
Rendi mendekati Amel yang sedang berdiri. Istrinya itu namoak sedang sibuk hingga dia tidak memperhatikan kalau Rendi sudah berdiri di belakangnya. “Apa kau sudah siap, Sayang?” Rendi memeluk tubuh Amel dari belakang ketika Amel sedang memeriksa barang-barang yang akan dibawa ke Bali.
Amel membalikkan tubuhnya kemudian tersenyum pada suaminya. “Sudah, Kak.”
“Pakai bajumu dulu kak, nanti kau bisa masuk angin.”
Rendi baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan celana santai saja, sementara tubuh bagian atasnya polos. Rendi kemudian memeluk tubuh Amel dari depan dan menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
“Nanti saja, aku masih ingin memelukmu.”
Amel terlihat tersenyum sambil membelai kepala belakang Rendi. “Kak, nanti kita bisa terlambat.”
Amel berusaha membujuk Rendi. Dia merasa tingkah Rendi saat ini sangat berbeda sekali dengan kesan yang selama ini melekat pada dirinya. Tidak ada yang pernah melihat sisi lain Rendi yang seperti ini, selain Amel.
“Masih ada waktu 2 jam Eayang sebelum keberangkatan kita ke sana.”
Rendi mulai mencium ceruk leher Amel. Menghirup wangi tubuh istrinya serta memberikan kecupan-kecupan kecil di leher istrinya.
Amel kemudian memegang kedua bahu Rendi untuk menjauhkan tubuh meraka untuk menghentikan suaminya. “Kita membutuhkan waktu satu jam untuk ke Bandara, Kak.” Amel kemudian mengecup singkat bibir Rendi. “Aku akan mengambilkan baju untuk Kakak.” Dia melangkahkan kakinya menuju lemari tetapi terhenti ketika Rendi menarik tangannya.
“Kau sudah menggodaku, kau harus menyelesaikannya dengan dengan benar, Sayang.”
Rendi langsung meraih tengkuk Amel kemudian ******* bibirnya dengan lembut. Amel berusaha untuk menjauhkan tubuhnya, tetapi Rendi memeluk erat tubuhnya menggunakan satu tangannya. Amel berusaha untuk mencari cara agar bisa lepas dari Rendi. Kalau tidak menghentikan Rendi saat ini, mereka pasti akan terlambat ke Bandara.
Amel mulai membalas ciuman Rendi dengan menye-sap pelan bibir Rendi lalu membelai punggung Rendi dengan lembut. Rendi langsung merasa tubuhnya meremang. Saat Rendi mulai lengah, Amel langsung mendorong tubuh Rendi dengan kuat.
“Maafkan aku, Kak. Kita akan terlambat nanti.”
Amel tersenyum sambil berjalan cepat menjauh dari Rendi ketika melihat wajah terkejut suaminya karena gerakan tiba-tiba Amel. Dia tidak menyangka kalau istrinya akan mengelabuinya.
Rendi kemudian menyeringai. “Aku tidak akan membiarkanmu tidur, jika kita sudah sampai di Bali. Akan kubuat kau tidak bisa turun dari ranjang selama 3 hari.”
Amel bergidik ngeri mendengar ancaman suaminya “Maafkan aku, Kak. Aku hanya tidak ingin kita terlambat sampai Bandara.”
Amel menampilkan wajah memelas sambil menyatukan kedua tangannya di depan dadanya.
Rendi menghela napas sambil menunduk karena tidak bisa melihat wajah iba Amel. Hatinya langsung luluh seketika. “Kemarilah?” Rendi menggerakkan tanggannya agar Amel mendekat.
“Apa kakak akan menghukumku?” Amel merasa waspada ketika melihat wajah datar suaminya.
__ADS_1
“Kemari, Mel.”
Amel menggeleng kuat. “Aku tidak mau. Pasti kakak akan menghukumku.”
“Kalau kau tidak kemari, aku akan melahapmu saat ini juga. Aku akan memundurkan jadwal keberangkatan kita.” Rendi merasa gemas ketika melihat wajah panik istrinya.
Mendengar ancaman Rendi, Amel dengan langkah pelan mendekati suaminya. Amel memejamkan mata ketika tangan Rendi terangkat. Dia menunggu beberapa detik tidak terjadi apapun. Dia hanya merasa ada yang menyentuh kepalanya Dia kemudian membuka satu matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Rendi terlihat mengecup kening istrinya sambil mengajak rambut Amel. “Jangan menampilkan wajah menggemaskanmu pada laki-laki lain. Aku bisa cemburu nanti.” Rendi mengambil baju yang ada di tangan Amel lalu memakainya.
Amel seketika membuka matanya setelah Rendi selesai bicara. “Kakak tidak marah padaku?”
Rendi melangkah ke tempat tidur lalu duduk sambil menatap Amel. “Apa aku pernah marah padamu?”
Amel menatap langit-langit sejenak. “Tidak,” jawab Amel sambil menggeleng.
“Lalu kenapa kau begitu takut padaku? Aku bahkan tidak bisa marah padamu.”
“Aku pikir kakak akan menghukumku sungguhan.” Amel berjalan mendekati Rendi lalu duduk berhadapan dengannya. “Aku hanya akan menghukummu di tempat tidur. Bukankah kau menyukai hukuman itu?” Rendi mulai menggoda Amel lagi dengan senyum jailnya
Amel terlihat tersipu malu. “Dasar kakak mesum!” pekik Amel.
