tidak kasihan denganku?”
Rendi mengalihkan pandangannya ke depan lagi. “Tidak,” jawab Rendi datar.
“Kauu!” tunjuk Kenan dengan wajah geram.
“Cepat beritahuku dimana wanita itu?” ucap Rendi dengan tidak sabar.
“Untuk apalagi kau menemuinya?"
“Aku hanya ingin tahu kenapa aku menyerahkan resort dan hotelku padanya. Aku juga ingin mengetahui ada hubungan apa aku dengannya.”
“Kau mau tahu alasannya?”
Rendi berbalik menghadap Kenan. “Memangnya kau tahu?”
“Tidak”
“Kauu!”
“Aawwhhh, kenapa kau menendangku?” teriak Kenan sambil mengangkat dan mengusap-usap kakinya yang ditendang oleh Rendi tadi.
Rendi menoleh pada Kenan yang terlihat sedang menatap tajam padanya. “Jangan menguji kesabaranku.”
“Tentu saja alasannya karena kau sangat mencintai gadis itu sampai kau rela menyerahakan kepemilikan resort dan hotelmu yang ada di sana.”
“Apa kau mau aku tendang lagi? Bicaralah yang benar. Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu.”
__ADS_1
“Kau pikir apa lagi alasanya selain itu? Terserah padamu mau percaya apa tidak, yang pasti kau sangat mencintai gadis itu. Kau bahkan membayakan dirimu sendiri demi gadis itu.” Kenan berucap dengan nada kesal.
Dahi Rendi mengerut. “Kalau aku sangat mencintai gadis itu, kenapa aku tidak mengingat sedikitpun kenangan saat bersamanya? Bahkan, aku tidak bisa mengingat wajahnya sama sekali.”
Kenan menghembuskan napas beratnya. Dia berusaha untuk sabar menjelaskan pada Rendi. Dia tidak bisa melampiaskannya kekesalannya karena saat ini Rendi memang tidak mengingat apapun tentang Amel.
“Kalau masalah itu kau bisa tanyakan langsung dengan Jhon atau kak Bianca. Mereka yang lebih tahu penyebabnya. Aku hanya berpesan padamu, lebih baik kau jauhi dia dan jangan pernah temui dia lagi. Anggap saja kau tidak mengenalnya.”
“Kenapa memangnya?”
“Kau hanya akan menambahkan luka yang baru padanya. Bukankah kau ke sini hanya sebentar dan akan kembali lagi ke Jerman? Jadi lebih baik jangan pernah temui dia lagi, apalagi kau sudah bertunangan dengan Friska,” ucap Kenan, “maksudku dengan Friskila,” ralat Kenan.
“Semakin kau melarangku untuk bertemu dengannya, semakin ingin aku menemuinya. Apa kau menyukai gadis itu juga sehingga kau melarangku untuk bertemu dengannya?” tanya Rendi dengan wajah datar.
“Aku memang pernah menyukainya dulu, tetapi kau sudah mengancamku duluan sebelum aku mendekatinya,” ucap Kenan dengan wajah kesal.
“Kalau kau tidak mau memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri,” ucap Rendi acuh.
“Kalau kau mau melepas Friskila, aku akan mempertemukamu pada dia.”
Alis Rendi menyatu. "Apa maksudmu?”
Kenan menatap lurus ke depan. “Kau harus memilih satu di antara mereka karena kamu tidak bisa memiliki keduanya!”
“Apa kau sedang mabuk? Kenapa ucapanmu ngelantur? Aku hanya ingin menemui dia. Tidak ada maksud lain.”
“Aku hanya takut kalau kau tidak akan melepaskan gadis itu saat kau sudah mengingatnya. Kau hanya akan melukai Friskila jika seperti itu.”
“Apa kau pikir aku mudah jatuh cinta pada orang lain.”
“Tapi kenyataanya, kau sangat mencintai gadis itu dulu.”
“Sudaaahlah, percuma saja aku bicara denganmu. Kau hanya membuang-buang waktuku,” ucap Rendi malas. “Bersiaplah untuk rapat anggota Dewan Komisaris dan Direksi besok. Aku sudah meminta Fadil untuk mengadakan rapat tertutup. Aku sendiri yang akan memimpin rapat tersebut.”
Kenan langsung berbalik kepada Rendi. “Kenapa mendadak sekali? Kau tidak bisa seenaknya membuat rapat dengan Dewan Komisaris dan Direksi tanpa memberitahuku dulu,” ucap Kenan kesal.
“Aku tidak perlu ijin darimu untuk melakukan rapat besok, Ini adalah perusahaanku, terserah aku mau melakukan apa,” ucap Rendi santai.
“Tapi kau sudah memberikan tanggung jawab perusahaanmu padaku. Kau ini menganggap aku remeh ya? Aku ini pewaris Merion Group, berani-beraninya kau memperlakukan aku begini,” gerutu Kenan.
“Pergunakan otakmu dengan benar. Bahkan orang tuamu saja belum berani menyerahkan perusahaanya padamu sepenuhnya karena takut kau akan membuat perusahaannya bangkrut. Begitupun aku, tidak mungkin aku melepasmu begitu saja. Aku tidak mau mengambil resiko yang membuat perusaanku mengalami masalah nanti. Aku hanya ingin mengetahui kemampuanmu, sejauh mana kau bisa mengelola perusahaanku.”
“Kau pikir aku senang mengurus perusahaanmu ini, kalau bukan karena kau yang memintaku, aku tidak mungkin mau,” ucap Kenan kesal.
Rendi melirik malas pada Kenan "Harusnya kau bersyukur bisa menjadi CEO di Reyland Group. Kau bisa banyak belajar dari perusahaanku supaya perusahaanmu nanti menjadi perusahaan lebih besar lagi ke depannya."
Kenan menatap Rendi dengan wajah kesal. "Heyy, asal kau tahu, perusahaanku itu berada di peringkat kedua terbesar di Indonesia, hanya beda 1 tingkat dibawah perusahaanmu."
"Itu karena papamu yang mengurusnya, lain cerita kalau kau yang turun tangan," kilah Rendi.
"Sudahlah, aku malas meladenimu," ucap Kenan pasrah.
Rendi berbalik menghadap Kenan. "Temani aku makan siang! aku lapar!"
"Aku bukan pacarmu, untuk apa aku menemanimu makan. Aku sibuk, aku harus bekerja, lagi pula, aku akan pergi dengan sekertarisku."
"Apakah wanita tadi itu sekertarismu?"
Kenan berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk membelakangi Rendi. "Iyaa."
"Tidak boleh," larang Rendi dengan suara keras.
"Hheeeyy, kau ingin membunuhku ya? Bisa tidak jangan mengagetkan aku? Aku bisa mati muda karena jantungan," pekik Kenan sambil memegang dadanya. Jantungnya berdetak cepat saat mendengar teriakan dari Rendi.
__ADS_1
Rendi menghampiri Kenan. "Aku tidak mengijinkanmu pergi berdua saja dengannya."
Bersambung...