Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Vila Private


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di loby hotel milik Rendi. “Aku dan Amel akan berada di mobil yang sama, kalian bisa menaiki mobil yang lain.” Rendi menyiapkan beberapa mobil untuk mengantar keluarga dan teman-teman Amel menuju Bandara. Teman-teman Amel sudah berada di mobil sementara keluarga Amel dan Rendi masih berada di loby hotel.


Sofi mendekati Amel. “Kak, aku ikut mobil kakak ya?” pinta Sofi. Rendi langsung mencegah adiknya. “Tidak boleh! Aku hanya ingin berdua dengan istriku.” Rendi merasa tidak senang dengan keberadaan adiknya yang menurutnya akan mengganggu dirinya nanti.


Amel langsung menoleh pada Rendi. “Kak, ijinkan saja dia ikut kita. Dia tidak akan nyaman semobil dengan yang lainnya,” pinta Amel lembut.


Rendi melirik tajam pada adiknya. “Dia bisa semobil dengan Ibu dan Bagas. Aku tidak mau dia ikut kita.”


Ibu Amel maju mendekati Sofi. “Sofi ikut sama ibu dan Bagas saja yaa? Kakakmu mungkin hanya ingin berduaan dengan Amel.”


“Tapi bu-“


“Kau ini sudah dewasa tapi tidak mengerti juga. Ibu saja tahu akan hal itu.” Rendi merasa senang saat ibu mertuanya mengerti akan keinginannya.


Sofi menatap tajam pada kakaknya. “Kau tidak boleh memonopoly kak Amel dong kak! Dia bisa bosan denganmu kalau kau terus bersamanya,” ucap Sofi kesal.


“Amel itu milik kakak, sudah menjadi istri kakak, sudah seharusnya dia terus menempel dengan suaminya,” ucap Rendi acuh.


“Sudah-sudah. Nanti kita bisa terlambat,” ucap Lilian menengahi. Dia kemudian menoleh pada Sofi. “Sof, kamu bisa ikut di mobil Mama atau di mobil Ibu Amel. Jangan mengganggu kakakmu!”


Lilian tahu kalau Rendi tidak ingin diganggu oleh adiknya. “Mama memang yang terbaik,” celetuk Rendi sambil menatap kesal pada adiknya.


Sofi menatap kesal kepada Rendi. “Aku membencimu kak!”


“Aku tidak peduli.”


Amel langsung mencubit pinggang Rendi. “Sakit sayaaaang!” ucap Rendi sambil menoleh pada istrinya.


“Kau tidak boleh seperti itu pada adikmu kak!” Amel menoleh pada Sofi. “Maaflkan kakakmu ya Sof!:


“Dia suka sekali mengganggu kita. Apa dia tidak mengerti kalau pengantin baru hanya ingin berdua dan tidak ingin diganggu.” Rendi menatap malas adiknya. “Ayoo kita ke mobil.” Rendi langsung menarik tangan Amel untuk masuk ke dalam mobilnya.


“Dasaar buciiin..!” teriak Sofi kesal.


Rendi tidak memperdulikan kekesalan adiknya. Ibu Amel memegang tangan Sofi. “Ayo Sof, ikut Ibu saja. Nanti kita bisa terlambat.”


“Iyaa Bu.” Akhirnya Sofi ikut mobil Bagas dan ibu Amel, sementara Lilian dan suaminya berada di mobil yang sama.

__ADS_1


Setibanya di Bandara mereka langsung menuju jet pribadi Rendi melalui jalur VIP. Semua teman Amel merasa terkagum-kagum saat mereka memasuki jet pribadi Rendi.



Pesawat itu bisa memuat hingga 19 penumpang. Bagian dalam persawat terdapat sebuah dapur, dua kamar mandi serta 16 kursi dengan 8 kursi yang bisa direbahkan, 1 kamar tidur utama dilengkapi kamar mandi pribadi dan 1 kamar tidur tamu. Lounge dan bar mini, ruang makan, dan ruang santai. Pesawat pribadi Rendi juga di lengkapi oleh CCTV di beberapa lokasi tetentu untuk memudahkan memesan makanan atau minuman serta untuk memanggil pramugari.


“Kita mau ke mana kak?” Belum sempat Amel berkeliling melihat isi dalam pesawat pribadi Rendi. Dia sudah langsung ditarik oleh Rendi ketika mereka memasuki pesawat. Rendi tidak membiarkan Amel berbaur dengan yang lainnya walaupun hanya sebentar. “Ke kamar sayaang. Lebih baik kita istirahat, agar kau tidak lelah.”


Mereka meninggalkan yang lainnya tanpa berpamitan. Amel dibuat takjub ketika memasuki area kamar utama pesawat tersebut. “Kemarilah sayang?” Rendi menepuk tempat tidur di sebelahnya. Amel masih terkejut dengan pemandangan yang ada di dalam kamar tersebut.



