Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Gelisah (Sesion 2)


__ADS_3

Rendi menjauhkan wajahnya dari Amel. “Lalu seperti apa??”


Rendi menatap Amel dengan wajah serius dengan melipat kedua tangannya di depan dada. “Satu hal yang harus kamu tahu kalau aku tidak akan pernah mencampakkan orang yang aku cintai, meskipun dia sudah menyakitiku berkali-kali.”


Tubuh Amel bergetar saat mendengar pernyataan Rendi. Bagaimanapun dialah yang memutuskan hubungannya dengan Rendi, tanpa mendengar penjelasannya dalu.


“Ak-aku.. Kitaa.....” Rasa bersalah yang terus menghantuinya karena sudah berlaku kejam pada Rendi waktu itu membuat Amel tidak bisa berkata-kata.


Rendi meneliti ekspresi wajah Amel yang tampak bingung dan gugup. Dia masih menatap Amel dengan penuh tanda tanya. Di dalam hatinya dia bertanya-tanya apa benar kalau dia pernah mencintai wanita di depannya ini, mengapa dia sama seklau tidak mengingatnya.


Saat dia memandang wajah di depannya, ada perasaan sakit di hatinya. Dia berpikir mungkin itu adalah perasaan kasihan saat dia melihat mata wanita di depannya itu berkaca-kaca saat tadi menatapnya.


Rendi memang tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi orang terdekatnya. Perasaanya akan terenyuh jika melihat wanita menangis di depannya.


“Kenapa kamu diam saja?” tanya Rendi tidak sabar. Dari tadi Rendi menunggu jawaban dari mulutnya, tetapi wanita di depannya itu tampak tidak mau menjelaskan apa-apa.


Amel memandang wajah Rendi yang sedang menatapnya tajam. “Bisakah kita berbicara berdua? Ada yang ingin aku bicarakan ke padamu.” Amel ingin meluruskan kesalah pahaman di antara mereka dulu.


“Aku beri kamu waktu 5 menit.”


Amel terlihat gusar saat mendengar perkartaan Rendi. “Itu tidak cukup, banyak yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Aku tidak punya banyak waktu, tunanganku sedang menungguku.”


Tubuh Amel tiba-tiba membeku, pikirannya melayang seketika kosong. Perkataan Rendi yang barusan sukses membuat hatinya hancur. “Si-siapaa? Apa Friska maksudmu?”


Rendi mengeryit. “Dari mana kamu tahu Friska? Apa kamu temannya?” Dia sangat heran dengan wanita di depannya itu.


Amel tertawa getir, bagaima bisa Rendi menanyakan pertanyaan seperti itu kepadanya. Bukankah sudah jelas kalau Rendi yang mengenalkan dia yang padanya dulu. Bahkan Friska jelas-jelas sering mencari masalah dengannya.


“Dia bukan temanku.”


“Apa kamu dulu pernah tinggal di Jerman juga?” Rendi tampak sangat penasaran dengan Amel, bagaimana dia bisa dia mengenal Friska.


“Tidak, aku belum pernah ke sana.”


“Lalu bagaimana kamu bisa mengenalnya?”


Amel menatap Rendi dengan heran. Dia tidak mengerti dengan perkataan Rendi sama sekali.  “Bukankah sudah jelas kamu yang mengenalkanku padanya waktu kita masih SMA."

__ADS_1


Rendi geleng-geleng kepala. Dia tersenyum mengejek karena berpikir kalau Amel adalah pembohong ulung. “Kamu jangan bercanda padaku. Terakhir kali aku ke indonesia saat umurku 12 tahun. Dan ini kali pertamanya aku menginjakkan kakiku lagi di Indonesia.”


Rendi maju selangkah lalu menatap Amel dengan dingin. “Asal kamu tahu kalau Friska belum pernah ke indonesia sama sekali dan lagi dia sudah lama meninggal.”


Mata Amel membelalak karena merasa sangat terkejut. Amel menunjuk ke arah Kila pergi tadi.  “Tapi yang barusan adalah Friska, aku tidak mungkin salah dalam mengingat wajahnya.”


Rendi menoleh ke arah yang dia tunjuk. Rendi tertawa dan mengalihkan pandangannya lagi kepada Amel. “Dia adalah Friskila, saudara kembar dari Friska, tetapi dia juga belum pernah ke Indonesia sama dengan Friska.” Rendi berpikir kalau Amel benar-benar ingin membodohinya.


“Tidak mungkin, aku bahkan sempat bertengkar dengannya sebelum hubungan kita berakhir.”


Rendi menampilkan wajah acuh tak acuh. “Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu itu” Rendi berjalan melewati Amel yang masih diam mematung.


Amel berbalik saaat dirinya sadar kalau Rendi sudah tidak ada di depannya. Dia hanya menatap punggung Rendi yang terlihat semakin jauh. Amel terduduk lemas, dia tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Air matanya sudah mengalir.


Dia tidak menyangka kalau pertemuannya dengan Rendi akan seperti ini. Dia merasa Aneh dengan sikap Rendi sekarang. Dia seperti tidak mengenal sosok yang sudah lama dirindukannyan itu. Sorot matanya, nada bicaranya, sikap dinginnya, benar-benar tidak seperti Rendi yang Amel kenal. Dia seperti orang lain.


“Kamu kenapa Mel?” Raka memegang kedua bahu Amel sambil membungkuk dan menatap khawatir padanya.


Amel menoleh dengan air mata sudah membanjiri wajah pucatnya. “Dia membenciku Bang. Dia sudah melupakan aku,” lontar Amel.


Raka mengeryit sambil membantu Amel untuk berdiri. Dia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Amel. “Siapa yang kamu maksud?”


Raka terkejut. “Bukannya dia udaah gak ada? Gimana bisa kamu ketemu dengan dia lagi?”


