Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kecemburuan Sofi


__ADS_3

Rendi berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya ketika setelah membuka pintu rumahnya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sambil memanggil istrinya tercinta. "Sayang, kau di mana?" Rendi berkali-kali memanggil Amel, tapi tidak ada jawaban.


Sudah 3 bulan lebih Rendi pindah ke rumah lamanya yang pernah dijual ketika mereka memutuskan untuk pergi ke Jerman. Di rumah itu, ada Sofi yang ikut tinggal bersama kakaknya dan ada ibunya belum juga kembali ke Jerman. Rencananya setelah pernikahan Raka dan Sofi digelar, ayah dan ibu Rendi akan kembali ke Jerman untuk mengurus dokumen kepindahan mereka.


Mereka memutuskan untuk pindah ke Indonesia karena semua anaknya memutuskan untuk menetap di Indonesia dan merubah kewarganeraan mereka. Apalagi, Amel sedang hamil, tidak ada yang menjaganya jika Rendi bekerja selain pelayan di rumah.


Maka dari itu, mereka memutuskan untuk ikut pindah juga. Sementara mengenai perusahaan, ayah Rendi sudah menunjuk orang-orang yang akan membantunya mengelola perusahaan mereka yang ada di Jerman.


"Ren, kenapa kau teriak-teriak?"


Ibu Rendi menghampiri anaknya yang baru saja pulang bekerja. Karena resepsi kedua di Jerman dibatalkan, Rendi mulai bekerja di perusahaannya yang sebelumnya dipegang oleh Kenan, sementara Kenan kembali fokus pada perusahaannya sendiri.


Rendi sudah memutuskan untuk tinggal di Indonesia, jadi perusahaan yang ada di Jerman dia serahkan kepada orang kepercayaannya. Tentu saja tetap diawasi oleh ayah Rendi.


Rendi menoleh ke belakang saat mendengar suara ibunya yang datang dari arah ruang makan. "Amel ke mana, Ma?"


"Ada di belakang, sedang mengobrol dengan Sofi."


"Sofi tidak bekerja, Ma?" tanya Rendi dengan wajah heran.


"Sudah pulang."


Biasanya, Rendi pulang lebih dulu dari pada Sofi. Semenjak hubungannya dengan Raka mendapatkan kejelasan, Sofi mulai bekerja di hotel milik keluarganya yang sudah diberikan oleh Rendi untuk Sofi.


Rendi manggut-manggut. "Kalau begitu Rendi ke belakang dulu."


Dari kejauhan Rendi melihat istrinya sedang bercengkarama dengan adiknya di gazebo belakang sambil tertawa. "Sayang, ternyata kau di sini, aku mencarimu dari tadi." Rendi menghampiri istrinya lalu memberikan kecupan singkat di pipi dan dahinya.


"Maaf Kak, aku tidak menyambutmu pulang, aku sedang mengobrol dengan Sofi."


Rendi yang duduk di sebelah istrinya seketika menoleh pada adiknya. "Tumben kau sudah pulang?"


"Aku lelah Kak, jadi aku pulang cepat," jawab Sofi sambil memakan apel yang ada di depannya.


"Aku tadi bertemu Raka di restoran bersama dengan seorang wanita cantik." Rendi menoleh pada Amel, "siapa sayang nama mantan Raka yang jadi model terkenal itu?"


"Sonya, Kak." Amel merasa tidak enak hati saat menjawab pertanyaan Rendi, apalagi saat melihat wajah cemberut Sofi.


"Ahh iyaa, Sonya." tatapan Rendi beralih lagi pada adiknya, "kau pasti tidak tahu kalau Raka bertemu dengan mantannya, kan?" ejek Rendi.


"Kak, jangan membuat Sofi berpikiran tidak-tidak. Bang Raka itu setia, dia tidak mungkin berbuat macam-macam di belakang Sofi," tegur Amel.


"Benar, Raka tidak mungkin bertemu dengan mantannya tanpa memberitahuku."


Rendi memasang wajah acuh tak acuh. "Terserah kau kalau tidak percaya."


Wajah Sofi semakin tidak enak dilihat setelah memikirikan kembali ucapan kakaknya, dia kemudian mencoba menghubungi Raka, tapi tidak diangkat. "Hati-hati, jangan sampai Raka terpikat dengan mantannya, apalagi dia lebih cantik darimu," ujar Rendi sambil tersenyum jahil.


Amel memukul lengan suaminya. "Kak, berhenti memanas-manasi, Sofi," tegur Amel.


Rendi kemudian menoleh pada istrinya. "Aku hanya memperingatkannya saja sayang. Biasanya jika mendekati hari pernikahan, banyak sekali ujiannya, contohnya mantan yang tiba-tiba muncul kembali, jika Raka tidak kuat, mungkin saja dia akan tergoda dan akhirn....."


Sebelum Rendi menyelesaikan ucapannya, Amel sudah membekap mulut suaminya. "Kak, diamlah, jangan membuat Sofi bertambah cemas."

