
Sofi terus memandang Raka yang terlihat sedang berjalan bersama dengan Nita setelah selesai berbicara dengan dua orang yang yang berada di depannya tadi. "Raka," panggil Sofi ketika melihat Raka akan berjalan melewati mejanya.
Raka menoleh sekilas pada Willy kemudian beralih pada Sofi. "Aku ingin berbicara denganmu," ucap Sofi ketika Raka terlihat berhenti di samping mejanya.
"Nita, tunggu aku di mobil. Aku akan berbicara dengannya dulu." Raka menyerahkan kunci mobil pada Nita setelah melihat Nita mengangguk.
"Will, kau pulanglah. Aku bisa pulang sendiri," ucap Sofi sambil menoleh pada Willy.
Willy melirik sekilas pada Raka dan beralih pada Sofi sambil tersenyum. "Aku akan menunggumu. Rendi akan marahiku, jika aku membiarkanmu pulang sendiri."
Raka langsung berjalan mendahului Sofi menuju meja kosong di dekat pintu keluar. Dia tidak mau berlama-lama di dekat Willy.
"Waktuku tidak banyak. Aku harus bekerja. Bicaralah." Raka terlihat menatap datar pada Sofi yang terlihat salah tingkah.
"Aku bertemu dengan Willy karena aku ingin...."
Raka langsung memotong ucapan Sofi sebelum dia menyelesaikan perkataannya. "Dengar Sofi, aku tidak peduli kau mau bertemu dengan siapa. Itu bukan urusanku karena kau bukan siapa-siapaku. Kau bebas bertemu dan menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, tapi jika kau sudah memutuskan untuk menerima lamaranku, aku tidak akan membairkankanmu untuk bertemu dengan pria lain diluar meskipun hanya dengan teman priamu," ucap Raka datar.
"Aku sudah memberikan padamu waktu untuk berpikir selama seminggu. Pergunakan waktumu dengan baik. Aku hanya akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Jika kau menolak lamaranku kali ini, tidak akan ada kesempatan lain lagi. Aku akan menikahi wanita lain," jelas Raka dengan wajah acuh.
Sofi terlilhat meremas kedua tangannya di bawah meja. "Aku akan menjawab lamaranmu tiga hari lagi," ucap Sofi dengan wajah cemas. Dia sangat takut kalau Raka akan kembali salah paham padanya. "Aku akan menyelesaikan semua urusanku dulu, baru aku menjawab lamaranmu."
"Tidak perlu buru-buru. Kau bisa menjawabnya sampai batas waktu yang aku berikan. Jangan sampai kau menyesal nantinya."
Kalau mau jujur, Raka merasa sangat cemburu melihat Sofi bertemu dengan Willy. Dia berusaha bersikap tenang meskipun saat ini dia sedang terbakar api cemburu. Dia sekuat tenaga berusaha untuk menekan rasa cemburunya karena tidak ingin memperkeruh suasana apalagi Sofi bukanlah kekasihnya lagi.
Sofi menundukkan kepalanya. "Baiklah.. Aku akan menghubungimu nanti. Bisakah kita bertemu nanti setelah kau pulang kerja?" Melihat sikap dingin Raka membuat Sofi merasa sedih.
"Aku sudah ada janji."
"Dengan siapa?"
"Dengan keluarga Nita," jawab Raka singkat.
Hati Sofi langsung mencelos mendengar perkataan Raka. Dia menduga kalau pertemuan Raka dengan keluarga Nita sebagai langkah awal untuk meminta restu pada keluarga Nita guna melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
"Jadi, Nita adalah wanita yang akan kau pilih sebagai pendamping hidupmu seandainya aku menolak lamaranmu?" tanya Sofi dengan wajah sedih.
"Tunggu sebentar." Raka mengangkat telponnya ketika mendengar ponselnya berbunyi.
Raka terlihat berbicara dengan suara pelan dan tidak lama kemudian mengakhirinya.
__ADS_1
Raka menatap Sofi ketika dia sudah meletakkan ponselnya di saku. "Aku harus pergi." Raka berdiri sambil menatap Sofi yang terlihat menunduk lesu sambil memainkan jari tangannya.
