
“Kalau memang kita saling mengenal, beritahu saya, kapan dan dimana kita saling mengenal. Agar saya bisa mengingatnya," imbuh Amel.
”Tugas yang kemarin aku minta kau berikan kepada teman-temanmu, tolong kau kumpulkan lalu letakkan di meja guru sebelum aku masuk ke kelasmu.” Devan tampak tidak menanggapi pertanyaan Amel. Dia tidak ada niat untuk memberitahu Amel sama sekali.
“Dan ini, kau bagikan lagi kepada teman sekelasmu. Ini adalah materi yang akan kita pelajari hari ini.” Devan meletekkan tumpukan kertas putih di depan Amel lalu berjalan meninggalkannya.
Amel menoleh menatap punggung Devan yang tampak sudah jauh. “Siapa sih dia sebenarnya? Dan, ada apa dengan sikap dinginnya itu? Kenapa dia tiba-tiba bersikap begitu denganku?” gumam Amel sambil menampilkan wajah kesalnya.
Dia kemudian keluar dari perpustakaan sambil membawa materi yang diberikan oleh Devan tadi. Dia berjalan menuju kelasnya. Setelah Amel mengumpulkan tugas teman-temanya. Dia kembali membagikan kertas putih yang berisi materi yang akan di pelajari hari ini. Tidak lupa dia memberitahu Rendi bahwa dia sudah selesai berbicara dengan Devan.
Selama pelajaran berlangsung, tampak Devan tidak memperdulikan Amel sama sekali. Dia bersikap acuh tak acuh. Amel tidak mau ambil pusing dengan sikap Devan. Setelah jam pelajaran kedua selesai, Amel berdiam diri di kelas menunggu bel istrirahat.
Tidak lama kemudian bel berbunyi. Amel dan teman-temannya berencana makan di kantin. Amel sebenarnya masih memikirkan kata-kata Devan tadi. Seperti ada yang mengganjal di hatinya.
“Mel, ada yang nyari lo!” teriak Maya teman sekelas Amel yang sedang berada di depan pintu.
Ketiga temannya sontak menoleh ke Amel, seolah bertanya siapa yang mencarinya.
Amel mengangkat kedua bahunya sebagai respon dari tatapan para sahabatnya.
“Siapa?” tanya Amel kepada Maya.
“Lo liat sendiri aja,” jawab Maya.
Amel berjalan menuju pintu. “Kakak kok ada di sini?” tanya Amel dengan wajah yang terkejut saat melihat Rendi yang sedang berdiri di depannya dengan mengenakan seragam sekolah.
Rendi tersenyum pada Amel. “Iya, aku memutuskan untuk masuk hari ini. Mama juga sudah menginjikan aku masuk,” jelas Rendi.
“Kita mau ke mana?” tanya Amel saat Rendi sudah menarik tangannya.
“Makan,” jawab Rendi singkat.
“Tapi lepasin dulu, Kak. Mereka sedang menatap kita,” ucap Amel ketika melihat hampir semua siswa menatap ke arahnya dan Rendi.
Ada yang terkejut, ada yang penasaran, ada yang menatap marah, menatap tidak suka, menatap iri, dan tidak sedikit yang menatap dengan tatapan permusuhan kepadanya, terutama cewek-cewek yang tergabung dalam sebuah club penggemar Rendi.
__ADS_1
“Aku tidak peduli,” ucap Rendi yang masih menarik Amel menuju kantin.
Saat tiba di kantin, Rendi berhenti saat Siska menghampirinya. Dia terlihat menghalangi jalan mereka berdua. “Katanya lo udah beberapa hari nggak masuk sekolah? Emangnya lo sakit apa?” tanya Siska sambil menggeser tubuh Amel yang berada tepat di sebelah Rendi. Siska mencoba memegang lengan Rendi.
Amel menatap tidak suka pada Siska, tapi tidak berani berbicara karena bagaimanapun Siska adalah kakak kelasnya. Dia tidak mau mencari masalah dengan kakak kelasnya.
Rendi memandang Siska sejenak lalu menepis tangan Siska. “Siska, uda berapa kali gue bilang, berhenti buat deketin gue. Apa kata-kata gue kurang jelas selama ini? Jangan buang waktu lo cuma buat deketin gue karena gue uda punya pacar sekarang.” Rendi menarik lengan Amel agar berdiri di sebelahnya.
Siska menatap tidak suka pada Amel. “Gue kurang apasih Ren selama ini? Dari dulu gue selalu sabar, walaupun lo bersikap dingin sama gue. Lagian, dia nggak cocok buat lo.”
“Lo itu cuma terobsesi sama gue Siska. Lo nggak beneran suka sama gue.”
“Tau apa lo soal perasaan gue, bahkan lo aja nggak pernah ngerespon gue dan sekarang dengan entengnya lo bilang uda punya pacar dan nyuruh gue jauhin lo?” ucap Siska dengan nada marah.