“Iyaa, aku suka, suka memiliki suami sepertimu.” Rendi nampak terkejut mendengar jawaban Amel, dia kemudian menaikkan satu alisnya. “Apa kau sedang menggodaku, Sayang?”
“Tidak.” Amel mengecup pipi Rendi singkat lalu berlari meninggalkan suaminya.
“Kau mau ke mana, Sayang?” Rendi menatap heran pada Amel saat melihatnya meraih gagang pintu.
Amel menoleh sejenak. “Aku akan ke kamar Sofi, Kak.” Rendi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Amel.
Kau membuatku tidak bisa jauh darimu Mel. Jangan pernah meninggalkan aku atau aku bisa gila nanti.
****
“Masuk, Kak,” ucap Sofi ketika melihat Amel berdiri di depan kamarnya.
Amel melangkah masuk lalu duduk di sofa. “Abang Raka sudah mengabarimu?” Amel sedang menunggu kabar Raka sedari tadi. Dia ingin tahu apakah Raka bisa ikut dengan mereka atau tidak.
Rendi sudah menceritakan tentang hubungan Raka dan Sofi. Amel sangat bahagia ketika mengetahui tentang hubungan mereka. Pasalnya selama ini Raka tidak pernah berhubungan srius dengan seorang wanita. Belum ada yang bisa menaklukkan hatinya selain wanita misterius yang pernah Raka ceritakan padanya.
__ADS_1
Sofi tampak cemberut lalu duduk dengan menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Tidak tahu, Kak. Pesanku belum di balas. Mungkin masih sibuk dengan sekertarisnya itu.”
Amel tersenyum ketika melihat kecemburuan Sofi. Dia seperti melihat sosok Rendi ketika sedang cemburu seperti itu.
Tidak hanya wajah rupawannya, ternyata sifat cemburunya juga menurun pada adiknya.
“Nita hanyalah mantan bang Raka Sofi, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa lagi.”
Amel berusaha memaklumi kecemburuan Sofi karena dirinya juga mengalaminya saat melihat kedekatan Rendi dan Friska.
“Aku tidak cemburu, Kak. Aku hanya merasa mereka terlalu dekat untuk ukuran rekan kerja dan mantan kekasih.” Ada ketakutan di hati Sofi, kalau perasaan antara keduannya akan kembali bersemi lagi.
Amel meraih tangan Sofi mencoba untuk menenangkannya. “Sofi, bang Raka tidak pernah selingkuh ketika dia menjalin hubungan dengan seseorang. Dia adalah laki-laki setia.”
Sofi merasa tidak percaya diri ketika dia bertemu dengan Nita saat di pesta pernikahan kakaknya. Saat itu Nita terlihat sangat cantik dan anggun. Itulah yang membuat Sofi terlihat sangat cemburu terhadap Nita. Dia tidak menyadari kalau dirinya lebih cantik dari Nita, karena dirinya mewarisi sebagian besar wajah sang kakak.
“Aku hanya takut kalau mereka akan bersama lagi, Kak. Bagaimanapun juga mereka pernah menjalin hubungan.”
Sofi belum terlalu mengenal sifat Raka, ketika mereka memutuskan untuk menjalin hubungan sehingga membuat Sofi tidak begitu yakin dengan perasaan cinta Raka padanya.
Amel tersenyum tipis. “Sofi, kedepannya kau harus lebih sabar karena yang menyukai bang Raka banyak. Saat masih sekolah, Raka termasuk salah satu laki-laki yang banyak disukai wanita selain kakakmu. Banyak yang mengejar cinta, tetapi belum pernah ada yang berhasil menakklukan hatinya seperti dirimu. Kau harus percaya kalau Raka memang hanya mencintaimu seorang.”
Sofi menatap Amel. “Kau tenang saja, Raka tidak akan tergoda dengan wanita lain. Dia sudah memiliki pacar yang sangat cantik. Tidak mungkin dia berpaling darimu.”
Mendengar perkataan dari Amel membuatnya sedikit lega, walaupun dia tahu kalau Raka menyukai Amel, Sofi tidak terlalu cemburu dengan Amel karena dia yakin kalau Amel hanya mencintai kakaknya.
“Tunggu sebentar, kakak angkat telpon dulu.” Amel mengambil ponselnya yang bergetar di saku celananya. “Iyaa, Bang... Owwh gitu.. Okee... Iyaa, Bang.” Amel mengakhiri percakapannya di telpon lalu meletakkan ponselnya di meja. “Dari bang Raka,” ucap Amel ketika melihat wajah penasaran dari Sofi. “Dia tidak bisa ikut dengan kita.”
Amel langsung menggenggam tangan Sofi ketika melihat wajah Sofi yang berubah sedih. “Bang Raka tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Pekerjaannya menumpuk karena beberapa hari tidak bekerja.”
Saat Amel dibawa oleh Devan dan tidak ada kabar sama sekali darinya, Raka terus mencari keberadaan Amel dan menyerahkan semua pekerjaannya untuk di handle sementara oleh sekertarisnya.
“Iyaa, Kak, aku mengerti.”
Amel kemudian berdiri. “Kamu siap-siap ya, 15 menit lagi kita akan bertemu dibawah. Kita akan ke bandara setelah semuanya berkumpul di bawah.”
Sofi mengangguk. “Iyaa, Kak.”
Bersambung...
__ADS_1