__ADS_1


Sofi terdiam sambil menatap ke layar ponselnya setelah menghubungi Raka berkali-kali tetapi tidak diangkat. "Sofi, mungkin bang Raka sedang di jalan, makanya tidak bisa menjawab telponmu." Amel berusaha untuk menenangkan Sofi agar tidak termakan ucapan suaminya.


Sofi mengangkat kepalanya menatap Amel. "Kak, saat pacaran dulu, apa Raka pernah berselingkuh?"


Pertanyaan Sofi membuat kakaknya terkekeh. Sebenarnya, Rendi hanya menggoda adiknya, dia memang melihat Raka dan Sonya di restoran itu, tetapi bersama dengan Nita juga, bahkan Rendi sempat menyapa Raka sebelum dia pergi dari restoran itu setelah dia selesai bertemu dengan rekan bisnisnya, jadi sebenarnya Raka tidak berdua saja dengan Sonya.


Amel tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sofi. "Tidak pernah, meskipun bang Raka memiliki banyak mantan saat sekolah, tetapi dia tidak pernah berselingkuh," ungkap Amel.


Tidak lama kemudian Raka terlihat berjalan ke arah gazebo tempat Amel, Rendi, dan Sofi berada. "Akhirnya kau datang juga," ucap Rendi sambil menatap ke arah Raka yang sedang menghampiri mereka. Seketika Amel dan Sofi pun menoleh bersamaan.


"Ada apa, kenapa kau menatapku seperti itu, sayang?" tanya Raka ketika mendapatkan tatapan tajam dari Sofi.


"Sayang lebih baik kita masuk ke dalam." Rendi berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Amel untuk membantunya berdiri. Rendi memilih untuk menghindar sebelum perang dimulai.


Raka terlihat masih belum mengerti kenapa Sofi menatap marah dirinya. "Hati-hati Raka, suasana hatinya sedang tidak baik, sepertinya sebentar lagi dia akan meledak," bisik Rendi sebelum berlalu meninggalkan Raka dan Sofi.


Raka kemudian menatap ke arah Amel seolah ingin meminta penjelasan darinya, tetapi Amel menggeleng pelan, dia takut kalau dia menjelaskannya, suaminya akan kembali berbicara yang tidak-tidak sehingga akan memperkeruh suasana.


Raka menatap kepergian Rendi dan Amel dengan wajah bingung. "Kenapa Kakak ke sini?" Pertanyaan Sofi membuat Raka terheran-heran. Dia kemudian duduk di samping Sofi yang sedang membelakanginya.


"Tentu saja untuk bertemu dengan calon istriku."


"Ooh, Kakak masih inget kalau aku ini calon istrimu, aku kira Kakak sudah lupa," ucap Sofi dengan ketus.


Raka membalik tubuh Sofi agar berhadapan dengannya. "Sofi, lihat aku," ucap Raka sambil memegang dagu Sofi setelah sempat mengalihkan pandangannya ke samping. "Ada apa sebernarnya, kenapa kau tiba-tiba begini?" tanya Raka dengan lembut.


Sofi masih diam, tidak menjawab pertanyaan Raka. "Sofi, kalau kau diam saja, bagaimana aku bisa tahu di mana letak kesalahanku?"


Raka mulai tersenyum setelah melihat Sofi sudah mau berbicara dengannya. "Di restoran dekat kantorku, kenapa?"


"Dengan siapa?" tanya Sofi cepat.


"Dengan Sonya dan Nita," aku Raka dengan jujur.


Sofi menampilkan wajah curiga. "Benarkah, bukankah Kakak hanya bertemu berdua saja dengan Sonya?" tuduh Sofi.


Raka mengernyit sesaat. "Apa kakakmu yang memberitahumu seperti itu?" tanya Raka sambil menatap lekat mata Sofi.


Raka baru teringat kalau dia belum memberitahu Sofi mengenai pertemuannya dengan Sonya, satu-satunya orang yang melihat adalah Rendi. Itu berarti Rendi yang sudah memberitahu Sofi.


"Kenapa? Apa sekarang Kakak akan mengaku kalau tadi Kakak hanya bertemu berdua saja dengan Sonya?"


Raka tertawa kecil lalu mengacak pucuk kepala Sofi sehingga membuat rambutnya berantakan. "Kakakmu mempermainkanmu, kau sudah terkena jebakannya, pantas saja dia langsung pergi setelah aku datang."


"Apa maksud Kakak?" tanya Sofi dengan wajah bingung.


"Sudah jelas kakakmu berbohong padamu. Aku bahkan sempat mengobrol sebentar dengan Kakakmu saat di restoran tadi. Kau pikir, kakakmu akan diam saja jika melihatku bertemu diam-diam dengan mantanku di saat hari pernikahan kita sudah dekat?"


Bola mata Sofi bergerak menatap ke atas, nampak berpikir. Dia baru menyadari kebodohannya. Kenapa bisa tidak terpikirkan olehnya saat kakaknya mengatakan hal itu.