"Sofi, aku harus pergi." Raka mengulangi perkataannya saat tidak mendapatkan respon apapun dari Sofi.
Sofi mengangkat kepalanya lalu tersenyum paksa. "Pergilah, Nita pasti sudah menunggumu dari tadi," ucap Sofi dengan suara bergetar. Sofi tentu saja tahu kalau yang menelpon Raka tadi adalah Nita.
"Pulanglah bersama Willy. Jangan pulang sendiri," ucap Raka sebelum meninggalkan Sofi.
"Heemm," gumam Sofi sambil mengangguk.
Air mata Sofi langsung lolos setelah kepergian Raka. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya yang sedari dia tahan ketika mendengar Raka akan bertemu dengan keluarga Nita.
"Sof, kau kenapa?" tanya Willy sambil memegamg bahu Sofi yang terlihat sedang menundui. Willy langsung meghampiri Sofi ketika melihat Raka sudah pergi.
Sofi meghapus air matanya lalu mendongakkan kepala ke samping, menatap Willy yang sefang berdiri di sampingnya. "Aku tidak apa-apa Will."
"Apa kau yakin baik-baik saja?" Willy tampak meragukan perkataan Sofi saat melihat mata Sofi tampak memerah. Dia menduga kalau Sofi pasti habis mengeluarkan air matanya.
"Iyaaa, aku baik-baik saja." Sofi langsung berdiri. "Ayo kita pulang." Sofi berjalan mendahului Willy yang terlihat masih berdiri.
"Sepertinya sudah tidak ada tempat lagi untukku di hatimu, Sof," ucap Willy dalam hati.
******
Rendi dan Amel sedang menonton televisi di kamar mereka.
"Bagaimana visa ibu dan Bagas?" Amel tentu saja mengajak serta ibu dan adiknya ke Jerman.
"Sama, sudah jadi juga." Karena Rendi dan keluarganya memiliki kewarganegaraan Jerman sehingga mereka tidak perlu lagi memakai Visa untuk ke sana.
Amel menunduk menatap suaminya. "Apa kau sudah mengabari Friska kalau kita akan berangkat 3 hari lagi?" tanya Amel sambil menyisir rambut suaminya dengan jari tangannya.
"Sudah. Kenan akan ke Singapore dulu menemui Friska setelah itu mereka bertiga akan menyusul ke Jerman," jelas Rendi.
Rendi langsung menyuruh Kenan untuk menghubungi Friska mengenai keberangkatannya ke Jerman. Kenan menawarkan diri untuk menyusul Friska dan Devan ke Singapore.
"Kak Evans jadi ikut ke Jerman?" tanya Amel antusias.
Sebelumnya, Amel pernah bertanya pada Devan apakah dia akan hadir di acara resepsi pernikahannya di Jerman. Devan tidak memberikan jawaban pasti pada Amel. Dia mengatakan akan melihat jadwalnya dulu. Itulah yang membuat Amel berpikir kalau Devan tidak ingin datang ke Jerman.
Wajah Rendi langsung berubah masam. "Jangan membuatku cemburu sayang. Kau terlihat senang sekali kalau dia bisa datang ke acara pernikahan kita."
__ADS_1
Amel langsung mengecup singkat bibir Rendi. "Kau tidak perlu cemburu dengan kak Evans lagi kak. Aku hanya mencintaimu. Aku adalah istri yang setia. Tidak mungkin aku bermain api dibelakangmu," jelas.
"Aku percaya denganmu sayang, tapi aku masih meragukan Devan. Dia bahkan pernah menyembunyikanmu dariku," ungkit Rendi. Seketika dia teringat ketika Devan membawa Amel ke vilanya tanpa sepengetahuanya.
"Dia hanya ingin menguji kesungguhanmu, Kak. Kau pernah meninggalkan aku demi Friska. Dia takut kalau hatimu sudah terbagi menjadi 2 bagian yaitu untukku dan Friska."