“Gue nggak mau ribut sama lo. Gue uda pernah bilangkan dari dulu kalau gue uda suka sama orang lain dan orang itu adalah Amel."
“Gue juga nggak mau ribut. Gue bakalan terima kalau lo uda punya pacar, tapi cewek itu harus lebih cantik dari gue, tapi apa? Lo pacaran sama dia? Lo nggak salah? Gue rasa lo uda di pelet sama dia!”
Apa-apaan nenek sihir ini! datang-datang ngoceh nggak jelas, pake pegang lengan pacar gue, uda gitu ngejelekin gue, walaupun benar sih gue nggak lebih cantik dari dia, tapi jangan gitu juga kali. Gue tersinggung nih! Gini-gini juga Rendi lebih milih gue dari pada lo..
Rendi tidak mengubris ucapan Siska. Dia hanya menarik tangan Amel dan melewati Siska.
Rendi mengambil tempat duduk yang paling ujung di kantin, setelah mereka memesan makanan terlebih dahulu. Saat makanan tiba, mereka makan tanpa bersuara.
“Apa dari dulu Siska sering ngedekatin Kakak seperti tadi?" tanya Amel saat dia sudah selesai makan.
“Hhmm,” gumam Rendi mengangguk sambil mengaduk jus jeruk yang dia pesan tadi.
“Dari dulu Amel penasaran banget sama sesuatu. Bukan cuma Amel sih yang penasaran, tapi banyak juga yang penasaran sama kayak Amel."
"Apa?" tanya Rendi sambil mengalihkan pandangannya pada Amel.
"Semua orang di sekolah tahu kalau Siska suka sama Kakak. Dia adalah cewek tercantik di sekolah kita, tapi kenapa Kakak nggak suka sama dia? Kakak bahkan selalu cuek sama Siska.”
“Karena aku sudah menyukaimu lebih dulu. Aku juga nggak suka merespon orang lain yang tidak aku suka,” ujar Rendi dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
Wajah Amel tampak terlihat senang. “Benaran? Apa Lakak nolak dia karena aku?” tunjuk Amel pada diri sendiri.
“Hhhmmm,” gumam Rendi sambil mengangguk.
“Kalau aku tau dari dulu, aku pasti nggak akan ngejauhin Kakak. Kenapa Kakak nggak bilang dari dulu kalau Kakak suka sama aku?" tanya Amel dengan wajah cemberut.
“Aku kira kamu pacaran dengan Raka. Aku juga lira kamu benci sama aku karena setiap kita bertemu, kau terus saja menghindariku.”
“Aku menghindari Kakak karena dulu karena aku selalu gugup kalau bertemu dengan Kakak. Aku nggak mau terlihat seperti orang bodoh di depan Kakak. Lagian, kenapa orang-orang selalu salah paham dengan hubungaku dan Raka. Padahalkan, dia cuma abangku.”
“Itu karena kau terlalu dekat sama dia. Maka dari itu, aku selalu melarang kamu terlalu dekat denganya, tapi karena mengingat kau memang sudah lama dekat dengan dia, sekarang aku berusaha memaklumimu dan tidak terlalu membatasimu kalau mau bertemu sama dia.”
“Terima kasih Kak karenansudah mau mengerti aku, tapi kenapa Kakak nggak bilang kalau hari ini mulai masuk sekolah?” tanya Amel heran.
“Kenapa? Kamu takut aku ganggu kamu ketemu sama guru magang itu?” Rendi menatap Amel dengan datar.
Kenapa lagi sama dia? Kenapa dia cepat sekali marah sih?
“Nggak, Kak. Amel cuma kaget aja. Harusnya Kakak ngabarin aku dulu.”
“Tadi kamu ngomong apa sama guru itu?” Rendi mengalihkan pembicaraan.
“Entahlah, Kak, Amel juga bingung dengan pak Devan. Dia tadi marah dengan Amel.”
Alis Rendi naik sebelah. “Marah kenapa?”
“Dia marah karena Amel terus menghindarinya. Dia tidak suka dengan sikap Amel yang seperti menjaga jarak dengannya. Dia juga seperti mengisyaratkan kalau Amel mengenal dia sebelumnya,” ungkap Amel.
Rendi tampak diam sesaat. “Apa kamu yakin tidak mengenalnya? Aku merasa sikapnya sangat aneh terhadapmu. Untuk ukuran orang yang baru saling mengenal, tidak mungkin dia bersikap seperti itu dengan kamu, Mel.”
“Aku sangat yakin, Kak. Aku tidak mungkin melupakan seseorang yang pernah aku kenal, kecual ....” Ucapan Amel menggantung saat diat teringat sesuatu. Amel menggelengkan kepalanya seolah apa yang dipikirkan tidak mungkin.
“Kecuali apa?”
“Tidak Kak, Amel tiba-tiba ingat dengan seseorang, tapi tidak mungkin. Karena wajah mereka sangat berbeda. Bahkan sikapnya juga berbeda.”
__ADS_1
“Seseorang siapa?”
Bersambung...