"Lagi pula, aku tidak sengaja bertemu dengan Sonya setelah bertemu dengan klien di sana. Aku hanya mengobrol dengannya sebentar, itu juga aku hanya mengatakan untuk tidak meggangguku lagi karena aku akan menikah denganmu."


Raka menatap lekat mata Sofi. "Kalau kau terus cemburu seperti ini dan tidak percaya padaku, aku akan mempercepat pernikahan kita, Sofi." Padahal pernikahan mereka akan digelar seminggu lagi.

__ADS_1


Di tempat lain, Rendi nampak tersenyum puas setelah mengerjai adiknya. "Kak, kau berbohong mengenai bang Raka ya?" tebak Amel saat melihat Rendi terus saja tersenyum setelah meninggalkan taman belakang.


"Sofi saja yang bodoh, mudah sekali menipunya." Rendi membuka pintu dan membiarkan istrinya masuk terlebih dahulu.


Amel berdiri tepat di depan Rendi, membantunya melepaskan kancing kemeja suaminya setelah berada di dalam kamar. "Bagaimana kabar anakku? Apa dia masih menyusahkanmu?" Rendi menunduk menatap istrinya yang mulai melepaskan kemejanya.


"Tidak Kak, aku hanya merasakan mual tadi pagi saja."


Rendi membungkuk setelah Amel melepas kemejanya. "Sayang, jangan nakal, kasihan Mommy mual-mual terus." Selesai bicara Rendi menyingkap baju Amel lalu mengecup perut rata Amel berkali-kali.


"Kak, mandilah, sebentar lagi gelap."


"Baiklah." Rendi berdiri tegak lalu mengangguk. "Aku mandi dulu sayang." Sebelum berjalan ke kamar mandi, Rendi terlebih dahulu mendaratkan kecupannya di dahi istrinya.


Saat akan makan malam, Sofi tidak henti-hentinya mengomeli kakaknya akibat sudah membohonginya tadi sore. "Sofi, diamlah, apa kau tidak malu dengan Raka? Sedari tadi kau marah-marah saja," tegur ibu Rendi ketika melihat Sofi masih saja menyalahkan Rendi karena sudah membuatnya hampir bertengkar dengan Raka.


Di meja makan itu, semuanya berkumpul, kecuali ayah Rendi yang belum pulang dari Jerman karena harus mengurus sedikit masalah perusahaan yang di sana.


"Raka, apa kau yakin tidak akan menyesal menikah dengan Sofi? Lihat saja sedari tadi dia hanya marah-marah," timpal Rendi dengan wajah santai.


"Kak, jangan mulai lagi," tegur Amel.


"Kak Amel benar-benar istri yang hebat, bisa dengan sabar menghadapi suami seperti Kak Rendi," sindir Sofi sambil menatap sengit ke arah kakaknya.


"Sudah-sudah, lebik baik kita mulai makan malamnya. Jangan berdebat lagi, malu dengan Raka," sela ibu Rendi ketika melihat anak laki-lakinya akan membalas ucapan adiknya.


"Maaf ya Raka, harap maklum. Mereka memang suka bertengkar kalau bertemu," ucap ibu Rendi sambil tersenyum pada Raka.


"Tidak apa-apa, Ma, Raka mengerti."


Selesai makam malam, Rendi dan Amel kembali ke kamar, begitu pun ibu Rendi. Tersisa Sofi dan Raka yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Sayang, besok siang aku akan menjemputmu, temani aku melihat rumah yang sudah aku beli untuk kita tempati nanti setelah menikah," ucap Raka sambil memainkan rambut Sofi yang sedang duduk di sampingnya.


"Kenapa membeli rumah? Memangnya kita tidak akan tinggal di rumah Mama?"


"Tidak sayang, kita akan tinggal terpisah setelah menikah."


"Lalu bagaimana dengan mama? Kasihan mama kalau nanti kita pindah ke rumah baru, pasti mama kesepian."


Sofi pikir mereka akan tinggal di rumah orang tua Raka setelah menikah, apalagi ayah Raka sering kali keluar kota untuk meninjau cabang perusahaan mereka yang di luar kota.


"Iyaa aku tahu, aku hanya tidak mau membuatmu tidak nyaman kalau kita tinggal dengan mama." Sebenarnya, Raka juga tidak tega membiarkan ibunya tinggal sendiri, apalagi dia adalah anak satu-satunya.


Sofi menggenggam tangan Raka lalu menatapnya dengan intens. "Kak, aku tidak keberatan sama sekali kalau harus tinggal di rumah mama, bagaimana pun kakak anak mereka satu-satunya. Lagi pula, mama sangat baik padaku, bagaimana mungkin aku merasa tidak nyaman."


"Apa kau yakin tidak masalah kalau kita tinggal bersama di rumah mama?" tanya Raka memastikan.


Sofi mengangguk mantap "Tentu saja aku yakin, aku tidak mau Kakak meninggalkan mama hanya karena takut aku merasa tidak nyaman di sana. Kakak akan menjadi suamiku, aku akan taat padamu. Apappun keputusanmu, aku akan mengkuitnya."


"Terima kasih, sayang karena sudah mau mengerti aku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2