"Tetap saja. Rasa cintanya padamu sangat dalam. Dia tidak mungkin melupakanmu begitu saja meskipun kau sudah menikah denganku." Rendi memang masih saja waspada terhadap Devan.
"Bagaimana kalau kita menjodohkan kak Evans dengan Friska?" usul Amel. Hanya dengan cara itu Devan akan cepat melupakannya.
Alis Rendi bertautan. "Menjodohkan mereka? Friska tidak akan semudah itu menyukai pria lain, begitupun sebaliknya. Kau dia bisa berpindah hati dengan mudah. Sudah lama dia bersama dengan pria lain Mel, lagi pula Kenan menyukai Friska. Aku sudah meminta Kenan untuk mendekati Friska," ungkap Rendi.
Awalnya Kenan juga menyukai Friskila. Dia bahkan pernah meminta Rendi untuk melepaskan Friskila tetapi Rendi tidak mau. Mereka sempat saling pukul. Dia merasa marah karena menurutnya dia lebih dulu menyukai Friskila dari pada Rendi. Lambat laun Kenan perlahan mundur ketika tahu Rendi dan Friskila saling mencintai.
Ketika Friskila meninggal dalam kecelakaan bersama Rendi, Kenan sempat emosi dan menyalahkan Rendi atas insiden tersebut.
Kenan bahkan pernah memukul Rendi setelah Rendi sembuh pasca bangun dari koma yang mengakibatkan Rendi mengalami pendarahan otak lagi dan sempat tidak sadarkan diri beberapa hari. Itulah yang membuat Kenan merasa sangat bersalah pada Rendi karena hampir saja dia membuat Rendi meregang nyawa.
Semenjak saat itulah Kenan tidak pernah menolak apapun permintaan Rendi karena rasa bersalah yang begitu besar pada sepupunya. Rendi juga tidak sedikit pun marah dengan Kenan. Dia bahkan meminta dokter Jhon, dokter Bianca, Friska dan Kenan untuk merahasiakan kejadian tersebut dari orang tuanya karena tidak ingin keluarga khawatir padanya.
Saat itu, keluarga Rendi tidak ada yang tahu karena kejadian tersebut terjadi saat Rendi, Kenan, dan Friska sedang berada di Amerika untuk berlibur dan mengunjungi dokter Bianca. Itulah sebabnya Kenan tidak berdaya jika Rendi sudah meminta tolong padanya.
Berjalannya waktu Kenan mulai menyukai Friska tapi Kenan harus kembali menelan kekecewaan lembali. Friska ternyata menyukai Rendi dan perjodohan yang semula ditujukan untuk Friskila digantikan oleh Friska karena Friska sudah meninggal. Kenan akhirnya memutuskan untuk memendam perasaannya karena dia tahu, kalau Friska ternyata sangat mencintai Rendi.
"Benarkah? Kenapa kakak tidak bilang dari awal kalau Kenan menyukai Friska?" tanya Amel dengan wajah penasaran.
"Itu tidak penting, sayang."
"Tentu saja itu penting," ucap Amel dengan wajah cemberut.
Rendi bangun dari tidurnya. "Sudahlah jangan membahas mereka lagi. Lebih baik kita membahas mengenai masa depan kita dan anak-anak kita nanti." Rendi meminta Amel untuk berbaring di sebelahnya dan saling berhadapan.
" Anak-anak kita?" Dahi Amel tampak berkerut. "Aku bahkan belum hamil kak, terlalu cepat untuk membicarakan mengenai anak."
"Justru karena kau belum hamil, aku berencana untuk berbulan madu sebulan di sana setelah acara resepsi kita selesai digelar," ungkap Rendi.
Mata Amel membelalak. "Sebulan? Kenapa lama sekali?"
"Agar kau cepat hamil sayang," jawab Rendi dengan lembut.
"Kita harus sabar Kak. Mungkin kita memang belum ditakdirkan untuk memiliki anak dalam waktu cepat."
__ADS_1
"Iyaa, aku tahu. Mungkin Itu juga salah satu pertanda kalau kita harus melakukannya lebih sering lagi, sayang." Rendi tersenyum penuh arti pada istrinya.
Bersambung...