Perlahan Amel berjalan mendekati Rendi. “Kak, turunkan aku,” teriak Amel ketika Rendi mengangkat tubuhnya. “Jangan teriak-teriak sayang. Kupingku bisa tuli nanti.” Dengan hati-hati Rendi menurunkan tubuh Amel di tempat tidur. Dia kemudian merebahkan tubuhnya sambil memeluk Amel dari depan. “Istrirahatlah sayang agar kau tidak lelah.”


Amel mendongkakkan kepalanya menatap Rendi. “Kak, tapi aku ingin duduk di luar.” Amel merasa tidak enak dengan yang lainnya karena tidak berpamitan terlebih dahulu.


“Di sini saja sayang. Di luar terlalu banyak orang.” Rendi mempererat pelukannya.


“Kak, kita bisa tidur di kamar hotel nanti. Aku ingin melihat isi pesawat ini dulu bersama dengan teman-temanku.”


“Apa aku boleh memakainya untuk berlibur dengan ibu dan Bagas keluar negri?” Amel belum pernah berlibur bersama dengan keluarganya ke luar negri. Walaupun dia pernah berkuliah di Singapore, tetapi ibunya tidak pernah mengunjunginya, hanya Amel saja yang pulang jika dia merindukan keluarganya.


"Tentu saja boleh sayaang.” Rendi menunduk menatap wajah istrinya. “Memangnya kau mau mengajak ibu ke mana?” Rendi juga ingin memanjakan ibu mertuanya. Dia merasa bersyukur karena ibu mertuanya melahirkan wanita yang sangat dicintainya saat ini.


Amel tampak berpikir. “Aku juga belum tahu.”


Rendi membelai wajah istrinya. “Bagaimana kalau kita mengajak ibu dan Bagas untuk berkeliling Eropa setelah resepsi pernikahan kita di Jerman?” usul Rendi.


“Aku akan menanyakan kepada ibu nanti.” Amel kemudian terpikirkan oleh sesuatu. “Bagaimana perusahaan kakak, jika kita liburan nanti?”


“Kau tenang saja. Ada Kenan yang akan mengurus masalah perusahaan di sini. Kalau perusahaan yang di Jerman, ada orang kepercayaanku yang mengurusnya. Papa juga akan membantu untuk selalu mengawasinya.”


“Baiklah, nanti akan aku tanyakan pada ibu.”


“Aku akan meminta Fadil untuk segera mengurus paspor dan Visa untuk ibu dan Bagas.”


“Terima kasih kak!”

__ADS_1


Rendi mengecup kening Amel. “Tidurlah sayang!”


****


Setibanya di Bandara Bali, mereka langsung menuju Bulgari Resort Bali yang terletak di Uluwatu tempat mereka akan berbulan madu. Rendi menyewa beberapa Villa private yang dilengkapi dengan kolam renang pribadi untuk keluarga dan teman-teman Amel.


“Masuk sayang!” Rendi membuka lebar pintu Vila. Rendi menarikya langsung masuk ke dalam kamar.



Amel melangkah secara perlahan. “Apa kau suka?” Rendi memeluk Amel dari belakang, ketika melihatnya tampak takjub dengan pemandangn di luar kamarnya.


Ketika membuka tirai kamarnya dia bisa langsung melihat pemandangan kolam renang sekaligus pemandangan laut lepas di depan kamar mereka. Di dekat kolam renang terdapat teras dan ruang keluarga terbuka di lengkapi dengan sofa menghadap ke kolam renang.


Amel mengangguk senang. Lalu berbalik mengahdap Rendi. “Iyaa kak, aku suka sekali.” Amel melepaskan pelukan Rendi lalu berjalan keluar kamar menuju teras dan berdiri memandangi laut lepas yang ada di depannya.


Falisitas Vila tersebut sangat lengkap. Di Vila itu terdapat 2 kamar tidur, di lengkapi kamar mandi di masing-masing kamar. Ada dapur, ruang tamu dan ruang keluarga.


Rendi menyusul Amel ke luar, lalu menarik tangan Amel untuk duduk di kursi santai pinggir kolam renang. “Kak, aku mau melihat pemandangan pantai dulu!” Amel berusaha untuk berdiri dari pangkuan suaminya tetapi ditahan oleh Rendi.


“Kau bisa melihatnya nanti sayang. Kita akan menginap selama 5 hari di sini. Kau masih mempunyai banyak waktu untuk berkeliling di Vila ini.” Rendi merangkul pinggang Amel dari belakang.


Amel merasa tidak nyaman duduk di pangkuan Rendi. “Kak lepaskan tanganmu! Aku akan duduk sendiri.” Rendi menyadarkan dagunya di bahu Amel. “Tidak mau!”


Amel merubah posisi duduknya menyamping. “Yang lain menginap di mana kak?”


“Vila yang bersebelahan dengan kita. Kenapa sayang?”


“Tidak apa-apa.”


“Apa kakak pernah ke sini sebelumnya?”


“Iyaa pernah.”


“Apakah dengan Friska?” Amel mulai teringat kalau Rendi pernah ke Bali bersama dengan Friska. Ketika mengingat kerjadian saat Rendi pergi ke Bali dengan Friska tanpa memberitahunya ada rasa cemburu di hati Amel saat itu, tetapi sengaja tidak ditunjukkan olehnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2