“Aku harus menanyakan kepada Kenan, kenapa dia menyembunyikan keberadaan Rendi selama ini kepadaku. Pasti ada alasan kenapa dia berbohong kepadaku.”


Raka mengangguk. “Lebih baik kita pulang aja. Kamu kelihatan pucat.”


Raka menuntun Amel untuk menuju mobilnya. Dia memutuskan untuk membawa Amel pulang, setelah melihat kondisi Amel yang tampak lemas dan pucat. Untung saja dia belum sempat memesan makanan tadi karena dia ingin menunggu Amel terlebih dahulu.


*****


Amel terus saja jalan mondar-mandir dengan gelisah sambil menggigit jari gempolnya


di depan mejanya, sesekali dia menoleh menuju lift. Amel sedang menunggu kedatangan Kenan. Dia bermaksud meminta penjelasan soal kebohongan Kenan tentang Rendi.


Setelah kepulangannya dari restorang semalam, pikirannya terus melayang ke Rendi. Kata-katanya, padangannya matanya, sikap dinginnya, membuat hati Amel gelisah. Dia bahkan tidak bisa memejamkan mata barang semenitpun.


Sebelum fajar menyingsing Amel buru-buru bangun dari tempat tidur. Dia memutuskan untuk berangkat sepagi mungkin. Amel meminta Raka untuk mengantarkannya ke kantor karena Devan sedang dalam perjalanan dari luar kota menuju Jakarta pagi ini. Diperkirakan dia akan sampe Jakarta pukul 11 siang jika perjalanannya tidak ada hambatan.

__ADS_1


“Lo kenapa Mel?” Bela baru saja datang ketika melihat Amel tampak berdiri di depan mejanya sambil menunduk.


Amel mengangkat wajahnya. “Nggak apa-apa Bel, gue lagi nunggu Kenan dateng,” ucap Amel sambil menatap Bela yang sudah berada duduk di sampingnya sambil meletakkan tasnya.


“Diakan biasa dateng telat Mel, ini aja masih jam 7. Duduk aja dulu. Lagian lo gelisah amat sih. Ada apaan emang?” Bela menatap heran pada Amel, dia tampak tidak tenang, wajahnya sedikit pucat, matanya tampak bengkak.


Amel menoleh, lalu duduk di samping Bela. “Semalem gue nggak sengaja ketemu sama kak Rendi.”


Mulut Bela langsung menganga. “Hhhaaah, yang bener lo Mel? Bukannmya kata pak Kenan Rendi uda meninggal?” Bela tidak kalah terkejutnya dengan Raka semalam saat mendengar perkataan Amel.


Amel mengangguk cepat. “Makanya, hari ini gue mau tanya sama Kenan, apa motifnya nyembunyiin keberadaan Rendi sama gue.”


Bela geleng-geleng. “Gilaaa banget sih ini. Gimana bisa dia bohongin lo." Bela seketika berpikir, "tapi Mel yang jadi pertanyaan gue, kalau kak Rendi masih hidup, kenapa selama ini dia nggak berusaha buat nyari lo? Dia bahkan nggak pernah ngehubungin lo, padahal lo nggak pernah ganti nomor handphone lo sampe sekarang. Bahkan waktu ponsel lo ilang di Singapore, lo bela-belain pulang ke Indo, cuma buat ngurus kartu lo yang hilang itu.”


Amel memang sengaja untuk tidak mengganti nomor ponselnya sampai sekarang, karena dia berharap suatu saat nanti Rendi akan menghubunginya ke nomor itu.


Amel menunduk, wajahnya tampak murung. “Mungkin karena dia uda benci banget sama gue Bel. Dia sakit hati sama perlakuan gue waktu itu. Dia aja sampe pura-pura nggak kenal sama gue Bel.”


“Masaaa siih? Kok bisa?”


Dengan wajah sedih, Amel menceritakan semua yang terjadi semalam, Bela tampak beberapa kali menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah selesai menceritakannya semuanya, Bela tampak mengusap-usap bahu Amel untuk menguatkan sahabatnya.


Sudah pukul jam 10 pagi, tetapi Kenan belum juga datang, Amel mulai tampak tidak fokus dengan pekerjaan. Dia terus saja menatap ke depan menunggu kedatangan Kenan. Amel berjalan menuju ruangan Fadil untuk bertanya soal keberadaan Kenan. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Amel tampak lesu setelah keluar dari ruangan Fadil, dengan langkah pelan dia berjalan menuju ke tempat duduknya lagi. Fadil mengatakan kalau hari ini Kenan tidak datang ke kantor, karena dia sedang sibuk.


Hari demi hari Amel lewati dengan perasaan gelisah. Sudah seminggu lamanya Amel menunggu kedatangan Kenan. Fadil hanya mengatakan kalau Kenan masih ada urusan yang lain. Dia tidak mengatakan kapan Kenan akan masuk ke kantor.


Semua pekerjaannya untuk sementara dihandle oleh Fadil. Sebenarnya Kenan memang jarang pergi ke kantor itu, terkadang dia hanya datang seminggu sekali.


Itulah sebabnya Amel tidak pernah bertemu dengan Kenan selama bekerja di sana. Kenan harus mengurus perusahaan keluarganya juga, karena dokter Bianca sama sekali tidak ingin terlibat dalam urusan perusahaan.


Penantian Amel akhirnya berakhir setelah hari ke sepuluh semenjak dia bertemu dengan Rendi. Kenan datang ke kantor dengan wajah tidak berdosa.


“Kenan, kita perlu bicara.”


Amel menghadang Kenan di depan pintu ruangannya tanpa senyum sedikitpun, dia bahkan tidak repot-repot untuk menyapa Kenan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2